Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 24


__ADS_3

Ting!


ada pesan masuk di ponsel Bella,


"pesan dari Idho, katanya dia lagi jalan ke sini sama Iska." kata Bella, ia lalu tersenyum pada Rin,


"Rin, akhirnya Iska pulang. Kamu gak usah nunggu dia lebih lama lagi." kata Bella.


"siapa juga yang nungguin Iska??" batin Rin.


"Halo Darliiing....," kata Idho heboh lalu langsung memeluk Bella.


"orang-orang bisa salah paham dengan hubungan kalian loh." kata Iska yang berdiri di belakang Idho.


"why ? aneh, kah ? we're just friend, aren't we?" tanya Idho.


"Iska, kadang orang berpikir teralu berlebihan terhadap hubungan orang. kita ini hanya teman." kata Odi.


"baiklah, asalkan kalian baik-baik aja, gue gak akan protes lagi." kata Iska.


"uuunch..., so sweeet....," kata Idho, Odi dan Bella bersamaan.


"uhmm..., so sweet di sebelah mananya,ya?" tanya Iska yang agak ilfeel, tapi tetap berusaha tersenyum.


"udah, udah.., hentikan adegan yang aneh ini!" kata Bella.


"oh,iya, kita harus cepet-cepet ke SUN departement store. nanti keburu diburu sama ibu-ibu gila diskon!!" kata Idho.


"ya, kamu bener!" kata Odi.


"ya udah, Iska dan Rin, kita bertiga mau capcus dulu,ya. Selamat menikmati keromantisannya. Bye-bye." kata Bella.


"bye...," kata Idho dan Odi lalu pergi mengikuti Bella.


Kini hanya tinggal Iska dan Rin berduaan. Iska lalu melirik Rin yang sedang membuang muka.


"lu.., kenapa ada di sini?" tanya Iska.


"yah.., gue gak sengaja lewat!" kata Rin.


"tapi bukannya lu gak mungkin lewat sini,ya?"


"yah.., mu,mungkin aja." kata Rin terbata-bata.


"mau gue anter?" tanya Iska.


"Anter? lu aja gak bawa kendaraan apa-apa." kata Iska.


"ya udah, gue pesenin lu ojol aja,ya...," kata Iska lalu mengeluarkan ponselnya,


"ah, sial !" katanya.


"ke,kenapa?"


"hape gue low-batt." kata Iska.


"ya udah hape gue aja," kata Rin lalu mengambil ponselnya dan membuka aplikasinya,


"ah sial!" kata Rin.


"kenapa?" tanya Iska.


"kuota gue abis, lupa!"


"ya ampun. Apes banget, sih lu, hahaha...," kata Iska tertawa.


Rin cemberut.


"duh.., maaf,maaf. gue gak bermaksud bikin lu kesel." kata Iska.


"ya udah, gue naik transportasi umum aja..., aduduh...," kata Rin lalu terduduk.


"kenapa lagi lu?" tanya Iska.


"kaki gue...,"


"lu jalan ke sini?" tanya Iska, Rin mengangguk,


" ya ampun.., kan lumayan jauh." kata Iska.


"tuh tau jauh, ngapain juga lu pake jalan buat ke sini? kan gue jadi ngikutin..., ugh...," batin Rin.


Iskandar lalu melepas tasnya dan menggendongnya ke sebelah depan lalu ia berjongkok di depan Rin,


"apa ini?" tanya Rin.


"ayo, gue gendong elu sampe terminal. di sana pasti ada kendaraan dengan kursi kosong."


"apa?? lu gila ya Iskandar ??!!! terminal itu,kan jauh !! kita bisa naik dari sini."


"lu mau berdiri kalo naik dari sini? jalanan pun macet, pasti bakalan lama." kata Iska.


"enggak juga,sih..., tapi...,"


"apa? masih mau berdebat lagi?" tanya Iska.


"uhm...,"

__ADS_1


"mau pulang atau enggak???" tanya Iska lagi.


