
Rin berjalan menuju rumahnya sambil memainkan kerikil yang ia temukan di tengah jalan. sesekali Ia menoleh ke belakang, Di sana ada Iska yang mengikutinya.
"dia itu bodyguard gue atau mau nganter gue, sih???" batin Rin.
"nah!" kata Rin setelah sampai di depan rumahnya.
"ini rumah gue. sekarang lu boleh pulang." kata Rin.
"masuk dulu. Baru gue pulang." kata Iska.
"duuh..., rempong amet sih lu jadi orang." keluh Rin.
"masuk dulu, supaya gue tenang." kata Iska lagi tidak memedulikan perkataan Rin.
Deg !
Rin langsung memegangi dadanya,
"apa-apaan, sih? kok denger gitu doang langsung begini, sih jantung gue??" batin Rin.
"lu kenapa? apa udara malam teralu dingin, sampe dada lu sesak?" tanya Iska yang kini mendekati Rin dan memasang wajah khawatir.
"enggak, enggak. gue ba, baik-baik aja...," kata Rin berusaha menghentikan Iska.
"kalo gitu, lu masuk dulu ke rumah, baru gue pulang." kata Iska.
"oh,iya, apa lu mau mampir dulu ke rumah gue? Dari tadi di bus Lu,kan berdiri." kata Rin, sadar dengan apa yang ia katakan, ia langsung memukul mulutnya lagi.
"enggak. gue ada post test besok. jadi harus belajar." kata Iska.
"kalo gitu, ngapain lu nganterin gue, bego??!" batin Rin.
"ya udah, gue masuk kalo gitu, lu juga harus pulang, biar belajar." kata Rin buru-buru masuk ke rumahnya, tetapi Iska masih berdiri di depan rumahnya.
"udah, sana, pulang. gue gak mau disalahin kalo nilai post test lu jelek!!" kata Rin.
tanpa berkata apa-apa, Iska langsung berbalik dan pergi.
*
Rin masuk ke dalam rumahnya,
"Assalamualaikum, Bunda. Rin pulang." kata Rin.
"wa Alaikum salam putri kecil ayah...," suara lembut itu membuat Rin menoleh, langsung terpasang raut wajah bahagia ketika ia menemukan si empunya suara itu,
"ayah....," kata Rin lalu memeluk Harry, ayahnya.
"ya ampun, bahagia banget ketemu ayah, kayak gak ketemu seabad aja, hahaha...,"
"ih, ayah, sih jadi bang Thoyib!" keluh Rin.
"hahaha..., yah gimana, sayang, ini,kan demi Rin dan bunda." kata Harry.
"ya udah, kamu mandi dulu sana, kita mau makan malem bareng-bareng." kata Harry lembut.
"baik ayah." kata Rin lalu melepas pelukannya dan pergi ke kamarnya.
*
Kini Rin duduk di meja makan untuk menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya.
"bahagianya kalau anggota keluarga lengkap begini." ungkap Amanda.
"ah, iya, Ayah, Bunda udah ngasih tau Rin kalo Rin bakalan dijodohin sama anaknya Mami Friska, Iskandar dan mereka setuju." kata Amanda.
"Ya ampun, gue keduluan bunda. tapi gimana reaksi ayah?" batin Rin sambil memperhatikam ayahnya.
"Beneran? kamu setuju Rin? Bagus, deh." kata Harry.
"WHAT??!!" Batin Rin tak percaya.
"Iskandar itu memang anak yang baik. Ayah lebih suka dia daripada abangnya." kata Harry.
"hah? Awan maksudnya?" tanya Amanda.
__ADS_1
"iya, dia itu, banyak ceweknya." kata Harry lagi.
"ayah gak tau aja, adeknya juga sama." batin Rin lagi.
"tapi dia udah mantap sama pacarnya yang sekarang, Ayah. katanya mau nikah."
"woah? nikah? jadi bakalan ada pernikahan massal, nih?" tanya Harry lagi.
"uhuk!" Rin langsung keselek saat mendengar itu.
"kamu kenapa, Rin?" tanya Harry.
Rin mengambil air dan meminumnya,
"Rin kayaknya udah kenyang." kata Rin lalu pergi begitu saja.
Harry langsung melirik Amanda, "Dia kenapa?"
"capek kali,yah." kata Amanda.
*
Rin tiduran di tempat tidurnya sambil memeluk gulingnya,
".... .jadi bakalan ada pernikahan massal, nih?"
Sekali lagi Rin teringat kata-kata ayahnya,
"bahkan ayah gak bisa diharapkan. Iska juga gak bisa diharapkan. ugh.., kacau. rasanya aku dipojokan oleh semua orang!!!" kata Rin sambil mengacak-acak rambutnya.
Tok
Tok
Tok
"Rin udah tidur...," kata Rin tanpa mau tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"kalau udah tidur,kok masih bisa jawab?"
