
"uhm.., Yura?'
"hm?"
"kalo Iskandar deket gak, sih sebenarnya sama elu?"
"Hah? Iskandar?" Tanya Yura, ia lalu terdiam sambil berpikir.
Deg, deg, deg....,
"Tunggu ! Kok gue deg-degan???" Batin Rin bingung.
"Kalo dibilang Deket, gak juga. Dia itu emang suka ngedeketin anak baru untuk menjelaskan peraturan-peraturan sekolah dan ngejagain aku juga dari orang-orang yang berniat bully. Tapi sebenarnya gak ada orang yang mau bully aku, tuh." Kata Yura.
"Kalo gak ada yang ngebully, kenapa pake dijagain? Dasar Iskandar modus!!" Keluh Rin dalam hati.
"Kamu jangan salah paham, ya Rin. Cewe yang disukain Iskandar itu bukan aku, kok." Kata Yura.
"Eeh?? Emang siapa yang nanya??" Kata Rin sambil bersemu merah.
"Haha..., Kamu lucu banget. Gak usah berlebihan gitu, dong reaksinya. Haha...,"
Diam-diam Rin tersenyum sambil memandang wajah Yura yang sembab,
"Akhirnya dia tertawa." Batin Rin.
*
Iskandar mengerjakan soal-soal dari buku bank soalnya. Ori dari belakangnya yang membawa jus jeruk berusaha membaca soal apa yang dikerjakan oleh Iskandar,
"ngintip apa lu?? pake kacamata juga, masih berusaha." sindir Iskandar.
"lu rajin banget udah belajar sekarang. Hari ini,kan masih hari Sabtu." kata Ori sambil meletakkan jus jeruk di atas meja lalu duduk di samping Iskandar dan mengambil buku bank soalnya.
"bank soal Matematika Sains untuk kelas sepuluh, sebelas dan dua belas." Ori membacanya.
"lu udah dapet kisi-kisi dari Teguh? gak masuk tiga hari lumayan ketinggalan banyak loh." kata Iskandar.
"udah."
"terus udah dapet jadwal?"
"udah."
"gak belajar?"
"ck, catatannya teralu monoton. bikin gue ngantuk. harusnya gue minta catatan Idho aja, tapi sayangnya beda guru. pasti jenis soalnya beda."
"salah sendiri lu. ck,ck...," kata Iskandar dan langsung merebut buku yang ada di tangan Ori.
Ting Tong !
tiba-tiba bel rumah Ori berbunyi,
"wah, siapa itu?" tanya Iskandar yang teralihkan.
"lu mesen paket,gak?" tanya Ori.
"enggak."
"ya udah gue periksa dulu. belajar yang bener bapak komdis." ledek Ori.
__ADS_1
"dasar...,"
*
beberapa menit sebelumnya
Yura berdiri di depan rumah Ori sambil memeluk sebuah Tote bag yang berisi kumpulan catatan dan kisi-kisi selama tiga hari Ori tidak masuk.
"..., *Kira-kira kalo aku kesana....,"
"jangan! itu bakalan memperburuk keadaan dia* !"
Yura mengingat jelas kata-kata Rin, Ia lalu mengambil napas panjang,
"apa aku letakkan ini di kotak posnya,ya?" kata Yura.
"tapi dia gak akan tau...,"
"oh iya ! pencet bel rumahnya dulu !" kata Yura lalu memencet bel rumah Ori.
"eeh?? bukannya dia tinggal sendiri,ya? duuh, gawat kalo dia ketemu aku...,"
"loh? kamu siapa? temennya Ori, kah? atau.., teman spesial?" tiba-tiba ada seorang perempuan menghampirinya.
"uhm.., a,aku..," Yura kebingungan.
perempuan itu menunggu jawaban Yura sambil melipat tangannya.
"A,aku temen sekelasnya !!" kata Yura.
"ooh..., ada perlu apa?" tanya perempuan itu.
"aku..., aku mau memberikan catatan dan kisi-kisi untuk ujian Minggu depan." kata Yura.
"ooh...,"
"oh iya, aku belum kasih tau aku ini siapa..., hmm.., aku ini Nia, kakak Iparnya."
"ooh..,ka, kalau begitu.., aku titip ini kak!" kata Yura langsung menyerahkan Tote bag itu pada Nia.
"eeh? bukannya kamu mau kasih ini sendiri...,"
"a,aku buru-buru,kak. Masih ada perlu lagi. Aku pamit,ya kak...," kata Yura lalu langsung pergi.
