
Iskandar diam saja dari tadi sampai mengantarkan aku ke tempatku magang. Hari ini dia ngotot mau mengantarkamku, padahal dia ada praktek di kampusnya hari ini.
"Aku masuk dulu, ya...," pamitku hendak membuka pintu,
"Rin...," ia memanggilku dengan nada dinginnya. Seketika aura mencekam mulai tersebar di dalam mobil.
"uhm.., ada apa Iskandar?" tanyaku yang tidak jadi membuka pintu mobil. Aku berusaha tenang jika harus menghadapi dia yang seperti ini.
"kita sudah menikah..., mungkin kamu tidak bisa bohong sama aku, tapi bukan berarti kamu tidak menyembunyikan apa-apa dariku...," katanya menggantung kalimatnya.
"aku harap, kamu gak nyembunyiin apa-apa dariku...," katanya. Apa dia merasakan kegalauanku?
"uhm.., iya.., Aku juga harap kamu juga gak nyembunyiin apa-apa...," kataku membalikkan kata-katanya.
Ia langsung menoleh ke arahku dan menatap mataku seolah mencari maksud dari perkataanku,
"kalau ada yang ingin kamu ceritakan, aku selalu setia mendengarkan, tapi aku kerja dulu, jadi.., kita bisa membicarakannya nanti malam. Aku juga menunggu kamu...," kataku lalu mengambil tangannya dan menciumnya.
"sampai jumpa nanti malam." kataku lalu keluar dari mobilnya.
*
Malamnya,
Iskandar belum pulang juga, bahkan jam makan malam sudah lewat. Padahal aku ingin sekali membahas soal "malam pertama" padanya, Aku harus tahu pemikiran dia sama atau tidak denganku. Sekarang aku hanya memandang Lingerie pemberian Mami. Entah darimana Mami mendapatkan Lingerie berwarna baby pink ini. Kata Mami aku paling cantik ketika menggunakan baju berwarna baby pink. Lingerie ini teralu terbuka menurutku, tapi memang baju ini didesain untuk itu,kan?
Ceklek !
Pintu kamar kami mulai terbuka dan langsung muncul Iskandar dengan wajahnya yang kelelahan. Aku jadi tidak tega dengannya. Aku langsung mendatanginya dan membawakan bawaannya,
"mandilah dulu...," kataku yang tidak mau bertanya apa-apa. Ia pasti saat ini hanya ingin tidur sekarang.
Ia tidak menjawab apa-apa lalu tiba-tiba menarik tengkukku dan mencium keningku singkat. Seketika aku berhenti bernapas karena kaget. Ini benar-benar tiba-tiba. Ia lalu memandang wajahku yang masih kaget dan ia tersenyum,
"aku hanya sangat merindukanmu hari ini..," katanya lalu membelai rambutku.
"baiklah.., aku mandi dulu,ya..," katanya. Aku benar-benar tidak bisa berkomentar apa-apa. Jantungku saat ini berdegup sangat kencang.
Aku sampai terduduk karena kakiku lemas,
wajahku pasti sangat merah saat ini,
"padahal udah nikah..., tapi masih deg-degan aja...," kataku.
*
__ADS_1
Author POV
Iskandar baru saja selesai mandi dan ia ingin langsung tidur. Praktek hari ini cukup melelahkan, apalagi ia harus menempuh jalan yang cukup jauh untuk pulang ke rumahnya. Ia naik ke atas tempat tidurnya, tetapi malah tidak menemukan istrinya di sana.
"kemana Rin ? Tadi kayaknya ada?" kata Iskandar keheranan dan tiba-tiba matanya terusik pada selembar kain berwarna baby pink di atas tempat tidurnya. Ia mengambilnya dan melebarkan pakaian itu,
"ini apa__," matanya langsung melotot saat tahu kain apakah itu,
"Lingerie??" katanya kaget. Wajahnya langsung memerah. Ia menelan ludahnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Apa Rin...,"
Ceklek !
"Iskandar.., maaf, ya.., tadi Mami minta tolong padaku untuk mencarikan__," Rin berhenti saat melihat Iskandar yang sedang melebarkan Lingerie pemberian Mami.
Rin langsung berlari dan merebut Lingerie dari tangan Iskandar dan menggulungnya sembarang.
"uhm.., i,ini.., ini pemberian Mami...," kata Rin gugup.
"aku tidak tanya Rin...," katanya malah membuat Rin 0 semakin tertekan.
"ah.., uhm.., Ng.., ya.., aku__,"
Tiba-tiba Iskandar memeluk tubuh mungil Rin,
"Rin.., apa kamu sudah siap?" tanya Iskandar.
"Si,siap?" tanya Rin.
Iskandar lalu melihat wajah Rin yang masih gugup. Iskandar mengangkat dagu Rin agar Rin bisa melihat wajahnya juga,
"Rin.., Aku takut kalau kamu belum siap..., Aku takut kamu malah jadi benci aku...," ungkap Iskandar jujur.
Kedua tangan Rin memegang pipinya lembut,
"apa ini yang membuat kamu canggung akhir-akhir ini?" tanya Rin.
Iskandar menghindari tatapan Rin,
"iya...," katanya. Ia lalu menatap Rin dan menggendongnya ala bridal style.
"Iskandar ..!" kata Rin, ini bukan pertama kalinya ia digendong begini, tapi tetap menakutkan karena Iskandar sangat tinggi.
Iskandar membawanya ke atas tempat tidur dan mendudukkan Rin di sana,
__ADS_1
"Rin...," kata Iskandar.
"hm?"
"kalau kamu mau pake itu sekarang juga gak apa-apa...," kata Iskandar malu-malu. Telinganya bahkan memerah.
"pakai ap__," Rin baru sadar kalau Lingerie itu masih di tangannya.
"Iskandar..," rengek Rin.
"uhm.., tapi tidak apa-apa juga kalau kamu belum mau sekarang. Aku akan menung__,"
Rin langsung menyentuh bibir Iskandar dengan telunjuknya.
"curang.., padahal aku selalu dag-dig-dug menunggumu, tapi__," Iskandar langsung mendorong Rin hingga telentang di atas tempat tidur. Jantungnya saat ini sedang memompa darahnya dengan sangat kuat. Iskandar memandang wajah Rin yang masih kaget.
Rin memandang wajah Iskandar yang seolah menahan sesuatu,
"ka,kalau kamu memang mau sekarang..., aku.., aku gak keberatan__, mmmmhh!!!" Tanpa basa-basi Iskandar langsung ******* bibir mungil Rin.
Iskandar langsung melepaskan ciumannya begitu napasnya mulai menipis,
"hah.., hah...," Iskandar dan Rin sama-sama terengah-engah karena kehabisan napas.
Wajah Rin kini benar-benar memerah. Ini bahkan pertama kalinya bibirnya dicium seperti itu. Rin menghindari mata Iskandar saking malunya. Suasana jadi canggung, mereka berdua tidak mengatakan apa-apa. Hanya terdengar suara detak jantung keduanya yang tidak beraturan saat ini.
"A,apa aku terlalu berlebihan?" lirih Iskandar. Hal itu berhasil membuat Rin berani menatap mata Iskandar yang masih setia menatap mata istrinya itu.
Rin tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
"tidak.., tidak berlebihan...," kata Rin.
"A,aku suka...," kata Rin lirih.
Mendengar itu langsung terlukis senyuman di wajah Iskandar,
"bagus.., kalau begitu bersiaplah untuk ronde berikutnya...," kata Iskandar lalu melepas kacamata Rin dan meletakkannya di nakas.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang terasa panjang bagi mereka berdua.
.
.
.
__ADS_1