
...༻☆༺...
Raffi menarik tangan Elsa sambil berlari. Keduanya berhenti tepat di depan toilet. Mengontrol nafas yang ngos-ngosan.
"Gue ke toilet dulu ya," ujar Elsa sembari masuk ke dalam toilet wanita.
Raffi hanya mengangguk. Lalu menyandarkan punggung ke dinding. Namun itu tidak berselang lama, karena dari kejauhan Risna terlihat lagi sambil menggandeng adiknya Vina. Raffi bergegas masuk ke dalam toilet. Untuk sekarang, hubungan rahasianya dengan Elsa masih terjaga.
Akibat tidak ada rencana lain, Raffi dan Elsa memutuskan untuk pulang. Kini mereka berjalan berbarengan di area parkiran. Lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Baru jam setengah sepuluh malam, gue rasanya masih nggak mau pulang." Elsa berimbuh seraya mengerucutkan bibirnya.
"Gue juga. Tapi bingung mau ngajak lo kemana," tanggap Raffi. Dia menjalankan mobil dengan pelan.
"Kita ke tanah lapang dekat komplek kita aja yuk. Gue pengen jagung bakar Pak Aman," seru Elsa. Tampak bersemangat.
"Bukannya jam segini Pak Aman udah tutup ya? Jagung bakar dia itu pasti udah habis." Raffi mengungkapkan pendapatnya.
"Apa salahnya ke sana dulu." Elsa bersikeras. Raffi lantas tidak punya pilihan selain menurut.
Benar saja, setibanya di jalan dekat tanah lapang, Pak Aman tidak ada di tempat biasanya beliau berjualan. Malah area itu sangat sepi. Tidak ada siapapun di sana. Selain Raffi dan Elsa yang baru saja menghentikan mobil.
"Tuh kan." Raffi melirik Elsa. Dia menyaksikan cewek itu menghempaskan diri ke sandaran kursi. Elsa mendengus kasar.
"Kita diam di sini aja deh dulu. Gue kadang butuh suasana tenang begini," ujar Elsa.
"Iya sih tenang, kalau ada mba kunti gimana hayo?" Raffi mencoba menghibur Elsa.
"Ih! Jangan nakut-nakutin deh." Bukannya terhibur, Elsa justru merasa takut.
"Sorry, El. Gue nyalain musik aja ya." Raffi memainkan musik di mobilnya. Dia memilih lagu yang menenangkan.
Raffi dan Elsa saling membisu cukup lama. Keduanya sama-sama menyandar ke kursi. Perlahan Elsa diam-diam menoleh ke arah Raffi. Menatap lamat-lamat wajah kekasihnya yang tampan itu.
Seakan mempunyai telepati yang kuat, Raffi membalas tatapan Elsa. Mereka tersenyum satu sama lain. Raffi tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekat.
__ADS_1
Elsa yang mengerti ikut bergerak. Dia dan Raffi akhirnya berciuman bibir. Mereka mengawali dengan lembut dan tulus. Sampai kekalapan hati membuat keduanya saling mengulum dalam.
Sesekali Raffi dan Elsa akan memiringkan kepala agar dapat berciuman dengan leluasa. Mungkin sekarang mereka lupa sudah berapa kali melakukan ciuman bibir. Padahal awalnya mereka hanya berbuat iseng karena ingin mencoba.
Nafas Raffi dan Elsa kian memburu. Pertanda kalau gairah mereka semakin membara. Entah sudah berapa lama keduanya berciuman. Yang jelas satu lagu telah terputar habis, sehingga lagu selanjutnya otomatis mulai melantun.
Elsa melepaskan tautan bibirnya sejenak. Sebab dia mulai kesulitan bernafas. Menelan ludahnya sendiri pun terasa janggal.
Raffi terdiam. Mulutnya masih sedikit menganga karena masih menanti kelanjutannya. Akibat tidak sabar lagi, Raffi akhirnya memadukan mulutnya lagi dengan bibir Elsa.
Raffi memaksa Elsa untuk mendekat. Dia memeluk erat cewek itu. Hingga tubuh keduanya saling menempel. Raffi yang mulai nakal, terus menekan punggung Elsa. Dia memang sengaja ingin membawa Elsa untuk duduk ke pangkuan.
Seperti keinginan Raffi, kini Elsa telah duduk di pangkuannya. Ciuman masih belum berakhir. Keduanya belum merasa puas. Padahal bibir mereka sudah mulai membengkak.
Rambut Elsa yang panjang berjatuhan menutupi sebagian wajah Raffi. Ia merasa kalau kekasihnya menginginkan lebih. Elsa dapat mengetahuinya karena duduk di pangkuan Raffi.
Elsa menghentikan ciumannya sebentar. Raffi lagi-lagi hanya terdiam dalam keadaan mulut yang sedikit menganga.