"i,iya..,"


"ayo naik." kata Iska.


terpaksa Rin naik ke atas punggung Iska, lalu Iska berdiri,


"Waaaa....!!!!" kata Rin panik.


"kenapa??" tanya Iska.


"serem !!! badan lu tinggi banget...," kata Rin sambil menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Iska.


"ooh.., gue kira apa..,"


"Tinggi lu berapa, sih??" kata Rin.


"seratus delapan sembilan."


"ugh.., dasar raksasa." kata Rin.


"lebay lu !" kata Iska lalu mulai berjalan,


"waa...,, sumpah, serem banget, kayak naik wahana ekstrim...," kata Rin mempererat pelukannya di leher Iska.


"woy.., gue kecekek, woy...," protes Iska.


"oh, sorry..,"


"lu kalo mau pegangan, di pundak gue aja, jangan leher gue. Mau bunuh gue, ya?"


"enggak, gue gak sejahat itu, kali !" kata Rin.


Iska mulai berjalan lagi, sedangkan Rin memegang Pundak Iska dengan erat, suasana sangat canggung di antara mereka.


"Iska," panggil Rin.


"hm?"


"lu yakin, gak keberatan?" tanya Rin.


"enggak."


"lu gak malu? dari tadi kita diliatin tau."


"kalo lu malu, tutup aja mata lu." kata Iska.


"oh,iya, apa ini bisa jadi kesempatan gue nanya soal masa kecil gue ke dia? apa iya, gue pernah minta nikah sama dia?" batin Rin.


"Iska." panggil Rin lagi.


"hm?"


"tanya apa?"


"tentang masa kecil lu sama gue."


"oh.., boleh. mau tanya apa?"


"emang bener,ya, gue dulu minta mau nikah sama elu?" tanya Rin.


"ooh.., itu...," kata Iska lalu berpikir untuk mengingat.


"ih, cepetan, dong jawabnya!" kata Rin lalu memukul pundak Iska.


"sebentar, gue juga berusaha untuk mengingat." kata Iska.


*


*


Flashback On


"Hwaaa....," seorang Rin kecil menangis karena ia terjatuh ke dalam selokan. kini sekujur tubuhnya sudah sangat kotor, bola yang sempat ia kejar tadi sudah entah kemana mengikuti arus pelan selokan itu. Kini dirinya yang kecewa hanya bisa menangis. Apalagi tubuhnya sekarang kotor tak karuan. tidak ada satupun orang dewasa yang mendatanginya.


tap, tap, tap...,


sebuah langkah kecil mendatanginya, membuat hati seorang Rin kecil sedikit lega, suara tangisannya pun sedikit mereda. Ia sudah bisa menebak langkah siapa itu.


"RIIIN....!!" Senyum Rin langsung mengembang saat mendengar suara orang yang memanggilnya.


"IKAAA....!!" kata Rin kecil memanggil nama orang itu untuk memberitahukan posisinya.


orang itu alias seorang anak kecil dengan rambut keritingnya langsung bisa menemukan keberadaan seorang Rin kecil.


"IKAAA...., hwaa...," kata Rin kecil lalu menangis lagi.


"Rin ? kamu Rin temen aku?" tanya Si anak keriting itu.


Rin langsung mengangguk cepat,


"kok kamu jadi item, sih?" tanya anak kecil itu.


"hwaaa....," tangisan Rin semakin menjadi.


"sini, Ika bantuin." kata anak kecil itu yang sebenarnya adalah Iskandar kecil sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Rin kecil langsung mengambil uluran tangan Iskandar. Iskandar yang masih kecil saat itu berusaha menariknya,


"ugh.., kok susah, sih?" tanya Iskandar kecil.


"Ika, yang bener dong...," protes Rin.


"iya..,Waaa...!!"


BYURRR...,


bukannya mengeluarkan Rin, Iskandar malah ikut terjatuh ke dalam selokan.


