
Bagian 21
Rin menggandeng tangan Iskandar dan membawanya ke kamarnya di saat para orang tua sedang sibuk berbincang-bincang.
Iskandar tidak protes apapun, ia sudah tahu, pasti seorang Rin akan mengajaknya bicara.
Rin menutup pintu dan segera menghampiri Iskandar yang duduk di atas karpet.
Rin duduk di hadapan Iskandar lalu memicingkan matanya,
"apa maksud lu dengan pertunangan? kenapa gak bilang aja gak setuju??? kan beres!!" protes Rin.
Iskandar hanya memandang Rin dengan tatapan datar, ia lalu menghela napas.
"woy...!! Lu dengerin gue, gak sih???" tanya Rin.
"denger." jawab Iskandar singkat.
"terus? lu gak mau jelasin apa-apa, gitu?" tanya Rin.
"lu mau penjelasan apa?" tanya Iskandar.
"ya.., tentang pertunangan!! lu tau gak, itu sama aja kita tetep dijodohin, harusnya kan lu nolak!!" kata Rin.
"gue gak bisa." kata Iskandar.
"kenapa??? oh.., gue tau..,"
"tau apa?"
"lu itu,kan robot Mami sama Papi, iya kan??"
Iskandar mengernyitkan dahinya,
"yah.., apapun yang Mami dan Papi bilang lu gak bisa ngelawan, lu mau bilang gitu,kan? makanya lu bilang, gue gak bisa berharap sama elu?" kata Rin
"apa?" tanya Iskandar sambil mengernyitkan dahinya,
"yah..., lu itu robot, lu emang terlihat sempurna karena semuanya sudah diatur oleh Mami dan Papi. Lu adalah manusia yang gak memiliki keinginan apapun!!!" tambah Rin.
Iskandar terdiam. Suasana menjadi hening.
"duuh.., apa gue berlebihan,ya?" Batin Rin.
"jadi, menurut lu, gue begitu, ya?" tanya Iskandar memecah keheningan.
"iya!" tegas Rin mengeraskan hatinya, meskipun sekarang wajah Iskandar terlihat sedih,
"Apa.., apa dia tersinggung?" Batin Rin lagi.
Iskandar menghela napasnya, Ia lalu menatap Rin tajam, aura intimidasinya yang kuat mulai keluar dan membuat Rin terpaku,
"sebenernya kita bertunangan pun itu adalah keputusan elu. Padahal elu dikasih kesempatan buat mengemukakan keputusan elu tentang perjodohan ini, tapi elu malah bilang ikutin keputusan gue. Seharusnya kalo lu gak mau, lu ungkapin, dong!" kata Iskandar tegas.
"uhm.., i,itu...," Rin tiba-tiba jadi gagap.
"apa?? Jawab!!" Tegas Iskandar, membuat Rin sampai memejamkan matanya.
"ya.., gu,gue.., gue cu,cuman gak mau bikin Bunda kecewa dengan jawaban gue. Gue harap lu mengerti perasaan gue, tapi elu malah bilang setuju." kata Rin mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"anggap aja jawaban gue kayak jawaban elu barusan." kata Iskandar.
"apa?"
"gue yakin, setelah ini Mami sama Papi gue cekcok karena baru kali ini Papi mendukung keputusan gue." lanjut Iskandar.
"dan gue gak mau itu terjadi. Itu yang bikin gue jadi robot Mami seperti yang lu bilang." kata Iskandar lagi.
"ah.., gue beneran teralu berlebihan..., tunggu! kenapa gue merasa bersalah. Harusnya dengan ini dia bakalan benci sama gue. Kerja bagus mulut." batin Rin.
"empat tahun." kata Iska memecahkan lamunan Rin, "lu punya waktu empat tahun untuk memutuskan, mau melanjutkan perjodohan ini atau enggak. Hari ini elu yang mengikuti keputusan gue, tapi nanti gue yang akan ikut keputusan lu." kata Iskandar.
"apa? jadi intinya dia ngasih gue kesempatan. Ternyata dia gak seburuk itu. Kalau dipikir memberontak saat ini hanya akan menghancurkan kesan Bunda sama Ayah di depan mata Mami dan Papi."
"semoga itu bisa bikin lu punya harapan." kata Iskandar lagi lalu beranjak,
"lu mau kemana?" tanya Rin reflek.
"duh, bego! ngapain lu nanya???" batin Rin.
"keluar. Gak baik kita berdua-duaan di dalam kamar." kata Iskandar.
Wajah Rin langsung bersemu merah,
"A,apaan, sih lu???" kata Rin.
"ya udah, mungkin setelah Ashar, gue dan keluarga gue pulang. Gue permisi dulu." kata Iskandar lalu keluar.
*
Iskandar keluar dari kamar Rin dan ia langsung disambut oleh kakak laki-laki nya, Awan,
"Apa?" Tanya Iskandar.
