
"Riin !!!" Tiba-tiba Keisha dan Yura datang dengan hebohnya. Namun terhenti karena melihat Iskandar yang sedang duduk di samping Rin.
"ehem ! Bisa permisi,kan?" tanya Keisha agak memaksa.
"kenapa?" tanya Iskandar tidak mau kalah.
"hellow..., Sekarang itu waktunya para cewek berkumpul, jadi yang bukan cewek dilarang ada di sini !!!" kata Keisha sambil menarik Iskandar pergi.
"what??!! Rin__," Rin hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju pada Keisha. Iskandar tidak bisa berbuat apa-apa dan keluar begitu saja.
"ck,ck,ck..., diusir,ya Bang?" sindir Juan yang bersandar di samping pintu kamar.
Iskandar langsung melirik ke arah Juan,
"lu juga Dateng? Gue kira Keisha doang...," kata Iskandar.
"Dateng lah..., cewek gue,kan minta ke sini...," kata Juan.
"keh.., nempel Mulu,lu sama cewek lu,ya...,"
"ya iyalah..., namanya juga cinta." kata Juan.
"cinta apa budak cinta? Gue heran, lu kuat juga ya, jadi cowoknya Keisha..," kata Iskandar.
"ya kuatlah. Justru gue tuh sebenernya lebih suka sama yang bossy gitu kayak Keisha...," kata Juan sambil senyum-senyum sendiri.
Iskandar memandang Juan dengan aneh,
"kenapa lu?!" tegur Juan yang merasa tidak nyaman.
"entahlah. Kalimat lu barusan membangkitkan fantasi liar gue, hiiy...," kata Iskandar lalu pergi.
"fantasi liar? Iskandar das__, Hey !! Abis lu,ya sama gue !!!" kata Juan mengejar Iskandar yang sudah pergi.
*
Yura tidak bisa berhenti memeluk Rin,
"Yura.., mau sampai kapan gue dipeluk begini?" tanya Rin.
"sampe Rin sembuh...," kata Yura.
"Yura.., Rin itu udah sembuh..," kata Keisha.
"iya.., gue udah sembuh..,"
"huhu..., Yura merasa bersalah.., coba aja Yura jadian sama Dion.., pasti ini gak akan terjadi." kata Yura.
"hush ! kenapa elu harus jadian sama Dion. Yura,kan sukanya sama Ori." kata Rin.
"soalnya.., gara-gara Yura nolak Dion.., Rin jadi diculik sama Dion dan Emalia..., seharusnya Yura aja..,"
"hush ! Yura.., jangan gitu dong..., Gue akan merasa bersalah seumur hidup kalau salah satu dari kalian pergi..., maafin gue,ya Rin..., Hiks! ini semua gara-gara ambisi gue...," kata Keisha ikut memeluk Rin sambil menitikkan air mata.
"ih, apaan, sih kenapa semua orang jadi minta maaf ke gue? Gue,kan baik-baik aja sekarang...," kata Rin.
__ADS_1
"gue janji, gue akan lebih perhatian sama elu, Rin...," kata Keisha.
"Yura juga. Yura akan lebih perhatian lagi sama Rin.., hwaa...," kata Yura tak bisa membendung air matanya lagi.
"apaan, sih kalian ini.., hiks!" Rin jadi ikut-ikut menitikkan air mata. Ia tidak pernah menduga akan ada orang yang sepeduli ini padanya. Dulu ia hanyalah "seekor nyamuk" bagi semua orang. Ada, namun tidak ada yang mengharapkan keberadaannya.
"kalian gak usah lebih perhatian sama gue, cukup jadi temen gue selamanya...," kata Rin di sela-sela tangisnya.
"Riin...," kata Keisha dan Yura bersamaan lalu memeluk Rin semakin erat.
*
Hari-hari berlalu seperti biasa. Anak kelas dua belas mulai sibuk dengan pilihan studi mereka selanjutnya. Pak Lukas sungguh sangat sibuk dengan anak-anak kelas dua belas yang bolak-balik ke ruangannya untuk berkonsultasi.
Di Kantin,
"jadi kamu udah nentuin mau kemana?" tanya Rin pada Iskandar.
"uhm...,"
"bener-bener gak mau masuk Akademi militer?" tanya Rin.
"tidak." kata Iskandar.
"lalu?"
"aku mau ambil kedokteran hewan...,"
"ugh.., sudah kuduga." kata Rin.
