Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 20


__ADS_3

Ting


Tong


tiba-tiba bel berbunyi lagi,


"kayaknya keluarga gue udah dateng." kata Iskandar lalu beranjak. Ia lalu mengulurkan tangannya,


"ayo..,"


Rin lalu mendorong uluran tangan Iska,


"gue bisa sendiri." katanya.


"ah.., oke..," kata Iska lalu menyimpan tangannya.


"Amanda...!" suara heboh Friska langsung menggelegar ke seluruh rumah Rin.


"Friska !!!" kata Amanda yang datang lalu mereka berpelukan.


Di belakang Friska sudah berdiri seorang anak laki-laki tinggi dengan senyuman manisnya.


"apa ini Awan?" tanya Amanda.


"Hallo, Bunda, apa kabar?" tanya Awan lalu langsung memeluk Amanda.


"ya ampun, makin ganteng aja kamu,ya..," puji Amanda.


"terimakasih bunda cantik." balas Awan.


"Hallo Bunda Amanda, kita ketemu lagi." kata Dita.


"Hallo cantik..," kata Amanda lalu melepas pelukan Awan dan memeluk Dita.


"oh,iya Iskandar udah Dateng?" tanya Friska.


"harusnya, sih udah, motornya ada, tuh di depan." kata Awan.


Friska lalu melirik ke belakang Amanda, di sana ada Rin dan Iskandar yang berjalan di belakangnya,


"nah, ini dia best couple kita..., Iskandar !!" suara Friska meninggi saat menyebut nama putra keduanya,


Friska lalu berjalan ke belakang Amanda, ia langsung menjewer telinga putranya itu,


"kamu kira ini kencan kalian berdua doang, kenapa pake baju santai begini ???" kata Friska.


"aw.., iya, Mi..., Iska tadi cuman bawa ini abis berenang...," kata Iska.


"pft..," diam-diam Rin tertawa,


"akhirnya gue ngeliat aibnya, ternyata dia gak sesempurna itu, aduuh.., lucu, deh..," batin Rin.


"ehem!" Awan berdehem untuk menegur Rin,


"lu sesuka itu,ya sama Adek gue? atau malah kebalikannya?" tanya Awan.

__ADS_1


Rin melirik, matanya langsung terbelalak saat mendapati ketampanan Awan, "ja,jadi ini yang Ayah bilang playboy itu? Gak salah, sih, emang ganteng...," komentar Rin dalam hati,


"woy.., lu bengong? terpesona sama kegantengan gue,ya?" ledek Awan.


"ugh.., enggak, kok!" kata Rin buru-buru dan langsung membuang muka. Hal itu tak luput dari pandangan Iska.


"ada apa di sini ribut-ribut?" Yoyo tiba-tiba muncul.


"Mas Yoyo!!' kata Harry dari belakang heboh, dan langsung memeluk sahabat lamanya itu.


"Harry!!!" balas Yoyo lalu membalas pelukan sahabatnya itu.


"hahaha..., padahal baru Minggu lalu kita mancing bareng, sebahagian ini setelah ketemu lagi...," kata Harry.


"itu karena kita akan mengupgrade hubungan kita..," kata Yoyo.


"Mas Yoyo benar, hahaha....," kata Harry sambil melepas pelukannya.


mereka berdua lalu melihat ke sekeliling, semua orang sedang memperhatikan dua bapak-bapak itu,


"Allahu Akbar, Allahu Akbar...,"


Adzan Zuhur berkumandang,


"ayo para lelaki, kita ke masjid dulu, baru dilanjut makan siang..," kata Harry.


*


Setelah selesai makan siang, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


keluarga Rin dan Keluarga Iska berada di sisi yang berbeda,


Kalimat Yoyo dipotong oleh Harry, "Mas Yoyo, santai aja kali..., gak usah formal-formal banget." kata Harry.


Mendengar itu dengan reflek Amanda mencubit paha suaminya, "aaw...," kata Harry pelan, Amanda langsung memelototi Harry,


Yoyo tersenyum menyaksikan itu,


"ya,ya.., seperti yang udah sama-sama kita ketahui, kalau kita di sini untuk membicarakan perjodohan Iskandar dan Arini." kata Yoyo.


"tapi, tentang perjodohan ini sebelumnya, saya ingin menanyakan sekali lagi, apakah Iskandar dan Arini setuju? karena mereka berdualah yang akan menjalaninya setelah ini." kata Yoyo.


Rin langsung memandang Iskandar yang begitu tenang, ia lalu melirik ke arah Bundanya,


"kalo gue tolak, Bunda pasti langsung cemberut. Duuh..., rasanya mau jadi orang egois aja, deh. Tapi nanti gimana kalo hubungan kedua keluarga ini memburuk?" batin Rin.


