
Hari sudah mulai gelap. Ia tidak menyangka kalau tugasnya akan memakan waktu begitu lama. Sebenarnya ia ingin menyelesaikannya di rumah saja dan pulang bersama Rin, tapi teman-teman sekelompoknya tidak mengizinkan itu dan tidak segan-segan mencoret nama orang yang tidak berkontribusi.
Iskandar membuka pinta rumahnya dan tiba-tiba sudah ada Friska di sana,
"Mami? tumben di sini...," tanya Iskandar.
Friska malah melongok-longok ke belakang Iskandar, seolah mencari sesuatu,
"ada apa, Mi?" tanya Iskandar lalu masuk dan menutup pintunya,
"Rin mana?" tanya Friska.
"hah? Rin?" tanya Iskandar.
"iya.., Rin belum pulang dari tadi...," kata Friska.
Iskandar mengernyitkan dahinya, tadi Rin sempat mengabarkan kalau dia sudah menuju jalan ke bus, tapi setelah itu Iskandar tidak memeriksa ponselnya lagi karena tugas. Ia langsung membuka ponselnya dan membuka ruang chat bersama Rin. Benar saja, tidak ada pesan apapun setelah itu. Perasaannya mulai tidak enak.
"dia gak bilang apa-apa ke Mami?" tanya Iskandar.
"enggak, emangnya dia juga gak bilang apa-apa ke kamu? " kata Friska khawatir.
Iskandar lalu menelpon Rin,
"nomor yang anda panggil tidak menjawab, anda terhubung pada layanan__,"
"gak diangkat, Mi...," kata Iskandar lalu mencoba menelponnya lagi.
"nomor yang anda panggil tidak__,"
"gimana Iskandar...," kata Friska makin khawatir.
Iskandar hanya menggeleng dan mencoba memanggil lagi.
"nomor yang anda__,"
"Iskandar coba lagi,ya Mi..," kata Iskandar berusa berpikir positif.
"nomor yang an__,"
"sial !! kenapa ini malah terjadi di saat seperti ini??!!' batin Iskandar panik.
"gimana, Iskandar..," kata Friska.
Iskandar lalu menelpon Yura,
"angkatlah Yura...," kata Iskandar.
"dia siapa?" tanya Friska.
"temannya Rin..," kata Iskandar.
"hallo Iskandar__,"
"Yura, Rin sama lu gak? Atau lu tau Rin dimana?"
"Rin.., gak.., Rin gak sama Yura. Tadi Yura pulang duluan karena kakak Yura mau datang..., Apa Rin belum sampe rumah?" tanya Yura.
"belum.., uhm.., kalau gitu oke deh..," Iskandar lalu menutup telponnya.
"siapa lagi temannya Rin?" tanya Friska.
__ADS_1
"ada satu lagi, tapi.., uhmm.., coba dulu,deh." Iskandar menelpon sahabat lama Rin, meskipun ia agak tidak yakin,
"hallo Iskandar? kenapa nelpon gue?" tanya seorang gadis di sebrang.
"Liska.., Rin sama lu gak?" tanya Iskandar to the point.
"Rin? uhm., enggak.., emangnya kenapa?" tanya Liska,
"dia belum pulang. kalo gitu makasih,ya..," kata Iskandar lalu menutup telpon.
"coba telpon Rin lagi...," kata Friska yang napasnya mulai tak beraturan karena khawatir.
"oke.., Iskandar coba." kata Iskandar lalu menelpon Rin lagi,
Tut...,
Tut...,
Tut...,
"Telpon diangkat, Mi !" kata Iskandar lega.
"hallo...," Wajah Iskandar langsung berubah khawatir saat ia mendengar suara laki-laki di sebrang.
"hallo? Dengan Iskandar Radjamuda Utama, tunangannya Arini Kalista?" tanya lelaki di sebrang.
"Dion?" tebak Iskandar.
"ohoho.., lu langsung bisa ngenalin suara gue.., padahal gue baru mau mengenalkan diri. Memang ketua komdis adalah orang yang paling mengenal semua siswa di sekolah,ya, hahaha...,"
"Dion.., Rin sama elu? Elu ada dimana?" tanya Iskandar tidak mau basa-basi.
"waduh.., buru-buru amat, sih lu.., sabar dikit, dong. Tunangan lu lagi tidur nyenyak kok sekarang__,"
"ahahaha.., wait.., sabar, bro. Dia aman,kok.., sekarang tapinya, gak tau, deh nanti...,"
"Lu jangan main-main sama gue.., Dia dimana???!!!" tanya Iskandar. Friska yang ada di situ langsung memegangi lengan putranya agar bisa tenang.
"hemm., gue bakal ngasih tau dia dimana, tapi gue mau bikin kesepakatan sama elu..,"
"lu mau apa?" tanya Iskandar yang berusaha menahan emosinya.
"gue? Gue mau lu dateng ke sini sendirian dan nerima kejutan gue."
"lu dimana?" tanya Iskandar berusaha bersabar.
"bekas gudang penyimpanan pabrik rokok dan bulan terlihat cerah di sini, itu cluenya, silahkan cari lokasinya dimana dan gue kasih lu waktu lima jam dari sekarang untuk jemput tunangan lu, kalo lu gak bisa, yah udah, silahkan say goodbye sama Arini Kalista...," kata Dion lalu menutup telponnya.
