Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 110 - Membuktikan


__ADS_3

...༻☆༺...


Bagi orang dewasa seperti Afrijal, menemukan Gamal tentu akan mudah. Anak remaja seperti Gamal mana tahu cara menyimpan tempat rahasia dengan baik. Apalagi jika apartemen yang di tempatinya dibeli dengan penandatanganan.


Mata Gamal kian memerah. Nafasnya nyaris habis akibat cekikan Afrijal. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan amarah dari orang dalam kendali alkohol.


Zara akhirnya turun tangan. Dia mengerahkan sekuat tenaga untuk mendorong Afrijal. Namun tenaganya tentu tidak setara dengan kekuatan Afrijal.


"Om, Lepasin! Om bisa bunuh anak sendiri!" ujar Zara. Tangannya mulai gemetar ketakutan. Dia malah mendapatkan dorongan kuat dari Afrijal. Zara sontak jatuh terduduk ke lantai.


Melihat Zara diperlakukan begitu, Gamal segera mengambil sesuatu yang dapat membantu. Hingga sebuah gelas berisi air putih di raih olehnya.


Sebelum kesadarannya habis, Gamal langsung menyiramkan air ke wajah sang ayah. Saat itulah Afrijal reflek memejamkan mata, serta melepas cekikannya. Dia mengusap wajah sembari terduduk ke lantai.


"Gamal!! Jangan pergi kamu!!" pekik Afrijal. Ia mencoba mengejar. Akan tetapi, berdiri saja dirinya sangat kesulitan. Alkohol benar-benar telah menguasainya.


Gamal bergegas pergi bersama Zara. Keduanya berlari sambil berpegangan tangan. Menyusuri koridor apartemen tanpa ragu.


Sebelum pergi, Gamal tidak lupa mengambil kunci mobil. Sedangkan Zara sempat membawa tas selempang yang kebetulan diletakkan di sofa.


Kini Gamal dan Zara sudah berada di mobil. Dalam perjalanan tak tentu arah. Keduanya sama-sama mengontrol nafas. Jantung mereka serasa terus ditabu.


"Kita akan kemana, Mal?" tanya Zara yang masih berupaya meredakan kekhawatiran.


"Tenang aja, kita..." perkataan Gamal terhenti, ketika dirinya baru tersadar lupa membawa dompet. Ponsel saja tidak sempat diambilnya.


"Arrghh!!!" geram Gamal kesal. Alat setir yang tak bersalah harus kena hantaman dari tangannya.


"Kenapa?" Zara sontak kaget. Telapak tangannya yang lembut langsung menenangkan Gamal dengan belaian.


"Gue lupa bawa dompet sama handphone!" ungkap Gamal. Helaan nafas panjang dilakukan olehnya.


"Tenang aja, gue bawa tas kok. Lo emangnya mau apa?" tanggap Zara.


"Untuk sementara gue nggak mau pulang, Ra! Gue juga nggak mau sekolah. Gue butuh waktu untuk menjauh dari lingkungan rumah yang toxicnya kebangetan!" kata Gamal. Dahinya mengerut dalam.


"Ya udah, untuk sementara, kita nginap di hotel aja ya," usul Zara. Dia segera menghubungi kenalannya melalui telepon.


...***...


Beberapa jam terlewat. Semenjak melihat Elsa pingsan, perasaan Raffi tidak karuan. Dia mencoba berulang kali melakukan panggilan telepon. Tetapi nomor telepon Elsa selalu tidak aktif.

__ADS_1


Sesekali Raffi akan melihat dari jendela. Kamar Elsa selalu menjadi pusat perhatiannya. Kediaman Elsa juga terlihat sepi. Fajar dan keluarganya tetap tidur lebih cepat seperti biasa.


Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Namun Raffi masih memantau keadaan rumah Elsa. Apa yang dilakukannya sukses diketahui oleh Heni.


"Raffi, sudahlah. Kamu sebaiknya tidur," tegur Heni.


Raffi menoleh ke arah Heni. Kemudian berjalan mendekat. "Mah, kenapa Mamah nggak percaya kalau aku cowok yang menghamili Elsa?" tanya-nya.


"Karena Mamah percaya kamu anak baik. Lagian buktinya juga nggak ada. Hubungan kamu sama Elsa selalu ada dalam batasan. Kalian itu akrab banget karena sudah berteman dari kecil," terang Heni seraya mengusap pelan puncak kepala Raffi.


"Bukti?" Manik hitam Raffi membulat. Pikirannya langsung mencari-cari bukti yang berguna.


"Iya... kamu sebaiknya tidur. Mamah yakin Elsa sama keluarganya udah tidur. Rumahnya sepi gitu kok. Mereka pasti capek." Begitulah ucapan Heni sebelum beranjak dari kamar.


Raffi menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia mencoba mengingat-nginat tentang jejak hubungannya bersama Elsa. Terlintaslah kenangan Raffi mengenai kencan di mall. Di sana dia dan Elsa banyak sekali mengambil foto.


Raffi membuka galeri foto yang ada di aplikasi gawai-nya. Sayang seribu sayang, dia tidak menemukan foto kebersamaannya dengan Elsa.


"Sial! Gue lupa kalau semua fotonya ada di ponsel Elsa." Raffi menepuk jidatnya. Menggertakkan gigi karena merasa kesal.


"Arrghhh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Raffi memaki-maki dirinya sendiri. Dia mengacak-acak rambut frustasi.


Akibat kelelahan, Raffi akhirnya tidak sengaja tertidur. Ketika cowok itu membuka mata, cahaya mentari tampak menerobos masuk dari jendela.


