
...༻☆༺...
Setengah jam sebelum Elsa dan kawan-kawan meninggalkan kelas, Gamal dan Zara berjalan beriringan. Keduanya sama-sama membawa tas ransel. Hanya Gamal yang menenteng tas dengan satu tangan. Tasnya terlihat sangat ringan. Kemungkinan dia hanya membawa satu buah buku hari itu.
Dari arah depan, ada Erin yang berdiri memperhatikan Gamal. Sepertinya cewek itu masih menyukai Gamal. Walau gosip pacaran mengenai Gamal dan Zara telah beredar luas.
Erin memegang sebuah tas karton di tangannya. Pupil matanya membesar ketika melihat Gamal kian mendekat.
"Kak Gamal! Aku mau--"
"Minggir!" Gamal mendorong dengan tatapan jengah. Menyebabkan perkataan Erin terpotong. Cewek itu otomatis terhuyung ke belakang. Untung saja dia tidak jatuh.
Erin tercengang. Dia hanya bisa melayangkan tatapan nanar kepada Gamal. Belum sempat berucap kembali, Zara ikut-ikutan mendorongnya. Kini Erin benar-benar terjatuh ke lantai.
"Eh, sorry, Dek. Sengaja!" ujar Zara sembari melenggang mengikuti Gamal kembali.
Erin memasang raut wajah masam. Dia tentu kesal terhadap perlakuan Zara. Cewek itu segera berdiri atas bantuan dua temannya. Mereka mengejek Zara habis-habisan dari belakang.
Zara terlihat mampu menyamakan langkahnya dengan Gamal. Dia sekarang berjalan berbarengan dengan kekasihnya itu.
"Erin kayaknya masih suka tuh. Lo sempat cocol dia ya?" timpal Zara yang ingin tahu.
"Nggak kok. Gue cuman sempat cocol bibirnya. Tuh cewek polos banget. Nggak seru! Kaku kayak robot." Gamal menghentikan pergerakan kaki. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Bahkan letak kamera CCTV sekalipun.
"Pfffft! Lo kenapa juga deketin dia." Zara terkekeh sambil meletakkan sikunya ke bahu Gamal.
"Karena dia cantik! Apa lagi coba." Gamal memberikan alasan. Setelah memastikan semua aman, dia mengambil sebatang rokok serta pemantik dari dalam tas.
"Gila lo! Kita masih di lingkungan sekolah," tegur Zara. Dia mengekori Gamal yang sudah kembali berjalan.
"Kita mau pergi juga. Guru-guru pada masih di kantor semua." Gamal menanggapi dengan santai. Dia dan Zara tiba di parkiran. Menghampiri mobil, lalu masuk ke dalam.
__ADS_1
Gamal membuka jendela mobil. Di sana dia menyalakan rokoknya secara terang-terangan. Para murid yang lewat silih berganti, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Lo serius tentang masalah Danu itu? Emang uang lo banyak banget ya? Lo juga udah janji mau beliin gue apartemen," cetus Zara sembari mengamati Gamal. Cowok itu tengah asyik mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut. Menyandarkan tangannya ke jendela mobil yang terbuka.
"Seriuslah. Kita nggak punya pilihan lain," jawab Gamal tenang.
Tanpa sepengetahuan Gamal, Bu Lestari muncul dari pintu sebelah kanan. Nampaknya ada siswa yang mengadukan kelakuan Gamal kepadanya.
"Gamal!" panggil Bu Lestari sambil berjalan menghentak ke arah mobil Gamal. Semburat wajahnya menampakkan garis-garis penuh amarah. Dia heran kenapa Gamal tidak pernah kapok melanggar peraturan sekolah.
"Astaga! Bu Lestari, Mal!" seru Zara yang panik. Dia hendak turun dari mobil. Namun Gamal tidak membiarkan. Cowok itu justru mengunci pintu mobil dan bergegas menutup jendela.
Zara membulatkan mata, saat Gamal tiba-tiba melajukan mobil. Meninggalkan area sekolah dengan cepat. Kini mobilnya melaju di jalanan beraspal. Gamal bahkan tidak menoleh ke belakang untuk sekedar melihat keadaan Bu Lestari.
"Lo emang gila!" cibir Zara sembari mengikik geli. Hal serupa juga dilakukan Gamal. Dua insan itu malah kegirangan.
Zara mengaitkan rambutnya ke salah satu telinga. Dia berhenti tertawa, dan menatap lekat Gamal dengan sudut matanya. Entah kenapa sisi Gamal yang suka berbuat onar terasa sangat keren untuknya. Yup! Untuk sebagian cewek, badboy itu keren.
