
...༻☆༺...
Raffi dan kawan-kawan keluar dari mini market. Mereka segera berangkat ke kediaman Tirta. Rumah mewah yang cukup sepadan untuk menghabiskan waktu.
Setibanya di tempat tujuan, Raffi dan yang lain bermalas-malasan. Duduk berkumpul di teras dekat kolam renang. Raffi terlihat mengambil rokok yang dia beli.
"Raf, lo ngerokok?" timpal Elsa tak percaya. Ini adalah pertama kali dirinya menyaksikan Raffi merokok.
"Nggak juga sih. Ini percobaan kedua," jawab Raffi. Tirta yang tadi pergi sebentar, kembali membawakan pemantik. Cowok itu juga terlihat membawa bungkusan plastik.
"Kayaknya Raffi lagi butuh pelarian, El. Lo tenang aja. Dia nggak bakalan mati karena rokok." Gamal ikut masuk ke dalam pembicaraan. Dia juga tampak mengambil sebilah rokok. Parahnya hal serupa juga dilakukan Zara.
Satu-satunya orang yang tidak merokok di tempat itu hanyalah Elsa. Dia merasa miris melihat kelakuan Raffi.
Tepat sebelum Raffi menyalakan rokok, Elsa sudah lebih dulu menghentikan. Cewek itu merebut rokok dari tangan Raffi.
"Kalau lo coba-coba ngerokok, gue tinggalin lo sekarang!" ancam Elsa.
Raffi sontak terdiam. Lalu menghela nafas kasar. Ia ingin marah, tetapi sengaja ditahan.
"Lo kenapa gitu, El? Sekali-kali nggak apa-apa lah. Lagian rokok itu bukan narkoba kok," sinis Tirta. Matanya memicing risih menatap Elsa.
"Gue tahu! Tapi gue cuman nggak mau Raffi jadi ketergantungan. Lo mending urus diri sendiri aja!" tukas Elsa sembari melipat tangan di depan dada. Dia beranjak dari teras kolam renang. Kemudian memilih duduk ke sofa yang ada di dalam rumah.
"Raf, biar gue aja yang temenin Elsa. Lo di sini aja," saran Zara. Dia segera menyusul Elsa. Di salah satu tangannya terdapat sebilah rokok yang menyala.
"Elsa udah pergi. Lo bisa ngerokok kalau mau. Lagian kan tadi lo yang beli. Sayang kalau nggak dipakai," ujar Gamal. Dia sudah menghisap rokoknya. Baru mengeluarkan kepulan asap dari mulut.
"Nggak deh. Nanti Elsa ngambek. Akhir-akhir ini dia emosional. Gue nggak tahu kenapa." Raffi mengeluh sambil menyandarkan punggung ke sandaran sofa.
Mendengar penuturan Raffi, Gamal membulatkan mata. Dia berpendapat, "Emosional ya? Jangan-jangan dia hamil lagi."
Plak!
Raffi langsung melayangkan cap lima jari ke pipi Gamal. Beraninya temannya itu berucap begitu? Memikirkannya saja Raffi tidak mau.
"Jaga omongan lo ya!" geram Raffi. Mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Gamal.
__ADS_1
"Ya ampun gitu aja marah. Lo ternyata sama aja kayak Elsa. Ngambekan!" protes Gamal. Tidak terima pipinya digeplak.
"Btw, ngomongin tentang hamil. Gue mau ceritain kalian sesuatu." Tirta berimbuh. Dia membuka plastik yang tadi sempat di ambilnya bersamaan dengan pemantik.
Pupil mata Raffi dan Gamal membesar, tatkala menyaksikan bungkusan plastik milik Tirta berisi obat-obatan terlarang.
"Anjir! Gue udah nggak nyentuh begituan lagi." Gamal meringiskan wajah.
"Lo gila, Ta?" Raffi menatap tak percaya. Bagaimana tidak? Obat-obatan yang ada di dalam plastik terbilang banyak. Raffi memang sedang oleng sekarang. Namun bukan berarti dirinya akan membenarkan kelakuan Tirta.
"Gue udah kecanduan. Setelah tahu Danu di penjara, gue udah berusaha buat berhenti. Tapi itu sulit banget buat gue. Mal, emangnya lo juga nggak ngalamin hal kayak gue? Melepaskan dari kebiasan ini tuh nggak semudah lo nyontek pas ulangan Biologi." Tirta menatap Gamal dengan ekspresi serius.
"Ulangan Biologi. Bwahaha... emang Bu Santi terlalu baik," komentar Gamal yang justru mengingat kebiasaan menyonteknya saat ulangan Biologi. Bu Santi dikenal sebagai guru yang tidak tegaan. Setiap kali ada ulangan, semua muridnya dibiarkan berbuat sesuka hati agar bisa mendapat nilai bagus.
"Kalian tahu nggak? Pas ulangan Biologi, gue adalah orang yang paling menderita! Dapat panggilan sana sini," ungkap Raffi.
"Elaaah... kalian malah ngomong perkara ulangan Biologi lagi. Mal, cepet jawab pertanyaan gue tadi!" desak Tirta. Berbalik ke topik pembicaraan sebelumnya.
"Ah... itu." Gamal menjeda sejenak. Demi menghisap rokoknya sebentar. Dia meneruskan, "gue akuin emang susah sih. Tapi yakin aja, lo pasti bisa." Gamal memberikan jawaban ambigu. Seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.
