
...༻☆༺...
Gamal mencoba untuk tidur. Tetapi tidak bisa. Dia akhirnya keluar dari kamar. Gamal berhenti melangkah, ketika melihat Afrijal sedang mabuk-mabukkan.
Perasaan bersalah mendadak menyelimuti Gamal. Dia sekarang mengingat semua kesalahan yang dirinya lakukan. Dari mulai yang terkecil sampai yang paling besar.
'Besok gue mungkin harus mulai rajin belajar," batin Gamal bertekad. Dia memutuskan kembali ke kamar.
Di sisi lain, Raffi mengalami hal serupa dengan Gamal. Dia juga tidak tidur saat hari sudah larut malam. Raffi malah tidak bersemangat untuk belajar. Sebab lagi-lagi dirinya mendengar Heni dan Irwan bertengkar.
Demi memastikan hubungan kedua orang tuanya membaik, Raffi sengaja mengatur alarm agar dirinya dapat terbangun tengah malam. Berharap tidak lagi mendengarkan perdebatan Heni dan Irwan. Namun pupus sudah harapannya, ketika mendengar perkelahian terus terjadi. Parahnya itu terjadi hampir setiap malam.
Heni dan Irwan bahkan berhenti mengantar jemput Raffi ke sekolah. Keduanya beralasan kalau mereka sepenuhnya sudah mempercayai Raffi.
Satu minggu telah berlalu. Akan tetapi Raffi masih saja merasakan ada suasana yang dingin di antara kedua orang tuanya.
Sekarang Raffi sedang sarapan bersama Irwan dan Heni. Hanya ada keheningan yang menyelimuti. Raffi menatap sebal ke arah ayah dan ibunya. Bagaimana tidak? Mereka bersikap seolah baik-baik saja ketika berada di hadapannya.
Jujur saja, Raffi merasa dibohongi. Kali ini dia berniat untuk menanyakan secara langsung.
"Mamah sama Papah baik-baik aja kan?" celetuk Raffi. Membuat Heni dan Irwan seketika menatap ke arahnya secara bersamaan.
"Kenapa kamu tanya begitu? Emangnya Papah sama Mamah kenapa?" Heni bersikap seakan-akan baik-baik saja. Ia perlahan menggenggam jari-jemari Irwan agar dapat meyakinkan sang putra.
"Iya, emangnya kami berdua aneh ya?" Irwan ikut memperkuat jawaban Heni.
"Iya. Aneh banget. Setiap malam teriak-teriak nggak jelas," ucap Raffi, blak-blakkan.
Mata Heni dan Irwan membulat sempurna. Keduanya reflek saling menatap. Mereka langsung melepaskan pegangan tangan. Kerutan dahi segera terukir di wajah Irwan.
"Tuh anakmu sudah tahu. Salah sendiri marah-marah nggak jelas terus setiap hari!" tukas Irwan seraya bangkit dari tempat duduk. Raut wajahnya tampak cemberut.
"Astaga, Mas. Aku nggak akan marah-marah begitu tanpa alasan yang jelas!" sahut Heni yang ikut berdiri. Ia tidak terima dirinya disalahkan.
Irwan mendengus kasar. "Kamu kapan ngertinya sih?! Aku sudah kasih kamu penjelasan berulang kali! Tapi kamu masih aja nuduh aku yang tidak-tidak!" sungutnya yang kini berdiri menghadap Heni.
"Penjelasan Mas terus berubah-ubah! Gimana aku mau percaya!"
__ADS_1
"Kamu kenapa jadi gini, hah?! Heran aku!"
"Aku sakit hati, Mas! Sakit!"
Tanpa sadar, Heni dan Irwan terus bertengkar. Tidak memperdulikan Raffi yang masih duduk memperhatikan.
"CUKUP!" pekik Raffi sambil memukulkan kedua tangan ke meja. "Tolong kasih tahu aku, apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya aku juga bagian dari keluarga ini ya? Kenapa kalian menutupi semuanya sama aku?!" pungkasnya dengan keadaan nafas yang mulai memburu.
Mendengar perkataan Raffi, Heni dan Irwan sontak membisu. Meskipun begitu, keduanya sama-sama belum bersedia memberitahu.
Bel pintu tiba-tiba berbunyi. Suara panggilan Elsa terdengar dari luar. Raffi lantas memilih pergi. Dia mengambil tas seraya menyalangkan mata ke arah Heni dan Irwan.
Kini Raffi dalam perjalanan menuju sekolah. Wajahnya sejak tadi terus merengut. Puluhan pertanyaan Elsa diabaikan olehnya.
"Raf, lo nggak apa-apa? Kalau ada masalah bilang ke gue." Elsa bertanya untuk yang kesekian kalinya.
Raffi tidak kunjung menjawab. Dia justru menghentikan mobil ke pinggir jalan. Kemudian memukul-mukul setir dengan perasaan kesal. Hingga akhirnya dia memecahkan tangis.
"Raffi!" Elsa langsung memeluk Raffi dengar erat. Membiarkan kekasihnya meluruhkan semua air mata.
