
Warning! Terdapat adegan dewasa di episode ini!
...༻☆༺...
Di sebuah rumah mewah dengan tiga lantai. Terdapat seorang pembantu rumah tangga yang baru selesai membuat hidangan. Dia hanya perlu memanggil tuan mudanya untuk makan.
Pembantu yang sering disapa Bi Nur itu berderap menaiki tangga. Tepat menuju kamar tuan mudanya yang tidak lain adalah Gamal. Namun langkah kaki Bi Nur terhenti, kala mendengar suara erangan perempuan dari dalam kamar.
Bi Nur akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu aktifitas Gamal. Dia hanya berjalan pelan sambil menunduk sendu.
Sementara di dalam kamar. Kasur begerak senada dengan pergerakan Gamal. Perempuan yang ada di bawah badannya adalah Zara. Keduanya saling menyatu dalam tubuh. Tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka. Meskipun begitu, Gamal dan Zara melakukannya dari balik selimut.
Lenguhan Zara kian menjadi-jadi saat Gamal menggigit bibir bawahnya. Cowok itu tidak berhenti bergerak maju mundur.
"Akh! Lo gila, Mal!" ucap Zara ditengah-tengah erangannya. Tubuhnya tidak berhenti bergetar karena ulah Gamal.
"Jangan banyak bacot! Mendesaah aja banyak-banyak!" titah Gamal. Dia semakin melajukan pergerakannya. Hingga benar-benar membuat Zara tidak berhenti melenguh. Mulut cewek itu tak berhenti menganga.
Perlahan Gamal mulai merasakan gebu gairah. Dia menutup mata rapat-rapat sampai mengeluarkan erangan panjang. Mulutnya menganga lebar akibat sudah merasakan puncak hasratnya. Alhasil Gamal mengakhiri kegiatan intimnya dengan Zara. Ia berpindah posisi ke samping dalam keadaan tengkurap.
"Hah... hah... hah..." Gamal masih kesulitan mengatur nafas. Hal serupa juga dirasakan Zara. Masih ada sensasi kenikmatan yang mereka rasakan.
"Setidaknya kalau sama lo, gue lebih nikmatin dari pada sama Om-om..." celetuk Zara sembari memegangi jidatnya.
Gamal terkekeh seraya merubah posisi menjadi duduk. Lagi-lagi dia merokok. Menyalakan, lalu menghisapnya dengan tenang. Gamal kembali rebahan di samping Zara.
"Karena gue ganteng ya?" tanggap Gamal. Dia terlihat mengeluarkan asap rokok dari mulut.
"Mungkin... Tapi bukan berarti gue suka sama lo," balas Zara seraya membuka lebar telapak tangan. Gamal yang mengerti segera memberikan rokoknya.
__ADS_1
"Siapa juga yang suka sama lo!" Gamal tak ingin kalah. Tetapi kenyataannya memang begitu. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan spesial terhadap Zara.
"Ngomong-ngomong, gue sukanya sama temen lo." Setelah berucap, Zara segera menghisap rokok milik Gamal.
"Pasti Raffi kan?" tebak Gamal. Menyebabkan mata Zara otomatis melirik ke arahnya.
"Bagaimana lo tahu?" Zara menuntut jawaban.
"Gue cuman nebak. Cewek mana sih yang nggak suka sama Raffi. Gue nggak nyangka, lo ternyata juga ya. Gue kira lo sukanya yang tua-tua berkumis," ujar Gamal sambil terkekeh geli.
Zara memutar bola mata kesal. Kemudian mengeluarkan kepulan asap dari mulut. Dia mengembalikan rokok kepada Gamal. Mereka membisu selang beberapa saat.
"Pantesan kalau ada Raffi lo sering cari muka. Sok-sokan berlagak kayak gadis polos lagi," komentar Gamal. Dia meletakkan satu tangan ke atas jidatnya.
"Hehehe... meyakinkan banget kan? Gue tahu Raffi itu orangnya nggak tegaan. Makanya gue berusaha jadi gadis baik-baik pas depan dia." Zara berseringai. Dia mengingat momen pertama kali Raffi menghampirinya. Yaitu pada saat dirinya menangis di gudang. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Zara. Alasan dia berada di gudang hanya karena ingin merokok. Namun ketika melihat Raffi muncul, Zara langsung melancarkan aksinya. Sayangnya, Raffi justru memanggil Elsa untuk membantu.
