
...༻☆༺...
Setelah masuk ke mobil Gamal, Raffi menceritakan apa yang terjadi. Dari mulai keadaan Elsa, sampai tanggapan keluarganya terhadap kehamilan Elsa.
Gamal dan Zara begitu terkejut mendengar cerita Raffi. Mereka merasa sangat kasihan sekaligus kesal dengan keputusan Elsa.
"Parah... kenapa Elsa nekat kabur dari rumah? Itu gila banget sih!" komentar Zara. Dia mengambil gawai dari dalam tas. Lalu mencoba menghubungi Elsa.
"Nomornya udah nggak aktif! Kayaknya Elsa sengaja menghilang." Raffi memberitahu. Tetapi Zara tak peduli, dia tetap berusaha menelepon Elsa. Mungkin saja nomor cewek itu sudah aktif sekarang.
Benar saja, Zara dapat mendengar ada dering yang berbunyi. Dia sontak dibuat bersemangat akan hal tersebut. "Nomornya aktif!" seru Zara.
"Yang bener?!" Raffi terhenyak. Kelopak matanya kian lebar.
Walau nomor Elsa sekarang aktif, namun cewek itu tidak kunjung menjawab panggilan. Hingga panggilan telepon yang dilakukan Zara hanyalah usaha semu.
Di percobaan ketiga, Zara menemukan nomor Elsa tidak aktif lagi. Kini dia hanya bisa mendengus kasar.
"Gimana nih? Kalau kita nggak tahu posisi Elsa. Kita nggak bisa temuin dia dong," imbuh Zara dengan mimik wajah cemas.
Raffi membisu dalam sesaat. Dia terpikirkan akan sesuatu hal. "Ra, coba pinjam hp lo!" pintanya.
Zara lantas memberikan ponselnya kepada Raffi. Ia terus menatap penuh selidik ke arah cowok itu.
"Mau ngapain?" tanya Zara.
"Gue mau lacak lokasi Elsa pakai nomor telepon. Tadi nomornya sempat aktif kan?" jawab Raffi sembari berkutat dengan dua ponsel di tangannya.
"Emang lo bisa?" Gamal meragu.
"Ada banyak kiat-kiat cara di internet kok!" sahut Raffi bertekad.
Gamal dan Zara reflek saling bertukar tatapan. Mereka mencoba memahami kekhawatiran Raffi.
"Mau ke rumah Tirta dulu nggak? Orang tuanya lagi nggak ada. Mungkin kita bisa susun rencana di sana," saran Gamal. Sejak tadi dia terus sibuk mengemudikan mobil.
__ADS_1
"Gue nggak punya waktu!" cetus Raffi. Ekspresi wajahnya nampak masam. Dia masih berupaya melacak Elsa dengan menggunakan nomor telepon. Semuanya tentu tidak akan semudah itu.
Raffi menjejalah internet. Hingga sebuah artikel sempat membuat perhatiannya teralih. Raffi dirundung perasaan cemas ketika membaca artikel yang berjudul, 'Anak SMA Hamil Di Luar Nikah Melakukan Bunuh Diri'
Tangan Raffi bergetar hebat. Peluh mulai menguasai beberapa titik tubuhnya. Perasaan panik yang berlebih menyerang. Raffi sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Lo kenapa, Raf?" Zara yang kebetulan menengok ke belakang, dapat menyadari kepanikan Raffi. Hal serupa lantas dilakukan Gamal beberapa saat kemudian.
"A-ada artikel tentang anak SMA yang hamil. Katanya dia melakukan bunuh diri. E-elsa nggak akan berbuat begitu kan?" Raffi bicara dengan terbata-bata.
"Tenang, Raf... gue yakin Elsa nggak bakalan berbuat begitu. Dia itu cewek super strong! Gue ngerasa kalau apa yang dilakukannya sekarang, karena Elsa sayang banget sama lo." Zara mencoba menenangkan Raffi. Dia bahkan memberikan sebotol air mineral untuk cowok itu. "Nih minum dulu, biar pikiran lo tenang."
"Kalau lo gini, sebaiknya kita ke rumah Tirta aja. Pikiran gue juga lagi nggak jernih. Toh lo nggak akan temuin Elsa dalam keadaan begitu." Gamal berujar seraya melirik Raffi dari kaca spion.
"Ya udah. Tapi jangan lama-lama. Gue takut Elsa semakin jauh." Raffi akhirnya setuju. Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Berusaha menenangkan pikiran dan hatinya sejenak.
"Mana artikel yang lo baca tadi? Biar gue lihat." Zara menerima ponselnya kembali. Ia segera membaca artikel yang tadi sempat menarik perhatian Raffi.
"Pantesan dia bunuh diri. Dari yang tertulis di sini, katanya si cowok nggak mau tanggung jawab. Terus keluarga si cewek--"
Zara yang mengerti, langsung berhenti. Ia menoleh ke jendela dan memutuskan bungkam. Tanpa terasa mobil sampai di tempat tujuan. Keadaan rumah Tirta benar-benar terlihat sepi.