"Gue nggak mau ke sekolah hari ini, El... gue nggak mau!" ujar Raffi sambil menangis dalam dekapan Elsa. Dia merasa sangat sakit hati melihat apa yang terjadi kepada ayah dan ibunya.
Tangisan Raffi menular ke Elsa. Cewek itu tidak bisa membendung hati nuraninya. Dia merasa kasihan menyaksikan kesedihan Raffi. Walau dirinya masih belum tahu apa alasannya.
Selepas puas meratap, Raffi melepaskan diri dari pelukan Elsa. Dia menyandar di kursi dan memasang tatapan kosong.
"Lo mau gue beliin minum?" tawar Elsa.
"Bokap sama nyokap gue akhir-akhir ini berantem terus," celetuk Raffi. Mengabaikan tawaran dari Elsa. Dia terlalu terpaku dengan masalahnya sekarang.
"Mungkin cuman berantem biasa aja, Raf." Elsa mengungkapkan pikiran positif.
"Berantem biasa setiap hari?!" balas Raffi. Pikiran positifnya telah dibuang jauh.
"Udah, Raf. Mungkin ini cuman sementara. Bokap sama nyokap lo pasti baikan lagi kok. Gue yakin!" Elsa menggenggam erat jari-jemari Raffi.
"Thanks, El. Kalau lo nggak ada, gue mungkin nggak bakalan bisa tenang," tutur Raffi. Dia akhirnya tersenyum.
__ADS_1
Elsa otomatis membalas senyuman Raffi. Dia segera melihat jam yang melingkar di tangannya. "Kita udah telat nih! Gerbang sekolah pasti ditutup," imbuhnya, memberitahu.
"Biarin aja. Gue nggak mau sekolah hari ini," jawab Raffi sembari menjalankan mobil.
"Terus kita mau kemana?" tanya Elsa.
"Gue mau lihat yang hijau-hijau." Raffi memberikan jawaban ambigu. Elsa lantas hanya menggedikkan bahu. Dia akan tahu saat sudah tiba di tempat tujuan nanti.
Raffi mengarahkan mobil ke jalanan yang mengarah ke hutan. Dia berhenti di sebuah tempat wisata air terjun bernama Kejora. Lokasinya sendiri berada di dekat pegunungan.
"Oh tempat ini... gue jadi ingat masa kecil kita," kata Elsa. Dia dan Raffi sudah keluar dari mobil. Melenggang sambil bergandengan di jalanan setapak.
Suara binatang-binatang hutan terdengar bersahutan. Suasana sejuk dan menenangkan membuat Raffi merasa sedikit lega. Hal yang sama tentu juga dirasakan Elsa.
Tempat wisata yang dikunjungi Raffi dan Elsa kebetulan sangat sepi. Kemungkinan karena jam masih pagi, serta adanya pembatasan kunjungan.
"Iya, dulu waktu kecil kita sering jalan-jalan ke sini bareng keluarga. Sekarang entah kenapa nih tempat nggak begitu laku lagi," ujar Raffi seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Lo tahu nggak? Kalau hutan ini adalah jantungnya kota Angkasa Jaya. Ini merupakan satu-satunya hutan yang masih ada. Mungkin karena itu pengunjungnya dibatasi."
"Ca ileh... tumben lo bicara tentang pengetahuan." Raffi mengusap puncak kepala Elsa.
"Emang lo pikir gue sebodoh apa?! Ish!" Elsa merajuk. Ia melepaskan gandengan tangan dari Raffi. Lalu berjalan lebih dahulu.
"Ampun dah... lo suka ngambekan ya akhir-akhir ini." Raffi mengejar Elsa. Dia mencegah cewek itu berjalan lebih dulu. Yaitu dengan cara memeluknya dari belakang.
Elsa terkekeh geli. Karena dua tangan Raffi sibuk menggelitiki perutnya.
"Udah deh, Raf... geli tahu!" Elsa segera berbalik menghadap Raffi. Keduanya saling bertukar pandang. Jika itu terjadi, maka mereka pasti tidak akan melewatkan sebuah ciuman di bibir.
Raffi perlahan merasa nafasnya mulai tak terkontrol. Ciuman Elsa mampu membuat suasana hatinya berubah. Dia ingin lebih dari sekedar ciuman. Hingga tangan nakalnya perlahan meraba setiap jengkal badan Elsa.
"Mmph..." Elsa mulai terangsang. Dia akhirnya melepaskan tautan bibirnya dari mulut Raffi.
"Lo nggak mau?" Raffi langsung bertanya.
Elsa lekas menggeleng. "Kalau kita begitu, mau lakuinnya dimana?" bukannya menjawab, Elsa malah berbalik tanya.
__ADS_1
Raffi mengikik geli. Kepolosan Elsa selalu membuatnya gemas. Tanpa basa-basi, dia menarik tangan Elsa. Kemudian membawanya memasuki ladang rerumputan. Di sana mereka kembali berciuman. Melanjutkan segalanya di tempat yang lebih tertutup.
Elsa sungguh tidak bisa menolak sentuhan Raffi. Padahal dia baru saja pulih dari pendarahan masa keguguran.