
"saya memanfaatkan hubungan baik kami...," kataku.
"Saya dan Liska adalah teman dekat sejak SMP, tapi hubungan kami akhir-akhir ini regang karena Liska berpacaran dengan Roger dan tidak sekelas lagi dengan saya. Kami jarang punya waktu bersama, tapi selalu berusaha menjaga agar tetap berhubungan. Sedangkan Emalia adalah teman dekat Liska. dengan memanfaatkan itu kami mulai rencana ini." aku mengambil napas lagi.
"kami membuat rencana untuk belajar bersama di rumah salah satu di antara kami, dan entah kenapa Emalia menawarkan rumahnya yang memang tidak jauh dari sekolah untuk jadi base camp dan ini semakin membuat kami mudah menjalankan rencana kami." kataku.
"haus?" tanya Pak Jamil.
"tidak."
"kalau begitu lanjutkan. Bilang kalau haus." kata Pak Jamil.
"kami belajar bersama dan bahkan membantu Emalia mengerjakan tugasnya, namun tugas itu akan kami sembunyikan di lemari. Kami tidak membuangnya, hanya menyimpan di lemarinya lagi, kami bahkan juga mengingatkannya berkali-kali untuk tidak meninggalkannya, tapi dia tidak pernah peduli pada peringatan kami."
Pak Jamil tersenyum,
"kalian baik juga sebagai orang jahat...," kata Pak Jamil lalu mengambil air mineral gelas lalu menususkkan sedotan dan meminumnya,
"lanjutkan..,"
"tidak hanya di rumah. Tapi juga di sekolah. Aku atau Yura atau Keisha akan menawarkan diri untuk mengumpulkan tugas ke ruang guru dan berusaha mencari tugasnya dan mengembalikannya ke tas atau lacinya di kelas. Kami hanya berusaha agar dia merasa dirinya teledor dan tidak bisa diandalkan. Dia pernah bilang kalau dia selalu gugup di tahun ketiga karena akan menghadapi ujian nasional. Dia akan berpikir penyebab keteledorannya adalah karena kegugupannya. Tidak akan pernah menyalahkan kami yang selalu mengingatkannya."
"kalian hanya bertiga?" tanya Pak Jamil.
Aku menggigit bibir bawahku lagi. Haruskah aku ungkapkan juga satu orang lagi?
"sepertinya emang ada satu lagi. Siapa? Anak kelas dua belas IIS B?" tebakan pak Jamil benar-benar tepat.
"Dion Mahendra." jawabku.
Pak Jamil hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"lalu rokok itu juga rencanamu?" tanya Pak Jamil.
Aku terhenyak, Ternyata benar-benar sudah ketawan semua.
"kasus terakhir yang diterima Emalia itu mirip seperti kasusmu, bedanya tidak ada yang mempercayainya lagi. Lalu Bapak dapat laporan kalau kalian memang sengaja melakukannya."
Laporan? apa ada yang mengawasi kami selama ini? Siapa? Iskandar? Tidak mungkin, bahkan kami jarang bersama akhir-akhir ini. Atau Iskandar punya mata-mata?
"kamu tidak perlu tahu. Yang pasti berterima kasihlah padanya karena dengan laporannya mencegahmu untuk berbuat buruk di masa depan. Kamu tahu,kan hukuman itu gunanya untuk apa?"
"untuk memberikan pelajaran bagi yang sudah berbuat kesalahan." kataku.
"ternyata kamu masih anak yang baik. Oke, hukumanmu sudah ditetapkan." kata Pak Jamil sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
*
Hukumanku adalah dikeluarkan dari tim konten Mading. Pupus sudah usaha dan dedikasiku terhadap organisasi itu. Aku benar-benar menyia-nyiakan hampir satu tahun ini menjadi anggotanya, aku tidak akan mendapatkan sertifikatnya sebagai kualifikasiku nanti. Biarlah, menjadi anggota organisasi bisa dimana saja. Tidak hanya itu, aku juga harus mengikuti kelas pendidikan moral di pagi hari yang diadakan di Gedung Utara. Untungnya masih bisa belajar di kelasku seperti biasa. Tapi hariku benar-benar akan melelahkan. Selain itu Nilai sikapku juga dikurangi, kemungkinan besar tidak akan masuk undangan universitas negri. Aku benar-benar sudah menyia-nyiakan tabunganku dan harus berjuang dengan kemampuanku saat ini.
