Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
bagian 98


__ADS_3

Waktu seolah berjalan sangat cepat. Mungkin karena setiap hari selalu sibuk dengan tugas dan try out hingga akhirnya sampai pada Ujian Nasional. Para murid kelas dua belas berhamburan keluar kelas setelah menyelesaikan ujian nasional mereka. Akhirnya setelah berhari-hari mereka belajar bagaikan kerja rodi, kini setidaknya bisa bernapas lega sebentar karena dapat menyelesaikan Ujian Nasional.


CKREK!


CKREK!


CKREK!


Ori memotret beberapa anak yang melepas penat dengan bermain volley setelah selesai Ujian Nasional. Rin yang dari tadi di sampingnya melirik heran ke arah Ori.


"sejak kapan lu suka potret-potret gitu?" tanya Rin.


"dari dulu...," kata Ori sambil melihat hasil jepretannya.


"oh,iya, lu ngapain di sini, Rin? tadi gue lihat Yura sama Keisha udah balik." kata Ori lalu kembali memotret.


"Gue pulang bareng Iskandar...," kata Rin sambil memandang laki-laki pujaannya itu yang sedang serius bermain volley.


"ooh...,"


"oh,iya, nanti foto ini mau lu apain? jadi dokumentasi pribadi?"


"nggaklah..., Buat nanti ditampilin pas acara perpisahan...," kata Ori lagi.


"ooh.., jadi lu itu tim BUTA (Buku Tahunan),ya?" tebak Rin.


Ori tersenyum,


"yah.., soalnya ketua angkatan mempercayakan kepada tim Mading di angkatan kita." kata Ori lagi.


"kok gue gak dipanggil?" tanya Rin.


"kan kemaren lu dikeluarin." kata Ori yang langsung membuat Rin tertohok.


"hadeeh.., kenapa juga itu dibahas?" kata Rin agak kesal.


"oh,iya Rin.., sorry, ya.., baru sekarang bisa ngobrol sama elu." kata Ori lagi.


"ih, santai aja kali." kata Rin lagi.


"soal kejadian kemaren, lu gak trauma,kan?" Mendengar pertanyaan Ori, Rin sangat tahu kemana arah pembicaraannya.


"enggak. Gak sampe trauma,kok..., Gue cuman khawatir aja kalo Iskandar kenapa-napa kemaren..,"


"kalo soal berantem, dia mah jagonya. Gak usah khawatir..," kata Ori lagi.


"Iskandar juga bilang begitu."


"tapi lu itu aneh,ya.., padahal katanya tujuan mereka itu,kan mau ngebunuh elu, ya meskipun gak jadi, tapi lu fine aja gitu?"


"yah, kalo boleh jujur, awalnya gue takut pas diculik karena gue gak tau siapa orang yang culik gue. Tapi pas tau Emalia salah satu tersangkanya justru gue bersyukur...,"


"hah? bersyukur?"


"iya..., entahlah. Itu yang gue rasain. Mungkin karena gue teralu mencintai Iskandar dan mencontoh dirinya...,"


"maksudnya?"


"dulu gue gak suka sama Iskandar karena dia teralu sempurna dan ternyata memang sengaja agak selalu terlihat sempurna, tapi ternyata dia itu adalah orang yang memiliki pemikiran terbuka dan mempercayai satu hal..,"

__ADS_1


"banyak yang dia percayai, tapi maksud lu percaya apa?"


"Iskandar itu percaya semua orang selalu memiliki kebaikan di hatinya meskipun sedikit. Itu yang gue percayai juga sekarang dan saat itu. Awalnya gue takut pas Emalia ancam mau bunuh gue, tapi saat itu gue lihat kalau tangannya gemetar. Seolah dia tidak yakin dengan perkataannya. Saat menyadari itu akhirnya gue memberanikan diri untuk membangkitkan kebaikan di hatinya yang saat itu sedang tertidur. Hal itu juga yang dilakukan Iskandar pada Dion,"


"bener,ya kata orang...,"


"apa?"


"semakin dewasa seseorang, maka semakin puitis kata-katanya, haha...," ledek Ori.


"ih, dasar lu,ya?"


"haha...,"


CEKREK!


Ori memotret lagi.


"coba aja,ya waktu itu lu gak sekongkol sama Keisha...," kata Ori lagi.


"yah.., itu juga yang paling gue sesali. Coba aja gue bisa berpikir lebih dewasa lagi."


"lagian aneh, padahal Emalia yang dibully, eh malah yang jadian Keisha sama Juan, biasanya,kan si pangeran itu jadiannya sama yang dibully..,"


"eh, asal lu tau,ya Ori.., sebenarnya Emalia itu juga berniat licik, makanya muncul deh ide licik gue." kata Rin.


"yah, lu harus tau faktanya, Rin..,"


"fakta apa?"


"Juan itu udah suka sama Keisha dari kelas sebelas awal. nah fakta selanjutnya adalah Juan putus sama mantan terakhirnya karena Juan suka sama Keisha."