Sosok Heni, Fajar, Risna, dan Vina menyambut penglihatan Raffi. Raut wajah mereka semua terlihat sama-sama gelisah. Seolah ada sesuatu yang mendesak sedang terjadi.


"Ada apa ini? Elsa mana? Dia baik-baik saja kan?" tanya Raffi.


Fajar dan Heni saling bertukar pandang. Sebagai seorang ibu, Heni lantas memberikan penjelasan kepada Raffi.


"Elsa hilang, Raf. Dia melarikan diri dari--"


"Apa?! Nggak mungkin! Kalian pasti bohong!" Raffi tidak terima dengan kabar yang diterimanya. Tanpa sengaja dia memotong pernyataan sang ibu.


"Beneran, Kak. Kakak bisa lihat sendiri lemari di kamar Kak Elsa. Sebagian besar pakaian sudah dibawanya pergi," tutur Vina memberitahu.


Raffi menggeram sambil mencengkeram kepalanya sendiri. Dia kesal dan juga merasa begitu kecewa. Raffi sama sekali tidak mengerti, kenapa Elsa bisa nekat berbuat begitu?


"Ini semua gara-gara kalian! Seandainya kalian langsung percaya sama aku, Elsa nggak akan kabur dari rumah!" tuduh Raffi.


"Astaga, Raffi. Kamu masih saja berusaha mengaku-ngaku? Elsa udah pergi loh! Dia bilang janin yang ada dalam perutnya bukan anak kamu! Mungkin aja dia ingin bertemu diam-diam sama pacarnya!" timpal Heni. Dia muak mendengar pengakuan Raffi yang menurutnya palsu.

__ADS_1


"Aku akan buktikan sama kalian! Sekarang aku nggak peduli sama reaksi kalian gimana nantinya!" balas Raffi. Dia memindai segala hal di sekitar dengan matanya. Hingga kamera CCTV berhasil menarik perhatian Raffi.


Tanpa pikir panjang, Raffi beranjak menuju garasi. Dia masuk ke mobilnya, lalu mengambil black box yang tersemat di dekat dashboard. Raffi sangat ingat, banyak sekali hal yang dilakukannya dengan Elsa saat di mobil. Dari mulai berciuman sampai melakukan hubungan intim.


Back box di mobil Raffi berupa kamera kecil yang dapat merekam segala insiden di dalam dan sekitaran mobil. Saking bertekadnya ingin membuktikan, Raffi sampai nekat memberikan rekaman black box kepada keluarga Fajar dan ibunya.


"Jika kalian melihat ini, aku yakin kalian tidak akan meragukanku lagi," ujar Raffi dengan mimik wajah datar.


"Raf, kamu berlebihan sekali!" tukas Heni, tercengang hebat.


Raffi mengabaikan perkataan Heni. Dia justru menatap serius ke arah Fajar. "Om, kamera CCTV di rumah Om juga bisa jadi bukti kalau aku pacaran sama Elsa. Coba periksa CCTV di halaman belakang. Aku ingat, aku sama Elsa ciuman pas malam acara keluarga dilaksanakan." Raffi mengucapkan segalanya secara gamblang. Membuang rasa malunya jauh-jauh, agar semua orang dapat menaruh kepercayaan terhadapnya.


Mata Fajar menyalang hebat. Meskipun begitu, dia tidak langsung mempercayai Raffi. Fajar dan yang lain akhirnya memeriksa rekaman di black box.


Ketika semua orang sibuk dengan rekaman black box, Raffi diam-diam masuk ke mobil. Dia berniat mencari Elsa. Tetapi sayangnya, keadaan mobil Raffi sedang tidak mendukung.


Seberapa keras Raffi memutar balik kunci, mesin mobilnya tidak kunjung menyala. "AKH!!! Kenapa harus sekarang coba!" umpatnya.


Raffi berpikir dalam sekian menit. Sampai dia terpikir untuk meminta bantuan Gamal. Tanpa basa-basi, Raffi menghubungi Gamal melalui telepon.


Hanya ada suara dering yang terdengar. Gamal belum juga mengangkat panggilan Raffi. Kini Raffi tidak punya pilihan selain menelepon Zara. Tidak perlu waktu lama, cewek itu langsung mengangkat panggilannya.


"Lo sama Gamal?" tanya Raffi.


"Iya... kok lo tahu?" respon Zara dari seberang telepon.


"Gue dalam keadaan mendesak sekarang! Suruh Gamal jemput gue di persimpangan jalan," ujar Raffi.


"Tunggu." Selepas Zara berucap begitu, suara Gamal menyambut pendengaran.


"Ada apa, Raf?"


"Jemput gue, Mal! Gue sekarang beneran butuh bantuan lo!" seru Raffi.


"Lo nggak kenapa-kenapa kan?" Gamal memastikan.


"Gue akan jelaskan nanti. Pokoknya jemput gue sekarang!" tegas Raffi yang langsung di setujui oleh Gamal.


Raffi bergegas keluar dari mobil. Lalu berlari menjauhi rumah. Dia memang sengaja pergi, karena tidak mau melihat reaksi semua orang. Terutama jika mereka telah melihat apa yang pernah dilakukannya saat berduaan bersama Elsa di mobil. Hal terpenting bagi Raffi adalah menemukan Elsa secepat mungkin.


..._____...

__ADS_1


Catatan Kaki :


Black box :  Adalah istilah yang digunakan bagi alat perekam data selama pesawat diterbangkan. Di zaman sekarang, black box juga sudah banyak dipasang di dalam mobil.


__ADS_2