Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 7


__ADS_3

Iska POV


Kini hanya tinggal aku dan Ori di mobil ini. Dia mengendarai mobilnya dengan tenang menuju rumahku. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"lu gak mau bilang sesuatu?" tanyaku yang mulai gerah.


"bilang apa?" tanya Ori yang masih fokus pada jalan.


"hubungan lu sama Yura."


"ooh...," sepertinya dia belum mau bilang.


"tapi kalo lu belum mau bilang, itu hak lu, sih. gue di sini cuman sebagai temen yang mau meringankan beban lu." kataku lagi.


Ori ini sejak kecil selalu menyimpan masalahnya sendiri. Itu karena dia sudah terbiasa seperti itu. Ayah dan Ibunya sibuk bekerja, begitu juga kakaknya. Bahkan ketika dia dibully habis-habisan saat SD pun tidak ada satu orang pun yang membelanya.


"gak, gue harus bilang. Lu bilang kalo gue ada masalah, gue bisa bilang ke elu,kan?" katanya lagi.


"iya." kataku.


"gue, sebenarnya gak suka sama Yura." katanya.


"apa?" kataku kaget, lalu dia bercerita tentang kenapa dia bisa jadian dengan Yura.


*


keesokan harinya,


Aku selalu terbiasa berangkat pagi-pagi karena kewajiban tiga hari seminggu sebagai komdis yang menghukum anak-anak yang suka terlambat. Aku tidak suka mengendarai kendaraan pribadi, si Idho bodoh pasti akan mengejekku jika aku melakukannya. Ya, kami selalu berlomba siapa yang paling hebat sejak kecil. Itu karena dia adalah putra dari senior ayahku di angkatan dan kami sengaja dijadikan rival sejak kecil. Alhasil aku jadi lebih terbiasa pergi dengan kendaraan umum lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki.


Aku berjalan melewati warung yang biasanya jadi tempat tongkrongan anak-anak untuk merokok. Itu adalah rahasia umum. Meskipun aku adalah ketua Komdis, Aku tidak berhak menghukum mereka karena bukan wilayah sekolah. Aku hanya bisa melewati warung itu meskipun sebenarnya aku sangat gerah, tetapi lagi-lagi aku harus ingat, itu bukan hakku melarang mereka.


Mataku ini tiba-tiba menangkap sesuatu. seorang gadis bertubuh mungil dengan seragam yang sama dengan sekolahku sedang bersembunyi, sepertinya ia sedang mendengarkan percakapan orang-orang di warung itu. Sepertinya aku bisa menebak siapa gadis yang tidak ada takutnya itu, diam-diam aku mengikuti nya. Ini pasti akan menarik.


"wah..., coba-coba, gimana bisa lu lolos kemarin pas razia...," terdengar suara berat di dalam warung itu.


Alisku naik sebelah mendengar itu. Aku langsung mengeluarkan ponselku lalu mulai merekam.


"gue tau dari salah satu anak komdis, lu tau Zaskia?" kali ini suara yang agak serak menjawabnya.


"tau." kata si suara berat


"sekarang,kan dia ceweknya Zacky, ya meski sekarang Zacky jarang main sama kita-kita, tapi Zaskia sempet ngasih tau Zacky kalo bakalan ada razia, tapi kayaknya tuh anak keceplosan juga." kata si suara serak menjelaskan.


"hemm..., Zaskia,ya. dia bisa ceroboh juga."


batinku.


"yah, makanya gue langsung nyembunyiin random aja, kebetulan gue abis dari kelas sebelas MIA B," cerita si suara serak. Aku masih belum bisa menebak siapa pemilik suara serak ini, tetapi sudah muncul beberapa nama di benakku.

__ADS_1


"jadi lu nyembunyiin di kelas sebelas MIA B?" kali ini suara cempreng yang bertanya.


"ya kagaklah. Kan ada anak-anak tuh di depan kelas, gue masukin aja di tas kecil. yah gak tau juga gue, siapa yang punya." si suara serak ini benar-benar mengungkapkan segalanya.


Aku langsung melihat si gadis itu, dia tersenyum puas, sepertinya dia merekam pembicaraan itu juga. Dia agak mengerikan. Dia melakukan apa yang juga aku lakukan. Dia membuatku bisa mendapatkan petunjuk. Aku sangat yakin dia bukan orang yang seburuk itu. Semoga dia tidak diberikan poin oleh Pak Lukas.


"emangnya lu beli dimana itu?" tanya si suara cempreng.


Tunggu, percakapan masih berlanjut. Aku dengan sigap merekam pembicaraan itu lagi.


