
RIN POV
Aku dan Yura datang ke ruangan kepala sekolah. Di sana sudah ada Keisha yang sedang duduk bersama Iskandar di sofa yang ada di ruangan kepala sekolah.
"Arini Kalista dan Yura Sulaiman...," sapa Pak Jamil, kepala sekolah kami.
"iya, Pak..," kataku dan Yura berbarengan.
"rileks..., jangan teralu tegang...," kata Pak Jamil yang masih duduk di bangkunya.
"Iskandar, kamu boleh kembali ke kelas." kata Pak Jamil.
"Baik Pak." kata Iskandar lalu keluar dari ruang kepala sekolah. Aku merasa ada yang aneh, Ia bahkan tidak menatapku sama sekali.
"jadi silahkan Arini dan Yura duduk di sofa bersama Keisha...," kata Pak Jamil mempersilahkan. Aku dan Yura hanya mengikuti instruksi saja.
Pak Jamil lalu membereskan beberapa berkas lalu duduk di sofa yang ada di hadapan kami.
"Hallo anak-anak...," sapa Pak Jamil ramah. Ya, Memang sifat Pak Jamil ini sangat ramah. Beliau juga adalah kepala sekolah favorit di sekolah ini. Sudah 7 tahun beliau menjabat sebagai kepala sekolah.
"Maaf, Pak.., sebenarnya kita bertiga ini dipanggil ke sini itu karena apa,ya Pak?" tanya Keisha.
"Oh,iya.., Keisha.., terimakasih sebelumnya karena telah mengukir prestasi bagus sekolah ini sekali lagi." kata Pak Jamil.
"sama-sama, Pak." kata Keisha.
Kenapa Pak Jamil gak to the point aja,sih? Aku benar-benar deg-degan.
"Oh,iya, tadi Keisha bertanya, kenapa kalian dipanggil ke sini." kata Pak Jamil Kami bertiga mengangguk kompak.
"Hem.., sebelum saya beri tahu, coba Arini dan Yura, karena kalian tidak bertanya, mungkin kalian tahu?" tanya Pak Jamil lagi sambil menatapku dan Yura secara bergantian.
Yura lalu menggeleng,
"saya tidak tahu, Pak...," kata Yura.
"Arini?"
"saya__,"
"kalau Bapak lihat, sepertinya kamu tahu, tapi tidak mau jawab." kata Pak Jamil sambil tersenyum. Kenapa Pak Jamil malah menekanku?
"maksud Bapak?" tanya Keisha.
"oh, sepertinya Keisha sudah ingat kenapa dipanggil ke sini?" kata Pak Jamil lagi.
Otakku dengan cepat langsung menganalisis dan hasilnya adalah sebuah pertanyaan, Apakah Pak Jamil tau tentang apa yang aku, Keisha dan Yura lakukan pada Emalia?
"Arini, mau menjawab?" tanya Pak Jamil lagi.
__ADS_1
"uhm..," tiba-tiba lidahku kelu. Aku tidak bisa menjawabnya.
"kalau begitu lihat ke layar...," kata Pak Jamil lalu menyalakan proyektor yang ada di ruangannya. Mataku terbelalak melihatnya. Ruang chat Antara aku, Keisha dan Yura tentang rencana memperburuk image Emalia muncul di layar. Bahkan video berisikan jurnalku yang menyusun rencana dengan kerangka konsep juga ada di sana.
"kenapa bisa ada di sana? siapa yang screenshot??" batinku saat itu.
"kalian tau tidak apa yang kalian lakukan?" tanya Pak Jamil. Kami semua diam. Bingung harus jawab apa. Mengelak pun tak bisa.
"kalian itu hampir saja membunuh karakter seseorang." kata Pak Jamil.
"kalian tahu dampaknya bagi dia?" tanya Pak Jamil lagi. Lagi-lagi kami terdiam.
"dia bisa dapat penilaian buruk dari sikapnya. Dia bisa kehilangan kepercayaan guru, kehilangan temannya, Bisa-bisa tidak mendapat universitas negri, bahkan bisa tidak melanjutkan sekolah." kata Pak Jamil lagi. Kami benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
"sudah minta maaf padanya?" tanya Pak Jamil.
kami bertiga hanya menggeleng.
