Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 23


__ADS_3

Iskandar menunggu Idho di depan gerbang sambil memainkan kakinya.


"Woy.., sorry lama." kata Idho yang tiba-tiba datang.


"iya.., gak apa-apa." kata Iskandar.


mereka lalu berjalan bersama. Tanpa mereka sadari Rin, mengikuti mereka.


"hm.., jangan sampai ketawan. Tapi mereka mau kemana,ya?" kata Rin berbicara sendiri.


Iska dan Idho terus berjalan di trotoar tanpa berhenti untuk menaiki kendaraan umum. Rin yang masih berusaha mengikutinya memukul-mukul kakinya karena sudah berjalan teralu jauh.


"mereka mau jalan sampai mana, sih??" keluhnya.


"bahkan gak ada sepatah kata pun yang mereka keluarkan. Haruskah gue ikutin mereka?" katanya bimbang.


"tapi, gue penasaran..., kalau Iska babak belur gara-gara gue...," Rin menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak, "duuh.., jangan menyerah Rin?" katanya lalu berlari karena sempat tertinggal jauh dari Iska dan Idho.


Akhirnya mereka sampai di sebuah taman di tengah kota. Taman ini kelihatan kecil dari luar, tetapi ketika memasukinya begitu luas. Iska dan Idho lalu duduk di ayunan yang kebetulan kosong, biasanya pasti sudah digunakan oleh anak-anak yang bermain di sana. Sedangkan Rin mencari bangku yang tak jauh dari sana untuk mendengarkan percakapan mereka.


"sebenernya apa yang mau lu omongin? kayaknya serius banget." kata Idho.


Iskandar mengambil napas, "tentang janji kita." kata Iska.


"Janji? Janji apa?" batin Rin.


"tunggu! sebelum lu ngomongin itu, gue mau tau, kenapa wajah lu bisa babak belur gini? Minggu kemaren kan kita gak latihan." kata Idho.


Iskandar lalu tersenyum, "ini gara-gara Rin...," kata Iska.


"tuh,kan bener gara-gara gue...," batin Rin.


"Rin? si boncel culun itu bisa bikin lu babak belur? ngaco lu!" kata Idho tak percaya.


"sialan, Idho, gue dibilang boncel culun!!" batin Rin geram.


"sebutan lu berlebihan buat dia." protes Iska.


"ck, yah, karena itu, gak mungkin lu babak belur sama orang kayak dia."


"secara teknis, bukan dia yang mukulin gue." kata Iska lalu mengayunkan ayunannya pelan.


"pasti gara-gara keputusan kemarin, terus dia sama Mami-Papi ribut." batin Rin.


"Papi, ya kan?" tebak Idho.


Iskandar langsung menghentikan ayunannya, "lu kok_,"


"yang bisa bikin lu babak belur itu cuman gue dan Papi. Bahkan Mas Awan kalo berantem sama elu, dia yang bakalan babak belur." potong Idho.


Iskandar lalu melihat ke langit,


"yah.., lu bener." kata Iska.


"apa ini ada kaitannya sama janji kita?" tanya Idho lagi.


"iya." kata Iskandar.


"janji?? jadi bukan karena gue? tapi tadi dia bilang__,"


"gue mau mengingkari janji kita." kata Iska.


mendengar itu Idho malah tersenyum, "yah jelaslah, Papi marah. Hahaha..., kalo gue melakukan hal yang sama kayak lu, bokap gue juga bakalan marah." kata Idho.


"sebenernya janji mereka apa? kenapa sampe melibatkan Papi__, dan hubungannya sama gue apa?"


"terus, hubungannya sama Rin apa?" tanya Idho.


"kemaren waktu diskusi tentang perjodohan gue dan dia___,"


"wait!!" kata Idho menghentikan kalimat Iska,

__ADS_1


"Perjodohan itu dijadiin kenyataan? Rin itu cuman bilang itu waktu anak-anak,kan??"


"yah.., lu gak tau watak Mami sama Bunda aja." kata Iska.


"hmph..., oke, lanjutkan, tapi..., gue__,"


"jangan bocor lu! awas lu!" kata Iska.


"haha..., iya papah Iska, aku tatutt...," kata Idho manja.


"najong lu!"


"udah, udah lanjutin, apa hubungan Rin sama babak belurnya lu ini."


"dia bilang gue robotnya Mami-Papi..,"


"wah.., Parah tuh anak." komentar Idho.


Rin langsung mengepalkan tangannya,


"gue emang keterlaluan kemarin." Rin lalu pergi dari situ.


"tapi.., itu malah bikin gue berani untuk mengungkapkan keinginan gue ke Papi."


