Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 78


__ADS_3

♥️♥️Kalian suka cerita ini? jangan lupa like, comment dan vote ya. Dukungan kalian sangat berharga bagi Author ♥️♥️


.


.


.


"Hallo Bunda...," Dari suaranya sudah aku bisa tebak kalau itu bukanlah Iskandar. Kenapa malah orang menyebalkan ini yang menjemput kami???


"eh? ini Awan?" tanya Bunda karena dia menggunakan sunglasses.


"iya, Bunda. Ini Awan..," kata Mas Awan sambil melepas sunglasses-nya.


"ya ampun, Nak Awan.., repot-repot jemput Bunda sama Rin...," kata Bunda.


"ah, enggak,kok, Bunda..., Awan juga sekalian lewat jalan sini. Terus kata Mami Bunda sama Rin mau ke rumah, ya udah sekalian aja...," katanya lagi.


"ya ampun.., makasih looh...," kata Bunda.


"Ayo masuk Bunda, Rin juga...," kata Mas Awan dengan senyum khasnya. Bunda langsung masuk ke mobilnya dan aku hanya mengikutinya.


*


Siapa sangka, jalan menuju komplek tentara itu macet,


"Awan..," Panggil Bunda supaya tidak bosan. Interogasi dimulai.


"ya, Bunda..," kata Mas Awan ramah.


"kok kamu gak pernah ngenalin Bunda calon istri kamu, sih? Kamu jadi nikah,kan?" Bunda benar-benar baru saja menembakkan sebuah peluru pertanyaan dan tepat mengenai jantung Mas Awan.


"uhmm.., kayaknya belum jadi, deh Bun...," kata Mas Awan ragu.


"loh?? kok gak jadi ??" kata Bunda heboh.


"ahaha.., soalnya ada saudara Awan yang mengatakan kalau calon istri Awan itu bukan perempuan yang baik di hadapan Mami dan Papi, jadinya belum dapet restu, deh...,"


"Saudaranya? Dita tidak mungkin, dia orangnya sangat ramah, pasti Iskandar. kenapa juga dia menghalangi kebahagiaan kakaknya sendiri,sih??" batinku.


"Iskandar maksudnya?" tebak Bunda yang lagi-lagi sangat tepat.


"aah.., apa bisa langsung terbaca,ya?" kata Awan.


"uhm.., Iskandar itu emang sesuatu, sih menurut Bunda." kata Bunda yang berhasil membuat aku menoleh ke Bunda.


"eh, ada yang gak suka, nih kayaknya...," ledek Bunda karena melihat responku.


"ahaha..., Awan lupa kalau ada tunangannya di sini..," kata Mas Awan malah meledekku.

__ADS_1


"tenang, Rin.., maksud Bunda sesuatu itu ya dia itu kayak perfeksionis gitu..," kata Bunda lagi.


"menurut Rin malah sebaliknya. Toleransinya cukup tinggi, tetapi dia selalu berusaha melakukan segalanya semaksimal mungkin, tapi karena standarnya tinggi, makanya dia selalu terlihat perfeksionis...," batinku lagi.


"emang dia itu perfeksionis...," kata Mas Awan lagi.


"tapi kamu jangan sedih,ya Awan.., Iskandar melakukan itu pasti karena dia sayang sama kamu. Kalo kamu ngerasa calon istri kamu yang terbaik, cukup sampaikan pandangan kamu sama dia, pasti dia mau ngerti,kok...," kata Bunda berusaha menghibur. Apakah ini kekuatan seorang ibu yang tidak akan membiarkan kedua putranya bertengkar. Hebat. Ya meskipun Mas Awan dan Iskandar bukan anak Bunda.


"ah.., kalau begini, Awan gak bisa mengabaikan perkataan Bunda. Perkataan Bunda barusan juga tidak salah...," kata Mas Awan lagi. Rupanya dia masih punya hati nurani. Jelas sekali kalau dia tidak suka dengan Iskandar dan berusaha menjelek-jelekkannya lagi, mungkin saja dia juga menyesali kelahirannya, tapi kebenciannya itu tidak sampai menjadi dendam. Semoga saja Iskandar juga tidak membencinya, bisa-bisa perang.


"oh,iya.., Iskandar tapi ada di rumah,kan?" tanya Bunda lagi.


"biasanya dia latihan di DOJO sama Idho, tapi katanya hari ini Idho ada acara, jadi dia pergi ke rumah Dinda..," kata Mas Awan lagi. Apakah dia berusaha menjelek-jelekkan Iskandar lagi?


"Dinda? Dinda itu siapa?"


"temen SMPnya. Sesama pencinta kucing, Bun.., uhm.., kemarin kucingnya Dinda meninggal, terus dia sedih. Nah, akhirnya karena kasihan, Iska ngasih salah satu kucingnya ke Dinda, deh..,"


"siapa? Isabel?" celetukku.


"ahaha.., bukan, kalau Isabel itu kesayangan Iska banget, dia ngasih anaknya, Marble." kata Mas Awan.