"siapa di antara kalian bertiga yang mau menjelaskan lebih dulu alasan kalian melakukan ini?" tanya Pak Jamil lagi.
"saya, Pak!" kataku. Aku benar-benar mengumpulkan banyak keberanian untuk mengatakan dua kata itu.
Pak Jamil tersenyum,
"baiklah Keisha dan Yura silahkan tunggu di luar." kata Pak Jamil.
*
"jadi silahkan jelaskan Arini Kalista." kata Pak Jamil.
Aku mengambil napas dalam-dalam,
"saya otak dari semuanya, Pak. Saya yang bersalah." kataku. Sebaiknya begini saja. Memang ide ini berasal dariku.
"berarti kamu dalangnya?" tanya Pak Jamil.
"iya." kataku.
"kamu sedang membela siapa?" tanya Pak Jamil. sebuah pertanyaan yang tidak aku duga.
"maksud bapak?" tanyaku.
"Arini Kalista, dua tahun berturut-turut sebaga anak teladan, kemarin sempat difitnah, tapi masalah itu sudah selesai..., Memang mungkin kamu bisa jadi dalang dari semua ini, tapi apa kamu punya masalah pada Korban?" tanya Pak Jamil.
"ada ! Emalia teralu agresif pada Juan dan saya tidak suka itu." kataku. Memang itu alasannya.
"Juan? Juanda Thomas Nasution anak kelas dua belas IIS A?" kata Pak Jamil mengkonfirmasi. Aku mengangguk.
"kenapa kamu bisa gak suka ? Apa kamu ada perasaan sama Juan?" tanya Pak Jamil.
__ADS_1
"uhm ., i,itu?"
"Setahu saya kamu itu tunangannya Iskandar..,"
Deg !
Aku langsung mengangkat kepala, darimana Pak Jamil tahu???
"pasti kamu tanya, darimana saya Tahu?"
"i,iya...,"
"kamu gak sadar kalau saya diundang di acara pertunangan kamu dan saya hadir?" tanya Pak Jamil lagi.
Fakta macam apa ini. Aku benar-benar malu.
"Jadi, kamu terpaksa tunangan sama Iskandar dan diam-diam menyukai Juan lalu berusaha menghancurkan siapapun yang mendekatinya, begitu?" tanya Pak Jamil menarik kesimpulan.
"uhm...,"
"katakan yang sejujurnya. Dari tadi kamu hanya bisa bergumam saja. Mungkin hukuman kamu bisa diperingan." kata Pak Jamil.
"atau mau cemilan untuk memperbaiki perasaan?" tanya Pak Jamil menawarkan cemilan yang ada di meja.
"tidak, Pak...," kataku.
"lalu ceritakanlah...,"
Aku menggigit bibir bawahku,
"maafkan aku Keisha...," kataku dalam hati.
"Saya melakukan ini demi Keisha...," kataku.
"Keisha?"
"Saya tidak tahu sejak kapan saya benar-benar menyayanginya sebagai teman saya. Padahal saya dulu paling kesal padanya karena sangat berisik...,"
"saya bahkan sampai bisa merasakan sakit yang dia rasakan karena Juan dekat dengan cewek lain...,"
Pak Jamil sedikit tertawa,
"masalah asmara rupanya.., Lanjutkan...," kata Pak Jamil.
"Tapi.., Emalia juga mau berusaha membuat Juan tidak melihat Keisha, itu yang paling membuat saya kesal dan akhirnya merencanakan semua ini...,"
"tapi dia tidak melakukan tindakan apapun pada Keisha..," Kata Pak Jamil.
"iya..., Saya salah. salah dan gegabah." hanya itu yang bisa aku katakan.
__ADS_1
"ya.., semua sudah terjadi. Sekarang bisa kamu ceritakan bagaimana kamu menjalankan rencana kamu ini?" tanya Pak Jamil.
Aku menarik napas panjang. Sepertinya ini akan cukup memakan waktu yang panjang.