
"Rin !!!!" Iskandar masih menggedor-gedor pintu kamar mandi,
Ceklek!
Terdengar Rin membuka kunci, Iskandar langsung mendorong pintu dan menemukan istrinya yang menangis sejadi-jadinya. Iskandar tidak bertanya, ia langsung memeluk istrinya itu dan mengusap punggungnya,
"tenanglah...," kata Iskandar pelan. Rin langsung mencengkram tangan Iskandar yang memeluknya,
"aku.., aku...., aku gak hamil....," kata Rin sambil tersedu-sedu.
Iskandar langsung mengernyitkan dahinya, tapi masih memeluk istrinya itu,
"darimana dia tahu? apa mungkin dia juga curiga dan diam-diam membeli testpack? atau jangan-jangan....," Banyak dugaan yang berputar-putar di benak Iskandar.
"aku flek...," lirihnya.
Iskandar langsung tahu darimana Rin tahu bahwa dirinya tidak hamil.
"tidak apa-apa....," kata Iskandar.
"tapi..., tapi, pasti kamu, Mami, Papi sudah mengharapkannya....," kata Rin masih sesenggukan.
"kita baru melakukannya dua kali..., tidak selalu langsung jadi..., mungkin kita melakukannya bukan di saat masa suburmu. Tidak apa-apa...," kata Iskandar lembut.
Rin melepas pelukan Iskandar,
"lalu bagaimana dengan Mami dan Papi?" tanya Rin.
Iskandar membelai kepala Rin,
"mereka juga akan mengerti. Jadi tenanglah...," kata Iskandar lalu mencium kening istrinya itu.
*
Iskandar memberitahu bahwa Rin tidak hamil saat sarapan bersama. Rin benar-benar tidak berani mengatakannya,
"jadi janji sama Dokter Betty batal, dong?" tanya Friska. Entah kenapa kalimat Friska membuatnya tertohok.
"iya mau bagaimana lagi?" tanya Iskandar.
"makanya, segera luangkan waktu kalian dan pergilah berbulan madu...," kata Yoyo tenang, tapi kalimatnya agak menohok.
Rin bahkan tidak berani menatap mertuanya. Kalimatnya dari tadi seolah menyerangnya semua.
Namun Friska menyadari ketidaknyamanan menantunya, ia langsung memegang tangan Rin,
"sayang..., tenanglah.., kamu gak salah..., kita,kan sebelum menikah sudah memeriksakan dirimu, dan organ reproduksimu sangat sehat. Lagian itu wajar, Iskandar saja yang tidak bisa melakukannya di saat yang tepat...," kata Friska.
"tingkat stressmu juga bisa jadi pemicunya. Itu kewajiban suamimu untuk membuatmu bahagia." kata Yoyo.
"Papi...,"
"lagipula Mami sama Papi baru punya Mas Awan itu setelah tiga tahun pernikahan. Jadi, kamu jangan kecewa,ya..., Maafkan Mami jika menekanmu...," kata Friska lembut.
Rin menatap ibu mertuanya, hidungnya merah,
"Mami...," Rin langsung memeluk ibu mertuanya,
"Mami..., terimakasih...," lirihnya. Friska membalas pelukan menantunya.
"Kenapa istriku dan istrimu terlihat lebih romantis,sih..," bisik Yoyo pada putranya.
"apa benar jika merasa cemburu sekarang?" kata Iskandar menyindir ayahnya.
"ah.., kamu ini benar juga...," kata Yoyo merasa malu.
*
1 tahun kemudian,
Iskandar menonton televisi sembari menunggu Rin selesai berdandan. Mereka hari ini akan menghadiri pernikahan Liska dan Roger. Iskandar melihat jam tangannya,
"kenapa ia lama sekali??" tanya Iskandar bingung.
Padahal tadi ia menawarkan dirinya untuk membantu Rin berdandan, tapi Rin hanya menyuruhnya menunggu.
"Iskandar.., ayo....," kata Rin.
__ADS_1
Iskandar memperhatikan Istrinya yang terlihat lelah,
"apa kamu baik-baik saja, Rin? kalau tidak enak badan tidak usah datang...," kata Iskandar mulai khawatir.
"enggak.., aku bisa,kok...," kata Rin.
Iskandar langsung merangkulnya,
"kita langsung pulang,ya kalau kamu gak kuat." kata Iskandar. Ia tahu tidak bisa menghalangi Rin.
"iya, Bawel...," kata Rin yang sering sekali diceramahi oleh Iskandar.
*
Acara begitu meriah dan melelahkan bagi Rin. Iskandar yang sedang menyetir berkali-kali melirik ke arah istrinya yang sedang memijat-mijat kepalanya,
"ke dokter,ya..," kata Iskandar membujuk istrinya.
"gak, usah.., tidur sebentar juga hilang..., aku cuman capek...," kata Rin.
"kamu yakin?"
Rin menoleh ke arah Iskandar,
"yakin, sayangku...," ledeknya.
"apaan,sih?" kata Iskandar malu.
Iskandar membukakan pintu mobil untuk Rin ketika mereka sampai di rumah,
"ayo.., kamu bisa jalan?" tanya Iskandar mengulurkan tangannya.
Rin mengambilnya dan hendak berdiri, tapi tiba-tiba ia merasa penglihatannya berkunang-kunang dan,
"RIN !!?" Suara Iskandar adalah suara terakhir yang ia dengar.
