
...༻☆༺...
Raffi merebahkan diri ke kasur. Keinginannya dikabulkan oleh Heni dan Irwan. Raffi tidak tidur sendirian. Ada Mamat yang menemaninya. Mamat merupakan anak pembantu neneknya. Berperawakan gemuk dan berperut buncit.
Bukannya tidur dengan tenang, Raffi malah sangat terganggu. Suara dengkuran Mamat sangat nyaring. Belum lagi bau badan yang dikeluarkan lelaki yang berusia dua puluh tahun tersebut.
Raffi sangat benci keadaan seperti sekarang. Jiwa anak kota yang tak tergerus, muncul begitu saja dalam dirinya. Raffi bahkan beberapa kali mengusap tubuhnya seolah membersihkan kotoran dari sana. Di akhir, cowok itu akhirnya memilih tidur di lantai.
Keesokan harinya, Raffi bangun di pagi buta. Dia berlari keluar kamar dan duduk di ruang tengah. Menatap lukisan-lukisan di dinding yang menurutnya terasa mengerikan.
"Kamu udah bangun ya?" Fatma menangkap sosok Raffi yang asyik duduk sendirian. Dia lantas datang mendekat.
"Iya, Nek." Raffi menjawab singkat. Ia sedikit bergeser untuk memberikan ruang neneknya duduk.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Fatma. Dia membawa Raffi masuk ke dalam rangkulan. Bau orang tua yang khas otomatis tercium oleh hidung Raffi.
"Baik kok, Nek. Lancar..." lirih Raffi.
"Syukurlah... kamu tidak pacaran kan?" Fatma kembali bertanya.
"Hehe..." Raffi hanya terkekeh sambil membuang muka.
Fatma tersenyum. "Kalau pacaran kamu harus hati-hati. Jaga pergaulan baik-baik toh. Apalagi kamu itu lelaki. Seorang lelaki yang baik harus menjaga perempuannya dengan baik juga. Bukannya malah memanfaatkan untuk melampiaskan naf*su belaka. Hubungan yang seperti itu tidak akan berakhir dengan baik. Soalnya di zaman sekarang, nenek sering sekali mendengar cerita anak remaja yang hamil di luar nikah," ujarnya memberikan wejangan panjang lebar. Logat jawanya terdengar masih kental.
'Mulai deh...' batin Raffi sembari menurunkan kepala bak seekor kura-kura. Dia duduk dalam keadaan memeluk lutut.
"Iya, Nek. Aku berusaha gitu kok," sahut Raffi. Mendadak dia teringat akan sikap Elsa terhadapnya. Alhasil Raffi memilih untuk bertanya.
"Tapi, gimana kalau ceweknya malah marah?" pungkas Raffi. Menyebabkan dahi Fatma mengerut dalam.
"Marah? Memangnya marah karena apa dulu?" Fatma melakukan tatapan selidik. Lewat pertanyaan Raffi tadi, kini dia mengetahui satu hal. Bahwasanya Raffi sudah memiliki pacar.
__ADS_1
Raffi membisu. Dia akhirnya memilih tidak melanjutkan pembicaraan.
"Kalau perempuannya marah, ya ditanya dong alasan dia marah karena apa. Jangan diam aja." Fatma menepuk pundak Raffi karena merasa gemas. Selanjutnya, dia mengajak Raffi pergi ke dapur. Mereka akan mempersiapkan sarapan bersama-sama.
Saat siang hari, Raffi diajak menghabiskan waktu di kebun. Di sana dia dan ayahnya di suruh memanen buah tomat matang.
"Ah... ini bukan liburan namanya, Pah! Tapi kerja rodi!" keluh Raffi seraya mengusap keringat yang ada di pelipis. Dia mendapatkan tugas mengangkut tomat yang telah dipetik.
"Kalau capek, istirahat dulu sana!" tanggap Irwan.
"Beneran, Pah? Ya udah, aku istirahat dulu ya. Sekalian keliling juga." Raffi bergegas berlari meninggalkan perkebunan.
Irwan yang melihat hanya tersenyum dan menggeleng maklum. Dia tidak tahu kalau Raffi sudah pergi menggunakan sepeda. Putranya itu berniat tidak akan kembali ke kebun.
Raffi bersepeda tak tentu arah. Meskipun begitu, dia berusaha mengingat jalan kembali untuk pulang.
Ketika menyaksikan aliran sungai yang dipenuhi bebatuan, Raffi memutuskan untuk berhenti. Dia membasuh wajahnya dengan air. Rasa panas yang diakibatkan oleh terik sinar matahari terasa sirna.
Raffi duduk sebentar di bebatuan. Menikmati udara bersih yang mungkin tidak akan pernah didapatkannya saat di kota.