"ayah mau bicara, sayang. Boleh, ya?" tanya Harry.
"ya udah. masuk." kata Rin, tapi masih memasang wajah cemberut.
CKLEK.
Harry melihat putrinya tiduran, tapi ia tahu kalau Rin belum tidur.
"ayah mau bicara apa?" tanya Rin kesal.
Harry duduk di sisi pinggir tempat tidur Rin,
"kamu pasti kaget ya sama perjodohan ini?" tanya Harry.
Rin tidak menjawab,
"emang mengagetkan, sih. Tapi kamu tau sesuatu, gak?" tanya ayahnya lagi, tetapi Rin tak menjawabnya.
"padahal kamu yang ngotot mau nikah sama Iskandar waktu kecil...," kata Harry lagi.
hal itu berhasil membuat Rin terbelalak dan terduduk "fakta apalagi ini???" batin Rin.
"ma,maksud ayah?" tanyanya.
Harry tersenyum,
"waktu kecil, kamu itu suka banget sama Iska karena dia selalu nolong kamu, dia juga yang nolong kamu waktu kecebur di selokan."
"ya ampun, kenapa juga pengalaman buruk itu diungkit?" batin Rin.
"Ayah bohong,ya?" tanya Rin.
"enggak, sayang. Waktu itu Iska malah takut sama kamu, soalnya kamu itu nguber-nguber dia mulu. kamu sama Idho itu rival, kalo ketemu selalu rebutan Iska." kata Harry.
"fakta macam apa itu?"
__ADS_1
"kamu gak percaya? gak usah tanya orangnya, coba lihat kayak gimana sikap Idho ke Iska, sampe sekarang masih sama kok." kata Harry.
"Idho itu punya soulmate, namanya Odi, dia sama Iska gak Deket." kata Rin.
"kamu gak seperhatian itu kali sama Iska."
"ugh.., ayah, Kalo mau ngomongin itu jangan sekarang, Rin capek. Rin mau tidur!" kata Rin yang merasa gerahm
Harry tersenyum,
"kalau gitu, istirahat,ya sayang. Ayah keluar dulu." pamit Harry lagi lalu membelai kepala putrinya itu dan pergi keluar kamar.
"Iskandar Radjamuda Utama. Gue benci sama lu!!" kata Rin. Ia lalu memejamkan matanya.
*
Keesokan harinya. Rin baru saja sampai di sekolahnya,
"oh,iya, Mading pasti udah dipasang sama anak layout." kata Rin. Ia segera berlari ke tempat mading dipasang.
Namun saat sampai di sana, tiba-tiba kakinya terhenti saat tahu siapa yang sedang memandang Mading di sana, ia segera bersembunyi.
"ngapain, tuh bocah di sana?" gumam Rin.
"Iskandar...," tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang Rin, Rin langsung menoleh,
"Bella dari sebelas IIS A??" batin Rin.
Iska lalu mencari asal suara yang memanggilnya,
"hai my pussy cat...," panggil Iska ramah.
"what???!" sekali lagi Rin berteriak dalam hati. "panggilan macam apa itu??"
"Iska sendirian juga? Bella sendirian masa...,"
"Bella teralu rajin." kata Iska.
"ini Mading yang baru, ya?" tanya Bella sambil melihat apa yang dilihat Iska.
"uhm. keren. temanya juga." kata Iska.
"iya, antariksa..., tunggu, harusnya itu tema anak IIS, doong." kata Bella.
"haha..., iya,ya. Oh, iya, Bella gak sama Idho dan Odi?" tanya Iska.
"ya ampun, dari tadi panggilannya pake nama, gak pake gue elu???" batin Rin.
"enggak. Bella selalu jadi yang terajin diantara kita bertiga." kata Bella menyombongkan diri.
"begitu? baguslah."
"oh,iya, Iska, main ke kelas Bella, yuk. Bella punya cookies yang enak."
"hah? cookies lagi?" tanya Iska.
"lagi? jadi lu sering dapet cookies dari Bella??"
"iya.., temenin Bella sampe temen sekelas Bella ada yang Dateng."
"oke."
"makasih banyak Iskandar kawaii..,"
"heh, jangan panggil gue gitu!" protes Iska.
"hemm.., akhirnya lu menunjukkan diri lu." kata Rin.
"iya,iya, sorry. tapi mau temenin Bella,kan?" tanya Bella.
"iya,iya..," kata Iska, lalu Bella langsung melingkarkan tangannya di lengan Iska dan membawanya pergi.
Rin langsung keluar dari persembunyiannya,
"kemarin sayang-sayangan sama Keisha, terus romantis-romantisan sama Dinda, dan sekarang mau berdua-duaan sama Bella. Ya ampun, ayah, andai ayah tau kalo Iska itu sama kayak abangnya__, Bego! kenapa gak gue foto???" kata Rin lalu mengejar Iska dan Bella.
__ADS_1