Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 88


__ADS_3

Rin memanaskan makanan yang tadi sore ia buat untuk dirinya dan Iskandar. Sebenarnya dia agak merasa bersalah tadi karena marah-marah begitu saja pada Iskandar. Beruntung Iskandar tidak ikut marah tadi.


"semoga makan malam ini bisa membuat dia gak marah sama gue..," kata Rin ketika masakannya sudah siap.


Rin lalu melihat ke arah jam dinding di dapur,


jam menunjukkan pukul 19.30.


"kenapa Iskandar belum pulang jam segini?" kata Rin lalu memindahkan sayur ke mangkok untuk disajikan. Kemarin Rin sempat bertanya makanan Favorit Iskandar pada Dita, dan Dita bilang Iskandar menyukai sayur bening. Sayur apapun yang penting sayur bening.


Rin meletakan nasi dan lauk pauknya di atas meja, namun tiba-tiba telinganya mendengar suara air dari halaman.


"apa keran di luar bocor?" gumamnya.


srek


srek


srek


Tiba-tiba Rin mendengar suara orang masuk ke dalam rumah. Seketika kewaspadaannya meningkat,


"apakah itu Iskandar, atau orang lain?" gumamnya.


"mana mungkin orang lain? Pasti Iskandar, ini,kan komplek tentara, mana mungkin orang jahat? Bisa habis dia...," kata Rin tenang.


"eh, tapi gimana kalau dia emang orang jahat? Gue,kan di sini sendirian...," kata Rin tidak jadi tenang. Rin lalu berlari ke dapur.


Rin mengambil teflon dan bersiap untuk memukul siapa saja yang menyusup itu. Rin pergi ke ruang tamu yang gelap.


"tidak sempat menyalakan lampu...," batinnya.


Tiba-tiba ia melihat bayangan seorang laki-laki yang baru masuk. Rin pelan-pelan berjalan mendekati bayangan itu yang juga semakin lama mendekatinya,


"HIYAAT !!!" Rin langsung mengayunkan teflon andalannya, tetapi tangannya berhasil ditepis dan teflonnya jatuh sembarang lalu bayangan itu memeluk kakinya dan langsung mengangkatnya ke atas pundaknya, Rin memejamkan matanya saking takutnya.


"Iskandar !!!" teriak Rin.


"ini gue, Rin...," kata laki-laki itu. Rin langsung bisa mengenali suaranya, itu adalah suara Iskandar, nama yang sempat tadi ia panggil. Iskandar berjalan ke saklar lampu dan menyalakannya lalu ia menurunkan Rin dari pundaknya.


Kacamata Rin sudah berembun karena menangis ketakutan,


"kenapa? kenapa lama banget pulangnya !!!" kata Rin sambil memukul dada Iskandar.


Iskandar segera mengambil kedua tangan Rin yang memukulnya lalu memeluk tubuh mungil Rin.


"sorry, Rin..," katanya sambil memeluk Rin erat.


Rin malah bingung karena tiba-tiba dipeluk, dia bahkan tidak mau berdebat dengan Rin dan langsung minta maaf.


"uhm.., Iskandar..., bisa lepas dulu,gak?" kata Rin.


Iskandar langsung melepasnya,


"sorry, lu gak nyaman,ya? Gue.., gue cuman khawatir karena hape lu gak bisa dihubungin, Lu sendirian dan..,"


"udah-udah, Iskandar...," kata Rin yang membuang wajahnya. Pasti wajahnya sangat merah saat ini, ia bahkan bisa merasakan panas di wajahnya. Ia benar-benar tidak menduga kalau Iskandar akan memeluknya, bukan memarahinya.


"hape lu kemana, sih? Kenapa susah ditelpon? bikin orang khawatir aja !! Lu di sini,kan cuman berdua sama gue, otomatis lu sekarang tanggung jawab gue !!!" Akhirnya seorang Iskandar marah juga.


"gue tanggung jawab Iskandar? kenapa terdengar romantis?" batin Rin sambil tersenyum kecil.


"hey.., Rin.., jawab !! kenapa malah senyum-senyum sendiri? Lu suka,ya bikin gue khawatir??" kata Iskandar masih melanjutkan amarahnya.


"iya,iya.., maaf.., tadi hape gue emang mati total dan dicharge.., tadi gue udah sampe rumah kok jam limaan..," kata Rin.

__ADS_1


Iskandar menarik napas lalu menghembusnya,


"lain kali kalo pulang sendiri, kabarin gue dengan detail.., lu udah dimana, ku naik kendaraan apa, lu udah sampe mana..," kata Iskandar.


"pft.., iya-iya.., lu udah kayak ayah aja..," kata Rin sambil mengelap kacamatanya yang berembun.


"kalo gitu gue mandi dulu..," kata Iskandar.


"iya.., oh,iya makan malam udah gue siapin.," kata Rin.


"iya..," Kata Iskandar yang langsung pergi ke kamarnya di lantai dua.


*


Rin menyiapkan piring di meja makan dan minumannya,


"ya ampun.., bukannya ini benar-benar seperti sedang menyiapkan makan untuk suam__, Ah, Rin pasti elu terpengaruh kata-kata Dita...," kata Rin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sorry,ya Rin.., lama ya nunggu gue...," kata Iskandar yang tiba-tiba datang.


"i,iya.., gak apa-apa..," kata Rin lalu langsung duduk di kursinya,


"padahal kalo udah laper, makan aja duluan...," kata Iskandar duduk di kursinya.