Mata Raffi menyipit. Memperjelas sosok gadis yang dilihatnya. Sebab dia merasa tidak asing.
Setelah menelusuri ingatannya, Raffi akhirnya menemukan jawaban. Dia ingat kalau gadis yang dilihatnya sekarang adalah anak kelas sepuluh di sekolahnya. Gadis yang selalu diserang rasa gugup. Raffi ingat wajahnya, tetapi tidak tahu namanya.
"Eh, elo anak kelas sepuluh itu kan?" tegur Raffi.
Gadis yang tidak lain adalah Fitri, segera menoleh ke arah Raffi. Matanya langsung membulat sempurna. Dia merasa dibuat kaget menyaksikan kehadiran Raffi di depan mata.
"Ka-kak... Raffi..." Fitri tergagap. Dia termangu di tengah-tengah aliran sungai yang deras. Tanpa terasa, Fitri lengah. Keranjang yang ada dalam genggamannya hanyut dibawa air.
"Eh, keranjang lo!" Raffi bergegas masuk ke sungai. Dia berusaha menyelamatkan keranjang Fitri yang hanyut.
__ADS_1
Fitri yang sedari tadi terpaku, akhirnya ikut gelagapan. Dia segera mengejar keranjangnya yang dipenuhi ubi. Untungnya di sungai ada banyak bebatuan, jadi keranjang Fitri dengan mudah tersangkut.
Raffi yang posisinya berada paling dekat dengan keranjang. Segera memberikan keranjang itu kepada Fitri.
"Nih! Ngomong-ngomong lo ngapain di sini?" tanya Raffi.
"Makasih..." Fitri tersenyum sambil menundukkan kepala. "Aku ke sini cuman buat ngisi waktu liburan aja, Kak. Sekalian bantu-bantu kerjaan Kakek," ujarnya memberitahu.
"Oh, begitu... Sini! Biar gue bantu nyuci ubi lo." Raffi menawarkan diri untuk membantu.
"Nggak usah repot-repot, Kak. Aku bisa sendiri kok." Fitri mencoba menolak. Namun Raffi memaksa.
Fitri akhirnya tidak bisa menolak lagi. Dia hanya menggigit bibir bawahnya. Lalu memperhatikan penampilan sendiri dari ujung kaki hingga kepala. Fitri mengenakan pakaian lusuh dan kotor. Belum lagi tubuhnya sangat belepotan dengan tanah.
"Ngomong-ngomong, rumah kakek lo dimana?" Raffi memulai pembicaraan. Dia tahu Fitri gadis pendiam. Makanya Raffi harus memulai pembicaraan lebih dulu.
"Di sana, Kak. Dekat kebun besarnya Mbah Fatma." Fitri menunjuk ke arah rumah kakeknya berada.
"Lo ternyata tahu sama nenek gue?" Raffi bertanya sambil sibuk membersihkan ubi dari tanah. Hal serupa juga dilakukan Fitri.
"Mbah Fatma itu neneknya Kakak? Wah... pantesan..." Fitri tampak terkejut. Lalu mengembangkan senyuman manis. Gadis itu memiliki kulit kecokelatan dan berhidung mancung. Jika didefinisikan, Fitri merupakan perwujudan nyata gadis khas Indonesia. Ramah, manis dan sopan.
"Pantesan apa?" Raffi menuntut jawaban. Ia sekarang berhenti membersihkan ubi. Menatap lurus ke arah gadis manis nan pendiam di hadapannya.
Pipi Fitri bersemu merah. Sedari tadi jantungnya tidak berhenti berdetak kencang. Bagaimana tidak? Dia menemukan dirinya berinteraksi dengan sosok Raffi. Semuanya terjadi begitu saja karena keranjang ubi yang hanyut dibawa air.
"Pantesan sikap Kakak bijak seperti Mbah Fatma. Beliau itu jadi panutan orang-orang kampung sini loh, Kak. Terus Kakek aku juga kadang kerja bantuin panen kebun Mbah Fatma. Sekarang kebetulan beliau lagi sibuk." Fitri menjelaskan dengan lembut.
"Nenek gue itu emang tukang ceramah." Raffi menanggapi. Fitri lantas hanya bisa terkekeh malu.
Raffi dan Fitri sudah selesai membersihkan ubi. Sekarang Fitri bergegas ingin pergi.
__ADS_1
"Gue boleh ikut lo nggak? Sumpek gue di rumah nenek. Gue juga nggak punya temen. Lagian kayaknya lo lebih tahu seluk beluk desa ini dibanding gue." Raffi menyamakan langkahnya dengan Fitri.
"I-ikut? Kakak mau ikut aku?" Fitri menunjuk dirinya sendiri.