"hwaaa....," melihat itu Rin menangis lagi.


"Rin, jangan nangis, Ika cuman kecebur sama kayak Rin.., pft.., sekarang kita sama-sama item, hihihi....," kata Iskandar kecil malah tertawa. Melihat Iskandar tertawa membuat Rin kecil menghentikan tangisannya.


"ayo, sekarang, Ika bantuin Rin naik dari sini, abis itu, Rin bantuin Ika naik,ya." kata Iskandar kecil. Rin mengangguk.


Iskandar lalu berusaha mendorong Rin naik ke atas hingga akhirnya Rin bisa keluar dari selokan.


"mana tangan kamu, Ika?" tanya Rin kecil.


Iskandar kecil lalu mengulurkan tangannya, lalu segera diambil dan ditarik oleh Rin kecil dengan sekuat tenaga.


"HIYAAAT...!!" kata Rin kecil untuk menyemangati dirinya hingga akhirnya Iskandar kecil bisa keluar dari selokan juga.


"Horeee..!!!" seru Rin.


"wah, Rin hebat !" kata Iskandar kecil.


"iya, Rin,kan kuat !" kata Rin menyombongkan dirinya.


"Hebat!! Amazing !!"


"Amazing ? Amazing itu apa, Ika?"


"gak tau, Mami suka bilang itu kalo seneng." Iskandar lalu menggandeng tangan Rin. Rin tersenyum mendapatinya.


"ayo kita pulang." ajak Iskandar.


"ayo..!" kata Rin tersenyum.


"tapi, kenapa Rin bisa jatuh ke sana?" tanya Iska sambil berjalan menggandeng tangan Rin.


"Rin gak mau kehilangan bola pemberian Ika. tapi sekarang bola itu hilang di selokan."


"ooh.., Ika bisa kasih lebih banyak lagi buat Rin."


Rin lalu menoleh ke arah Iskandar lalu tersenyum, "makasih Ika...,"


*


"Ya ampun !!!" teriak Amanda melihat ada dua anak kecil yang sangat kotor datang ke rumahnya,


"Rin, Iska, kalian kenapa???"


"tadi Rin jatuh ke selokan gara-gara ngejar bola, Bunda, terus Ika nolongin Rin." kata Rin lalu tersenyum ke arah Iskandar. Iskandar membalas senyum Rin dengan senyuman yang lebih lebar. Amanda diam-diam tersenyum dengan sikap imut dua anak kecil di hadapannya ini.


"ya udah kalo gitu, lain kali hati-hati,ya, sayang. Sini masuk, Bunda mandiin kalian ya..," Amanda lalu mengambil selang di halamannya dan menyiram dua anak kecil itu.


"bunda!!" kata Rin yang masih diguyur air oleh Amanda.


"iya, sayang?" tanya Amanda.


"kalo udah gede, Rin mau nikah sama Ika !!" kata Rin sambil tersenyum lebar.


Flashback off


*


*


"udah sampe.., waah.., gue cerita sampe gak sadar udah sampe di terminal." kata Iskandar.


"tunggu.., cerita lu itu beneran?" tanya Rin.


"ya iyalah."


"kok kayak dikarang-karang??"


"itu karena lu gak mau mempercayai itu."


"tapi, kok lu bisa inget, sih? gue aja gak inget."


"biasanya kenangan yang berbekas adalah kenangan yang berkesan." kata Iskandar.


"berarti gue berkesan bagi elu?" tanya Rin.


"bisa jadi."


"tapi kenapa gue bisa gak ingat ya?"


"mungkin karena gue kurang berkesan bagi elu." kata Iskandar lagi.


Deg!


Rin lalu mencengkram pundak Iska erat.

__ADS_1


"eh, itu metromininya, ayo kita naik." kata Iskandar lalu berlari.


"waa...!!! Iskandar !!!!" teriak Rin ketakutan sambil memeluk pundak Iskandar erat.


__ADS_2