
Rin POV
Aku sekarang duduk di atas motor Iskandar. Kami berdua sedang berada di perjalanan menuju rumahnya. Tadi pagi Bunda sudah mengantarkanku dan barang-barangku ke rumah Iskandar, alhasil aku sekarang pulang ke rumahnya,
"peluk aja kalo takut jatuh...," kata Iskandar. Ya, dia tidak punya motor matic ataupun motor Vespa. Dia harus menggunakan motor sportnya karena mulai hari ini akan berangkat bersamaku, sedangkan aku paling benci naik motor begini karena pasti posisinya mepet sama yang nyetir, untung saja orang di depanku ini adalah Iskandar.
"yah.., kalo lu jalannya gak ngebut, gue gak perlu pegangan...," kataku.
"masalahnya gue mau ngebut...," kata Iskandar lagi.
"eh?? tapi __,"
Saat lampu merah berubah menjadi hijau, Iskandar langsung menggas motornya dan melaju dengan kencang.
*
"Rin.., Rin...," Iskandar memanggil namaku. Aku yang selama diperjalanan hanya bisa memeluknya dan memejamkan mataku akhirnya berani melihat dunia.
"udah sampe?" tanyaku.
"udah.., udah di dalem malah...," katanya. Kami berdua ternyata sudah ada di halaman rumah Iskandar.
"Ciee.., kak Rin sama Mas Iska makin lengket aja, nih...," kata Dita yang tiba-tiba ada di sini.
Aku langsung melepas pelukanku,
"Apaan, sih?" kataku lalu hendak turun, dengan sigap Iskandar memiringkan motornya,
"hati-hati jatuh..," katanya. Dita langsung menghampiriku dan membantuku turun.
"lu berdua masuk aja.., gue mau masukin motor dulu ke garasi...," kata Iskandar.
"ayo,kak..," kata Dita. Untungnya adik perempuannya ini cukup baik padaku. Aku hanya mengikutinya masuk ke dalam rumah.
*
Aku pergi ke ruang tengah setelah selesai mandi. Rasanya mau malas-malasan dulu sebelum mengerjakan tugas hari ini. Di ruang tengah aku langsung bisa menemukan Iskandar yang sedang mengelus-elus Pineapple sambil fokus ke televisi.
"apa yang lagi ditonton...," Aku tidak jadi penasaran ketika melihat layar televisi, Dia benar-benar suka menonton film dokumenter hewan, Aku kira kemarin dia hanya bercanda.
"itu seekor singa yang baru melahirkan anaknya, dia mengasingkan diri sampai anaknya bisa menghadapi dunia luar, tetapi naluri bersaing mereka sudah ada sejak bayi, bahkan mereka tega membunuh saudaranya sendiri hanya untuk mendapat susu induknya." kata Iskandar malah menjelaskan apa yang dari tadi ia tonton.
"mengerikan,ya..," komentarku sambil duduk di sampingnya.
"kalau lihat tingkah mereka itu kadang lucu.., jadi gemes sendiri...," katanya sambil senyum-senyum.
"Tunggu, bukannya tadi mereka saling bunuh, kok jadi lucu? lucu darimananya?? Tenang, Rin semua bayi pasti lucu, bahkan bayi singa." batinku berusaha bersabar.
__ADS_1
"yah.., Minggu depan lagi lanjutannya...," kata Iskandar kecewa. Yes ! Setahuku televisi di sini menggunakan TV kabel, bukankah aku bisa menonton drama korea?
"eh, selanjutnya,kan Amara...," kata Iskandar.
"Amara? Amara siapa?" tanyaku. Apa sejenis judul sinetron?
"orang utan.., Amara itu pinter banget, cantik lagi, dia yang paling cantik dari orang utan betina lainnya..," kata Iskandar dengan mata yang berbinar-binar.
"hello..., kalo lu mau bilang seekor orang utan itu pintar, oke gue terima, tapi__, ah sudahlah, mungkin dia punya cara pandang yang berbeda." batinku yang tak sanggup berkata-kata lagi.
"Meong !" tiba-tiba Pineapple loncat ke pangkuanku dan tertidur di sana.
"kayaknya dia suka sama elu..," kata Iskandar yang sibuk menonton Amara sambil meminum jus jeruknya.
