
"gimana perasaan kamu ke aku?" tanya Adiba yang berhasil membuat seorang Awanda Dewasatria Utama mematung.
"pe,perasaan gue...," Awan jadi kikuk karena pertanyaan Adiba.
Wajah Adiba kini memerah, bahkan dari tadi ia menundukkan pandangannya,
"gak usah dianggap serius..., aku ngelantur tadi. ayo, kita berangkat sekarang." kata Adiba lalu jalan duluan.
"gue sayang sama lu Adiba..., tapi apa menurut lu Pria kayak gue pantas jadi Imam lu?" batin Awan.
"ayo Awan ...," kata Adiba
"iya-iya...,"
*
Rupanya perang dingin antara Iskandar dan Rin berlanjut, tetapi Iskandar juga tidak tahan jika harus diam-diaman begini, apalagi sekarang mereka tidur di kamar yang sama.
"Rin...," panggilnya pada Rin yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"hm?" tanya Rin tanpa melepas pandangannya dari ponsel.
"kenapa kamu mau ke Seoul buat bulan madu?" tanya Iskandar, setidaknya ia harus tau alasan dari istrinya kenapa mau ke sana.
Rin langsung melirik sinis ke arah Iskandar,
"kamu sendiri, kenapa mau ke Paris? Pasti kamu mau ketemu cewek-cewek cantik di sana,kan???" tuduh Rin.
"hah? kok dia jadi gak nyambung???" batin Iskandar.
"kok jadi ketemu cewek-cewek cantik,sih? kamu gak nyambung, deh...," kata Iskandar.
"tuh,kan bener, bodo amat, emangnya aku gak bisa ketemu oppa-oppa ganteng di Seoul??" tanya Rin malah menantang.
"loh? kok jadi ketemu Oppa-oppa?? kita,kan mau honeymoon Rin, masa perginya misah-misah??"
"bodo !! pokoknya aku mau ke Seoul, kalo kamu mau ke Paris, ke Paris aja sendiri !!!" kata Rin lalu melepas kacamatanya lalu langsung meletakkan ponselnya di nakas dan tidur.
"hah? Rin !! Bangun !!! jangan lari dari pembicaraan !!! Rin !!!" Iskandar menggoyang-goyangkan tubuh Rin, tapi Rin tak peduli.
"Ingat loh, Rin.., kita belum selesai bicara !!" kata Iskandar dengan suara dingin khasnya lalu ia mengalah untuk tidur.
*
Adiba diam seribu bahasa. Gara-gara salah omong tadi, suasana jadi canggung. Awan bahkan tidak mencairkan suasana. Perjalanan mereka hanya terisi dengan suasana lalu lintas dan siaran radio yang biasa didengar oleh Adiba. Kini mobil Awan berhenti karena lampu merah,
"Awan...,"
"Adiba...,"
Mereka malah saling memanggil,
__ADS_1
"lu duluan...," kata Awan mengalah lalu memandangi jalanan.
"enggak, kamu dulu aja...," kata Adiba memberikan Awan kesempatan.
"Adiba...,"
"serius, kamu duluan aja...,"
"soal nikah sama elu..., menurut lu, apa gue gak pantas?" tanya Awan jujur.
"apa?" Adiba jadi tambah bingung dengan pertanyaan Awan.
"kalo menurut kamu?"
"apa? menurut gue?"
Tiin !!
mobil di belakang mobil Awan mengklaksonnya, Awan langsung melihat ke arah lampu lalu lintas, ternyata lampu sudah berubah menjadi hijau, Awan langsung mengganti koplingnya dan menjalankan mobilnya.
tak jauh dari lampu merah itu Awan lamgsung meminggirkan mobilnya,
"Awan..., kenapa berhenti?" tanya Adiba bingung.
Awan langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Adiba,
"jawab gue, menurut lu, gue pantas atau enggak jadi suami elu?" tanya Awan blak-blakan.
"aku...," Adiba langsung menghindari tatapan Awan yang tajam, membuat seolah wajahnya hampir bolong,
"me, menurut kamu gimana??" tanya Adiba. Ia paling tidak suka jika seorang Awan sudah begini. Caranya mendapatkan jawaban seolah mengintimidasinya.
