Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 56 - Kasih Sayang Orang Tua


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan kawan-kawan saling bercanda cukup lama. Sampai-sampai mereka lupa waktu. Bahkan lupa untuk mendiskusikan properti osis. Mereka malah bermalas-malasan rebahan di teras dekat kolam renang. Kebetulan di sana ada tempat santai yang dilengkapi sofa empuk.


Gamal beranjak ke toilet. Di sana dia menatap pantulan dirinya di cermin. Entah kenapa semenjak berpisah dengan Zara, Gamal merasa ada sesuatu yang hilang.


"Apa yang lo pikirin sih, Mal!" gumam Gamal sembari menekan pelipis. Ia sedang memikirkan cara untuk membuat Zara datang. Hingga terlintas dalam benaknya, mengenai kartu debit yang belum dikembalikan.


Tanpa berpikir lama, Gamal langsung mengirim pesan kepada Zara. Menyuruh cewek itu untuk mendatangi rumah Danu. Gamal tidak lupa mengirimkam alamat yang benar.


Gamal tersenyum lebar saat mendapatkan balasan dari Zara. Dia senang Zara langsung setuju untuk datang.


Mata Gamal membulat saat tidak sengaja melihat dirinya tersenyum. Ia baru menyadari ketika kebetulan menatap cermin secara selintas. Gamal sontak merubah raut wajahnya menjadi datar. Lalu berusaha bersikap seperti biasa.


Sementara itu Raffi, dia sibuk mengobrol bersama Elsa. Keduanya tidak canggung lagi untuk menunjukkan kedekatan. Elsa terlihat menyandar ke pundak Raffi. Cewek itu bicara sambil memainkan ponsel.


Sesekali Raffi akan diam-diam mencium puncak kepala Elsa. Mereka bersikap seperti pasangan yang baru menikah.


"Astaga kalian berdua. Kalau udah nggak tahan, pergi ke kamar sana!" pungkas Danu yang merasa risih dengan kemesraan Raffi dan Elsa.


"Dasar! Mesum terus pikiran lo!" hardik Raffi seraya melemparkan bantal ke wajah Danu.


"Mereka iri, Raf. Pffft..." ucap Elsa. Dia lalu terkekeh bersama Raffi. Saat itulah Gamal muncul. Dia baru saja kembali dari toilet.


"Zara bakalan ke sini!" seru Gamal sambil duduk menghempas ke sofa.


"Eh, katanya lo udah malas ngajak dia," tanggap Elsa yang terheran. Ia kini duduk tegak dan berhenti menyandar dari pundak Raffi.


"Dia mau ngembaliin sesuatu ke gue kok." Gamal memberikan alasan. Semua teman-temannya lantas hanya bisa memanggut-manggutkan kepala.


Saat sedang menikmati waktu santai, tiba-tiba terdengar dari arah luar suara mangkok berdenting. Seruan seorang lelaki menyebut kata bakso mengiringi bunyi dentingan tersebut.


"Wah, bakso tuh! Beli yuk! Udah lama gue nggak makan makanan keliling begitu." Raffi bangkit dari tempat duduk. Mengajak semua temannya untuk ikut.

__ADS_1


"Sama, gue juga mau. Suruh tukang baksonya masuk sini!" ujar Gamal. Dia mengekori Raffi.


Semua orang setuju untuk makan bakso. Namun tidak bagi Danu. Dia justru dirundung perasaan gelisah. Sebab dirinya tidak asing dengan suara tukang bakso tadi.


"Eh, tunggu!" Danu reflek mencegat pergerakan semua temannya.


"Kenapa? Lo nggak mau? Gue yang traktir deh," respon Raffi. Dia langsung beranjak keluar rumah. Di ikuti oleh Gamal, Tirta, dan Elsa.


Danu semakin panik. Walaupun begitu, dia berusaha keras menenangkan diri. Bahkan melangkah dengan berani keluar rumah. Berharap kalau tukang bakso yang datang bukan ayah dan ibunya.


Pupus sudah harapan Danu, langkahnya terhenti saat menyaksikan gerobak yang datang adalah milik ayahnya. Danu otomatis bersembunyi dibalik pintu.


Sinta mengerutkan dahi. Dia heran kenapa rumah majikannya didatangi oleh remaja-remaja asing. Sinta mulai menduga-duga mengenai apa yang dilakukan Danu.


"Pak, mereka siapa ya? Aku nggak pernah lihat mereka pas kerja di rumah ini..." Sinta berbisik ke telinga Wildan.


"Mereka teman dari anak majikanmu kali." Wildan balas berbisik. Sebenarnya dia juga bingung seperti sang istri.