"uhm.., gak enak kalo makan sendirian.., apalagi ini rumah elu...," kata Rin sambil menunduk.


"oh.., kalo gitu makan.., gue udah ambil nasi, nih..," kata Iskandar.


"i,iya..," kata Rin masih menunduk.


Iskandar lalu makan makanan di piringnya, begitu juga Rin. Sesaat suasan jadi canggung lagi.


"Rin.., lu bisa,kan gak usah nunduk? Gue mau lihat wajah lu..," kata Iskandar dengan suara dinginnya seolah itu adalah perintah.


"Li,lihat wajah gue?" mendengar itu malah membuat jantung Rin berdebar-debar.


"i,iya..," kata Rin lalu mengangkat wajahnya.


Iskandar langsung tersenyum,


"sebenarnya gak sopan kalo lu nyembunyiin wajah lu ketika sedang berhadapan begini." kata Iskandar,


"gue merasa diabaikan..," katanya lagi.


"ya ampun.., jagonya membuat orang jadi merasa bersalah..," batin Rin jadi kesal.


"iya-iya.., gue tau..," kata Rin lagi dengan nada kesal.


"eh..," tiba-tiba Rin teringat sesuatu.


"ada apa?" tanya Iskandar lalu melahap makanannya.


"tadi kayak ya keran di halaman depan bocor,deh..," kata Rin.


"oh.., itu gak bocor, tadi gue ada mobil yang nyipratin air kobangan, untungnya cuman kena sepatu dan celana, jadi tadi gue bersihin sebentar." kata Iskandar.


"jadi elu pelakunya ?? huuh.., tadi gue bener-bener takut, tau..," kata Rin.


"sorry-sorry..,"


"maaf Mulu.., bosen dengernya." kata Rin lagi.


Iskandar hanya menghela napas untuk berusaha bersabar.


"kenapa menghela napas aja? gak mau jelasin kenapa tiba-tiba ada rapat hari ini?" tanya Rin.

__ADS_1


"oh..., rapat hari ini.., itu tentang bullying di jelas sepuluh.., karena waktunya dekat dengan sidang, makanya itu dibahas, hampir mirip kasus lu, tapi lebih jahat, jadi pelakunya masih belum diketahui,"


"lalu?"


"tadinya mau diselesaikan saja karena ada dugaan pelakunya dari luar sekolah."


"dan keputusan akhirnya?"


"tetap dilanjutkan karena belum pasti dan jadi tanggung jawab ketua komdis berikutnya." kata Iskandar.


"ketua komdis berikutnya? sudah dipilih?" tanya Rin.


"sudah, bersamaan dengan pemilihan ketua OSIS kemarin." kata Iskandar.


"siapa?" tanya Rin.


"uhm.., sebenarnya ini harusnya jadi kejutan, tapi..,"


"siapa? Please.., kasih tau...," kata Rin yang mulai kepo.


"Bobby anak sebelas IIS A. Kenal?" tanya Iskandar.


"ooh.., tau.., dia anak basket itu,kan? katanya dia juga bakalan jadi kapten baru." kata Rin lagi. Bobby itu cowok populer di angkatan bawahnya.


"lu bisa tau tentang dia sampe situ?" tanya Iskandar yang sebenarnya agak cemburu.


Rin tersenyum,


"mau tahu gossip lainnya tentang dia?" tanya Rin yang sama sekali tidak peka.


Iskandar tersenyum, namun tidak jawab apapun.


"Bobby itu digossipin sama angkatan kita kalo dia itu rivalnya Idho...,"


"hah? Rivalnya Idho? darimananya?" tanya Iskandar malah jadi penasaran.


"iya, gossip yang beredar akhir-akhir ini tentang Idho yang bikin hampir semua cewek iri. Katanya Idho itu suka sama adek kelas anak sebelas MIA B."


"Idho mau nge date sama gebetannya..," Tiba-tiba malah terngiang kata-kata Odi di kepala Iskandar.


"jadi itu beneran?" tanya Iskandar. Ia sangat tau trauma masa lalu Idho yang membuatnya tidak mau membuka hatinya untuk siapapun.


"lu tau?"


"enggak, cuman pernah denger juga."


"ooh..,"


"tapi apa hubungannya sama Bobby?"


"Bobby itu belum lama ini nembak adek kelas itu."


"terus? Idho gimana??" tanya Iskandar jadi khawatir. Setelah Ori yang sempat patah hati,


masa iya, Idho juga ikut-ikutan?


"hemm.., entahlah, lagian salah Idho-nya sendiri gak mau mengakui perasaannya. Gossipnya, sih Bobby ditolak, tapi bukan berarti adek kelas itu gak berpindah hati, ya,kan?"


"benar juga..,"


"seharusnya Idho itu paham, yang dibutuhkan cewek itu bukan cuman cinta, tapi juga kepastian. Buat apa memendam perasaan sendiri doang, jelas-jelas adek kelas itu juga suka sama dia, tapi hubungannya malah digantungin, ckckck...,"


"kepastian?" entah kenapa kata itu mengusik pikiran Iskandar, diam-diam ia memandang cincin pertunangan yang ia kenakan di jari manisnya.


"Rin..,"

__ADS_1


"hm?"


"apa lu udah punya keputusan tentang perjodohan ini ke depannya?"


__ADS_2