Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 46


__ADS_3

Rin POV


Aku benar-benar kesal pada Bunda. setelah bertunangan dengan Iskandar, kegiatan liburanku yang tenang di rumah selalu terganggu. Baru dua hari aku bisa bernapas lega tanpa Iskandar di hari-hariku, Bunda langsung menyuruhku untuk mengantarkan makanan ke rumahnya. Kata Bunda Mami Friska tidak ada di rumah, jadi Iskandar hanya berdua dengan Adiknya, Dita. Bunda heboh sendiri, khawatir mereka mati kelaparan. Bunda tidak tahu saja kalau Iskandar itu adalah manusia sempurna yang bisa melakukan segalanya.


Sekarang aku di sini, di depan gerbang rumah Iskandar dan Dita dengan senyum lebarnya menyambut kedatanganku,


"ya ampun..., Kakak Rin..., maaf,ya pasti kakak berharap Mas Iska yang bukain pintu...," katanya sok-sokan iba.


"sebenarnya itu bukan harapan gue sama sekali..," batinku.


ia langsung melihat tas besar yang kubawa,


"apa ini,kak?" tanyanya.


"makanan...,"


"ooh.., ini harus dibawa ke dalem. ayo masuk,kak...," katanya lalu membawakan tas besar itu. Tanganku hampir copot membawa tas besar itu.


Sekarang aku masuk ke dalam rumahnya. Rumah besarnya itu sepi sekali, aku melihat ke sekeliling, khawatir Iskandar muncul tiba-tiba. Itu salah satu keahliannya juga, apalagi memergoki orang.


"kak Rin cari Mas Iska,ya?" tebak Dita.


"ah.., uhmm.., hehe..," aku ketahuan.


"mas Iska gak ada di sini. kalo sampe jam segini gak balik-balik dia pasti ketiduran."


"orang kayak dia bisa ketiduran??"


"kayaknya dia lagi mengalami tekanan batin. Mungkin deg-degan soalnya bakalan selesai masa jabatan ketua komdisnya." kata Dita yang membawaku ke dapur.


"kenapa harus deg-degan?" tanyaku. Paling juga bikin laporan selama masa jabatan. Seharusnya orang seperti Iskandar sudah menyiapkannya sedetail dan serapih mungkin.


"entahlah. Atau malah deg-degan karena hubungannya sama kak Rin. Meskipun banyak cewek yang suka sama dia, tunangan, Deket sama cewek dengan hubungan yang kayak gini,kan pertama kalinya buat dia. ugh..," kata Dita lalu meletakkan tas besar itu ke atas meja dapur dan membukanya,


"woah..., banyak sekali..., titip makasih buat Bunda Amanda,ya, kak.., apa ini malah kakak yang masak spesial buat kak Iskandar??"


BLUSH !


"a,apaan, sih??" kataku salting, meskipun memang benar aku yang memasak beberapa makanan ini, tapi tidak berpikir spesial untuk Iskandar.


Dita lalu membereskan makanan itu dan menyimpannya beberapa di kulkas, aku juga ikut membantunya.


"Oh,iya,kak ! kakak mau datengin Mas Iska? bangunin aja sekalian..., bentar lagi Zuhur. Dia harus solat di masjid...," kata Dita. Aku reflek melihat jam tanganku, baru jam sebelas, tapi cowok kalo harus solat ke masjid,kan emang ritual mandinya lama,


"dia biasa solat di masjid?"


"ya iyalah.., gitu-gitu religius tau,kak.., hihi...,"

__ADS_1


"waw..,"


"gak pernah keliatan kalo dia religius.., tapi kalo dipikir dari sifatnya yang perfeksionis, kemungkinan besar dia religius...," batinku.


"nah, beres.., kak ayo aku ajak ke rumah Isabel, dia pasti ketiduran di sana."


"rumah Isabel?"


"iya, cinta pertama Mas Iska.., hihi...,"


"hah??" aku makin kaget. Kenapa dia harus ada di rumah Isabel?? Tunggu, Isabel itu ceweknya yang mana lagi?


*


Kini aku sudah ada di rumah Isabel, sedangkan Dita meninggalkanku dengan alasan harus menyiapkan meja makan dan misiku sekarang adalah membangunkan seekor singa, eh maksudnya Iskandar. Rupanya dia benar-benar tidur.


"meong...," seekor kucing anggora putih mendekatiku. Aku mengelusnya sebentar lalu perhatiannya langsung teralihkan dengan seekor kucing berwarna coklat yang mengajaknya bermain. Kata Dita dia adalah Isabel. Aku menghela napas, ternyata aku ini benar-benar manusia penuh curiga. Aku lalu berjalan mendekati Iskandar yang tertidur dengan damainya di tengah ruangan ini yang katanya Rumah Isabel.