"Iskandar, jawablah enggak. please...,". batin Rin sambil menatap mata Iskandar.


"baik, kita dengar jawaban dari nak Arini terlebih dahulu. Kira-kira apa jawaban kamu, nak?" tanya Yoyo.


"sial.., gue lagi yang ditanya duluan..," batin Rin sambil menunduk.


"nak Arini?" tegur Yoyo, tetapi Rin masih terdiam.


"mungkin jika diam saja, bisa diartikan setuju, karena diamnya perempuan itu tanda dia setuju." kata Yoyo.

__ADS_1


"mampus, diem salah.., tapi kalo ngomong,pun gak bisa bilang tidak? duuh...," batin Rin bingung.


"nak Arini?" tegur Yoyo lagi.


Rin lalu mengangkat kepalanya, "Rin.., Rin..., Rin ikut jawaban Iskandar aja." kata Rin.


"please Iskandar, tolong gue...," batin Rin.


"begitu? kalau begitu apa jawaban Iskandar?" tanya Yoyo lagi.


Iskandar lalu menatap Rin yang sedang menyesali jawabannya, lalu matanya langsung menatap Yoyo dan Harry yang sedang menanti jawabannya,


"jawaban Iskandar adalah setuju." Tegas Iskandar. Awan langsung tersenyum mendengar itu, wajah Dita langsung sumringah, begitu juga Friska dan Amanda.


"Iskandar, gue bakal ngutuk lu sekarang juga!!!!" batin Rin.


"karena jawaban Iskandar setuju, maka otomatis jawaban Rin juga setuju." kata Yoyo menarik kesimpulan.


"tapi...," kata Iskandar tiba-tiba membuat semua orang menatapnya,


"Iskandar tidak ingin pernikahan. Itu teralu beresiko bagi anak SMA seperti Iska dan Rin. di usia SMA ini pemikiran dan mental kami masih abu-abu dan belum dewasa, masih banyak hal yang harus dipelajari untuk membangun rumah tangga yang baik. Selain itu, Iskandar belum memiliki penghasilan. Dan lagipula usia Iskandar juga belum delapan belas tahun. Belum sesuai dengan peraturan perkawinan yang ada sehingga imbasnya pernikahan ini tidak akan langsung tercatat...," kata Iskandar panjang lebar.


"apa maksud kamu, Iskandar, jika bukan pernikahan lalu apa?" tanya Friska.


Iskandar lalu menatap mata Ibunya itu,


"Pertunangan. Iskandar hanya setuju jika kami bertunangan dulu." kata Iskandar.


"mungkin empat atau lima tahun setelahnya baru menikah." kata Iskandar, matanya langsung menatap mata Rin yang sedang memandangnya tak percaya.


"bukannya itu teralu lama? Bagaimana jika tiba-tiba kalian membatalkan pertunangannya?" tanya Amanda.


"mau bagaimana pun Iskandar dan Rin yang akan menjalaninya. Jika memang Iskandar dan Rin berjodoh, selama apapun, kami akan tetap menikah." kata Iskandar.


"anak kelas dewa emang beda." batin Rin.


"Papi...," kata Friska.


Yoyo malah tersenyum, "baiklah. Bukan ide yang buruk, lagipula apa yang dikatakan Iskandar juga tidak salah. Jadi, Bagaiman menurutmu, Harry?" tanya Yoyo.


"empat atau lima tahun, ya..., hemm.., setelah mendengar penjelasan Iskandar, memaksakan putri kecilku untuk menikah di usia yang masih belia juga bukan langkah yang baik. bertunangan lalu setelah empat tahun menikah? bagaimana?" tanya Harry.


"ayah...," kata Amanda.


"Papi...," kata Friska.


"Iskandar setuju." kata Iskandar.


"lalu, Arini, apa mau berkomentar?" tanya Yoyo.


"ya, Rin setuju." kata Rin.


Iskandar langsung memandang Rin, Ia bahkan tidak mengharapkan persetujuan dari seorang Rin. Diam-diam ia tersenyum,


"hanya ini yang bisa gue lakuin buat lu. Sorry, gue gak bisa batalin perjodohan ini." batin Iskandar.

__ADS_1


Rin lalu menoleh menatapnya, ia memicingkan matanya, ia lalu menunjuk Iskandar dan menunjuk dirinya lalu menunjuk ke arah sembarang,


"sepertinya harus membicarakan sesuatu..," gumam Iskandar.


__ADS_2