Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 33


__ADS_3

Rin POV


Sebenarnya apa yang Bunda mau? tau-tau Nelpon Iskandar dan minta dia datang ke rumah. Rencana buat mau nolak tawaran dia, kan jadi gagal. Alhasil sekarang Aku duduk manis di dalam mobilnya. Untungnya dia bawa kendaraan.


Sekarang Aku hanya bisa duduk sambil memandang kemacetan di luar. Kenapa juga harus macet ? Bikin aku harus berlama-lama di dalam mobil ini sama dia. Sekarang suasana benar-benar canggung. Aura di dalam mobil ini juga agak mencekam. Kalau dipikir-pikir kadang aku bisa enjoy ngobrol sama dia, tapi kadang juga jadi canggung.


"Rin...," ya ampun, tiba-tiba tuh anak manggil lagi. Apalagi, nih yang bakal keluar dari mulut dia? Apa dia udah mulai bosen diam aja dari tadi, jadi berusaha memulai obrolan? tapi kenapa aku jadi merinding, ya?


"Rin, gue manggil elu !" Aku memejamkan mata, kali ini dia memanggilku dengan Aura yang lebih mengintimidasi. Aku sama sekali tidak berani menoleh,


"Apa...," kataku malas, eh, takut sebenarnya, tapi berusaha aku sembunyikan.


"lu suka sama Ori, ya?"


Nih anak nanya hal gak jelas apa lagi, sih?? Pertanyaannya itu berhasil membuatku memutar badan dan menghadap ke arahnya sekarang,


"APA???" kataku kaget.


"reaksi lu kaget gitu, jadi bener, ya?" tanya dia lagi. Baiklah, kita analisis pertanyaan pertama dan kedua dia, Hem.., dia nanya aku suka sama Ori atau enggak, dan minta kejelasan apakah itu benar atau enggak,


"Rin..., gue nanya ke elu !!" bentaknya lagi.


"iih..., pertanyaan lu tuh aneh, gue jadi gak bisa mikir !!" kataku balas membentak karena merasa dipojokkan.


"buat apa dipikirin kalo lu emang suka ya bilang....," di sela-sela kemarahannya dia berhenti terus senyum-senyum sendiri. Ya ampun, image dia yang dingin, kejam dan gak berperasaan itu seketika hilang. Sumpah orang super aneh yang pernah aku temuin.


"Heh, jawab ! Gue butuh kejelasan !!!" kata Iska lagi. Aku menghembuskan napas kasar, kukira dia udah gak mau nanya lagi.


"Gak !" kataku.


ciiit....,


tiba-tiba dia ngerem, padahal jalannya gak kenceng juga.


"Woy ! nyetir yang bener !!" kataku panik.


"sorry, " mulutnya bilang maaf, tapi wajahnya bahagia banget. Dia kenapa, sih? ya ampun, di otakku hasil analisis udah keluar, gak, aku gak mau mengakui itu.


"Baguslah. Lu itu calon tunangan gue. Bakal aneh kalo lu suka sama sahabat gue sendiri." katanya lagi. Oh, ternyata yang dia pikirkan adalah reputasi. Apa karena dia berasal dari kelas XI MIA A yang sempurna makanya dia selalu konsen dengan reputasi yang sempurna juga? setidaknya hasil analisis di otakku tadi tidak benar. Aku lega sekarang.


"muka lu bahagia banget." katanya lagi tiba-tiba. Aku memperhatikannya, sepertinya dari tadi dia hanya fokus dengan jalan, lalu kenapa bisa lihat ekspresi wajahku ?


"woy, Rin, gue tau lu itu pendiem, tapi setidaknya kalo diajak ngomong nyaut, kek. meskipun males, kan lu bisa bilang iya aja atau enggak. Gue bener-bener gak nyaman menikmati kemacetan dengan orang lain dan diem aja. lu gak nganggep gue sopir lu, kan?" kata Iska panjang lebar. Ternyata dia cuman basa-basi, tapi pertanyaannya tadi kenapa kedengaran serius.


"uhmm...,"

__ADS_1


"lu sebenarnya kenapa, sih, biasanya juga tiba-tiba mulut lu ngalir kayak air. gak bisa berhenti nanya ini-itu." kata Iska.


"Iska, lu bisa gak, sih gak cerewet ??? kuping gue panas denger suara lu, tau gak ???" Aku langsung menutup mulutku. Berani-beraninya mulut ini asal berucap. Matilah aku kalau dia tersinggung.