Huh.., mendengar Iskandar kasihan sama Dinda aja sudah membuatku kesal, kenapa gak sekalian Iskandar memberikan Isabel pada Dinda agar semua cewek pengganggu enyah dari hidupnya. Eh, tunggu, Rin.., bahkan kamu cemburu sama kucing?? Aku benar-benar gila.


*


Aku masuk ke rumahnya dan seperti biasa sudah disambut oleh Mami Friska yang super heboh,


"oh,iya, Rin.., kamu masih bisa tunggu sebentar,kan? Iskandar lagi ke rumah temennya sebentar. Temennya bilang mau adopsi Marble...," kata Mami Friska.


"iya, Mi.., Mas Awan sudah cerita....," kataku.


"oh,iya, Rin.., kamu jangan cemburu,ya.., sebenarnya temen Iska itu cewek, tapi mereka gak ada hubungan apa-apa,kok..., Mami kasih tau kamu duluan, supaya kalian gak bertengkar..," kata Mami. Kami tidak akan bertengkar, hanya tidak saling bicara.


*


Aku benar-benar bosan harus duduk sendirian di sofa. Sayangnya Dita sedang pergi kerja kelompok ke rumah temannya, Bunda sibuk dengan Mami dan untungnya tadi Mas Awan pergi lagi karena suatu urusan. Sedangkan Iskandar masih belum pulang. Kenapa dia harus berlama-lama di rumah cewek lain? menyebalkan. Lebih baik aku pergi ke rumah Isabel.


Rumah Isabel hanyalah rumah 3x3 meter, dulu berisi 5 kucing sekarang tinggal 4 kucing. Aku memasukinya sendirian. Aku hanya mengenali Isabel di sini karena bulunya putih, tapi sayangnya aku tidak melihatnya. Hanya ada tiga kucing lainnya yang sedang bermain-main.


"meong.., meong...," tiba-tiba aku mendengar suara kucing yang mengeong, dari nadanya terdengar sangat pilu.


"meong.., meong...," Aku memperhatikan tiga kucing yang lainnya, mereka semua sibuk berlarian dan memanjat. Tidak ada yang mengeong. Aku mencari asal suara itu.


"meong..., meong....," Akhirnya ketemu. Isabel sang tua. rumah sedang bersembunyi di sudut rumah,


"hallo Isabel.., kenapa kamu sendirian di sini?" tanyaku lembut.


"meong.., meong..," ya ampun, suaranya terdengar pilu. Apa dia sedih karena anaknya dipisahkan darinya. Iskandar memang orang tak punya hati. aku lalu menggendongnya, berusaha mengeluarkannya, namun dia malah semakin memojokkan dirinya. Aku jadi sedih melihat dia sedih.

__ADS_1


"uugh.., kasihan kamu...," kataku, tapi dia malah menggeram.


"Rin !" Tiba-tiba orang tuanya datang alias Iskandar.


"Iskandar...," kataku yang kaget.


"jangan mendekati Isabel..., dia sedang agresif..,"


"WA:OU: !!!" Tiba-tiba Isabel loncat ke arahku dengan agresif,


"awas, Rin !!" Iskandar berusaha melindungiku dari keagresifan Isabel dan aku melihat cairan merah kental muncrat dari tangan Iskandar.


"ISKANDAR !!!" Teriakku reflek. Isabel mencakar tangan Iskandar. Ia langsung berlari dan mencari tempat persembunyian lagi. Aku langsung mengambil tangan Iskandar dan memeriksanya,


"ya ampun.., cakarannya dalem..., ayo diobatin !!" kataku lalu membawa Iskandar keluar.


.


.


.


"sssh...," rintih Iskandar.


"ugh..., perih,ya..," kataku lalu meniupnya.


Iskandar tersenyum,


"lu udah gak marah sama gue, Rin?" tanya Iskandar membuatku berhenti.


Aku langsung menggigit bibir bawahku mendengarnya. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. Kenapa aku malah ingin menangis.


"hiks!" Aku terisak, tapi tidak peduli, yang penting lukanya diobati dulu. Aku langsung mengobatinya lagi, setelah selesai diberi antiseptik aku langsung memberikannya perban.


"hey.., Rin.., gue yang dicakar, kok elu yang nangis, sih?" tegur Iskandar yang melihat wajahku sudah basah. Sejak kapan wajahku basah??


"hey.., jawab dong.., jangan nangis Mulu...," katanya ramah.


"elu, sih..., ngapain sok-sokan lindungin gue??? kenapa gak biarin gue aja yang dicakar !!!" kataku marah.


"yah.., mana mungkin gue bisa biarin...," kata Iskandar lagi.


"lu,kan jadi luka-luka gini...," lirihku sambil cemberut.


Iskandar malah tersenyum,


"maaf, deh.., lain kali gue gak akan bikin tunangan gue khawatir lagi...," katanya. Menyebalkan, tapi aku senang membuatku langsung tersenyum. Kenapa, sih dia bisa segombal ini?


"apanya yang tunangan.., kemaren deket-deket cewek lain..," kataku merajuk.

__ADS_1


"ya ampun.., Rin.., lu jealous?"


__ADS_2