Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 45


__ADS_3

Iskandar menghentikan mobilnya di depan rumah Rin. Ia melirik ke arah Rin yang masih tertidur. Diam-diam Iskandar melepas kacamata Rin, ia lalu tersenyum sambil memperhatikan wajah polos Rin yang tertidur,


"bisanya lu marah-marah atau gak ngedumel kalo bareng gue..., eh?" kata Iskandar.


"tapi akhir-akhir ini lu sering megang tangan gue."


Iskandar lalu memandang telapak tangannya,


"dari genggaman lu..., gue bisa ngerasain kalo lu ada masalah...," kata Iskandar lagi lalu memandang Rin, Tiba-tiba ada yang mengusik pikirannya,


"tapi gue ngerasain di akhir-akhir masa gue jadi ketua komdis bakalan terjadi masalah besar..., haah.., itu,kan karma kalo jadi ketua komdis, haha...," kata Iskandar sambil memijat-mijat keningnya.


"Iskandar...," Iskandar langsung berdiri tegak ketika Rin menyebut namanya.


"lu udah bangun?" tanya Iskandar.


Rin menyipitkan matanya sambil celingak-celinguk,


"gue tidur lama banget,ya? udah sampe belum?"


"gak apa-apa kalo mau tidur lebih lama lagi, kayaknya lu capek banget...," kata Iskandar.


"gak, gak.., gue mau balik aja.., tapi kacamata gue dimana?" tanya Rin.


Iskandar tersenyum,


"coba lu merem...," pinta Iskandar.


"Iskandar, gue gak mau bercanda..," kata Rin sambil memejamkan matanya,


"keh.., meskipun kesel, tetep lu ikutin,kan?" tanya Iskandar sambil memasangkan kacamata Rin.


BLUSH !


Wajah Rin langsung memerah,


"apaan, sih !! gue mau balik!" kata Rin berusaha membuka pintu mobil tapi tidak bisa.


Iskandar lalu membuka kunci mobilnya dengan tombol otomatis,


"jangan lupa barang lu...," kata Iskandar sambil mengambil kantong belanjaan milik Rin.


Rin langsung mengambilnya,


"ka,kalau gitu, gue balik dulu...," Rin langsung membuka pintu dan masuk ke rumahnya.


*

__ADS_1


Iskandar masuk ke dalam kamarnya dan di sana sudah ada Ori yang asyik memainkan game online di ponselnya.


BUG !


Iskandar langsung melemparnya dengan bantal yang tergeletak di sofa dekat pintu kamarnya,


"apaan, dah lu??" kata Ori kesal karena terganggu lalu kembali sibuk dengan layar ponselnya,


"nih hadiah cewek lu..," kata Iskandar sambil menyerahkannya pada Ori.


"lah? udah lu beliin?" tanya Ori langsung beranjak dan melupakan ponselnya.


"gue khawatir lupa, dan di situ ada hadiah dari gue juga, tenang, udah dibungkus,kok." kata Iskandar lalu mengambil kaosnya di lemari lalu masuk ke kamar mandi,


"ah sial ! gue lupa...," katanya langsung mengambil ponselnya,


"tuh,kan kalah..., haduuh..., dasar...," ia mengacak-acak rambutnya,


"toxic banget,sih kalo punya cewek...," katanya sambil tersenyum.


"woy.., lu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Iskandar yang memergokinya,


"lah? bukannya lu di kamar mandi?? kok udah keluar aja? tembus tembok lu,ya??"


"apaan.., kepala lu tuh mikirin Yura Mulu, sih..," katanya sambil mengelap wajahnya yang basah dengan handuk di lehernya.


"udahlah..," kata Iskandar lalu memasukkan handuknya ke keranjang baju kotor. Iskandar lalu tiduran di samping Ori,


"geseran lu !!" kata Iskandar,


"wailah, lu, di sana luas juga...," kata Ori lalu bergeser dan sibuk dengan ponselnya lagi.


"gue capek, nih...," katanya lalu menutup mata dengan lengannya.


"capek? tumben seorang Iskandar bisa capek. keliling gunung seratus kali juga lu masih kuat berenang mengarungi samud__,"


Bug !


