
...༻☆༺...
Waktu terus bergerak. Tidak ada satu pun soal yang berhasil Gamal jawab. Dia sesekali melirik ke arah Raffi. Namun Raffi terlihat masih sibuk menjawab soal.
Gamal menghembuskan nafas dari mulut. Entah kenapa dia tiba-tiba diserang perasaan gugup. Rasa penyesalan segera bergelayut dalam benak.
'Kenapa gue nggak belajar sih?' keluh Gamal dalam hati. Dia selalu saja begitu saat ulangan berlangsung. Tetapi setelah ulangan berlalu, Gamal malah tidak memiliki minat belajar.
Lima belas menit berselang. Beberapa orang mulai melakukan aktifitas Gamal. Yaitu bingung dan berharap. Mereka hanya tinggal menjawab soal sulit yang tersisa.
"Raffi!" Gamal memanggil Raffi dengan suara berbisik. Sesekali matanya melirik ke arah Pak Darto. Berharap gurunya tersebut tidak memergoki.
Raffi mendengar panggilan Gamal. Ia memastikan posisi Pak Darto terlebih dahulu. Gurunya itu kebetulan sedang sibuk bermain ponsel.
Perlahan Raffi memutar kepala ke samping kiri. Tepat dimana Gamal berada. Dia langsung disambut dengan ekspresi memohon dari Gamal. Cowok berambut cepak itu bahkan mengatupkan kedua tangan di depan dada.
Raffi dibuat kaget. Sebab ketika dia berbalik, tidak hanya Gamal yang berusaha membuat komunikasi dengannya. Ada sekitar lima teman sekelasnya yang ingin bertanya.
Raffi memilih fokus kepada Gamal dahulu. Dia bertanya, "Nomor berapa?"
"Semuanya!" sahut Gamal dengan santainya.
"Gila! Dikasih hati malah minta jantung," komentar Raffi tak percaya. Dia segera memberikan Gamal jawaban.
Raffi sekarang berniat merobek selembar kertas. Dia berusaha melakukannya tanpa suara. Perlahan dia sobek kertas dari buku yang ada di bawah meja.
Srek...
Raffi sukses mengambil secarik kertas. Dia lalu menuliskan jawaban miliknya. Raffi tidak sebodoh itu untuk menuliskan semua jawaban. Ia sengaja menulis jawaban salah secukupnya.
Setelah selesai, Raffi menggenggam kertas hingga menjadi bola kecil. Kemudian melemparnya saat memiliki kesempatan.
Raffi sudah melempar bola kertas berisi jawaban. Akan tetapi bola kertas itu tidak sengaja memantul ke meja Gamal, dan berakhir jatuh ke lantai.
Bola kertas jawaban Raffi berhenti tepat di tengah-tengah. Berada cukup jauh dari posisi Gamal. Parahnya kertas tersebut berhenti di dekat cewek bernama Lila. Sisiwi yang dikenal hobi mengadu kepada guru.
Di saat keadaan genting terjadi, Pak Darto justru bangkit dari tempat duduk. Beliau melangkah dengan tenang menyusuri barisan paling kiri. Pak Darto memeriksa kinerja semua murid. Dia berjalan dalam keadaan tangan bertautan dari balik punggung.
__ADS_1
Deg!
Deg!
Deg!
Kebetulan posisi duduk Raffi berada di pokok kanan. Jantungnya berdegub kencang. Dia tidak mau urusan. Pokoknya Gamal harus bisa mengambil bola kertas yang terjatuh, sebelum Pak Darto mendekat.
Jujur saja, Raffi sudah beberapa kali mempelototi Gamal. Namun Gamal belum juga melakukan pergerakan.
"Sabar!" ucap Gamal sembari menoleh ke bola kertas yang masih ada di tempatnya.
Gamal berusaha mencari peluang. Tetapi Pak Darto malah tambah dekat. Keringat panas dingin mulai menyelimuti Gamal. Kemarahan ayahnya langsung terlintas dalam bayangan.
Jika Gamal gagal dalam salah satu bidang akademik, maka mati sudah. Ayahnya pasti akan mengamuk lebih parah dibanding tempo hari.
Gamal gigit jari. Dia mencoba memberanikan diri untuk mengambil bola kertas.
Belum sempat bergerak, Lila mendadak berdiri. Cewek itu tersenyum sambil mengangkat tangan. Sepertinya Lila menjadi orang pertama yang menyelesaikan soal ulangan.
"Silahkan kumpul di meja Bapak ya!" suruh Pak Darto yang langsung direspon dengan anggukan kepala oleh Lila.