"gue cerewet? haha..., gue cerewet...," katanya malah ketawa.


"lu lucu kadang-kadang,ya..," katanya lagi.


Lucu darimananya coba??? Nih otaknya kepinteran, jadi suka miring, kali, ya?


"sorry,ya." katanya lagi tiba-tiba.


"sorry buat apa?"


"kayaknya lu gak nyaman."


"tuh lu sadar bambwang !!!" batinku kesal. aku hanya bisa melipat kedua tanganku.


Iskandar melirikku. Lalu ia tersenyum, terlihat jelas dari sudut mataku ini, ya mesti aku menggunakan kacamata, tapi penglihatanku tidak seburam itu. Sebenarnya apa yang dia tertawakan. Apakah dia mengejekku?


"lu.., lu kenapa ketawa dari tadi?" tanyaku akhirnya karena saking penasarannya.


"soalnya lu lucu. Kayak Yura. Gue gak nyangka lu seimut itu, hahaha...," Kini ia melepas tawanya.


"lucu kayak Yura? Benar. Ekspresi dia khawatir pas tadi Ori bilang Yura adalah ceweknya."


"apa?" katanya masih tersenyum.


"lu..., punya cewek yang lu suka, ya?" tebakku.


seketika raut wajahnya berubah. Ia menggigit bibir bawahnya. Bola matanya tidak bisa diam, melihat kebawah, lalu ke atas, lalu ke samping kanan,


"Iska?" kataku menanti jawabannya.


"ada." katanya singkat.


Mendengar itu seketika aku merasa sesak. Siapa cewek yang berhasil buat Iska menyukainya, Aku ingat betul kalau Keisha pernah bilang Iska selalu menolak cewek yang nyatain perasaan padanya.


"apa cewek itu satu sekolah dengan kita?" tanyaku lagi.


"iya." katanya lagi.


Aku menelan ludah. Apa dia itu Yura ?


"terus kenapa lu setuju sama pertunangan ini?" tanyaku. Dibandingkan siapa cewek itu aku lebih penasaran dengan alasan sesungguhnya dia menerima perjodohan ini.

__ADS_1


"kan waktu itu gue udah bilang. Udah, gak usah dibahas lagi. Ah, akhirnya...," katanya ketika melihat jalanan sudah tidak macet lagi.


"gue bakalan anterin lu pulang dengan selamat !" katanya lalu memindahkan persneling nya.


"Iska, jangan kencang-kencang, awas lu."


"lu udah pake sabuk pengaman,kan?" tanya Iska.


"u, udah...," kataku.


"kalau gitu, berdoa aja!"


seketika mobil langsung melaju kencang,


"waa..., Iskandar bego !!!!" kataku berteriak.


*


Aku berjalan sambil terhuyung-huyung setelah keluar mobil. Iskandar bodoh itu benar-benar membuatku mau mati saja. Yah, meskipun aku akui kemampuannya menyetir itu sangat hebat. Aku benar-benar tidak sanggup berjalan untuk masuk ke rumah, kakiku lemas,


"Hap!" tiba-tiba ada yang menangkap tanganku yang berusaha mencari pijakan,


"untuk jadi tunangan Iskandar, lu harus terbiasa." katanya.


"hah? apa?"


"karena sekarang baru pertama kali, jadi gak apa-apa..," kata Iskandar lalu mengambil pinggangku dengan kedua tangannya dan mengangkatnya,


"Waaa !!!! Iskandar !!! lu mau ngapain ????" tanyaku sambil memejamkan mata.


"kayaknya lu gak bisa jalan lagi, jadi gue gendong aja, ya." katanya. Ia lalu menggendongku seperti karung beras di atas bahunya.


"Iska, turunin, gue. Gue tau, gue kecil, tapi gak gini juga." kataku panik. Dia kenapa, sih hari ini. Lihat aja, kalo bunda tau, habis dia.


"oh, gak suka diginiin?" tanyanya lagi lalu mengangkatku lagi.


"Waaa....," aku berusaha memukulnya, tapi tak bisa,


"siap-siap, ya...," katanya lalu melempar ku ??!!!


"Waaa... !!!" ya ampun ini lebih menakutkan daripada naik wahana ekstrem.


"Hap!" dia menangkapku hingga terjatuh di lengannya ala bridal style.


Aku shock. Ya ampun, aku tidak di tanah??

__ADS_1


"Iska..., lu kenapa, sih ???" kataku kesal.


"udah, ayo masuk." katanya tidak mempedulikan pertanyaanku.


__ADS_2