Tiba-tiba wajahku jadi bersemu merah, padahal yang suka padaku,kan Pineapple.
"Oh,iya Rin.., mungkin gue cuman bisa pulang bareng lu sampe besok doang.., soalnya gue harus rapat buat nyusun laporan pertanggungjawaban, soalnya Sabtu ini sidangnya." kata Iskandar lagi sambil meletakkan jus jeruknya di atas meja.
"tapi, kalo lu mau nunggu, ya gak apa-apa__,"
"enggak ! Tugas gue bejibun tau,gak. Gue,kan gak kayak lu yang pinter banget.., kalo ngerjain tugas, tuh, gue harus baca soal dengan seksama dan menganalisis bagaimana menjawabnya, meskipun pilihan ganda juga gak bisa asal tembak...," kataku.
"ooh.., gitu...," kata Iskandar sambil tersenyum miring seolah sedang meledekku.
"iih.., lu ngeledek gue, ya??" kataku kesal.
"iih.., jangan bohong !!" kataku yang menatapnya sinis.
"serius, enggak."
"tapi senyuman lu seolah bilang, lebay banget, nih anak!!" kataku yang memindahkan Pineapple dari pangkuanku lalu mendekatkan wajahku padanya agar dia tertekan dan mau mengaku.
"enggak, Rin, beneran...," kata Iskandar menjauhkannya, mungkin ia gugup.
"ngaku !!!" kataku kesal.
"enggak..," ia semakin mundur.
"tuh, kan.., ngaku cepetan !!" kataku semakin mendekati wajahnya.
"Rin.., please...,"
GEDUBRAK!
Tau-tau aku terjatuh dan sudah berada di atas dada Iskandar.
"aah.., Rin..," katanya sambil menutup wajahnya.
__ADS_1
Aku langsung bangun ketika sadar posisi kami tidak benar,
"ma,maaf..," kataku sambil bersimpuh.
"uhuy.., ingat.., nikahnya masih empat tahun lagi...," Sindir Dita yang tiba-tiba muncul. Kenapa dia selalu muncul di saat yang tidak tepat?
"uhm.., gue ke toilet dulu...," kata Iskandar tiba-tiba dan langsung beranjak.
Aku langsung duduk di sofa dan memeluk Pineapple yang sedang tidur nyenyak. Dita langsung menyusulku dengan duduk di sampingku,
"kak..., biasa aja kali..., jadi salting gitu...," ledek Dita.
"iih.., apaan, sih...," kataku malu.
"gimana besok...," kata Dita.
"be,besok? besok kenapa?" tanyaku.
"besok Dita mau nginap di rumah teman Dita soalnya mau ikut lomba karya tulis ilmiah, mungkin tiga hari baru balik, sedangkan Mami baru balik lusa.., hemm.., Dita jadi khawatir sama kak Rin..," kata Dita.
"Hah??? Terus kak Rin gimana dong Dita..., Dita, jangan pergi...," kataku panik. Duuh canggung banget pasti kalo cuman berduaan sama Iskandar, apalagi gara-gara kejadian tadi.
"yah.., kakak, deadline-nya udah Deket, gak bisa ditunda lagi...," kata Dita.
"Dita, mau jadi apa gue kalo di sini cuman sama Iskandar??? Duuh.., pasti nanti dia bakalan diam seribu bahasa...," kataku kebingungan.
"ah, gak juga. Palingan jadi jutek aja__,"
"tuh,kan.., " kataku panik.
"hihi...," Dita malah tertawa melihat reaksiku. Dasar dua bersaudara ini sama aja.
"bisa juga Mas Iska gak jutek, yah.., tunggu aja nanti pas makan malem mood nya gimana, pft..," kata Dita malah tertawa.
"haduuh.., kalo Iskandar jadi jutek gimana?" tanyaku.
"yah.., terima aja. Mas Iska itu gak pernah bisa marah lama-lama, jadi hadapin aja, sekalian belajar gimana cara menjalan bahtera rumah tangga berdua, hihi...," kata Dita lalu pergi.
"iih.., Dita parah, deh..," keluhku.
"bahtera rumah tangga.., apaan, sih Dita??!," kataku bersemu merah sambil memeluk Pineapple.
.
.
.
__ADS_1