
Emalia duduk di hadapan Pak Lukas. Ia benar-benar tidak tahu kenapa ia bisa dipanggil.
"hadeeh.., saya rasa apa yang terjadi sama kamu ini agak familiar...," kata Pak Lukas.
"hah? maksud bapak?" kata Emalia bingung.
"tapi sebelum itu saya mau menanyakan sesuatu sama kamu...,"
"apa, Pak?"
"gimana belajar kamu? udah gak sering ninggalin tugas lagi di rumah?" tanya Pak Lukas.
Emalia merasa lega dengan pertanyaan Pak Lukas, ia kira, ia akan mendapatkan hukuman,
"sudah pak. Saya tidak boleh menjadi pelupa lagi. Padahal biasanya saya juga tidak pernah lupa, tapi mungkin karena saya gugup menghadapi tahun ketiga ini,pak...," kata Emalia lagi.
"begitu,ya...," kata Pak Lukas lalu mengambil barang di lacinya.
Mata Emalia terbelalak ketika melihat barang itu yang diletakkan di dalam plastik dengan label namanya,
"Emalia.., sebenarnya saya tahu kalau kamu itu tidak merokok. Penciuman saya ini sangat tajam, ketika kamu masuk ruangan saya, tidak ada aroma rokok di tubuh kamu..., Tapi apakah kamu berniat menjual ini?" tanya Pak Lukas.
"rokok?" kata Emalia.
"gue emang pernah berencana beli rokok untuk Juan..., tapi kayaknya gak pernah jadi,deh..," batin Emalia.
"Emalia...,"
"i,iya ,Pak!"
"kenapa barang ini bisa ada di dompet kosmetik kamu?"
"sa,saya gak tau, pak !" kata Emalia.
Pak Lukas menghela napas,
"semua temen kamu dengan kasus yang sama juga mengatakan hal yang sama !!!" kata Pak Lukas.
"tapi saya beneran gak tau Pak..., lagian, saya emang ngejual barang, tapi barang yang saya jual itu alat-alat kosmetik, pak. Itu juga online, Pak.., mana mungkin saya bawa ke sekolah...," kata Emalia.
"Bukankah mungkin saja dengan sikap teledor kamu akhir-akhir ini? Bukannya membawa tugas, malah bawa beginian?"
"ma,maksud bapak?"
"saya tau kamu punya hubungan khusus sama Juan, dan Juan itu sudah lama merokok, masih jadi fokus kami untuk membujuknya berhenti, Bukankah kamu bisa menjadikan ini sebagai barang pemberian untuknya?"
"ya ampun..., kok pemikiran Pak Lukas bisa sampai sana.., gak salah juga, sih...," batin Emalia.
"kamu masih mau mengelak?" tanya Pak Lukas.
"tapi, Pak.., beneran__,"
"sebenarnya saya tidak mau memberi hukuman pada kamu..., tapi kalau kamu seperti ini juga harus didisiplinkan..," kata Pak Lukas.
"tapi, Pak...,"
"untungnya kamu sudah kelas dua belas. Kami masih bisa memberikan keringanan pada hukuman kamu."
"kenapa saya dihukum, Pak??"
Pak Lukas menghela napas lagi,
"lebih baik, kamu fokus sama sekolah kamu dibandingkan perasaan kamu karena kamu tidak sanggup memperjuangkan keduanya bersamaan." kata Pak Lukas sambil mengetik sesuatu di komputernya.
"mulai besok, kamu harus mengikuti kelas di Gedung Utara...," kata Pak Lukas.
__ADS_1
"Apa, Pak ??? Tapi di sana,kan...,"
"kamu akan lebih disiplin dan fokus di sana. tenang, anggota baru komdis juga mengikuti kelas itu. Tidak perlu khawatir dengan anak berandalan...," kata Pak Lukas sambil memberikan selembar kertas yang baru saja ia cetak pada Emalia.
*
Emalia keluar dari ruang Pak Lukas dengan wajah lesu.
"woy !" tiba-tiba ada orang yang menyapanya, ia yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya,
"Iskandar !!" katanya. Entah kenapa keberadaan Iskandar membuat hatinya sedikit lega.
"lu yang terakhir,kan?" Tanya Iskandar.
"i,iya...," kata Emalia.
"oke." kata Iskandar.
"Iskandar, tunggu!" kata Emalia.
Iskandar berhenti dan berbalik,
"apa?" tanya Iskandar.
"lu bisa,gak ngomong ke Pak Lukas tentang gue.., Gue beneran gak mau dipindah ke gedung Utara...," kata Emalia.