.
.
.
"ini pasti rumah sakit....," batin Rin. Ia lalu mendapati Iskandar menggenggam tangannya dengan erat,
"Rin.., kamu sudah sadar?" tanya Iskandar.
Rin menatap mata Iskandar lalu tersenyum dan mengangguk,
"sebentar, ya..., aku panggil dokter...," kata Iskandar lalu pergi.
beberapa saat kemudian,
Dokter selesai memeriksa Rin, dokter itu malah tersenyum,
"bagaimana, dok?" tanya Iskandar khawatir.
"kabar anda baik, Pak...," kata dokter itu.
"apa? baik?"
"Selamat, istri anda hamil...,"
Iskandar dan Rin langsung saling pandang.
"su, sudah sejak kapan?" tanya Iskandar.
"kira-kira usia kehamilannya sudah dua minggu, bapak dan ibu bisa melakukan pengecekan ke dokter kandungan. Saya akan merujuknya..," kata Dokter itu.
*
10 Tahun kemudian,
Ting !
suara timer oven berbunyi menandakan kue di dalamnya sudah matang,
"Mama !!! kuenya sudah matang !!!" teriak seorang gadis kecil heboh.
__ADS_1
"biar Ran yang angkat !!!" kata seorang anak laki-laki yang lebih besar heboh sendiri.
Rin buru-buru pergi ke dapur sebelum kedua anaknya yang membuka oven panas itu,
"Pangeran !!! cuci kaki-tanganmu dulu !! kamu,kan habis mencabuti rumput. Queen..., biar Mama yang angkat, kamu hanya cukup memperhatikan...," kata Rin.
"tapi, Ma...," anak laki-laki bernama Pangeran itu tidak sabar mencicipi kuenya, padahal ia sudah sampai duluan ke dapur.
"Bang Ran.., kue ini untuk Ryu !! kamu gak boleh mencicipinya sebelum dia datang !!!" kata Queen.
"Ran, segera cuci kaki-tanganmu." perintah Rin.
"lihat, lantai dapur kotor gara-gara kakimu."
"oke...," kata Pangeran pergi ke kamar mandi.
"Queen bisa bantu Mama?" tanya Rin.
"tentu Ma!" kata Queen bersemangat.
*
Pangeran memandangi kue blackforest di atas meja. Ia menelan ludahnya. Ia sangat percaya kalau kue itu enak,
"ma.., kapan Yura aunty dan Ryu datang? Ran sudah sangat ingin mencicipi kue ini...," tanyanya.
"mungkin sebentar lagi, sayang..., kamu gak mau nonton kartun kesayanganmu dulu?" tanya Rin yang sedang asyik menonton kartun bersama putrinya.
Ting, Tong !
Suara bel berbunyi,
"ma, Ryu datang !!!" kata Queen heboh. Ia langsung berlari keluar, Pangeran dan Rin mengikutinya.
Saat mereka membuka pintu, mereka langsung bisa menemukan Yura dan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun alias putranya , Ryuuji,
"Hallo !!!" kata Yura heboh.
"aunty Yura !!!" kata Queen heboh dan langsung minta peluk. Yura langsung memeluknya dan menggendongnya,
"ya ampun.., Queen sudah sebesar ini.., Queen ingat Aunty?" tanya Yura.
"ya !! Queen ingat Aunty...," ia lalu melirik ke arah Ryuuji yang sedang mencium tangan Rin,
"Queen juga ingat Ryu...," katanya sambil senyum-senyum sendiri.
Yura dan Rin langsung mengernyitkan dahi, mereka seolah tahu ada yang aneh di sini.
"Ryu !!" tiba-tiba Pangeran muncul dari belakang Rin.
"hallo jagoan Aunty !!" sapa Yura.
"hallo Aunty...," Pangeran langsung mencium tangan Yura lalu ia segera menggandeng tangan Ryu,
"ayo Ryu.., kami menyiapkan kue yang sangat enak untukmu dan ibumu !!" kata Pangeran lalu menarik Ryu pergi.
"bang Ran !! Ryu !!!" Queen langsung loncat dari gendongan Yura dan mengejar dua anak laki-laki itu.
Rin langsung mendekati Yura,
"Yura.., apa kamu menyadari arti dari senyum Queen?" tanya Rin.
Yura hanya menggeleng sambil tersenyum,
"jangan dianggap serius, Rin. Queen masih lima tahun. mana mengerti. Ayo, aku sangat ingin mencicipi kue buatanmu." kata Yura.
Rin memiliki firasat lain,
"mungkinkah sejarah akan terulang lagi?" gumamnya.
-**END-
ππHoreee !!! akhirnya tamat !!!!ππ
kepada para pembaca, terimakasih banyak π€π€ππ berkat kalian, cerita yang sudah terbengkalai hampir 6 tahun ini akhirnya bisa terselesaikan..., Mamauzda cukup terharu πππ Terimakasih kepada kalian atas dukungan (like, rate 5 dan vote), kritik, saran, dan komentar. Semua itu yang bikin Mamauzda selalu semangat untuk menyelesaikan cerita iniππ
Jangan lupa juga baca cerita "Prince Charming and The Beast" dan "Emily's love"
__ADS_1
Semoga kalian gak bosan-bosan ya sama karyaku β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