
Idho dan Rin duduk bersimpuh sambil menunduk. Sedangkan Odi dan Bella saling berpelukan karena merinding melihat Iskandar yang sedang marah. Suasana benar-benar tegang saat ini.
"Lu tau, kan, Dho, Rin itu siapa?" tanya Iskandar dengan nada intimidasinya.
"tau, Arini Kalista Tunangannya Iskandar Radjamuda Utama." jawab Idho.
"terus gue ini siapa bagi lu ?" tanya Iskandar lagi.
"Lu itu bagi gue adalah Rival di atas arena, tapi teman seperjuangan di bawah arena...," kata Idho.
"sekarang kita ada di atas arena atau di bawah arena?" tanya Iskandar lagi.
"di bawah arena...," jawab Idho.
"Gue tanya sama lu lagi, Gue itu apa bagi elu?" tanya Iskandar lagi.
"teman seperjuangan...,"
"terus Rin itu siapa?"
"Tunangannya temen seperjuangan gue..,"
"apa yang tadi lu lakuin barusan, bener atau salah?"
"sa,salah..," kata Idho.
Iskandar mendengus kasar,
"tunjukin muka lu, Dho!" pinta Iskandar.
Idho langsung mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajah khawatirnya. Iskandar segera berjongkok di hadapannya dan menempelkan keningnya dengan kening Idho sambil menatapnya tajam.
"tatap mata gue !!" kata Iskandar. Idho langsung menatap mata Iskandar. Ia sama sekali tidak melawan. Idho sangat tahu, melawan Iskandar yang sedang buruk suasana hatinya sama saja bunuh diri.
"Asal lu tau, Dho.., Gue tahu lu itu selalu memeluk, cium siapa aja kalo lagi bahagia. Awalnya gue biarin elu, itu hak elu! Tapi Lu harus tahu batasan !!" kata Iskandar masih dengan tatapan tajamnya.
"Rin itu tunangan gue !!! Milik gue !!! Gue yang boleh sentuh dia !!!" Tegas Iskandar dengan suara lantangnya.
Mendengar itu Rin langsung menoleh ke arah Iskandar,
"gue milik Iskandar?" batin Rin, wajahnya langsung memerah, jantungnya langusng berdebar-debar. Diam-diam ia tersenyum. Bukankah itu berarti Iskandar mengikrarkan perasaannya pada Rin?
"Lu ngerti gak ???!!!" kata Iskandar masih dengan suara lantangnya. Odi dan Bella berpelukan semakin erat karena takut.
"Ngerti !!!" kata Idho tak kalah Tegas dan lantang.
Iskandar melepaskan keningnya yang menempel dengan kening Idho,
"Fiuh..," kata Idho bernapas lega,
JEDUG !!
Tiba-tiba Iskandar membenturkan keningnya dan Kening Idho sehingga membuat Idho terjatuh.
"Ingat.., gue marah sama lu..., tapi gue cuman jedotin kening gue ke kening lu karena lu temen seperjuangan gue. Sekali lagi kayak gini, abis lu di arena sama gue. Siapin asuransi jiwa." kata Iskandar dingin, ia lalu beridiri dan pergi ke kamarnya di lantai dua.
Odi dan Bella langsung mendatangi Idho yang sedang beranjak karena tadi jatuh telentang,
"ugh.., Bella tadi takut banget, tau...," kata Bella langsung mengusap-usap kening Idho dengan rambut panjangnya.
"sakit banget, ya, Dho?" tanya Odi sambil meniup-niup kening Idho.
__ADS_1
"sakit.., tapi besok juga sembuh. Rasa sakit gue gak seperih rasa sakit yang dirasain Iskandar. Dia udah cukup menahan diri...," kata Idho lagi.
"hiiy.., ini baru pertama kalinya Bella lihat Iskandar marah..., ngeri banget !!" kata Bella.
"sekarang gimana? kamu mau tetep nginep di sini, Dho?" tanya Odi.
"ya iyalah.., besok dia juga baik lagi. Pasti pikirannya penuh karena rapat barusan juga." kata Idho.
Bella melirik ke arah Rin yang dari tadi diam saja dengan wajah yang memerah,
"Rin.., apa ada yang kamu khawatirkan?" tanya Bella.
"uhm.., enggak...," kata Rin. Jelas sekali di kepalanya berputar kata-kata Iskandar tadi. Sekarang otaknya sedang menganalisis maksud dari Iskandar tadi. Setiap hasilnya keluar, ia tidak mau mengakuinya. Apakah benar Iskandar menyukainya?
"kalo gitu, sekarang istirahat aja." kata Odi.
"iya, Ayo Rin.., kita ke kamar." ajak Bella.
"uhm.., i,iya..," kata Rin. Mereka berdua lalu pergi ke kamar Dita, kamar yang ditempati Rin selama ini.
"terus kita gimana, Dho?" tanya Odi.
"siapin mental untuk masuk kandang singa." kata Idho.
*
Rin memeluk guling yang selama ini menemaninya tidur,
"Rin itu tunangan gue !!! Milik gue !!! Gue yang boleh sentuh dia !!!"