"emangnya lu siapa?" kata Iskandar.
"tapi__,"
"udah, Pulang sana. Siapin diri lu aja. lagian Itu hukuman yang paling ringan..," kata Iskandar lalu masuk ke ruangan pak Lukas.
"huuh.., kayaknya bener kata Liska, Gak mungkin Iskandar suka sama gue.., ketus banget, sih jadi orang.., ewh...," kata Emalia kesal.
*
*
Keisha mentraktir Rin dan Yura di restoran langganannya karena kemenangannya.
"udah gue bilang, gue ini jago speech. Jadi pasti menang...," kata Keisha membanggakan dirinya.
"mood dia bagus banget, tuh...," kata Rin tak memedulikannya.
Yura tersenyum,
"Yura ikut bahagia karena Keisha bahagia." kata Yura.
"Emang deh, teman Tersayangkuh...," kata Keisha sambil tersenyum pada Yura,
"emang elu, Rin. ewh...," kata Keisha lagi.
Rin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya,
"tapi selain itu gue juga puas. Puas karena si penghalang itu udah enyah dan masuk kelas gedung Utara !! Benar-benar dua Minggu yang tenang tanpa melihat dia yang keganjenan...," kata Keisha.
"Cheers !!!" kata Keisha lagi sambil mengangkat gelasnya.
"Cheers!!" kata Rin dan Yura.
"padahal gue mau lebih keras lagi sama dia.., tapi perkataan Rin gak bisa gue abaikan...," kata Keisha lagi.
"emangnya Rin pernah bilang apa?" tanya Yura.
"Meskipun kita adalah orang jahat, berusahalah tetap terlihat baik...," kata Keisha.
__ADS_1
"tapi emang efeknya ke sana,kan? Image dia udah buruk, tapi dia gak akan menyalahkan kita. Sedangkan Image kita yang anak baik-baik tetap ada." kata Rin.
"waw..., Rin..., apakah kamu pro? Yura gak pernah kepikiran ke sana...,"
"ah.., enggak juga." kata Rin.
"nih anak aslinya jaim banget, Tunangan sama Iskandar aja sampai dirahasiakan..., ckckck...,"
"idiih..., sok kenal banget lu sama gue...," ledek Rin.
"emang beneran kenal kok...," balas Keisha.
"ayo, Cheers lagi !" kata Keisha mengangkat gelasnya.
*
Keesokan harinya,
"Tes.., Tes..," Tiba-tiba audio sekolah berbunyi.
"kepada tiga siswa yang disebutkan namanya mohon datang ke ruangan kepala sekolah...,"
Rin yang sedang sibuk menghitung soal dari Bu Emi langsung hilang fokusnya. Jarang sekali ada peringatan seperti ini.
"Ratu Keisha Evangeline dari kelas dua belas MIA A, Arini Kalista dan Yura Sulaiman dari kelas dua belas MIA C. Dimohon ketiga siswa tadi segera mendatangi ruang kepala sekolah. Ditunggu sekarang juga...,"
Tubuh Rin langsung mematung. Kenapa perasaannya benar-benar tidak enak.
"Woy.., nama lu dipanggil kepsek, noh.., abis ngapain lu.., parah, parah...," ledek Roger yang duduk di sampingnya.
"berisik!!" kata Rin kesal.
Rin menoleh ke belakang, Di sana Yura sedang menggenggam tangan Ori,
"Ori.., ini artinya apa?" tanya Yura.
"datang aja dulu. Dipanggil gitu juga gak pasti maksudnya apa." kata Ori.
"Yura.., ayo...," kata Rin.
"Arini.., Yura..., Pak Kepala Sekolah nungguin kalian.., cepat kalian ke ruangannya...," kata Bu Emi.
"Ba,baik, Bu." kata Rin.
Rin dan Yura langsung keluar kelas sambil bergandengan tangan.
Selepas mereka berdua pergi, Roger langsung pindah ke tempat duduk Yura,
"kayaknya ini soal yang kemaren,ya?" bisik Roger.
"bisa jadi..," kata Ori sambil berbisik.
*
*
*
**Kepada Pembaca "Singa VS Kucing" yang Author sayangi ♥️♥️♥️
Mohon maaf baru bisa update sekarang karena kemarin sempet salah makan jadi gak sanggup update.
Untuk ke depannya "Singa VS Kucing" bakalan update 2 Episode setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu.
Semoga kalian menikmati cerita ini dan ikuti terus sampai habis ya**
__ADS_1
♥️♥️♥️