Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 98 - Berantem Di Toilet


__ADS_3

...༻☆༺...


Olive hanya berteriak, saat Elsa mengguyurkan air ke kepalanya. Dia merasa kesal sekaligus jijik. Sementara Zara dan Elsa terkekeh geli bersama.


Perlahan Olive mendongakkan kepala. Melotot tajam ke arah Elsa. Dia sangat kesal karena sudah diguyur dengan air kotor bekas kain pel.


Tanpa pikir panjang, Olive berdiri. Lalu menjambak rambut Elsa dengan kekuatan maksimal. Hal itu sontak membuat Elsa terdorong ke belakang.


Sekarang Elsa terpojok ke dinding. Mencoba melakukan perlawanan sebisa mungkin terhadap Olive.


Aksi saling jambak-menjambak pun terjadi. Zara yang ada di sana, berusaha membantu Elsa. Kini perkelahian menjadi dua lawan satu. Olive pastinya langsung tumbang. Cewek itu kembali terjerembab ke lantai.


"Gue nggak bakalan maafin kalian!" ujar Olive bertekad. Rambutnya tampak sangat berantakan. Hal serupa juga terjadi pada rambut Elsa dan Zara.


"Eh! Malah sok-sokan marah lagi. Kan elo yang mulai duluan. Jangan deketin Raffi sama Gamal lagi! Ngerti lo!" tukas Elsa. Amarahnya memuncak. Terutama setelah mendapat serangan dari Olive.


"Terserah gue dong." Olive memutar bola mata jengah. Ia sudah kembali berdiri. Cewek itu seakan belum kapok mendapat pelajaran.


"Belagu ya nih anak!" geram Zara. Dia sekali lagi berusaha mendorong Olive. Namun kali ini Olive bertahan. Aksi perkelahian kembali terjadi.


Olive dan Zara terjatuh ke lantai. Berguling-guling sambil terus menyerang satu sama lain. Wajah Zara dan Olive sama-sama mendapatkan luka gores. Hal itu disebabkan oleh kuku-kuku tangan yang cukup tajam.


Keributan yang terjadi, menarik pendengaran Pak Seno. Dia kebetulan berjalan melewati toilet siswa. Tanpa basa-basi, Pak Seno berlari mendatangi keberadaan Elsa, Zara dan Olive.


Pak Seno hendak membuka pintu toilet. Tetapi tidak bisa, karena pintu utamanya dikunci dari dalam. Meskipun begitu, dia bersikeras ingin memeriksa apa yang terjadi. Takut kalau anak didiknya berbuat sesuatu yang tidak-tidak.


"Hei! Buka pintunya! Cepat!" desak Pak Seno sambil menggedor pintu berulang kali. Kehadirannya sukses membuat Elsa gelagapan. Dia bergegas melerai perkelahian yang terjadi di antara Zara dan Olive.


"Udah, Ra! Kayaknya ada guru yang datang!" ujar Elsa. Dia memaksa tangan Zara untuk melepaskan jambakannya dari rambut Olive.

__ADS_1


"Tolong, Pak! Aku di bully! Kak El--" Olive sengaja berteriak. Namun terjeda, karena Zara sigap menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Gila lo!" cibir Zara. Dia akhirnya berdiri. Lalu merapikan pakaian dan rambutnya. Hal yang sama juga dilakukan Elsa.


Berbeda dengan Olive. Dia memanfaatkan kesempatan atas kelengahan Elsa dan Zara. Olive segera membuka pintu. Ia mengadukan semuanya kepada Pak Seno. Alhasil Elsa, Zara dan Olive langsung mendapatkan penanganan.


Waktu menunjukkan jam tiga sore. Bu Lestari kebetulan telah pulang. Jadi Pak Seno mewajibkan Elsa, Zara dan Olive agar saling memaafkan.


"Elsa! Zara! Kalian itu sudah kelas dua belas loh. Kenapa kelakuannya malah semakin tambah parah!" pungkas Pak Seno yang langsung mendapat bantahan dari Elsa.


"Kami nggak ngebully kok, Pak. Olive yang nantang kami duluan. Jadi yang terjadi di toilet itu adalah perkelahian, dan bukan perundungan!" jelas Zara. Mencoba merubah sudut pandang Pak Seno.


"Bapak nggak mau tau! Perkelahian atau perundungan, dua-duanya tetap aja salah! Kalian sebagai senior harusnya lebih tahu dan bersikap dewasa!" ujar Pak Seno. Dia terdiam sejenak dan meneruskan, "Ya udah, cepat saling minta maaf!"