"keinginan lu?"


"gue udah memutuskan untuk gak masuk akademi militer setelah lulus SMA." ungkap Iska.


"HAAAH??!!!" kata Idho kaget sampai berdiri.


"re,reaksi lu berlebihan juga,ya?" kata Iska agak kaget juga dengan reaksi Idho.


"yah.., gue kira lu cuman gak mau jadi jendral..., bukan sampe gak masuk akademi militer...," kata Idho sambil garuk-garuk kepala belakangnya lalu ia duduk lagi di ayunannya.


"terus, gue sendiri dong..., wah parah ini!" kata Idho.


*


Rin berjalan sendirian untuk pergi dari taman,


"Bella?? dan Odi???!!" katanya kaget.


"ini siapa emangnya?" tanya Odi.


"ya ampun Odi, kamu tuh ya ketinggalan info, deg. dia itu ceweknya Iska!" kata Bella lalu merangkul Rin.


"ceweknya Iska? waw.., hai...," sapa Odi sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Rin mendongakkan kepalanya lagi,


"cowok blasteran ini tinggi banget,sih..," batinnya.


"Darling, kayaknya dia malu, deh. kamu jangan ganggu dia." kata Bella sambil mendorong uluran tangan Odi.


"seriously? ya ampun, cewe malu-malu itu cute,ya." kata Odi lagi sambil senyum.


"oh,iya, kamu pasti lagi nungguin Iska,ya? ayo bareng kita aja." kata Bela lalu memeluk tangan Rin.


"ya,tapi..,"


"udah.., gak usah malu-malu." kata Bella lalu membawa Rin bersamanya.


*


Idho cemberut sambil mengayunkan ayunannya.


"woy.., lu ngambek?" tanya Iska.


"menurut lu?"


"idiih..., katanya mau jadi jendral, tapi ambekan..., ckckck...,"

__ADS_1


Idho langsung loncat dari ayunannya,


"SIALAN !!!!" Teriak nya. lalu menonjok tanah yang dipijaknya.


Bella, Rin dan Odi langsung terhenti.


"ya ampun, my cute boy bisa marah juga??" kata Bella kaget.


"mendingan kita jangan ada di dekat mereka." kata Odi.


"gue baru pertama ngeliat Idho kayak gitu...," batin Rin agak gemetaran lalu ditarik Bella ke tempatnya tadi duduk.


"Ck.., pantesan lu serius banget..," kata Idho.


"yah.., makanya, sebelum lu tau dari orang lain, gue mau kasih tau ke elu."


"jelaslah Papi marah, gue aja kesel dengernya!" kata Idho dengan amarah yang mulai mereda.


"kayaknya bilang maaf pun gak ada gunanya."


"rasanya gue mau habisin lu, tau gak!!" kata Idho, "tapi lu udah babak belur, sayangnya hati gue ini lembut." kata Idho lalu duduk di ayunannya.


Iska tersenyum, "makasih hati Idho yang lembut."


"lu__," Idho berdiri dan hampir melayangkan tinjunya.


"udah, gue cuman mau bilang itu aja." kata Iska.


"haah..., kesel gue sumpah!!!" kata Idho.


"Kalo lu mau mengingkari janji juga, lu harus kasih tau gue." kata Iska.


"yah.., sebenarnya gue juga gak mau jadi jenderal...,"


"hah?"


Idho lalu tersenyum, "gue kira bakalan gue yang ngingkarin duluan, ternyata malah elu."


"terus kenapa lu kesel?"


"yah, gue kesel, lu duluan yang ngomong."


"suka aneh deh, lu."


"udah, udah.., gue juga udah janjian sama Odi dan Bella." kata Idho lalu melihat jam tangannya.


"janjian apa?" tanya Iska.


"shopping lah..., lagi ada diskon gede-gedean di SUN departement store. Gak bisa lah di lewatin...," kata Idho.


"ooh...,"


"lu mau ikut? atau nitip?"


"enggak, gue mau pulang aja." kata Iska.


"oke, yuk, mereka udah di sini, kita samper." kata Idho sambil membaca pesan yang tertera di layar ponselnya,


"eh?" kata Idho lagi.


"kenapa?"


"kata Bella, Rin ada di sini." kata Idho.


"hah? ngapain?"


"entahlah. tadi sih dia nanya kenapa muka lu babak belur."


"hah?"


"iya, kayaknya dia udah mulai care deh sama lu." kata Idho.

__ADS_1


Iska hanya mengernyitkan dahinya,


"udah yuk, kasian nunggunya kelamaan." kata Idho.


__ADS_2