
Rin bercermin dan memandangi dirinya. Matanya kini sembab, meskipun ia sudah mencuci mukanya. Ia memegangi pipinya sambil mengernyitkan dahinya,
"gue.., gue kenapa nangis,ya?" katanya malah bingung.
Ia segera keluar kamar mandi lalu duduk di atas kasurnya. Ia berusaha mengingat apa saja yang terjadi hari ini.
"gue pas istirahat kedua ngeliat Iskandar babak belur." katanya, lalu ia merebahkan tubuhnya dan memandangi Langit-langit kamarnya,
"pas pulang, ikutin dia ke Taman dengan jalan kaki. terus kaki gue pegel dan pas mau balik duluan malah ketemu Odi dan Bella."
"terus akhirnya pulang bareng Iskandar dan gue sempet ngobatin dia tadi..., dia...," Rin mengangkat tangannya lalu memandangi jari-jemarinya yang tadi mengompres luka lebam seorang Iskandar.
"hari ini, hari gue dipenuhi oleh Iskandar...," Rin langsung terduduk,
"hemm... pasti itu, ya, pasti itu...," katanya.
"pasti karena di bawah alam sadar gue, sebenarnya gue gak suka keberadaan Iskandar di kehidupan gue, sehingga diri gue mengasihani diri gue sendiri. ya, pasti karena itu gue nangis, gue menangisi kehidupan gue sendiri." kata Rin.
Ting!
tiba-tiba ada pesan masuk dari ponselnya, Rin lalu memeriksanya,
"hah? dari nomor gak dikenal? siapa ini? foto profilnya kucing lagi, hihi...," kata Rin lalu membuka pesan itu,
Hai Rin...,
Ini gue, Iska.
Gue balik,ya..., thanks untuk hari ini.
jangan lupa save no. gue. 😊
Rin langsung mengernyitkan dahinya,
"ewh...," katanya lalu melempar ponselnya.
"apaan, sih !!!" katanya lalu mengacak-acak rambutnya,
"duuh..., gue gak boleh lupa kalo dia calon tunangan gue. Hadeeh..., bakal jadi apa coba hidup gue?? huhu...," kata Rin mengasihani dirinya lagi.
*
keesokan harinya,
Amanda menyiapkan sarapan untuk suami dan Anaknya,
"Pagi Istriku yang paling cantik." Sapa Harry pada Amanda.
"duh.., Ayah, bisa aja, deh." kata Amanda lalu menyajikan sepiring roti bakar dan telur mata sapi di piring Harry.
"oh, iya Ayah, tau, gak kemarin Iskandar nganterin Putri kita pulang...," lapor Amanda.
"oh iya? bagus dong, Mereka seharusnya bisa saling mengenal dan dekat sampai nanti menikah." kata Harry.
"iya, Bunda juga berharap begitu. Tapi Ayah, kemarin wajah Iskandar babak belur." kata Amanda.
"Iskandar bilang dia duel sama Mas Yoyo, Tapi kok sampe segitunya,yah...,"
__ADS_1
Harry yang mau memakan telurnya terhenti dan meletakkannya lagi di atas piring,
"haha..., Bunda..., Gak usah khawatir gitu, Iskandar bakalan baik-baik aja. kalo dia sampe masuk rumah sakit, baru Bunda khawatir." kata Harry.
"ih, ayah. udah kayak kenal banget sama Iskandar."
"emang ayah kenal banget. makanya ayah mau setujuin Iskandar sama Rin dijodohin." kata Harry lagi.
"tapi, ngapain juga Mas Yoyo duel sama anaknya, coba? masalah apa coba yang mereka hadapin? kayaknya pas pertemuan kemarin Mas Yoyo sama Iskandar baik-baik aja, deh." kata Amanda lalu memberikan jus jambu yang baru saja ia tuangkan ke dalam gelas.
"haha..., Mas Yoyo kemarin sempet diskusi sama Ayah, Bunda. Katanya Mas Yoyo menyesal mendukung keputusan Iskandar kemarin."
"loh? jadi Mas Yoyo setuju sama pendapat Bunda sama Friska??"
"bukan, bukan itu. Mas Yoyo menduga karena Mas Yoyo mendukung keinginan Iskandar kemarin, Iskandar seolah jadi lancang dan membuat keputusan sendiri tentang akan jadi apa dia di masa depan. makanya mereka duel, supaya Iskandar bisa mendapat persetujuan dari Mas Yoyo." kata Harry panjang lebar.
"hah?? jadi gitu. Tapi apa salahnya mendukung keinginan Iskandar?"
