Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 12


__ADS_3

"Iska dan Rin, Mami sama Bunda mau menjodohkan kalian, yeaay... ." kata Friska heboh.


"oh.., What???" kata Rin kaget, ia langsung menoleh ke arah Iska yang duduk di sampingnya,


"dia gak kaget sama sekali??" batin Rin.


"kalian pasti setuju,kan??" tanya Friska.


"setuju!!!" kata Dita.


Rin langsung menoleh ke arah Dita,


"anak ini...,"


"tunggu, ini dijodohin gimana, Mami?" Rin sudah mulai terbiasa.


"yah, dijodohin buat nikah."


"nikah??" kata Rin semakin tak percaya.


"Iska, jawab...," pinta Friska tanpa memedulikan reaksi Rin.


"ya, Iska setuju." jawab Iska tenang.


"Iskandar...," kata Rin tak percaya dengan jawaban Iska.


"kenapa dia setuju?? ini menyulitkan posisi gue...," batin Rin.


"kalo kamu gimana, Rin?" tanya Amanda dengan penuh harap.


"ya__,"


"kamu setuju juga Rin? Yes!" kata Amanda senang yang tadi sempat ragu kalau putrinya akan menolak.


Iska langsung memandang Rin, Ia justru lebih kaget dengan jawaban Rin.


"uhm.., bunda, Mami, Dita, Rin mau ngobrol dulu sama Iska, ya." kata Rin lalu menarik tangan Iska, Iska mau tak mau mengikuti Rin.


*


Kini mereka ada di ruang baca atas arahan Iska,


"Lu mau ngobrol apa?" tanya Iska tanpa basa-basi.


"ke,kenapa auranya jadi mencekam lagi...,"


"Rin?" tanya Iska.


"oh, i,iya..," kata Rin jadi kikuk.


"apa ini soal yang tadi Mami sama Bunda bilang?" tanya Iska lembut.


"i,iya... ke, kenapa lu setuju??? Padahal tadi gue mau bilang gak setuju, tapi gara-gara jawaban elu, Mami sama Bunda gak mau dengerin jawaban gue sampe selesai!!" kata Rin panjang lebar.


Iska hanya membelalakkan matanya karena reaksi Rin, Lalu wajahnya kembali serius seolah berpikir sesuatu,


"begitu,ya..," kata Iska.


"gue itu gak mau,ya dijodohin sama elu, kita ini anak SMA, gak mungkin__, arrgh ...," Rin sudah tak sanggup berkata-kata lagi.


kini Iska menatap Rin, Ia seolah memikirkan sesuatu.


"kita gak mungkin nikah..., di usia SMA?? Gila lu!!" kata Rin.


"gila, ya...," kata Iska.

__ADS_1


"Iska, jelasin, kenapa lu bikin posisi gue jadi sulit, hah???" kata Rin yang sudah terbalut emosi. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"gue gak bisa nolak ini. Lagipula ini bukan bercanda. Ini serius." kata Iska.


"karena ini serius, makanya ini gawat !!! kita bahkan masih kelas sebelas, masih tujuh belas tahun..,"


"lu bener...,"


"yes, apa ini berarti dia bakalan bujuk Mami sama bunda supaya perjodohan ini gak terjadi?" batin Rin.


"gue tapi gak bisa bikin perjodohan ini batal." katanya lagi.


"ah.., gue gak bisa berharap sama dia, seharusnya gue inget itu." batin Rin.


"Papi sama ayah gak ada di sini, Ini belum keputusan resmi. Nanti kita obrolin baiknya gimana, usia kita yang masih muda bisa jadi pertimbangan. Jadi lu gak usah khawatir."


Rin terdiam, "dia mungkin mau bantu gue...,"


"gue harap, kita bisa lebih akrab." kata Iska lalu pergi meninggalkan Rin.


"apa? akrab? maksud dia apa, sih?" kata Rin.


*


Meskipun acara makan siang sudah berlalu, tetapi apa yang terjadi di hari Minggu itu tidak bisa hilang dari kepalanya,


"woy.., lancar acara makan siangnya?" tegur Ori yang dari tadi memperhatikannya yang melamun sambil bekerja. Sore ini mereka sedang membuat Mading baru bersama tim Layout.


"Woy, Rin-rin..., Bengong aja lu, kesurupan loh." kata Idho ketua tim Layout yang juga menyadari gerak-gerik Rin.