Kalimat itu terus terngiang di kepala Rin. Ia menyembunyikan wajahnya yang terasa panas di balik guling.
"Rin.., belum tidur?" tanya Bella yang baru menyelesaikan rutinitas perawatan dengan Skin care malamnya.
Bella naik ke atas kasur dan tiduran di samping Rin.
"Rin gak usah khawatir, besok Idho sama Iskandar juga bakalan baikan lagi." kata Bella.
"oh,iya.., tadi Iskandar sedang marah..., gue malah fokus sama kata-katanya...," batin Rin.
"Idho itu emang sering berbuat seenaknya, Bella aja sering,kok ngomelin Idho, hihi...," kata Bella lagi.
Bella lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Rin,
"tapi tadi Iskandar gak marahin Rin, kayaknya dia percaya banget sama Rin,ya..," kata Bella lagi.
"yah jelaslah..., gue,kan berusaha melepaskan diri." batin Rin lagi.
"Bella gak nyangka aja, sih, Iskandar ternyata bisa jealous juga, hihi...,"
Deg !
"bahkan Bella juga beranggapan yang sama kayak gue?" batin Rin.
"menurut lu gitu, Bell?" tanya Rin.
"ya., apalagi kalau bukan?"
"tapi waktu gue dan Ori...,"
"kalau menurut Bella, Iskandar itu sering menahan diri untuk meluapkan emosinya, terutama sama orang-orang yang bener-bener dia percaya. Kalau gak dia kendalikan mungkin sudah habis kali. kalau mereka mulai latihan di atas arena, tuh.., mulai sisi mengerikan Iskandar keluar. Tapi sisi mengerikan Idho juga keluar. Intinya mereka berdua itu sifatnya hampir mirip, cuman Idho orangnya teralu ceriwis, hihi...," kata Bella panjang lebar.
__ADS_1
"kayaknya dari kata-katanya Bella sudah cukup dekat dengan Iskandar juga. Aku jadi merasa seperti orang lain...," batin Rin kecewa .
"lain kali, coba kamu lihat mereka kalo lagi latihan, tapi harus kuat mental. Soalnya mereka gak segan-segan kalo latihan. Banting lawan, ya nanti banting aja, pukul lawan ya pukul aja. Tapi serunya mereka sama-sama jago, gak asal mukul, pake strategi, malah Idho kadang suka bersiasat, jadi kayak nonton film action secara live."
"iya.., gue mau..., ajak gue,ya lain kali..," kata Rin.
"gue harus mengetahui semua tentang Iskandar karena gue sudah memutuskan untuk selalu di sisinya...," batin Rin.
"ya udah, tidur yuk..., besok kita harus bangun. pagi." kata Bella lalu memejamkan matanya. Rin hanya mengikutinya.
*
Keesokan harinya,
Suasana antara Idho dan Iskandar masih canggung, padahal kemarin Idho dan Odi berhasil tidur bersama Iskandar di kamarnya.
"Papah...," panggil Idho.
"gue bukan bokap lu...," kata Iskandar sinis. Sekarang mereka berdua sedang ada di kantin karena Sidang sedang istirahat.
"Papah masih marah, sama Idho?" tanya Idho manja.
"gue lagi gak mau bercanda, Dho!!!" kata Iskandar. Ia marah, tapi tidak mengusir Idho yang duduk di sampingnya.
"sebenarnya kalian ini kenapa, sih?" kata Ori yang dari tadi ada di hadapan mereka.
"uhm.., sebenarnya gini...,"
"Dho, gue udah gak marah sama elu, tapi gue minta waktu untuk menenangkan diri." kata Iskandar lagi.
Ori lalu melirik ke arah Idho, ia memberi kode seolah bertanya apa yang terjadi.
"Ori.., biarkanlah Iskandar menenangkan dirinya dan menghadapi apapun masalahnya sekarang dengan kepala dingin. Nanti dia juga cerita." kata Fahmi yang duduk di samping Ori.
Iskandar lalu melihat ke arah Fahmi, ia lalu menghela napas,
"entah kenapa karena mendengar kata-kata Bang Ami, gue jadi merasa gak berhak marah...," kata Iskandar lagi lalu menarik Idho dan memeluknya,
"sorry, ya Dho..," kata Iskandar.
"eh, loh? Se, seharusnya gue yang minta maaf, Papah Iska...," kata Idho membalas pelukannya.
Iskandar lalu melepas pelukannya,
"pft.., kepala lu benjol,kan karena gue," kata Iskandar kini malah menahan tawanya.
"Yee..., bikin gue patah tulang aja lu kagak minta maaf..," kata Idho mengungkit masa lalu.
"yah.., lu,kan juga bikin gue patah tulang. Impas jadinya." kata Iskandar.
"kan adem lihatnya kalo gini...," kata Fahmi lagi
"tunggu, tapi gue kepo, kalian emangnya kenapa berantem?" tanya Ori.
Iskandar dan Idho saling lirik,
"hahaha...," mereka berdua malah tertawa.
"fokus aja ke sidang dulu," kata Iskandar.
.
__ADS_1
.
.