Elsa menyurai rambutnya ke belakang. "Kita nggak punya tameng kan?" tanya-nya memastikan.
Raffi lekas menggeleng. "Enggak..." jawabnya lirih.
"El, gue udah nggak tahan. Gue yakin lo ngerti," ujar Raffi.
Elsa yang paham reflek melirik ke bagian bawah perut Raffi. Dia tahu maksud dari pacarnya itu.
"Gue tahu lo juga mau," ucap Raffi lagi. Kemudian membawa Elsa ke kursi belakang mobil. Di sana Raffi langsung menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Elsa. Dia tahu area sensitif milik perempuan.
Darah disekujur badan Elsa berdesir hebat. Dia memejamkan mata dengan spontan. Elsa memang tidak bisa membantah keinginannya. Alhasil dia pasrah dengan segala perlakuan Raffi. Mereka melakukannya lagi.
Karena aktifitas intim Raffi dan Elsa, mobil jadi bergerak senada dengan pergerakan mereka. Untung saja mereka ada di tempat sepi. Seandainya ada yang melihat, mungkin masyarakat terdekat akan melaporkan mereka ke pihak berwajib. Sebab apa yang dilakukan Raffi dan Elsa jelas menantang norma kesusilaan.
Setelah puas melakukan hubungan badan, Raffi bergegas mengenakan celana jeans. Dia juga tidak lupa untuk mengenakan kemeja, walau semua kancingnya dibiarkan terbuka. Raffi sibuk mengatur nafas. Dia duduk tersandar di kursi.
Sementara Elsa, dia memperbaiki dressnya yang acak-acakan. Sebab saat melakukan hubungan intim tadi, Raffi hanya menyisit bagian atas dan bawah dressnya. Elsa masih rebahan.
__ADS_1
Elsa merubah posisi menjadi duduk. Lalu memberikan beberapa kecupan ke pipi Raffi. Cewek itu rasanya sudah dibuat tergila-gila oleh Raffi. Perasaan perempuan memang selalu terbawa suasana. Mereka selalu mengutamakan hati dalam setiap tindakan. Bagi Elsa, apa yang dilakukannya untuk Raffi adalah bukti nyata cinta.
Raffi tersenyum dan memeluk Elsa dengan erat. Keduanya saling tersenyum sambil memejamkan mata.
"Badan lo agak kekar ya sekarang," ujar Elsa sembari memegangi kulit perut Raffi yang masih belum diutupi kemeja.
"Jangan lebay, baru sekitar dua mingguan gue rutin nge-gym bareng Gamal dan Tirta..." jawab Raffi dengan nada sumbang.
"Jangan sampai kayak Ade Rai ya, gue nggak suka yang berlebihan." Elsa memperingatkan.
Raffi justru tergelak. "Nggaklah, kalau kayak gitu malah susah nanti nyari baju," tanggap Raffi. Tangannya nampak sibuk menyisir rambut Elsa dengan jari-jemari.
Selepas beristirahat cukup lama, Raffi dan Elsa segera pulang. Mereka sampai ke rumah tepat di jam 11.25 malam.
Elsa melambaikan tangan dengan senyuman, lalu bergegas masuk ke rumah. Matanya langsung membulat ketika melihat paman dan bibinya masih belum tidur.
"Kemana aja kamu?!" timpal Fajar sambil memasang raut wajah sangar.
"Ja-jalan bareng teman..." Elsa menjawab dengan perasaan gugup.
"Terus kenapa bisa sampai lupa waktu, hah?! Paman juga baru aja dengar kalau kamu jalan berduaan sama laki-laki. Kamu pacaran?!" Fajar berjalan ke hadapan Elsa.
"Eng-nggak, Paman. Dia itu Raffi. Kami cuman jalan-jalan--"
"Kamu pikir Raffi bukan laki-laki, begitu?!" potong Fajar. Wajahnya tampak mulai memerah padam.
"Elsa, kamu kalau jalan harusnya tahu waktu." Risna ikut menimpali. Namun lebih tenang dibanding Fajar.
"Sekarang masuk ke kamar! Mulai sekarang aku nggak injinkan kamu keluar malam lagi! Kecuali kalau kamu memang mau angkat kaki dari rumah ini!" tegas Fajar. Kemudian beranjak masuk ke kamar.
"Sebelum tidur, jangan lupa cuci piring kotor. Jangan Vina terus yang nyuci," tukas Risna sembari menyusul sang suami.
Elsa mengangguk lemah. Dia duduk sebentar untuk menenangkan diri. Ketika diperlakukan seperti itu oleh paman dan tantenya, Elsa selalu rindu dengan kedua orang tuanya. Tanpa sadar, air mata berjatuhan di pipinya.
..._____...
__ADS_1
Catatan Kaki :
Norma Kesusilaan : Aturan yang menata tindakan manusia dalam pergaulan sosial sehari-hari.