"hah???!! serius?" Tanya Rin kaget. Ia tidak pernah mendengar fakta yang ini.


"kacau..., Juan udah g*la ya?" kata Rin masih tidak percaya.


"yah, menurut gue semua orang punya keanehannya masing-masing..," kata Ori lagi.


"tapi, yang bikin gue penasaran, kenapa Juan bisa suka sama Keisha,ya?"


"karena cantik? gue rasa bukan cuman itu. Pasti ada momen yang bikin Juan falling in love sama Keisha dan membuat dia memandang Keisha secara berbeda." kata Ori lagi.


"maksudnya?"


"yah, kalau udah cinta, biasanya cara pandang kita terhadap orang yang membuat kita jatuh cinta itu jadi berbeda dan tidak bisa digambarkan oleh logika. iya,kan?"


Rin tersenyum miring mendengar kata-kata seperti itu dari seorang Mao Riyandi Rahyudi,


"terus, gimana cara lu memandang Yura?" tanya Rin iseng.


"Yura?" Ori terdiam,


"cewek paling berisik, tapi ngangenin...," kata Ori sambil tersenyum.


"hemm.., terus kapan balikannya, nih?"


"lihat aja tanggal mainnya..," kata Ori masih merahasiakannya.


Iskandar langsung berlari ke arah Rin,

__ADS_1


"Rin.., punya minum,gak?" tanyanya dengan keringat yang bercucuran.


"ada.., sebentar...," kata Rin mengambil botol minumnya di dalam tas yang ia gendong.


"nih..," kata Rin menyerahkannya pada Iskandar. Iskandar langsung berjongkok dan meminumnya.


"waduh..., enak,ye yang udah punya tunangan, bisa langsung minta minum...," sindir Idho yang tiba-tiba datang.


"kak Idho.., aku bawain air dingin buat kak Idho...," kata seorang gadis yang berdiri di hadapan Idho.


Idho langsung menoleh kaget, begitu juga Iskandar, Rin dan Ori. Adik kelas yang digosipkan dekat dengan Idho akhirnya menunjukkan dirinya,


"Sherin? kok lu di sini? kan anak kelas sebelas libur??" tanya Idho kaget, tapi tetap menerima minuman itu dan langsung meneguknya.


"aku ke sini karena mau lihat kak Idho...," kata Sherin lagi.


"tapi, lain kali lu gak perlu repot-repot...," kata Idho lagi dengan wajah yang memerah.


"asalkan bisa menikmati kebersamaan bersama kak Idho sebelum kak Idho pergi ke Paris..., Sherin gak akan pernah merasa repot..,"


"apaan, sih? Gue juga bakal pulang,kali. Lebay lu!" kata Idho ketus lalu meminum minumannya lagi.


Rin geleng-geleng, ia kesal tapi tidak bisa apa-apa. Sherin, si adik kelas itu tetap tersenyum dengan mata yang bersinar sambil memandangi Idho.


"jangan liatin gue, kan udah gue bilang, lu boleh deket-deket gue, tapi jangan bikin risih !!" kata Idho lagi.


"iya,kak..., maaf." kata Sherin lalu berhenti memandangi Idho.


"dia itu cewek, Dho.., lembut dikit , Napa..," kata Iskandar.


"ehm..., makasih, ya..," kata Idho akhirnya.


"iya,kak Idho...," kata Sherin dengan mata yang berbinar-binar.


"duh.., kayaknya gue pulang aja, deh.., udah pada kelar,kan mainnya." kata Ori sambil menyimpan kameranya.


"woy.., mau bareng,gak lu sama gue?" tawar Iskandar.


Ori melirik ke arah Rin,


"gak.., gue gak mau,tuh jadi nyamuk." kata Ori lalu pergi.


"ya udah.., ayo Rin, balik...," kata Iskandar.


"lah, papah Iska? gue ditinggal?" tanya Idho.


"yah ayo.., kalo mau ikut...," kata Iskandar sambil mengambil tasnya.


"yes !" Idho langsung mengambil tasnya juga, namun tiba-tiba ia berhenti. Ia menoleh ke arah Sherin yang masih berdiri di tempatnya tadi dan masih menyetor senyum padanya.


"uhm.., gak jadi, deh.., gue bareng cewe merepotkan ini aja..," kata Idho lalu menggandeng tangan Sherin dan membawanya pergi.


Iskandar tersenyum sambil geleng-geleng kepala, Rin malah memandangnya heran,


"kok kamu senyum?" tanya Rin.


"Idho, meskipun kasar, tapi hati ya sebenarnya peduli sama adik kelas itu. Lucu aja ngeliatnya..," kata Iskandar,


"ayo, lu gak boleh pulang lama-lama..," kata Iskandar sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


Rin langsung mengambilnya,


"iya. ayo pulang." katanya.


__ADS_2