Demi mendapatkan uang halal, Wildan dan Sinta tetap bersedia melayani. Apalagi Raffi dan yang lain memesan cukup banyak bakso.


"Dia kebelet kali," jawab Tirta asal. Dia baru menerima satu mangkuk bakso pesanannya.


Mendengar nama Danu disebut, Wildan dan Sinta reflek saling bertatapan. Seolah dugaan yang ada dipikiran mereka mengatakan hal sama.


"Dan! Sini dong! Nggak seru lo!" pekik Gamal dengan suara lantang.


"Kalau nggak keluar, lo bukan komplotan kita lagi!" Tirta menambahkan.


Teriakan Gamal dan Tirta membuat Danu terpikir ingin keluar. Dia lebih memperdulikan perasaan teman-temannya dibanding kedua orang tuanya. Alhasil Danu benar-benar keluar. Dia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.


Deg!


Jantung Wildan dan Sinta berdegub kencang. Mereka agak terkejut menyaksikan kehadiran sang putra. Keduanya sekarang hanya bisa menatap nanar ke arah Danu.

__ADS_1


"Mas, pesan satu. Sayurnya jangan banyak-banyak!" ujar Danu. Tanpa menatap ke arah ayah dan ibunya.


Wildan dan Sinta mematung sejenak. Mereka merasakan perasaan kecewa yang mendalam. Air mata Sinta bahkan hampir menetes di pipi. Dia tidak menyangka putranya akan bersikap begitu. Wildan dan Sinta tentu paham bahwa Danu malu mengakui mereka sebagai orang tua.


"Eh, Bibi kok nangis?" Elsa yang sukses memergoki Sinta menangis, otomatis bertanya.


"Eh, nggak apa-apa kok Mbak. Cuman kelilipan," kata Sinta seraya mengusap sudut matanya dengan tangan. Dia bergegas mengambilkan bakso untuk Danu.


Danu yang mengetahui ibunya menangis, hanya diam seolah tidak peduli. Dia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Sinta.


"Eh, Dan. Bokap lo kerja apa sih?" tanya Gamal sambil merangkul Danu. Ia mengambil satu buah bakso besar dengan garpu.


"Bokap gue?" Danu masih belum berani menatap ayah dan ibunya.


"Bu-bukannya gue udah bilang ya?" balas Danu. Ia enggan menjawab.


"Nggak tuh." Gamal lekas menggeleng. Kemudian menoleh ke arah ketiga temannya yang sedang asyik menikmati bakso. "Eh, guys. Danu nggak pernah cerita tentang pekerjaan bokapnya kan?" tanya-nya memastikan.


"Danu pernah bilang ke gue kok. Bokapnya direktur utama di salah satu perusahaan. Tapi nggak tahu perusahaan apa." Tirta menjawab setelah selesai menelan bakso.


"Nah, tuh Tirta tau." Danu melepas rangkulan Gamal. Lalu bergegas mengambil bakso yang baru disajikan oleh Sinta. Dia melingus begitu saja. Bahkan tanpa mengucapkan terima kasih.


Mendengar pembicaraan Danu dan teman-temannya tadi, membuat hati Wildan tersayat. Ternyata selama ini putranya tidak pernah membicarakan tentang dirinya. Semalu itukan Danu untuk mengakui?


Hati Wildan dan Sinta semakin sesak ketika menyaksikan Danu tampak tertawa lepas dengan semua teman-temannya. Anak itu seakan bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Bagaimana bisa Danu masih bisa tertawa? sementara kedua orang tuanya merasa kecewa. Hal yang paling menyedihkan adalah, Wildan dan Sinta sama-sama mengenakan pakaian lusuh.


Perlahan Wildan membentuk kepalan tinju disalah satu tangannya. Tubuhnya gemetaran karena amarahnya mulai muncul. Dia melotot tajam ke arah Danu. Sinta yang mengerti, lantas berusaha menenangkan.


"Sudah, Pak. Biarin aja. Sebaiknya kita bicarain di rumah. Kasihan Danu," ujar Sinta seraya megusap pundak Wildan dengan pelan.


Tidak lama menunggu, Raffi dan yang lain sudah selesai menikmati bakso. Satu per satu dari mereka menyerahkan mangkuk kepada Wildan.


Raffi tersenyum kepada Wildan dan Sinta. Ia segera mengambil dompet dari saku celana. Belum sempat membayar, Danu mendadak menghentikan.

__ADS_1


"Nggak usah, Raf. Biar gue aja yang bayar!" imbuh Danu. Dia langsung mengambil uang dari dompetnya. Lalu menyuruh Raffi menyerahkannya kepada Wildan.


__ADS_2