Awan langsung kembali ke posisinya dan memandang ke arah jalanan, ia mendengus kesal dengan sikap Adiba yang selalu seperti ini sejak dulu.
"kalo menurut gue, kata lu?" lirihnya.
"uhm..,"
"gue putus asa waktu lu bilang, bokap lu mau jodohin lu sama anak sahabatnya yang tinggal di Maroko...," lirih Awan. Ia menjambak rambutnya,
"gue kira, cukup jadi temen seorang Adiba, tapi seiring waktu kenal sama elu, gue gak merasa cukup kalo gue jadi temen lu doang. Diam-diam gue memperbaiki diri gue supaya gue pantas jadi seseorang bagi elu..., Tapi elu selalu berhasil bikin gue frustasi. Lu selalu anggap pernyataan cinta gue ke elu bercanda." Awan tersenyum, tapi matanya kecewa,
"keinginan gue untuk jadi TEMEN HIDUP lu naik-turun. Gue selalu ingin membuat kepastian tentang hubungan kita, tapi elu selalu berhasil menghancurkannya. Sampai sekarang pun pertanyaan itu masih berputar-putar di kepala gue, Pantaskah seorang Awanda Dewasatria Utama bersanding dengan Salsabee Adiba Dafinah?"
Adiba hanya bisa memandanginya,
"ya Allah.., bolehkah hamba merasa senang dengan ungkapannya?" batin Adiba.
"hiks...," mendengar itu Adiba malah menangis,
Awan langsung menoleh, tangannya ingin sekali menyeka air mata yang jatuh dari sudut mata Adiba, tapi tertahan. Ia sangat tahu kalau tidak boleh menyentuh Adiba, jika tidak ia akan marah besar padanya.
__ADS_1
"kenapa lu nangis?" tanya Awan tanpa memandang Adiba.
"kalau.., kalau kamu memang ingin menjadi suamiku..., maka, bilang sama Abah nanti." kata Adiba dengan suaranya yang bergetar.
"apa?" Awan malah kaget.
"kenapa malah bingung ?? Pokoknya nanti kamu harus ngomong ke Abah.., Aku juga berharap Abah mau nerima kamu...," kata Adiba sambil membuang muka dan mengusap matanya yang basah.
Langsung senyum terlukis di wajah Awan,
"oke, kalau begitu kita harus sampai ke rumahmu secepatnya...," kata Awan lalu menyalakan mobilnya dan langsung melaju.
*
Keesokan harinya,
Iskandar bangun tanpa Rin di sampingnya. Tatapan Iskandar langsung menajam,
"apa ini? dia menghindari gue?" katanya bicara sendiri.
Setelah selesai dengan urusannya, Iskandar langsung turun ke bawah untuk sarapan, tetapi lagi-lagi ia tidak menemukan Rin di sana. Ia hanya menemukan Friska yang sedang menyiapkan sarapan,
"Mami..," Iskandar mendekati ibunya,
"morning, my super Hero...," kata Friska.
"Mami.., Mami lihat Rin?" tanya Iskandar.
"Rin? Hem.., Rin tadi berangkat pagi-pagi, katanya mau briefing gitu...," kata Friska.
"biasanya juga briefing, tapi berangkatnya masih pamit gue..," batin Iskandar.
"oh,iya.., kalian udah nentuin mau honeymoon kemana?" tanya Friska.
Iskandar menghela napas,
"belum, Mi...," kata Iskandar agak kesal.
"eh, eh..., kalian masih perang dingin?" tanya Friska yang cukup peka.
"entahlah.., Iskandar nanti harus menemuinya..," kata Iskandar sambil mengambil duduk dan mengambil sarapannya.
"Hem.., apa emosinya mulai gak stabil?" selidik Friska.
"emosinya.., uhm.., mungkin..," kata Iskandar menjawab seadanya.
"apa datang bulannya telat?" tanya Friska lagi.
"datang bulannya?" Iskandar langsung mengerti,
"apa maksud Mami...,"
__ADS_1
"jangan-jangan dia hamil !!!"