Iskandar melempar wajah Ori dengan bantal lagi,


"lebay amat dah, lu...," kata Iskandar yang suaranya makin mengecil.


Ori langsung menyingkirkan bantal dari wajahnya,


"lu gak mau main sama Isabel dan anak-anaknya?" tanya Ori.


"Papah mau istirahat dulu. mainnya nanti sore aja." katanya.

__ADS_1


"pft..., makin aneh aja lu.., muka doang yang sangar...," kata Ori.


*


Iskandar POV


"Iskandar...," kenapa tiba-tiba ada yang memanggilku? Aku masih lelah. Masih mau tidur.


"Iskandar..., bangunlah..," Bukankah itu suara Rin. Kucing kecilku yang imut. Aku tersenyum, tapi masih memejamkan mataku.


"Iskandar...," Dia memanggilku lagi. Tapi kenapa dia bisa memanggilku? Bukannya aku sudah mengantarkannya pulang?


Aku langsung membuka mata dan aku langsung disambut oleh senyum manisnya. Kenapa dia tersenyum padaku?


"Akhirnya kamu bangun...," Apakah dia benar-benar seorang Rin?


"Rin...," aku menyebut namanya, tapi tiba-tiba ia hilang. Aku langsung terduduk, tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Apa ini mimpi? Ya, harusnya ini adalah mimpi. Kalau situasi seaneh ini pasti adalah mimpi. Pantas saja tiba-tiba Rin jadi bersikap lembut padaku. Lebih baik aku memejamkan mataku lagi. Sepertinya akhir-akhir ini aku begitu lelah sampai bermimpi seperti ini.


Aku lalu membuka mataku perlahan dan di hadapanku lagi-lagi ada Rin yang menatapku dengan wajah kagetnya. Ia duduk bersimpuh di sampingku yang tertidur di lantai. Aku tersenyum, mungkinkah ini mimpi lagi? Kalau ini mimpi harusnya Rin tidak marah atau pun membenciku. Biasanya mimpi selalu mengikuti apa yang kita inginkan. Aku lalu menyentuh pipinya lembut. Rasanya aku ingin mencium setiap bagian wajahnya yang manis itu. Tunggu, kita ini,kan baru tunangan, apa boleh aku melakukannya? Masa bodo, tanganku yang memegang pipinya sudah merambat ke tengkuknya dan mendorongnya agar wajahnya mendekati wajahku.


Perlahan-lahan aku juga mendekatkan wajahku padanya, Ia langsung memejamkan matanya, wajahnya memerah. Kalau begini rasanya dia manis sekali. Lama-lama aku memejamkan mataku dan,


"STOP ISKANDAR !!!" tiba-tiba ia berteriak membuat aku berhenti. Aku langsung membuka mataku. Apa ini bukan di dalam mimpi ? kenapa terasa sangat nyata?


"Please.., stop Iskandar...," lirihnya dengan memejamkan matanya.


Plak !


Aku menampar wajahku sendiri,


"Aaw...," rintihku.


Aku langsung menarik tanganku dari tengkuknya dan menjauhkan wajahku. Rin langsung menjauh dariku. Aku langsung bangun. Aku yang masih bingung memandang ke sekeliling. Aku ternyata ada di rumah Isabel. Aku baru ingat kalau aku menghabiskan waktuku di sini. Aku benar-benar bodoh. Padahal sudah dua hari yang lalu aku bertemu dan mengantarkan Rin ke rumahnya. Sebenarnya aku ini kenapa?


Aku memandang Rin yang masih agak shock.


"Rin...," aku memanggil namanya.


Rin menoleh pelan ke arahku,


"maaf...," kataku.


Dia terdiam dengan mata yang berkaca-kaca,


"permisi..," katanya lalu pergi begitu saja tanpa menerima permintaan maafku.


Iskandar Radjamuda Utama kau adalah laki-laki terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Kacau, bisa-bisa Rin semakin membenciku.

__ADS_1


"meong...," tiba-tiba Isabel mendekatiku. Aku langsung menggendongnya dan memeluknya.


__ADS_2