Iskandar lalu langsung menelpon ke nomor Rin lagi, tapi tidak di angkat.
"Iskandar.., dia siapa? Rin ada dimana?" tanya Friska.
"Mi.., mami tenang. Iskandar juga akan berusaha tenang...,"
"iya, Mami tau, tapi kasih tau Mami, Rin dimana? dia baik-baik aja,kan?" tanya Friska.
"tadi, tadi telpon dari teman Iskandar dan Rin. Rin ada sama dia, tapi Iskandar punya waktu lima jam buat nyari dan menjemput Rin..,"
"maksudnya apa Iskandar? Rin diculik??" tanya Friska.
Iskandar tak sanggup mengatakannya, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir, tapi ia mengangguk, bagaimanapun Ibunya harus tahu.
__ADS_1
"Iskandar, dengar Mami baik-baik. Ikuti apapun kemauan penculik itu, kamu gak perlu khawatir, kamu gak sendirian, meskipun kamu harus pura-pura sendirian...," kata Friska yang tatapannya mulai menajam.
"baik, Mami." kata Iskandar.
*
Rin POV
Kepalaku sakit, Aku merasakan hawa dingin di kulitku, sebenarnya aku dimana? Aku membuka mataku yang tadi terpejam cukup lama, namun aku tidak bisa melihat apa-apa tidak ada cahaya di sini. Kenapa aku bisa di sini? Ah, aku ingat, tadi ada orang yang membekapku dengan sapu tangan dan tiba-tiba aku mengantuk lalu tertidur. Jam berapa sekarang? Aku sudah berjanji pada Mami untuk pulang cepat dan memasak resep baru? Mami pasti khawatir. Aku harus pulang !! Ah, tubuhku bahkan tidak bisa digerakkan, aku diikat. Aku berusaha melepaskan ikatan dengan menggoyang-goyangkan tubuhku. Meronta sebisa mungkin.
"ooh.., lu udah bangun?" Suara ini, aku sangat mengenal suara ini.
"Emalia?" Aku menebak nama si pemilik suara.
"waw..., tadi tunangan lu bisa dengan mudah menebak suara Dion, dan lu bisa menebak suara gue? Kalian ini memang pasangan luar biasa...," katanya. Sepertinya dia memang Emalia.
"Emalia, apa itu benar elu?" tanyaku lagi.
"iya, bener ini gue. Surprise !!" katanya. Sebenarnya apa maksudnya?
"kenapa gue diiket? sebenarnya ini ada apa?" tanyaku.
"kenapa lu diiket? ya, supaya lu gak kabur lah..,"
"kenapa gue harus kabur? sebenarnya apa yang sedang lu lakuin ke gue?" tanyaku lagi.
"apa yang gue lakuin ke elu? hahaha...," Kenapa dia malah tertawa?
"iya, bener, gue culik elu, Rin...," katanya.
Aku mendengar dia berjalan mendekatiku,
"gue culik elu, tapi bentar lagi tunangan tersayang lu jemput elu,kok.., gue gak jahat,kan? gak jahat???" tanya Emalia.
"Iskandar?" tanyaku.
"iya, itu namanya, dia bakal jemput elu, kalo bisa, kalo gak bisa, silahkan say goodbye sama dunia...,"
"say goodbye sama dunia? maksud lu?"
"kurang jelas maksud gue? maksud gue adalah MATI !!!"
Aku hanya bisa menelan ludah,
"kenapa lu lakuin ini? apa salah gue?" tanyaku.
"salah lu? masih nanya?? apa yang lu lakuin waktu itu ke gue bukan salah? keh.., oh,iya.., bukannya kita impas, waktu itu lu bunuh karakter gue, dan gue bunuh elu. Ahaha.., impas,kan?" Aku ingin membela diri pun tidak sanggup. Aku hanya bisa terdiam.
"gue lebih mending, bunuh elu, sakit sedikit langsung mati, kalo elu, bunuh karakter gue, sakitnya seumur hidup...," kata Emalia malah memelas.
"kenapa gue?" tanyaku lagi. Ini yang paling membuatku penasaran.
"kenapa elu? oh,iya.., harusnya Keisha, ya yang gue culik, tapi kenapa elu? karena kalo elu itu ibarat menyelam sambil minum air, pertama gue udah balas dendam sama otak dari kasus gue kemarin, kedua gue kerja sama bareng Dion yang dendam sama tunangan lu, ketiga, dengan begini gue bisa bikin Keisha, sahabat lu itu merasa bersalah, menyesal dan tersiksa sampai mati. Tiga orang sekaligus akan gue habisi, hahaha...,"
"Emalia.., sadar.., apa yang lu lakuin itu salah. Gue emang salah, tapi bukan berarti lu juga musti melakukan kesalahan...," hanya ini yang bisa aku lakukan.
"Halah bac*t !!!!" ia berteriak, membuat aku merinding ketakutan sehingga memejamkan mataku.
SREEK !!!
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan memancarkan sinar rembulan. Mataku yang mendapatkan cahaya langsung bisa menemukan sosok yang aku harapkan.
__ADS_1
"Iskandar !!!!" teriakku memanggil namanya.