
Aku masuk sambil melipat tangan. Untungnya aku meninggalkan tas di dalam mobil, jadi Iska menawarkan diri untuk mengambilnya dan menurunkanku. Tapi sialnya aku harus membawa tasnya yang super berat ke dalam rumah. Dia ini ujian bawa batu keramat,ya, biar gampang jawab soalnya.
Tiba-tiba beban berat di punggungku hilang,
"nih, bawa yang enteng." kata Iskandar sambil mengambil tasnya yang aku gendong dan melempar tasku, untungnya aku bisa menangkapnya.
"oh,iya..., bunda mana? kok kayaknya sepi?" kata Iska lagi lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"lu mau minum apa?" tanyaku yang sebenarnya agak malas meladeninya.
"air putih aja." kata Iska.
"ya udah, gue ambilin. Sekalian gue panggilin Bunda." kataku. Kenapa juga sih Bunda nyuruh Iska Dateng, tapi gak menunjukkan batang hidungnya. Aku pun berjalan ke dapur untuk mengambilkan air.
*
Aku meletakkan segelas air di atas meja,
"nih, minumnya." kataku lalu hendak pergi.
"Bunda gak ada di rumah, ya?" tanya dia lagi.
"gak ada." kataku.
"kira-kira apa ya, yang mau bunda titipin ke Mami?" katanya bicara sendiri.
"gue juga gak tau!" kataku hendak pergi.
"lu mau kemana?" tanyanya membuatku berhenti.
"mandi. otak gue mumet sama ujian dan sama elu!!" kataku.
"ooh.., oke. gue nunggu di sini ya." katanya.
"ugh.., terserah !" kataku lalu pergi.
*
"hahaha...," Aku baru selesai mandi, awalnya mau aku tinggal aja si Iskandar itu, tapi tawanya yang terbahak-bahak itu membuatku penasaran. Tunggu? orang kayak dia bisa ketawa terbahak-bahak??
"ya ampun.., lucu banget, sih...," katanya dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
"hng??? dia kenapa, sih hari ini? kok girang banget ?" kataku bicara sendiri. Tanpa pikir panjang aku berjalan mendekatinya dan hendak menempelkan punggung tanganku ke keningnya,
"lu mau ngapain?" tanganku ini sudah ditangkap olehnya sebelum mendarat di keningnya,
"uhmm...," aku langsung menarik tanganku dan menyembunyikannya,
"ya kali, gue kira lu sedeng." kataku sambil memalingkan muka.
"lu udah selesai mandinya?" tanyanya.
"ih, apaan, sih nanya-nanya?"
__ADS_1
"gue numpang mandi di sini boleh? biar di rumah langsung istirahat." katanya. Ya ampun, sebenarnya tadi gue mikir apa, sih???
"ka,kalau mau mandi di sini, emangnya lu punya baju ganti?" tanyaku.
"ada. Gue selalu bawa baju ganti di tas." katanya bersemangat.
"juga sikat gigi." lanjutnya.
"hah?" pantesan isi tasnya berat.
"boleh,ya? gue juga rasanya gerah." kata Iska sambil melepas dasinya dan membuka kancing atas kemejanya.
"Iska Stop !!!!" kataku langsung menutup mata.
"Heh, ngapain?" tanya Iska.
"jangan buka baju di sini !! sana mandi !!!" kataku.
"oke, makasih yaa.." kata Iska beranjak dan segera pergi ke kamar mandi. Tunggu, dia udah tau kamar mandi di ada dimana?
*
Aku hanya memainkan ponsel di atas sofa yang tadi diduduki oleh Iskandar. Namun mataku ini entah kenapa terusik dengan ponsel Iskandar yang tergeletak di situ.
"ya ampun, nih anak, bisa sembarangan juga,ya?" kataku lalu iseng membukanya. Ya ampun, ada passwordnya.
"mungkin tanggal lahirnya." kataku. ya aku tahu tanggal lahirnya. itu sangat mudah diketahui, apalagi waktu aku tahu dia bakalan jadi tunanganku.
"eh? salah?" kataku saat gagal membukanya.
"eh? salah? hm.., masa iya tanggal lahir gue?" kataku lalu mengetik tanggal lahirku.
"eh? salah lagi. hm.., cuman orang bodoh, sih yang bikin password pake tanggal lahir." kataku. Tunggu, aku bodoh, dong?
