
Liska membuat garis spiral di bukunya. Kali ini tidak ada guru di kelasnya. Mereka hanya disuruh mengerjakan soal yang tadi dibagikan oleh ketua kelas. Hatinya kali ini rasanya sesak. Tanpa sengaja tadi ia mendengar percakapan antara Yura dan Rin. Kurang lebih perasaannya sekarang mirip dengan perasaan seorang Yura kepada Rin.
"padahal Rin temen gue dari SMP.., bisa-bisanya gue mencurigai dia, ngatain dia, gak percaya sama dia. Padahal seharusnya gue yang paling tau dia itu kayak gimana?" kata Liska bicara sendiri.
"Liska.., Aku boleh duduk di sini,ya.., di tempat aku anak-anak berisik banget...," kata Hesti sang ketua kelas tiba-tiba datang.
"eh,iya.., kebetulan Emalia lagi gak masuk..," kata Liska mempersilahkan.
"makasih..," kata Hesti lalu ia langsung mengerjakan soal lagi.
Liska melirik ke arah Hesti yang sangat serius. Setau Liska, Hesti adalah salah satu anak beasiswa di sekolahnya, dia tidak memiliki teman dekat di kelas ini, tapi kabarnya dia sangat dekat dekat dengan Rhama anak XII MIA A. Bukankah dia sangat cocok dijadikan teman curhat? Apalagi dia ketua kelas yang sangat bijaksana bagi anak XII IIS B.
"Hesti...," kata Liska.
"Hm?"
"gue boleh nanya sesuatu gak?" tanya Liska.
"tanya apa?" kata Hesti yang masih asyik mengerjakan soal.
"lu deket, ya sama Rhama anak MIA A?" Tanya Liska.
"uhm.., ya begitulah..," kata Hesti santai.
"lu pernah,gak berantem gitu sama dia?" tanya Liska lagi.
"pernah..," kata Hesti enteng.
"pernah? kapan?"
"waktu kelas sepuluh..," kata Hesti lalu mulai berhenti mengerjakan soal. Dia berusaha mengingat kejadian dua tahun lalu,
"karena kesalahpahaman...," kata Hesti lalu fokus pada soalnya lagi.
"kesalahpahaman?? maksudnya??" tanya Liska mulai penasaran.
Lagi-lagi Hesti berhenti mengerjakan soalnya, ia lalu melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka berdua,
"sebenarnya aku suka sama Rhama...," bisiknya.
"eeh??" kata Liska kaget tapi agak berbisik.
"te,terus?"
"ya.., dia sempet deket gitu sama Veronica anak MIA C.., jadinya jealous, deh.., Haha.., konyol banget aku waktu itu. Aku bahkan sampe diemin dia. Jadinya dia yang kebingungan karena aku tiba-tiba menjauh...," kata Hesti sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"terus baikannya gimana?" tanya Liska,
"Dia yang minta maaf tanpa tahu kesalahan dia." kata Hesti lalu berpikir,
"tapi dia juga jelasin kalo Veronica yang deketin dia, dianya biasa aja. Hemm.., kenapa dia jelasin itu,ya? Atau jangan-jangan dia sadar kalau aku suka sama dia !!! Aduuh.., Malu !!" kata Hesti sambil menutup wajahnya.
"Hesti, Lu tau,kan Rhama itu orang yang paling pinter yang pernah ada di sekolah kita? Kemungkinan besar dia pasti taulah...," kata Liska.
"ah., bodo, ah ! Aku gak mau tau. Hesti, fokus sama pendidikan.., fokus sama pendidikan...," kata Hesti tak mau tau.
"tapi, Hesti.., gimana ceritanya elu menghadapi Rhama?" tanya Liska.
"ya.., awalannya juga aku menghindar, tapi aku tahu kalo marah lama-lama gak baik, lagian aku juga marahnya marah sendiri." kata Hesti lagi.
"ah, iya, ya.., beda kasus sama gue berarti..," kata Liska.
"kasus? kenapa? kamu lagi marahan sama temen kamu?" tebak Hesti yang sangat tepat.
"uhm.., gue punya temen.., dan dia lagi marahan sama temen lainnya..,"
"oh.., kamu pihak ketiga yang netral? jadi posisi kamu sulit,ya?" Tebak Hesti.