"ada, dari Abang Roni." jawab si suara serak.


"lah, Abang koperasi??" kali ini si suara berat yang kaget.


"iya..,"


Aku menghela napas, sepertinya aku harus melaporkan ini tidak hanya pada Pak Andre Wakasek bagian Komdis dan Pak Lukas, tapi Juga Pak kepala Sekolah.


Kini aku mataku ini kembali teralihkan oleh gerak-gerik gadis itu. Kini dia berjalan meninggalkan warung itu. Aku lalu mendengarkan percakapan mereka, sepertinya bukan lagi percakapan penting. Aku lalu pergi dari tempat persembunyian ku dan berjalan menuju sekolah.


*


Aku tidak menggunakan sepatu berhak karena bukan hari dimana aku bertugas. Rin, gadis mungil itu tidak menyadari bahwa aku mengikutinya. Senangnya bisa datang ke sekolah bersamanya, meskipun dia tidak sadar juga.


"berhenti!!" katanya Tiba-tiba tanpa berbalik.


Ya ampun, jadi dia menyadari keberadaan ku, aku hanya mengikuti instruksi nya, Ia lalu berbalik,


Aku diam-diam tertawa, reaksinya itu agak berlebihan.


"Lu.., se,sejak kapan di, di belakang gue??"


"dari tadi..," kataku menjawab seadanya.


"ya ampun..," ia lalu melihat kakiku, pasti ingin tahu sepatu apa yang aku gunakan.


"Ke,kenapa ngikutin gue?" tanyanya lagi.


"enggak, Kelas kita,kan di lantai yang sama." kataku lagi.


"oh,iya...," katanya, reaksinya itu lucu sekali. "tunggu..., dari tadi lu ada di belakang gue, sejak dimana?"


"warung."


"wa,warung? Ja,jadi lu denger juga?"


"uhmm..., menurut lu?"


"ugh.., lu mungkin gak denger. Ya udah, gue juga gak bisa berharap sama lu." katanya, lalu reflek langsung memukul mulutnya,

__ADS_1


"ya.., lu bener, gak ada gunanya berharap sama gue." Kataku, sebenarnya sedih mengatakan ini.


"Ya.., Ya udah, gue mau ke kelas dulu. Kenapa juga gue ngobrol sama elu?" katanya lagi lalu berbalik.


GEDUBRAK!


Belum ada tiga langkah tiba-tiba ia terjatuh.


aku dengan sigap langsung mendatanginya.


"lu bisa jalan?" kataku khawatir.


"Bi,bisa, kok." katanya lagi.


Mataku langsung tertuju pada lututnya yang lecet. Entah apa yang membuatku tiba-tiba menggendongnya,


"eeh? I,ini gak perlu...," katanya.


"UKS pasti belum buka, gue bawa betadin sama plester." Aku selalu membawa itu di tasku. Hanya untuk jaga-jaga kalau aku terluka.


Aku segera menggendong nya dan mendudukkan nya di bangku terdekat.


Aku berjongkok di hadapannya lalu mengambil air minumku dan membasahi kapas yang juga aku bawa untuk membersihkan lukanya,


"gue.., gue bisa sendiri." katanya lagi. Aku lalu memandangnya,


"tidak apa-apa?" tanyaku lagi.


"I,iya...," katanya yang menghindari mataku. Aku juga langsung memalingkan wajahku. Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan.


Ia lalu membersihkan lukanya,


"ma,mana Betadin nya?"


Aku langsung memberikannya bersama plesternya. Ia mengusap lukanya dengan betadin lalu menempelkan plester itu. Setelah memastikan lukanya diobati, aku langsung berdiri,


"Lain kali, lu harus hati-hati..., kucing kecil." kataku lagi. Tunggu, kenapa aku memanggilnya dengan sebutan itu??


"I,iya...," dia masih menunduk. Sepertinya dia tidak menyadarinya, semoga saja dia tidak sadar.


"lu bisa jalan?" tanyaku lagi.


"Bi,bisa,kok." katanya lagi.


Aku menunggu dia berdiri dan pergi ke kelasnya, hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja.


"lu ngapain?" tanyanya lalu berdiri.


"uhm...," Sial, aku kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"gue duluan,ya." katanya lalu berdiri dan pergi dengan kaki yang agak pincang, mungkin itu sakit sekali.


Aku menghela napas panjang, aku lalu membuka ponselku dan mengirim hasil rekaman tadi ke Pak Andre, Pak Lukas dan kepala sekolah juga ke grup anak-anak Komdis.


__ADS_2