Dari pintu lapangan indoor, Raffi dan Gamal baru saja keluar. Atensi mereka sontak tertuju ke arah tiga cewek yang sedang berhadapan dengan Pak Seno.


"Mereka kenapa tuh?" tanya Raffi sembari melajukan langkah untuk menghampiri posisi Elsa.


Kedatangan Raffi dan Gamal, membuat Zara dan Elsa reflek bertukar pandang. Dua cewek itu merasa malu, jika ketahuan berkelahi demi melindungi kekasih masing-masing.


"Alasan kalian begini karena apa sih? Coba kasih tahu Bapak?" Pak Seno menatap Elsa, Zara, dan Olive secara bergantian. Akan tetapi hanya Olive yang tertarik menjawab pertanyaannya.


"Semuanya karena cowok, Pak! Kak Elsa sama Kak Zara takut kalau aku bakalan rebut cowok--"


"Eh kunti penyok! Diam lo ya! Gue kebiri mulut lo!" potong Zara sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Elsa. Matanya menyalang hebat. Zara terpaksa begitu karena Raffi dan Gamal sibuk memperhatikan apa yang terjadi.


"ZARA! Kamu itu ya! Mau Bapak suruh bersihin gudang di sekolah semalaman, hah?! Sopan santun kamu mana?!" sungut Pak Seno. Dia geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan Zara.


"Maaf, Pak..." Zara menundukkan kepala.

__ADS_1


"Semuanya karena Kak Raffi sama Kak Gamal, Pak. Padahal aku cuman temenan sama mereka. Tapi kayaknya kakak-kakak seniorku ini pada cemburu." Olive kembali angkat suara. Kali ini Zara hanya bisa menggertakkan gigi dari balik mulut yang mengatup.


"Ya sudah, yang paling penting kalian saling memaafkan dulu. Nanti besok pagi, jangan lupa temui Bu Lestari ya. Beliau lebih ahli ngurus beginian dibanding Bapak. Menurutku kalian juga pantas dihukum." Pak Seno yang merasa kelelahan, akhirnya menyerah. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang.


Raffi dan Gamal yang sejak tadi mendengar pembicaraan, mematung di tempat. Mereka mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepala. Keduanya merasa tidak percaya, Zara dan Elsa bisa berbuat begitu.


Olive yang tidak ingin membuat masalah, memutuskan beranjak meninggalkan lapangan lebih dahulu. Semburat wajahnya tampak merengut. Dia berjanji, tidak akan melupakan insiden di dalam toilet tadi. Olive mungkin dikenal baik hati, tetapi dia tidak akan tinggal diam jika menemui ada orang yang berani mengusiknya.


Di lapangan, Zara dan Elsa sepakat pulang bersama. Keduanya sengaja mengabaikan Raffi dan Gamal akibat merasa malu.


"Eh, kok ngeloyor gitu aja!" Raffi lekas-lekas mengekori Elsa. Dia dan Gamal berusaha mengejar pacar mereka masing-masing.


"Elsa!" Raffi memegangi pergelangan tangan Elsa. Cewek itu akhirnya berhenti melangkah. Elsa terlihat menutupi wajahnya dengan rambut panjang yang masih acak-acakan.


"Lo kenapa gini sih?" Raffi merapikan rambut Elsa dengan lembut. Persis seperti seorang ibu yang memanjakan anaknya.


"Gue cuman nggak mau lo pergi," ungkap Elsa. Masih dalam keadaan menundukkan kepala.


"Ya ampun... gue nggak bakalan kemana-mana kok." Raffi mengangkat dagu Elsa. Kekasihnya itu sekarang mendongak dan membalas tatapannya.


"Pokoknya gue nggak mau lihat lo deket-deket sama Olive lagi."


"Ternyata lo secinta itu ya sama gue," tukas Raffi. Sukses membuat pipi Elsa memerah bak kepiting rebus.


"Apaan deh! Ih, Nyebelin!" Elsa merajuk. Dia melapaskan tangan Raffi. Lalu beranjak lebih dulu.


Di waktu yang bersamaan, Gamal berjalan mengiringi Zara. Dia tidak berhenti cengengesan. Satu tepukan dilayangkannya ke pantat Zara. Tangan nakal Gamal tidak pernah berhenti berbuat ulah.


Zara sontak berbalik. Satu tangannya memegangi bagian bokong yang terkena pukulan Gamal.

__ADS_1


"Seneng lo ya sekarang?" kata Zara. Sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Cie... yang cemburu buta. Cie, cie... kita bikin anak aja udah," canda Gamal. Mengharuskan Zara melayangkan tamparan ke salah satu pipinya. Meskipun begitu, Zara tidak bisa membendung senyuman di wajahnya.


__ADS_2