Kedatangan Raffi dan kawan-kawan, segera disambut oleh pembantu di rumah Tirta. Mereka melangkah masuk dan menemukan Tirta duduk santai di sofa. Cowok itu melambaikan tangan sambil tersenyum simpul.
"Selamat datang, guys! Kalian udah makan? Kalau belum, biar gue suruh Bi Siti bikinkan makanan. Bi Siti bisa bikin banyak makanan loh. Tai kucing aja pernah di oseng-oseng sama dia," racau Tirta yang dilanjutkan dengan gelak tawa. Padahal candaannya sama sekali tidak lucu. Dia hanya bersikap begitu hiperaktif. Membuat Zara serta Gamal otomatis menaruh curiga.
"Lo dalam pengaruh obat ya, Ta?" timpal Gamal dengan kening yang mengernyit dalam.
"Cuman sedikit. Hehehe..." Tirta mengakui sambil mengusap tengkuknya beberapa kali.
Gamal dan Zara hanya terdiam. Hal yang sama juga dilakukan Raffi. Cowok itu memasang tatapan kosong yang tak dapat diartikan. Raut wajah yang ditunjukkannya membuat Tirta penasaran.
"Lo kenapa, Raf? Kegantengan lo jadi kusut gitu," pungkas Tirta.
"Elsa hamil, Ta. Parahnya dia juga kabur dari rumah. Elsa juga nggak ngakuin Raffi sebagai cowoknya dia," ungkap Gamal. Menyebabkan mata Tirta terbelalak tak percaya. Mulutnya bahkan sampai menganga lebar.
__ADS_1
"Aneh banget! Biasanya itu cewek loh yang minta pertanggung jawaban!" tanggap Tirta. Meskipun begitu, Raffi sama sekali tidak menanggapi.
"Ta, komputer lo mana? Gue mau lakuin sesuatu!" celetuk Raffi. Dia bangkit dari tempat duduk.
"Ada satu di kamar kakak gue. Tuh! Yang pintunya ada gambar hello kitty." Tirta menuntun Raffi masuk ke dalam sebuah kamar. Di sana Raffi langsung sibuk melakukan berbagai cara untuk melacak keberadaan Elsa.
Kini hanya ada tiga orang yang duduk di ruang tengah. Mereka sempat saling terdiam dalam sekian menit.
"Bokap sama nyokap gue pulang nanti sore. Jadi kita harus pergi sebelum sore. Gue ikut kalian cari Elsa ya? Sumpek banget gue di rumah," ujar Tirta. Lagi-lagi dia cengengesan tidak jelas.
"Terserah lo deh," tanggap Gamal sembari merebahkan diri ke pangkuan Zara.
"Mal, gue mau pipis. Rebahan di bantal aja kenapa coba." Zara mendorong kepala Gamal, lalu beranjak menuju toilet.
Di perjalanan, atensi Zara terfokus dengan sebuah ponsel yang tergeletak di lantai. Dia lantas mengamati ponsel tersebut.
'Ini kayaknya handphone Tirta deh. Tapi kok hancur gini ya? Sepertinya sengaja dibanting sama Tirta,' pikir Zara. Dahinya mengerut seraya memperhatikan ponsel yang terpegang.
Zara menggeleng tegas. Dia meletakkan ponsel ke atas nakas, kemudian masuk ke toilet. Selepas buang air kecil, cewek itu kembali ke ruang tengah. Zara tidak lupa membawa ponsel rusak yang ditemukannya tadi.
"Ta, ini hp lo kan?" tanya Zara. Akan tetapi Tirta hanya tergelak kecil.
"Kenapa bisa hancur gitu?" Atensi Gamal terfokus ke ponsel yang ada dalam genggaman Zara.
"Mulai sekarang, gue nggak butuh handphone lagi. Bikin pusing!" Tirta memberikan alasan. Saat itulah Bi Siti membawakan minuman dan cemilan. Gamal dan yang lain segera menikmati sajian itu. Mereka tentu tidak lupa menawarkannya kepada Raffi.
"Biar gue yang bawain dia makanan." Gamal beranjak masuk ke kamar dimana Raffi berada. Dia dapat menyaksikan apa yang sedang dilakukan temannya itu.
"Udah ketemu?" Gamal menatap Raffi dengan sudut matanya.
"Bentar lagi." Raffi menjawab tanpa menoleh lawan bicara.
"Gue akan coba tanya ke teman-teman dekatnya Elsa ya? Kali aja mereka tahu." Zara mendadak muncul dari ambang pintu.
"Bener itu, Ra! Coba tanya mereka deh." Raffi setuju dengan usulan Zara. Sungguh, dia sekarang sudah tidak peduli dengan aibnya lagi.
__ADS_1
Zara mengangguk. Dia menghubungi teman dekat Elsa satu per satu.