Aku duduk beraimpuh di sampingnya sambil memandangi wajahnya saat tertidur, Jika kami menikah, mungkin wajah ini yang akan selalu menyambutku, wait ! sadarlah Rin, memangnya kamu mau menikah dengannya?


"Iskandar..," aku memanggil namanya, tapi dia masih tidur dengan tenangnya,


"Iskandar.., bangun...," kataku lagi, tapi dia tidak bangun. Apa iya aku harus mengguncangkan tubuhnya. Tanganku ini dengan agak takut-takut berusaha menyentuh pundak Iskandar, tapi sebelum tanganku berhasil mendarat, Iskandar sudah membuka matanya. Tubuhku langsung mematung, Aku kaget, tapi Iskandar malah menatapku dengan intens, tiba-tiba tangan kanannya menyentuh pipiku, ia lalu tersenyum?? kenapa dia tersenyum? Lalu tangannya yang menyentuh pipiku merambat ke tengkuk leherku dan menariknya,


"apa yang mau dia lakukan???" batinku panik. Lalu dia mendekatkan wajahnya dan,


"please.., stop...," lirihku. Aku tidak mau dia melakukan apa yang aku pikirkan. Ia langsung tersadar, aku langsung menjauh dan dia langsung terduduk, nampaknya dia kebingungan. Mungkin karena tidur teralu lama.


"maaf..," katanya. Tanpa menjawab aku langsung pergi dari sana. Sepertinya misiku baru setengah berhasil, aku belum memintanya untuk bersiap solat Zuhur.


*


Aku langsung pulang, bahkan aku menolak untuk makan siang bersama. Aku benar-benar shock? Bagaimana seorang Iskandar bisa melakukan itu? Baru aku berpikir dia adalah orang yang religius?? Ah, tapi siapa yang bisa menebak isi pikiran dan hati manusia?


"hey.., ngapain lu ke sini?" Suara itu menyadarkan lamunanku,


"Keisha !!" kataku dengan wajah memelas,


"duuh.., lu kenapa lagi, ayo masuk..," katanya lalu mengajakku masuk ke dalam rumahnya.


*


Aku tidak bisa bergerak karena Keisha memaksaku menggunakan masker wajahnya.


"firasat gue mengatakan kalo elu lagi stress.., nah, makanya gue kasih lu masker yang kaya vitamin C dan E ini yang bisa membuat muka lu segar dan mengurangi sedikit rasa stress lu..," kata Keisha.


"yu, utu bunur Run, Kumu ukun judu lubuh buhuguyu...," kata Yura yang sudah ada lebih dulu dibandingkan aku dan masker diwajahnya sudah mulai mengeras,

__ADS_1


"mau gue translate?" tanya Keisha.


"ya itu benar, Rin kamu akan jadi lebih bahagia. Itu,kan.., aku ini cukup pengertian...," kataku.


"kutu suhutu, fufu...," kata Yura.


"Yura, sebaiknya kamu diam aja, nanti masker kamu pecah..," kata Keisha mengingatkan.


"ukuy...,"


"tapi, kenapa lu dateng dan bahkan nginap ke rumah gue dengan wajah yang stress, Rin?" tanya Keisha.


"gue cuman lagi gak mau ketemu Iskandar..,"


"loh? Iskandar?? tunangan lu? kenapa deh? belum ada seminggu tunangan langsung ada masalah rumah tangga?"


"dia tunangan doang, bukan suami."


"oh,iya..,"


"cuman kesel aja..,"


"mana mungkin aku ceritain kejadian kemarin? pokoknya aku harus menjauh dulu dari Iskandar sampai perasaanku baik lagi...," batinku.


Tiba-tiba Yura berdiri,


"kamu mau kemana, sayang?" tanya Keisha.


"cucu muku."


"apaan tuh cucu muku, haha...," ledek Keisha.


"oh,iya, Kei...," kataku.


"hm?"


"gue punya ide tentang rencana kita di awal kelas dua belas...," kataku.


Keisha tiba-tiba berhenti, ia lalu menatap mataku,


"rencana?" ia tersenyum,


"kayaknya menarik. ide apa?"


"gue kasih judul ide ini dengan nama misi tanpa tangan kotor. nanti gue jelasin, Tapi, selesaikan dulu maskernya, ." kataku lalu memejamkan mata.


"oke, gue mau penjelasan lu sejelas-jelasnya." kata Keisha lalu mengoleskan masker ke daguku lalu menutup mataku dengan timun.

__ADS_1


__ADS_2