"ya, kalian dulu waktu masih balita sering main bareng-bareng, sama siapa itu satu lagi..."


"Idho. si imut Idho*."


tiba-tiba terngiang percakapan antara Bunda dan Maminya Iska.


"hah? apaan, sih lu Rin? ya kenal lah, Rin boncel...," ledek Idho.


"sialan Lu!" kata Rin lalu melempar gabus pada Idho.


"lagian lu aneh, Rin." kata Idho.


"maksud gue kita emang udah kenal dari balita??" tanya Rin.


"hah?" kata Idho kaget.


Ori malah tersenyum,


"Ori, lu ngapa senyum-senyum?" kata Rin yang sadar, "jawab Idho!!!" kata Rin.


"iya,iya.., lu, gue, sama Iska. Kita suka main dari kecil, tapi pas TK lu udah gak main lagi sama kita."


"iya, pas TK gue kan pindah ke Semarang." kata Rin.


"Jadi lu udah tau jawaban yang lu pertanyakan selama ini?" tanya Ori.


Rin langsung menatap Ori, "lu tau? selama ini lu tau??" tanya Rin.


"gimana? seru,kan pas udah tau?" kata Ori.


"bukan seru. tapi gawat!" kata Rin.


"ih, ada gosip apa, sih? ikut dong, ciin...," kata Idho.


"ah, bahaya kalo lu tau!" kata Rin.

__ADS_1


"apa ini ada hubungannya dengan papah Iska?" tebak Idho.


"berisik lu, Dho!" kata Rin kesal karena tertohok.


"ugh.., Akhirnya Papah Iska bisa bersatu dengan Mamah Rin." kata Idho.


"heh, jangan bikin gossip ya mulut ember!!" kata Rin panik.


"panik dia, panik, hahaha...," kata Ori puas.


"diem kalian!!!" teriak Rin membuat anak-anak lainnya menengok ke arahnya.


"uhmm.., so, sorry...," kata Rin yang sadar apa yang dia lakukan.


*


Rin berjalan menuju gerbang sekolah, Ia tidak menyangka kalau Mading baru selesai sampai malam begini,


"Rin..," tiba-tiba ada yang memanggilnya. Ia hapal betul suara siapa itu,


"jangan sok peduli sama gue gara-gara kejadian kemaren...," kata Rin.


"uhmm.., ini pertama kalinya lu pulang malem, kan. Bunda minta gue anterin lu sampe rumah." kata Iska.


"ugh.., Bunda." kata Rin kesal.


"ayo, kita pulang...," ajak Iska.


"kalo gue gak mau, gimana?" tanya Rin. mendengar itu wajah Iska langsung berubah,


"duh, bego, abis deh gue dimangsa sama amarahnya dia...," batin Rin.


Iska menghela napas, Ia berusaha menahan emosinya, "jadi, dua jam gue nunggu di sini bakalan lu sia-siain gitu aja?" tanya Iska.


"Ng..., itu...," Rin bingung harus jawab apa.


"lagian lu ngapain juga nunggu gue__,"


"Bunda yang minta. Bunda khawatir sama elu. makanya gue yang diminta nganterin lu pulang." kata Iska.


"kalo bunda gak minta elu, elu gak akan nganter gue??" tanya Rin lalu langsung menutup mulutnya.


"bego, Rin, lu teralu jauh...," batin Rin.


"kalo bunda gak minta, gue akan tetep nunggu dan anterin lu, Rin." batin Iska.


"sekarang lu mau pulang atau enggak?" tegas Iska.


"iya,iya.., gue pulang sama elu, itu semua karena Bunda yang minta." kata Rin.


"oke." kata Iska.


"Ki,kita naik apa?" tanya Rin.


"bus. emang naik apa lagi?" tanya Iska.


"ya ampun, kenapa anak jendral yang satu ini merakyat banget, sih???" batin Rin.


"ini dadakan, gue jarang bawa motor." kata Iska,


"oke,oke.., biasanya juga gue naik bus." kata Rin berusaha memaklumi.


"tapi, bukannya lu yang repot, rumah kita,kan gak searah." kata Rin lagi.


"gak apa-apa. yang penting gue tau lu sampe rumah dengan selamat." kata Iska.

__ADS_1


DEG!


"ih, apaan, sih jantung, gak jelas lu, tiba-tiba deg-degan gak jelas!!" kata Rin sambil memegangi dadanya.


__ADS_2