*
Sudah Dua Minggu sejak kejadian itu terjadi. Sudah dua Minggu juga aku tidak bertemu Iskandar. Entah kenapa mataku ini ingin sekali melihatnya. Padahal waktu aku dipanggil Pak Lukas dia menungguku di depan ruangan Pak Lukas, tapi berbeda dengan kejadian kemarin. Iskandar sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Mungkin dia juga sangat sibuk untuk menyiapkan Laporan Pertanggungjawabannya. Setelah UTS akan diadakan sidang Pertanggungjawaban semua Organisasi di sekolah.
Aku memandang diriku di cermin. Seorang gadis dengan gaya yang culun ini benar-benar menakutkan. Aku lalu menyisir rambutku lagi. Hari ini aku akan mengunjungi Keisha. Aku dan Yura hanya diwajibkan ikut kelas pendidikan Moral, tapi Keisha benar-benar harus belajar di Gedung Utara. Dia pasti sangat kesulitan, apalagi dia tinggal sendirian di sini. Orang tuanya menetap di Rusia.
CKLEK!
Bunda masuk ke kamarku, pasti mengira anak gadisnya masih tidur di akhir Minggu begini,
"Loh, Rin? mau kemana?" tanya Bunda.
Aku berbalik,
"mau ke rumah Keisha. Boleh,kan Bunda?" tanyaku. Jangan Kira Bunda tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh putrinya ini. Bunda bahkan sempat dipanggil dan diminta mengawasiku.
"boleh. Dia pasti butuh kamu, Rin." kata Bunda lalu mendekatiku dan membelai rambutku.
"Bunda gak marah? gak ngelarang Rin buat temenan sama Keisha?" tanyaku heran.
"emm.., enggak tuh." kata bunda santai.
Bunda malah tertawa mendengar pertanyaanku,
"yah.., jadi anak nakal sedikit juga tidak apa-apa, asalkan tahu setelahnya perbuatannya itu salah dan berusaha memperbaikinya. Lagipula Bunda dulu juga agak nakal." kata Bunda mengaku.
"nakal bagaimana?"
"yah.., agak premanlah.., tukang labrak adek kelas bareng Mami Friska. Duuh.., jahiliyah banget Bunda sebelum jatuh cinta sama ayah...," kata Bunda.
"Pft...," entah kenapa pengakuan Bunda itu lucu bagiku,
"ya ampun..., untung Bunda segera tobat,ya..,"
"yah.., makanya kamu jangan ulangi lagi. Kamu juga datangi Keisha, dia pasti butuh curhat dan jangan lupa nasihati dia." kata Bunda.
"iya, Bunda. Pasti." kataku.
*
Keisha langsung memelukku ketika aku datang,
__ADS_1
"maafin gue Rin..., maafin gue, huhu...," katanya sedih.
"lu beneran merasa bersalah,kan?" tanyaku agak meledeknya.
Ia segera melepas pelukannya, Wajahnya rupanya sudah benar-benar basah karena air mata, sebesar itukah rasa bersalahnya?
"Dasar Rin..., Gue beneran merasa bersalah tau..., jahat, iih...," katanya kesal.
Aku lalu memeluknya,
"iya,iya.., dimaafin...," kataku sambil tersenyum.
"ngobrol di dalem aja yuk...," ajak Keisha.
*
Kini aku berada di kamar Keisha. Kesha menceritakan kalau Emalia sudah belajar di kelas seperti biasa, dia tidak lagi berada di Gedung Utara.
"mungkin Emalia juga tahu kalau dia hanya dijebak. Masalahnya gue gak jamin dia tau atau enggak kita pelakunya." kata Keisha.
"yah.., tau pun juga gak apa-apa..., setidaknya dia harus waspada sama kita." kataku.
"mending kalo dia waspada. Gimana kalo balas dendam?" kata Keisha khawatir.
"yah.., anak yang lu sama Pinky labrak waktu kelas sepuluh emang balas dendam?" tanyaku membuka masa lalunya.
"uhm.., itu, dia pindah sekolah." kata Keisha.
"tuh,kan. Udah, yang penting sekarang tobat kita semua...," kataku.
"elu yang tobat, otak licik!" ledek Keisha.
"otak lu jahat...," kataku membalasnya.
Tok
Tok
Tok
"Misi, Non.., di bawah ada tamu." kata Bi Dahlia.
"siapa, Bi?" tanya Keisha.
"Yang satu Den Iskandar kalau satu lagi Bibi gak kenal."
__ADS_1
Aku dan Keisha langsung saling pandang,
"siapa?"