Lila malah menyenggol bola kertas tanpa sengaja. Sehingga posisi bola kertas berpindah tepat ke bawah kursi Gamal.
Kini Raffi dan Gamal bisa mendengus lega. Gamal lantas mengambil bola kertas dengan cara menginjak, lalu menggesernya. Saat itulah dia bisa memiliki kesempatan untuk mengambil bola kertas.
Belum sempat menulis jawaban, bel istirahat sudah menggema. Gamal otomatis bergegas menulis jawaban semampunya.
"Waktu sudah habis. Selesai atau tidak selesai, kumpul sekarang!" pekik Pak Darto.
Raffi yang telah lama merampungkan jawaban, terlihat baru keluar dari kelas. Dia sudah mengumpulkan lembar jawaban.
"Kalian dengar atau tidak yang Bapak bilang tadi? Kumpul lembar jawaban kalian sekarang!" desak Pak Darta dalam keadaan mata menyalang. Aura menakutkannya sukses membuat seluruh murid ketakutan. Hanya Gamal yang tampak masih tenang.
"Gamaaaaal!!" tegur Pak Darto kepada Gamal yang tak kunjung beranjak dari tempat duduk.
"Sabar dong, Pak!" sahut Gamal. Ia masih sibuk menulis jawaban.
__ADS_1
Pak Darto yang tidak mau menunggu, segera bersiap-siap untuk keluar. Saat itulah Gamal baru selesai menulis jawaban. Dia berlari dalam keadaan tergopoh-gopoh. Untung saja Pak Darto mau menerima lembar jawabannya.
...***...
Raffi kali ini ingat dengan surat dari orang yang mengajaknya bertemu. Dia sekarang sedang melenggang menuju belakang sekolah. Tempat dimana gudang yang sepi berada.
Dari kejauhan Raffi dapat menemukan seorang gadis yang sibuk membaca buku. Raffi lantas menghentikan langkah tepat di belakang gadis tersebut.
Sosok yang dilihat Raffi memiliki perawakan kurus serta memakai seragam agak kumal. Rambut cewek itu tampak dikepang dua. Raffi merasa tidak asing dengannya.
'Bukannya dia cewek kelas sepuluh kemarin itu ya?' benak Raffi bertanya-tanya.
"Ternyata lo ya yang kasih gue kado tanpa nama itu?" imbuh Raffi. Membuat si cewek berkepang dua langsung berdiri. Lalu membalikkan badan untuk menatap Raffi.
Cewek yang ternyata adalah Fitri itu sangat terkejut. Matanya membuncah hebat ketika menyaksikan kehadiran Raffi. Fitri tidak lain adalah siswi introvert miskin yang sering dibully. Gadis yang pernah ingin memberikan Raffi kado, tetap gagal karena di ejek oleh teman-temannya.
"Lo mau ngomongin apa? Lo dibully habis-habisan ya? Kalau begitu, lo bisa bilang yang sebenarnya sama gue." Raffi melangkah lebih dekat.
Fitri malah melangkah mundur. Mulutnya mengatup rapat. Dia diserang perasaan gugup tak terkendali. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan satu patah kata.
"A-anu... maaf, Kakak salah orang!" Fitri berlari menjauh begitu saja. Menyebabkan dahi Raffi sontak mengerut heran.
Raffi mendengus kasar. Ia tidak punya pilihan selain kembali ke kelas. Raffi menyimpulkan, mungkim saja kado misterius yanh diterimanya hanya iseng belaka. Tetapi belum sempat dirinya beranjak, Zara terlihat baru saja muncul. Cewek itu menarik Raffi masuk ke dalam gudang.
"Eh, Ra! Ngapain lo?" tanya Raffi yang otomatis mengikuti pergerakan Zara.
"Ada yang mau gue omongin!" ujar Zara sembari mengatur nafas. Dia tadi memang baru selesai berlari.
"Tentang? Apa perlu di tempat sepi kayak gini?" Raffi terheran.
Zara masih membisu. Dia hanya tersenyum sambil mengaitkan helaian rambut pendek sebahunya ke daun telinga. Zara menatap lamat-lamat cowok yang berdiri di hadapannya sekarang.
..._____...
Catatan Author :
Guys mulai hari ini sampai senin depan, insyaallah author bakal up tiga bab perhari. Itu karena author lagi ikut event crazy up. Hehehe
__ADS_1
Coba-coba aja sih. Bisa atau enggak sih aku? Semoga bisa ya... :v