"Lo ingat pas kita berduaan nggak? Pas kita diciduk sama Raffi dan Elsa?" ujar Gamal. Rokok masih tersemat di antara jari-jemarinya. Kepulan asap mulai menyelimuti udara di sekitar.
"Gara-gara teriakan lo kita ketahuan!" geram Gamal. Dia menghela nafas berat.
"Sorry, gue juga punya phobia kali. Biasanya di gudang itu jarang ada tikusnya. Pas lihat tikus, ya gue teriak ketakutan dong. Lagian lo kenapa ngajak begituan di sekolah? Ya pasti ketahuan lah!" Zara merasa tak habis pikir. "Gue saranin jangan di sekolahan lagi," tambahnya memberikan saran.
"Terserah gue! Kan gue yang bayar lo!" sinis Gamal tak peduli.
Zara hanya menggedikkan bahu. Ia malah terpikir akan sesuatu hal lain. "Mal, gue punya ide. Gimana kalau kita kerjasama!" seru Zara.
"Kerjasama apaan?" Gamal penasaran.
"Lo kan suka sama Elsa, dan gue sukanya sama Raffi. Jadi..."
__ADS_1
"Maksudnya, lo mau hancurin hubungan Raffi sama Elsa?" Gamal menerka. Tepat sebelum Zara menjelaskan lebih lanjut.
Zara tersenyum simpul sambil mengangguk dua kali. Dia menutup rapat dadanya dengan selimut.
"Bisa, cuman gue mau fokus sama pencalonan diri buat jadi ketos dulu. Nanti kita pikirin rencananya pas gue udah selesai sama urusan itu," terang Gamal. Dia bangkit dari kasur. Mengenakan celana. Kemudian membuka jendela. Gamal membuang rokok lewat sana. Sepert biasa, cowok itu selalu lupa mematikan rokok yang masih menyala.
"Ya udah kalau gitu." Zara segera mengenakan pakaian. Dia melanjutkan kegiatan dengan pergi ke kamar mandi. Zara yang sudah beberapa kali berkunjung, sudah hapal seluk beluk rumah Gamal.
...***...
Raffi baru saja pulang ke rumah. Dia tampak acak-acakan dari biasanya. Rambut berantakan, seragam baju keluar dari celana, belum lagi bau rokok yang terlanjur menempel di pakaian.
"Astaga, Raffi! Kamu habis dari mana?!" timpal Heni. Dia sangat terkejut menyaksikan penampilan acak-acakan putra semata wayangnya. Benar-benar berbeda dibanding hari-hari biasa.
"Dari sekolah lah, Mah. Aku capek, mau mandi dulu." Raffi menjawab dengan nada malas. Dia melingus pergi melewati ibunya.
Heni reflek menutup hidung ketika mencium bau rokok dari badan Raffi. Matanya sontak membelalak tak percaya.
"Raf... kamu ngerokok ya? Bilang kalau dugaan Mamah salah," ucap Heni. Dia tentu merasa cemas.
Raffi yang sudah berada di lantai dua, berbalik badan. Dia mengembangkan senyuman dan menjawab, "Ini gara-gara Gamal, Mah. Dia yang ngerokok. Makanya nempel di baju aku."
"Syukur deh. Kamu jangan ikut-ikutan ya! Soalnya rokok nggak bagus buat kesehatan. Kamu kan pengen jadi dokter, harus jaga kesehatan kamu dengan baik." Heni memberikan nasehat.
"Iya, Mah." Raffi mengangguk. Lalu melenggang memasuki kamar.
Raffi melepas seluruh pakaian. Hingga menyisakan celana pendek. Dia masuk ke kamar mandi. Menatap dirinya sendiri ke pantulan cermin.
Terlintas dalam benak Raffi mengenai kejadian hari ini. Dari mulai bermesraan dengan Elsa, sampai merokok bersama Gamal. Puluhan kali dia memperingatkan kalau semua itu adalah hal buruk. Apalagi setelah mendengar wejangan dari Heni tadi. Meskipun begitu, entah kenapa Raffi malah terpikir untuk melakukan lagi. Mungkin itulah yang disebut, satu kali dilakukan, maka akan terus-menerus dilakukan.
__ADS_1
Sesuatu hal buruk, memang lebih baik tidak perlu dicoba. Bahkan walau itu cuman satu kali dilakukan. Karena kadang, hal buruk tersebut akan terasa candu. Bak minuman alkohol yang memabukkan.