"ngapain, lu?" tanya Iska tiba-tiba. Ya ampun, mandinya cepet banget. Aku langsung menoleh, Mataku ini langsung terbelalak. Iskandar muncul dengan handuk yang masih tergantung di lehernya dengan rambut keritingnya yang masih basah, aromanya yang semerbak dan wajahnya yang kelihatan fresh membuat dia terlihat sangat ganteng. Ya ampun, kuatkanlah imanku.
"eh, Rin ? sadar!!!" batinku lalu memukul-mukul kepalaku.
Iskandar lalu menghampiriku dan mengambil ponselnya yang ada di tanganku,
"kodenya gabungan tanggal lahir gue sama elu, kalo mau buka, seharusnya lu bilang." kata Iskandar lalu memberikan ponselnya lagi padaku. Ia lalu duduk di sofa lain sambil mengeringkan rambut dengan handuknya.
Aku lalu segera menuliskan gabungan tanggal lahirku dan tanggal lahirnya, eh? Dia tau tanggal lahirku??
"Iska !" panggilku.
"hm?" katanya yang masih sibuk mengeringkan rambutnya,
"lu tau darimana tanggal lahir gue ??"
Mendengar itu dia berhenti mengeringkan rambutnya, "dari bunda. Kan kita mau tunangan. masa gak tau tanggal lahir tunangan sendiri, sih?" katanya.
"oh...," aku lalu langsung membuka galeri, pasti aibnya ada di sini. eh, kenapa dia gak ada takut-takutnya hapenya dibuka orang lain?
__ADS_1
"Iska." panggilku lagi.
"apa lagi?" katanya agak kesal.
"lu gak curiga gue buka-buka hape lu?" tanyaku. Mataku ini terbelalak saat melihat foto-foto yang ada di galerinya. Foto dia dengan Yura ??
"curiga? hmm...,"
tiba-tiba Ia mengambil ponselnya dari tanganku.
"eh?"
"bener juga kata lu. Bahkan kita belum pasti bakal jadi atau enggak." katanya.
"eh, tapi...," ya ampun, hasrat kekepoanku muncul lagi.
"kalau gitu gue lebih baik ganti password aja,ya." katanya sambil tersenyum licik lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"ck, sial!" batinku.
"tenang, gue juga gak akan kepoin lu,kok." kata Iskandar lagi.
Drrt...,
tiba-tiba ponselnya berbunyi saat dia sedang sibuk mengetikkan sesuatu di sana,
"Bunda?" katanya, ia lalu mengangkatnya,
"ya Bunda?" tanya Iska. Aku langsung menoleh ke arahnya,
"iya.., " Iska lalu menoleh ke arahku dan menyuruhku untuk mendekatinya. Aku langsung berjalan mendekatinya. Ia lalu memasang mode loadspeaker di ponselnya,
"kamu sama Rin datang ya. Mami sama Bunda udah di sini. Kita harus fitting baju buat pertunangan kalian, kalo bisa sekalian buat pernikahan kalian." kata Bunda dari sebrang.
"Uhm.., Bunda, apa ini gak teralu terburu-buru. kan acara pertunangannya masih dua bulan lagi__,"
"Heh, Iskandar, jangan udah protes, kamu kira bikin baju itu cuman butuh sehari langsung jadi ? Kalo Mami bilang ke sini, kamu harus ke sini !!"
Aku melirik Iskandar, Ia menghela napasnya, seolah berusaha bersabar. Padahal Mami terlihat sangat ramah, tapi kali ini seolah memberikan tekanan pada Iskandar.
"ya, kamu itu robotnya Mami-Papi..,"
Kenapa tiba-tiba aku teringat kata-kataku padanya waktu itu?
"iya,iya.., kalo gitu Iska sama Rin ke sana." kata Iska.
"ya udah, jangan lama-lama. Mami sama Bunda nunggu, nih." kata Mami Friska lalu menutup telponnya.
"jadi...,"
"Gue kira apa. Kalo suruh ke boutique, kan bisa langsung aja." keluh Iska.
"udah, sekarang berperan aja sebagai anak yang baik." kataku. Entah kenapa aku bisa merasakan rasa kekesalannya.
__ADS_1
"iya, lu bener. kalo gitu siap-siap, gih. Gue tunggu di mobil." kata Iska.
Aku melihat ia mengambil tasnya lalu keluar. Banyak hal yang tidak aku ketahui tentang dia. Bahkan tidak mudah untuk mengetahuinya. Satu persatu dirinya mulai terlihat olehku. Kira-kira apa yang aku pilih nanti, ya? Tetap bersamanya atau meninggalkannya?