"ya. Apalagi, hobi kamu yang suka nonton film dokumenter hewan ternyata malah menunjukkan kamu ke jalan mimpi kamu,ya." kata Rin.
Iskandar hanya tersenyum,
"ya, itu salah satunya. Kalau kamu sendiri?"
"aku udah pesimis masuk negri, jadi mau langsung cari swasta aja. Jurusan komunikasi kayaknya cocok sama aku." kata Rin.
"begitu,ya..,"
"kok cuman gitu? gak niat mau nyemangatin aku gitu buat masuk universitas negri?" tanya Rin.
"masalahnya aku juga pesimis__, aaw !!!" kata Iskandar yang tangannya langsung dicubit Rin.
"ya ampun..., kamu ini ada dendam apa, sih??" tanya Iskandar.
"lagian.., kalo aku pesimis, harusnya kamu nyemangatin !!! Bukan sama-sama pesimis." kata Rin kesal.
Iskandar tersenyum,
"mau pesimis atau enggak, itu semua tergantung diri kamu sendiri. Kamu yang memutuskan mau pesimis atau enggak. Kalau masih ada rasa optimis sedikit, ya optimis aja." kata Iskandar.
"kamu selalu begitu...," kata Rin mulai ngambek.
"uhm.., permisi,kak Iskandar.., boleh gabung,gak?" tiba-tiba para anak kelas sepuluh keganjenan ini muncul lagi.
__ADS_1
"uhmm.., ada apa,ya?" tanya Iskandar sambil tersenyum. Rin langsung melotot melihat Iskandar memberikan senyum pada cewek-cewek keganjenan itu.
"kak Iskandar...," Tiba-tiba salah satu dari mereka langsung duduk di sebelah Iskandar dan memeluk lengannya. Mata Rin semakin menyalak menyaksikan itu.
"aku sedih,deh kak Iskandar udah gak jadi ketua komdis lagi...,"
"iya,kak..., kita jadi jarang bisa ketemu kakak. Apalagi bisa ngeliat tatapan tajam kakak, waaw..," kata mereka semua histeris.
Rin benar-benar tidak tahan. Sejak kapan Iskandar sepopuler ini. Ia hanya bisa melipat tangannya dan membuang mukanya karena tidak tahan.
Iskandar menghela napas, Ia lalu melepaskan lengannya dari pelukan adik kelas itu,
"kalau kalian ke sini cuman buat bilang itu, doang, silahkan pergi dan mohon hormati tunangan gue...," kata Iskandar yang menyadari kemarahan Rin.
"tunangan? kakak punya tunangan?" tanya yang tadi memeluk lengan Iskandar.
"iya, gue !" kata Rin tegas.
"uhm.., haduh, kak.., jangan bercanda, deh.., masa tunangan kakak cewek culun gini,sih??"
"ehem!!!" protes Rin.
"ih, lu siapa, sih ? Lu kira gue takut,ya sama lu?? Asal lu tau,ya, kira gak akan dengan mudah menyerahkan kak Iskandar buat cewek culun kayak lu !!!"
"kalo lu gak suka sama dia, gak usah berharap suka sama gue juga !" kata Iskandar tiba-tiba membuat semua adik kelas itu memandang ke arahnya.
"kak Iskandar...," mereka mulai merajuk.
"pergi sekarang juga !" kata Iskandar.
"ta,tapi, kak...,"
"asal lu tau, cewek culun di depan lu itu kakak kelas lu, tunangan gue sekaligus satu-satunya perempuan yang gue cintai. Jadi silahkan pergi dari pandangan gue." Tegas Iskandar dengan tatapan super tajamnya.
"kak Iskandar."
"RIGHT NOW !" Tegas Iskandar.
"uhm.., i,iya...," kata mereka lalu pergi
"benar-benar menyebalkan...," umpat Iskandar.
"ternyata kamu kalo marah serem juga,ya...," kata Rin.
"itu karena mereka udah gak sopan sama kamu." kata Iskandar lagi.
"kamu gak takut dibenci sama mereka?"
"kadang lebih baik dibenci daripada harus direpotkan sama mereka." kata Iskandar lagi.
"bukannya kalo dibenci malah lebih repot lagi?"
"setidaknya tidak harus bertindak baik."
"ya ampun.., pemikiran macam apa yang kamu punya, Iskandar? ckckck..., dasar, pencitraan, reputasi memang selalu jadi prioritas kamu,ya?"
__ADS_1
Iskandar hanya tersenyum miring sambil memakan bekal yang dibawakan oleh tunangannya.