"nah,iya.., kayak gitu...,"
"gimana,ya caranya bikin mereka baikan?" tanya Liska.
"hemm.., kalau aku jadi kamu.., aku akan jadi orang yang mau mendengarkan masalah mereka lalu membantu menyelesaikannya. Mereka berdua pasti punya alasan kenapa mereka berantem..," kata Hesti.
"mereka berantem karena ternyata temannya itu jahat, banyak kejahatan yang dia lakukan, tapi salah satu kejahatannya itu sudah diberi hukuman dan kejahatan lainnya belum pasti kebenarannya..,"
"pertama, untuk kesalahan yang telah dia dapatkan hukumannya, apakah dia sudah menyesalinya?" tanya Hesti.
"entahlah.., tapi sepertinya dia tidak mengulanginya lagi..,"
"bisa jadi dia menyesalinya...,"
"kalau begitu harusnya kesalahan pertamanya dimaafkan..,"
"lalu bagaimana yang kedua?"
"Hem..., harus cari tau dulu kepastiannya, apakah dia benar-benar melakukan itu atau tidak, kalau tidak, temanmu itu tidak punya alasan lagi untuk marah. Jangan buang-buang energi dengan mendendam pada orang..," kata Hesti.
"temanmu itu tidak punya alasan lagi untuk marah? Entah kenapa hati gue mengatakan gue cuman cari-cari alasan buat marah..," batin Liska.
"begitu,ya..," Akhirnya itu yang keluar dari mulut Liska.
__ADS_1
"yah.., semoga persahabatan kalian tetap awet,ya.., kalo ada satu yang pergi, pasti rasanya gak enak.., eh, iya, kerjain tuh soalnya, jadi ngobrol kita, haha..," kata Hesti.
"persahabatan tetap awet...,". batin Liska. tersentuh.
"ya ampun..., ketua kelas.., terimakasih,ya..," kata Liska lalu memeluk Hesti.
"eh, iya-iya..., jangan lupa soalnya, nanti aku lagi yang dimarahin..," kata Hesti lagi.
*
Hari-hari berjalan seperti semula. Sekolah sempat diramaikan oleh pemilihan ketua OSIS baru. Namun hal itu sudah berlalu, semua anggota organisasi periode tahun lalu benar-benar sibuk karena harus menghadapi sidang pertanggungjawaban.
Rin duduk di tempat tidur Amanda sambil cemberut,
"Bunda cuman pergi seminggu, makanya selama seminggu itu kamu tinggal di rumah Mami,ya...," kata Amanda sambil mengatur kopernya.
"kenapa, sih Bunda.., Rin,kan bisa tinggal di rumah sendirian...," kata Rin.
"enggak. Kamu itu perempuan. Nanti kalo kamu kenapa-napa gimana? siapa yang mau nolongin?? Di sana,kan ada Iskandar." kata Amanda lagi.
"tapi Iskandar pasti sibuk sama urusan organisasi..," keluh Rin dalam hati.
"Rin.., kamu dengar, bunda,kan?" tanya Amanda yang tidak mendapatkan respon dari putrinya.
"iya,iya.., jadi Rin mulai besok nginap di rumah Mami, nih...," kata Rin.
"iya.., lagian hubungan kamu sama Iskandar kayaknya udah semakin dekat.., kamu pasti diam-diam senang,kan..," kata Amanda menggoda Rin.
"ih, Bunda.., apaan, sih..," kata Rin malu. Sebenarnya ia senang jika memang harus tinggal serumah dengan Iskandar, tapi apakah Iskandar akan ada di sana. Kalau buat laporan pertanggungjawaban itu, bisa pulang sampai malam. Serumah atau tidak, rasanya pasti akan sama.
Amanda lalu duduk di samping Rin lalu membelai rambut putri satu-satunya itu,
"maaf,ya sayang.., Ayah kamu emang kadang suka manja, harus didampingin kemana-mana..," kata Amanda.
Rin berusaha tersenyum,
"iya, Bun.., Rin ngerti,kok..," kata Rin.
.
.
.
♥️♥️Kalian suka cerita ini? jangan lupa like, comment dan vote ya. Dukungan kalian sangat berharga bagi Author ♥️♥️
__ADS_1