"Bunda kayak gak tau aja, Keluarga Mas Yoyo itu,kan turun temurun sudah menjadi Tentara negara ini. Sedangkan saat Awan dipinta untuk melanjutkan jalan mas Yoyo, Awan menolaknya mentah-mentah, lalu Mas Yoyo mulai berharap pada Iskandar, tapi Iskandar malah mengikuti jalan Abangnya."
"tapi tetap aja, Bunda gak tega dia babak belur begitu...," kata Amanda.
Harry tersenyum, "kalau kata Mas Yoyo, dia baru saja melepaskan seekor singa dari kandangnya..,"
"maksudnya?"
"sebenarnya Mas Yoyo terluka lebih parah lagi dari Iskandar,"
"jadi, apa artinya itu?"
"artinya, Mas Yoyo mengizinkan Iskandar mengambil masa depan yang ia pilih karena Iskandar berhasil memenangkan duel itu." kata Harry tersenyum.
Rin yang baru mau masuk ke ruang makan terhenti. Ia tidak sengaja mendengar perkataan Harry barusan,
"jadi, bukan karena gue dia babak belur gitu. Baguslah." batin Rin.
*
Tidak seperti biasanya, saat bel istirahat pertama, anak-anak XI MIA C pecinta drama Korea segera berhamburan keluar dan pergi ke kelas XI MIA B. Hampir setengah kelas XI MIA C langsung kosong.
Yura dan Ori yang tinggal berdua di dalam kelas langsung saling lirik,
"uhmm.., Ori." panggil Yura.
"apa?" tanya Ori lalu mengeluarkan ponselnya.
"kamu gak mau keluar?" tanya Yura.
"gue mau lanjutin nonton anime. lu kalo mau ke kantin, ke kantin aja sendiri." kata Ori.
"anime? yang kemaren aku kasih??? seru,kan??" tanya Yura bersemangat. Ori sampai kaget dengan reaksi Yura.
"uhmm.., seru, sih." kata Ori. Yura langsung pindah ke bangku sebelah Ori.
"ayo kita nobar juga." kata Yura bersemangat.
"pft...," Ori malah menahan tawanya.
__ADS_1
"hah? kenapa? apa ada yang aneh?" tanya Yura.
"kita,kan cuman nonton berdua. Kenapa bisa disebut nobar. aneh."
"ya, meskipun berdua,kan tetap bareng-bareng." kata Yura.
"oke-oke..., terserah lu, dah." kata Ori lalu memutar animenya.
diam-diam Yura memandanginya, "akhirnya kamu bisa senyum juga Ori setelah kita pacaran selama satu bulan." batin Yura.
*
Iskandar keluar dari kelasnya, baru berhasil mengeluarkan kedua kakinya dari kelas, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang,
"Iskandar yang ganteng, tungguin gue !!" kata Keisha.
Iskandar langsung menarik tangannya,
"ih, apaan, dah lu? ngapain lagi?" tanya Iskandar.
"lu mau kemana?" tanya Keisha.
"ke sebelas MIA C. kenapa?" tanya Iskandar.
"ikut."
"ngapain lu ikut?"
"mau nyari temen gue." kata Keisha.
"hahaha..., lu punya temen?" ledek Iskandar.
"ih, sialan lu! punya lah!!" kata Keisha.
"oke, oke, lu boleh ikut," kata Iskandar lalu jalan duluan,
"iih, Iskandar !! tungguin gue dong!!" kata Keisha lalu menggandeng tangan Iskandar.
Mereka melewati kelas X MIA B. Dari luar sudah terlihat bahwa di waktu istirahat begini, kelas XI MIA B malah ramai,
"wah..., ada apaan, tuh? kok rame?" tanya Keisha.
"paling nobar." kata Iskandar cuek.
"ih, Iskandar, bukannya nonton pake fasilitas sekolah itu gak boleh?" tanya Keisha.
"tumben lu inget aturan sekolah." kata Iskandar santai.
"kok lu biasa aja, sih ?" kata Keisha bingung dengan reaksi Iskandar.
"gue kan sekarang jadi siswa biasa, bukan komdis, udah, ah, lu mau ikut gue ke sebelas MIA C atau mau di sini.??" tanya Iskandar.
"ikut. gue mau ketemu Yura." kata Keisha.
Iskandar lalu jalan duluan, namun ia berhenti saat mau masuk ke kelas XI MIA C,
"woy, Iskandar lu kenap__, oow....," kata Keisha.
__ADS_1