"eeh? aneh.., hmm.., kayaknya dia diam-diam suka sama Ori, deh. Ya ampun, adek kecilku ternyata sudah beranjak dewasa." kata Nia malah takjub.
"loh, kak Nia?" tanya Ori yang tiba-tiba muncul.
"hai adik kecil...," sapa Nia ramah.
"ck, gue bukan anak kecil lagi." kata Ori sambil membukakan pintu pagar untuk Nia.
"thanks...," kata Nia lalu masuk.
"lagian, kak Nia kalo Dateng ngapain juga mencet bel segala. Kak Nia,kan punya kunci." kata Ori sambil berjalan di depan Nia menuju pintu rumah.
"ya ampun.., kata Mas Wandi kamu itu lagi sakit, tapi ngedumelnya tetep, ya?" sindir Nia.
"mau sakit, kek, mau sekarat, kek, ngedumelin kak Nia mah gak pernah absen !" kata Ori.
Nia langsung menghampiri Ori dan memeluknya dari belakang,
__ADS_1
"duuh..., adik kecilku ini...," kata Nia sambil mencubit kedua pipi Ori.
Deg, deg, deg...,
"sial !! Ngapain, sih dia deket-deket ke gue !!" batin Ori kesal.
Ori berusaha melepaskan pelukan Nia,
"jauh-jauh dari gue lu ! Risih tau gak??" kata Ori.
"duuh.., adik ipar gue galak banget sumpah...,"
"asal lu tau, kak Nia. Gue ini bukan anak kecil lagi !" kata Ori menegaskan.
"jadi please, jaga jarak dari gue. sebelum perasaan gue malah makin tumbuh. Karena gue belum ikhlas lu jadi istri Mas Wandi." batin Ori.
"oke,oke...," kata Nia.
"sini, tas lu gue yang bawa !!" kata Ori lalu merebut totebag yang dibawa oleh Nia.
"Uunch..., makasih loh..," kata Nia girang.
*
"ISKANDAR !!!!" Panggil Nia heboh saat masuk ke dalam.
"kak Nia, please, deh." kata Ori berusaha menghentikan kehebohan Nia.
"ih, gue,kan kangen sama Adek kecil gue yang satu lagi...," kata Nia membela diri.
Tiba-tiba Iskandar datang sambil membawa segelas air, "Loh? kok Kak Nia yang datang ? gue,kan ngehubungin Mas Wandi ?" kata Iskandar heran.
Nia langsung berlari ke arah Iska dan merangkulnya, membuat Iska menunduk karena ia lebih tinggi dari Nia,
"emangnya kenapa? kenapa kalo gue yang Dateng???" tanya Nia lalu menjitak jidat Iska,
"adaw..., Kak, hati-hati, airnya tumpah, nih...," kata Iska.
"jadi lu gak ngehubungin dia, Iska?" tanya Ori.
"iya. gue itu bilang ke mas Wandi, kalo lu sakit."
"haduh, adik-adik gue yang keimutannya sudah berkurang sembilan puluh sembilan persen, Mas Wandi alias suamiku tersayang, masih ada tugas di luar kota dan baru pulang lusa. karena dia khawatir akan kondisi adik bungsunya ini, makanya gue yang diminta ke sini."
"ooh...," kata Ori dan Iska kompak.
"gue berharap apa, sih? Kak Nia ke sini pasti karena Mas Wandi." batin Ori.
Iska diam-diam melirik Ori yang menunduk, ia sangat tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Namun matanya malah teralihkan pada totebag yang dibawa oleh Ori.
"oh,iya, Kak, itu Kakak yang bawa totebag itu?" tanya Iska.
"eh, iya !" kata Nia sambil menepuk jidatnya,
"sebenernya tadi ada temen lu Ori, cewe, cantiik banget. Dia yang ngasih itu ke gue. katanya catatan sama kisi-kisi untuk ujian. duuh.., baik banget,ya...," kata Nia.
"cewe itu berkacamata?" tanya Iska tiba-tiba, Ori langsung memandangnya heran.
"uhmm.., enggak, sih. Kulitnya itu bening banget, rambutnya panjang sebahu. Duuh.., tapi tadi kakak gak sempet nanya nama dia."
mendengar jawaban Nia, Iska langsung merasa lega.
__ADS_1
"Yura..., ya, pasti dia." tebak Ori dalam hati. Ori lalu memandang Iska lagi,
"tapi.., kenapa reaksi Iska kayak gitu?" batin Ori lagi.