"Gue suka gaya lu hari ini. Ini udah yang kedua kalinya lu memberontak," kata Awan dengan senyum khasnya.
Iskandar mengernyitkan dahi,
"tapi harusnya kalo emang gak suka cewe culun kayak dia, lu bilang aja gak suka. Gak usah sok-sokan cari jalan tengah." Kata Awan.
Iskandar lalu menatap Awan dengan tajam lalu melepaskan tangan Awan yang ada di pundaknya,
"Gue udah pernah bilang, gue itu gak kayak lu!" Kata Iskandar lalu pergi.
Awan malah tersenyum, "ya ampun..., Lu berjuang keras banget, sih. Dasar Bayinya Mami-Papi." Gumam Awan.
Tanpa mereka sadari Rin mendengar perbincangan mereka,
"Bahkan Mas Awan juga menganggapnya begitu, tapi, kedua kalinya? Emangnya yang pertama itu apa?" Batin Rin.
"Tunggu? Kenapa gue jadi penasaran sama kehidupannya seorang Iskandar?? Ewh..., Lupakanlah Rin!!" Batin Rin sambil menepuk-nepuk pipinya.
*
Malamnya,
Iskandar duduk di bangku ayunan yang ada di halaman rumahnya sambil memandang kolam ikan.
"yah..., lu itu robot, lu emang terlihat sempurna karena semuanya sudah diatur oleh Mami dan Papi. Lu adalah manusia yang gak memiliki keinginan apapun!!!"
__ADS_1
Terngiang Kalimat Rin di telinganya tadi siang. Ia lalu tersenyum,
"Seharusnya gue engeh pas Idho bilang Keisha nanya kelemahan gue, ckckck...," Katanya bicara sendiri lalu meminum coklat panas yang dari tadi ada di genggamannya.
"Ehem...," Tiba-tiba ada yang berdehem, membuat Iskandar mengangkat kepalanya,
"Papi!!!" Kata Iskandar langsung berdiri saat mengetahui kedatangan Yoyo.
"Ya ampun.., padahal Papi baru aja mau duduk." Kata Yoyo lalu duduk.
Iskandar mengernyitkan dahi, "kenapa Papi tiba-tiba baik? Bukannya baru cekcok sama Mami?" Batinnya.
"Jangan heran, emangnya Papi gak boleh bersikap ramah?" Tanya Yoyo yang sadar dengan sikap Iska.
"Uhmm..," Iska tidak bisa berkata-kata,
"Duduklah di sini. Papi besok pagi sudah harus bertugas lagi dan baru kembali tiga bulan ke depan." Kata Yoyo.
Iskandar tak bicara apapun dan duduk di samping Yoyo, Namun ia masih mencurigai sikap ramah Papinya itu.
"Tidak perlu bersikap waspada. Papi tidak ingin memarahimu." Kata Papinya lagi sambil memandang kolam ikan.
"Papi bisa nebak pemikiran Iska rupanya." Kata Iskandar.
"Haha.., hari ini Papi bangga sama kamu." Ungkap Yoyo.
"Hah? Bangga?"
"Ini kedua kalinya kamu mengatakan keinginan kamu pada Papi dan Mami. Tapi kali ini Papi setuju dengan pendapat kamu."
"Begitu..,"
"Mami kamu itu khawatir..., Sebentar lagi kamu naik ke kelas tiga. Setelah itu kamu bakalan bergabung ke akademi militer, Mami khawatir kalo kamu gak sempet punya pasangan, apalagi sifat kamu yang pemalu gitu kalo ketemu lawan jenis. Hahaha...,"
"Papi.., si,siapa yang pemalu??" Kata Iskandar tidak mau diremehkan.
"Kamu itu berbeda dengan Awan kalau soal perempuan. Kalau Awan teralu berani. Jadi Mami sama Papi gak khawatir, dan gaya hidup dia itu bebas, tapi tau saat yang tepat untuk dirinya menikah, sedangkan kamu itu..,"
"Masih belum bisa memperhitungkan saat yang tepat?" Tebak Iskandar.
"Uhm..., Yah meskipun pemilihan jodohnya hanya berdasarkan keinginan Rin saat masih kecil dulu. Konyol juga, sih menurut Papi."
"Konyol,ya...,"
"Haha..., Tapi menurut Papi pertunangan adalah saat dimana kalian bisa lebih saling mengenal. Jika tidak cocok, ya berarti tidak bisa dilanjutkan."
"Kamu hanya berusaha mengambil jalan tengah dari keinginan Mami dan Rin. Papi benar,kan?"
Iskandar tersenyum miring, "yah.., Papi benar."
"Tapi Papi rasa persetujuan kamu terhadap perjodohan ini bukan hanya karena kamu mematuhi keinginan Mami...,"
Iskandar mengernyitkan dahi,
"Kalau kamu gak suka sama Rin, seharusnya kamu menolaknya saja....,"
"Tidak bisa, Pi..,"
"Ya, Papi tau."
__ADS_1
"Papi tau?!!"