
Rin POV
Acara akad dan resepsi akhirnya selesai juga. Kini aku sudah berada di kamar pengantin. Aku juga baru selesai mandi. Sekarang tinggal menunggu Iskandar selesai mandi. Aku duduk dengan tegang di atas tempat tidur Iskandar. Aku berkali-kali memandangi dekorasi ruangan yang baru pertama kali aku masuki ini. Aku memang sering ke sini, tapi kamar Iskandar adalah satu-satunya ruangan yang tidak pernah aku masuki.
Ceklek!
Kunci pintu kamar mandi sudah dibuka. Aku langsung memeluk diriku sendiri. Kira-kira apa yang akan terjadi di malam pertama kami? Apa sama seperti yang ada di drama-drama? Tidak di drama Korea yang aku tonton jarang menggambarkan malam pertama, tapi pasti ada beberapa drama yang menampilkan pasangan yang tidur bersama.
Aku mencium aroma sabun yang digunakan Iskandar. Ya, sabun itu juga yang aku gunakan tadi. Anehnya, ketika dia keluar aromanya langsung memenuhi kamar ini.
"belum tidur?" tanyanya enteng sambil mengeringkan rambut keritingnya yang basah.
Aku menggeleng. Iskandar langsung naik ke atas tempat tidurnya sambil terus menatapku, aku langsung was-was. Ya, meskipun kami sudah menikah, ini benar-benar pengalaman pertamaku tidur seranjang dengan seorang laki-laki.
"tidurlah.., kamu gak capek apa?" tanyanya yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"capek? uhm.., capek, sih..," kataku. Bagaimana tidak, acara berlangsung dari pagi sampai malam karena kami harus mengadakan akad dan resepsi sekaligus. Iskandar sangat sibuk sampai hampir tidak memiliki hari libur.
"kalau begitu, istirahatlah.., hari Senin udah mulai masuk lagi,kan?" tanyanya. Ya, benar aku juga sekarang sedang magang di sebuah stasiun televisi.
Aku lalu memandangnya yang masih sibuk mengeringkan rambutnya,
"sini.., aku keringin rambut kamu...," kataku lalu berdiri dengan lututku dan mulai mengusap-usap rambutnya dengan handuk.
"ah.., padahal gak perlu repot-repot...," katanya, ia protes, tapi tetap menurut padaku.
"apaan,sih.., sekarang aku ini istrimu.., gak ada yang namanya repotin kalau soal ngurusin kamu...," Mulutku ini bicara saja tanpa dipikir dulu. Aku malah jadi malu mendengarnya.
Iskandar lalu memegang tanganku lalu menarikku hingga terjatuh di pangkuannya, ia menatap mataku intens, apa "pengalaman malam pertama" akan terjadi sekarang?
"tidurlah..., kamu kelihatan lelah...," katanya lalu memindahkanku ke sisi tempat tidur di sampingnya.
Ia mengambil handuk yang tadi terjatuh dan meletakkannya di keranjang baju kotor.
__ADS_1
"tidurlah yang nyaman. Aku juga hari ini lelah." katanya lalu berbaring sambil menghadapkan tubuhnya kepadaku.
"i,iya..," kataku.
"pejamkanlah matamu...," kata Iskandar yang sudah memejamkan matanya duluan.
"i,iya..," kataku lalu lama-lama terlelap.
Ternyata pengalaman malam pertamaku tidak terjadi hari ini.
*
Setiap hari aku selalu gugup. Hatiku selalu bertanya-tanya, kapan Iskandar akan memulainya. Mana mungkin aku yang memintanya duluan? Aku bahkan sudah baca beberapa buku dan artikel bagaimana harus menjalani malam pertama setelah menikah, tapi sampai sekarang di hari pernikahan kami yang ke dua belas masih saja tidak terjadi apa-apa.
"ehm.., Rin..," tiba-tiba Mami menegurku yang sedang memasak untuk sarapan. Sejak jadi menantu di rumah ini, itu sudah jadi rutinitasku di pagi hari.
"iya, Mi?" tanyaku.
Mami berjalan mendekatiku dengan wajah murungnya lalu memandangi setiap sisi wajahku,
"bukan...," kata Mami yang masih cemberut.
"lalu? Kenapa Mami cemberut?" tanyaku. Sejak insiden penculikanku aku jadi sangat dekat dengan Mami karena Mami yang menjaga dan merawatku. Aku benar-benar mendapat figur seorang ibu dari Mami yang sekarang jadi ibu mertuaku.
"pasti Iskandar belum menyentuhmu,ya kan?" kata Mami curiga. Kenapa kecurigaannya itu sangat tepat.
"uhm..,"
"udahlah.., jangan bohong sama Mami.., perempuan yang sudah menikah tapi belum disentuh suaminya itu mudah terlihat..," kata Mami.
"mu,mudah terlihat? da,darimana, Mi?" tanyaku.
"tuh, kan bener?? Nih anak kok kuat banget, sih nahannya?" kata Mami malah heran sendiri.
__ADS_1
"apa, sih Mi??" kataku malu, lalu mengambil sendok dan mencicipi masakanku.
"hemm.., biasanya kalo perempuan yang sudah menikah dan belum disentuh oleh suaminya pasti wajahnya murung...," kata Mami.
"uhuk..,uhuk..," aku malah keselek dengan makanan yang sedang aku cicipi.
"tuh.., hemm.., Mami tau, dia itu lelaki polos, tapi masa iya pintu gerbang udah dibuka, dia gak mau masuk...," kata Mami malah membuat perumpamaan.
"ma, maksudnya apa, Mi?" tanyaku bingung.
"ih, Rin.., Ternyata kamu polos juga,ya...," kata Mami lalu mematikan kompor masakanku dan menghadapkan tubuhku dengan tubuhnya,
"begini, Rin.., dulu aja, Papi gak ada nunggu-nunggunya sama Mami, padahal Mami nikah sama Papi waktu Mami masih berusia tujuh belas tahun." Perbedaan usia Mami dan Papi memang cukup jauh, kalau tidak salah lima tahun.
"lalu?" tanyaku makin bingung. Kenapa Mami malah membandingkan pernikahannya dan pernikahanku?
"ya ampun.., masa gak ngerti juga, Rin.., atau jangan-jangan dia ngerasa kamu belum siap?"
"Rin belum siap?" Aku memang selalu gugup. Apa itu yang membuat Iskandar menahan diri?
"Hem.., Rin tau tidak persamaan Iskandar dan bapaknya?" tanya Mami. Aku menggeleng,
"mereka itu sama-sama pemalu kalau soal cewek. Papi kalo bukan karena bantuan perjodohan yang diatur sama orang tua, gak akan jadi sama Mami, begitu juga Iskandar.., " kata Mami benar juga. Kalau aku tidak pernah tunangan dengan Iskandar, aku mana tau dia menyukaiku atau tidak.
"maka dari itu, Rin harus yang menggoda Iskandar duluan...," Kata Mami sambil tersenyum nakal.
Aku hanya bisa menelan ludah, masa iya harus aku yang maju duluan?
.
.
.
__ADS_1
Hemm.., penasaran? Tunggu ya kelanjutannya 👉👉👉