"Lo pasti masih belum bisa kan? Jujur aja, Mal." Raffi menatap Gamal dengan sudut matanya.
Raffi mengangguk-anggukkan kepala. Pertanda kalau dirinya mempercayai Gamal. Berbeda dengan Tirta yang tampak kecewa. Cowok itu seakan merasa kehilangan seorang teman.
"Jadi sekarang gue sendirian ya." Tirta mendengus kasar. Ia memasukkan dua butir obat ke dalam mulut.
"Ta!" Raffi berusaha menghentikan. Namun tidak sempat. Tirta sudah terlanjur menelan obat-obatan itu. Alhasil Raffi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Nih rumah sepi kayak rumah gue," ucap Gamal. Pandangannya mengedar ke sekitar.
"Begitu sudah. Nasib kita kan sama, Mal! Sama-sama punya orang tua yang gila kerja." Tirta merebahkan diri ke karpet. Dia mulai terkena pengaruh obat.
"Ngomongin tentang orang tua, gue kemarin berhasil lihat jati diri bokap. Karena itu, gue pengen rajin belajar..." celetuk Gamal. Menyebabkan tawa Tirta pecah seketika.
"Awas ya kalau gue pintar nanti. Gue nggak mau kasih lo contekan!" pungkas Gamal, yang kesal mendengar gelak tawa Tirta.
Ketika kedua temannya sibuk membicarakan perihal orang tua, Raffi terdiam seribu bahasa. Rokok yang tadinya ingin diabaikan, akhirnya diambil oleh Raffi.
__ADS_1
Gamal reflek menatap Raffi. Dia sekarang dapat menebak masalah apa yang sedang menimpa temannya tersebut.
"Bokap sama nyokap lo kenapa?" tanya Gamal.
Raffi sedikit kaget. Ia tidak menyangka, Gamal mampu menebak masalah yang di alaminya. Raffi lantas bercerita. Mengatakan bahwa hubungan kedua orang tuanya tengah berada di ambang jurang kehancuran.
"Pantesan lo stress berat. Lo pasti kaget banget. Kalau gue udah biasa lihat bokap sama nyokap berantem. Parahnya ya, bokap gue itu tahu kalau nyokap gue selingkuh. Tapi anehnya, sampai sekarang mereka tetap bareng tuh," kata Gamal yang terheran dengan hubungan aneh kedua orang tuanya.
"Masalah itu, gue punya dugaan." Tirta menyahut. Masih dalam keadaan rebahan. "Pertama, bokap lo rela pertahanin rumah tangganya demi lo dan saudara-saudara lo. Kedua, bokap lo mungkin juga punya selingkuhan," tambahnya.
Dugaan Tirta yang kedua, langsung membuat mimik wajah Gamal berubah cemberut. Jujur saja, dia tidak pernah terpikirkan akan hal tersebut.
"Hal yang gue tangkap dari pertengkaran bokap sama nyokap, gue yakin kalau bokap gue selingkuh. Nyokap gue kelihatan marah banget. Sebelumnya dia nggak pernah begitu." Raffi mengungkapkan. Benaknya mengingat gambaran tentang bagaimana perdebatan ayah dan ibunya.
Tidak lama kemudian, Raffi dan kawan-kawan tenggelam dalam hening. Membiarkan kepulan asap rokok mulai memenuhi udara.
Di waktu bersamaan, ada Elsa yang sejak tadi berdiri di balik pintu. Dia tidak hanya dapat melihat apa yang dilakukan Raffi, tetapi juga mendengar segala pembicaraan.
"Udah, El. Raffi kayaknya butuh pelampiasan. Biarin aja dulu," ujar Zara. Dia duduk di kursi yang tidak jauh dari posisi Elsa. Sibuk memainkan kedua kakinya yang tertutupi kaos kaki.
Sesi curhat berakhir. Kini Raffi dan Gamal berkumpul untuk bermain playstation. Sedangkan Tirta si tuan rumah, asyik terlena dalam pengaruh obat.
Raffi dan Elsa baru pulang saat sore menjelang malam. Hari itu Raffi bahkan sengaja melewatkan les Matematika untuk Olimpiade-nya nanti.
Saat sudah sampai, Raffi dan Elsa keluar bersama-sama dari mobil. Saat itulah panggilan Heni berseru. Suaranya terdengar dari arah rumah pamannya Elsa.
Raffi dan Elsa langsung menoleh ke sumber suara. Heni dan Fajar terlihat memasang semburat wajah penuh amarah.
"Raf, gimana jika mereka tahu kalau kita bolos?" Elsa mendadak gelisah.
"Gue nggak peduli, El!" sahut Raffi.
"Itu elo yang nggak peduli! Tapi gimana sama nasib gue? Lo pernah mikir nggak sih?" balas Elsa yang semakin memasamkan paras cantiknya.
"Sorry, El." Raffi lekas menyesal. Sungguh, dia sama sekali tidak memikirkan nasib Elsa. Raffi lantas menggeggam jari-jemari Elsa dengan erat. Dia berucap, "Lo tenang aja. Kita hadapi orang-orang egois itu sama-sama!"
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Maaf akhir-akhir ini jarang up tiap hari. Semuanya karena kemarin aku lagi fokus tamatin novel yang satunya. Tapi sekarang tenang aja, mulai hari ini novel ini akan up tiap hari. Terus kalau kalian rajin komen, author bakal kasih doubel up. Aku berusaha pastikan juga, minggu depan novel ini akan berakhir. Semoga betah terus ya...