Tanpa pikir panjang, Zara menyambar bibir Gamal dengan mulutnya. Cewek itu sama sekali tidak memikirkan dimana dirinya sekarang berada. Zara nekat mendudukkan diri ke pangkuan Gamal. Padahal kekasihnya tersebut masih sibuk menyetir.
Jalan mobil Gamal menjadi tersendat. Penglihatannya tertutupi karena ulah Zara. Tetapi cewek itu malah semakin bergerak liar. Memagut bibirnya dengan lihai seperti biasa. Membuat Gamal tidak kuasa menolak. Rokok yang masih tersemat di jari-jemarinya harus dianggurkan sebentar.
Suara klakson mobil terdengar bersahutan saat mobil Gamal tiba-tiba berhenti di tengah. Mereka berusaha menegur cara mengemudi Gamal.
"Woy! Ini jalan umum! Bukan punya bapak lo!" terdengar suara seorang sopir angkot menggeram kesal. Dia tidak tahu orang yang di dalam mobil masih anak SMA.
Gamal tersadar dengan teguran bapak sopir tadi, dia bergegas mendorong Zara. Hingga tautan bibir mereka harus terlepas.
Tanpa sepatah kata pun, Gamal segera menepikan mobil ke pinggir jalan. Tepat ke bawah sebuah pohon besar. Jalur lalu lintas akhirnya lancar kembali.
"Lo kenapa?" tanya Gamal. Menatap Zara yang masih duduk di pangkuan.
__ADS_1
"Lo keren banget! Bikin gue kegatelan tau!" balas Zara. Dia kembali menyerang Gamal dengan cumbuan. Tangan Zara bergerak cepat membuka kancing baju Gamal.
Sambil sibuk menerima sentuhan Zara, Gamal diam-diam membuang rokok ke luar jendela. Seperti biasa, cowok itu selalu membuang rokok saat masih menyala. Selanjutnya, Gamal ikut bermain ke dalam permainan Zara yang terasa memabukkan. Keduanya melupakan masalah mereka dalam sejenak.
...***...
Raffi menghampiri Elsa. Dia langsung menanyakan keberadaan Gamal dan Zara. Tetapi Elsa tidak tahu dimana dua sejoli itu berada.
"Mungkin mereka udah pulang? Tadi sebelum gue beranjak keluar gerbang, gue sempatin cari mereka. Tapi gue nggak lihat mereka dimana-mana tuh," terang Elsa. Menampakkan gari-garis kecil di dahinya. Saat itulah dia dan Raffi tidak sengaja mendengar pembicaraan dua siswa yang lewat. Dua siswa tersebut membicarakan perihal kelakuan Gamal yang nekat melarikan diri dari Bu Lestari.
"Eh, tunggu! Lo bilang apa? Gamal kabur? Maksud lo?" cegat Raffi. Langsung mencecar dengan banyak pertanyaan.
"Itu Gamal, tadi dia ngerokok di mobil. Tapi pas Bu Lestari tegur, dia kabur begitu aja sama mobilnya. Keterlaluan banget nggak sih," ujar siswa yang ditanyai Raffi. Dia dan temannya segera pergi.
"Kemungkinan mereka udah pulang." Elsa menarik kesimpulan.
Raffi membentuk bogem di kedua tangan. Dia mencoba bersabar. Dirinya hanya heran, kenapa Gamal tidak pernah berhenti membuat ulah?
"Udah, Raf. Mending kita cari mereka dulu. Masalah Danu lebih penting sekarang." Elsa menautkan tangannya ke jari-jemari Raffi. Usahanya berhasil meredakan amarah cowok itu.
Raffi dan Elsa akhirnya pergi. Mereka mengendarai mobil seperti biasa. Berniat mencari dua teman bobrok yang tingkat keparahannya sudah tidak ketolongan.
Raffi sebenarnya bisa saja tidak peduli. Dia terlalu takut Gamal akan membocorkan apa yang pernah dilakukannya. Dari mulai meminum alkohol sampai mengkonsumsi narkoba secara tidak sengaja. Belum lagi apa yang sudah diperbuatnya bersama Elsa. Itulah hal yang paling membuat Raffi khawatir.
Mobil berjalan tenang. Raffi dan Elsa saling terdiam. Elsa sendiri sibuk menghubungi Gamal dan Zara melalui telepon. Namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. Tidak berselang lama atensinya dan Raffi dialihkan ke mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Itu mobil Gamal kan?" Elsa memastikan.
"Coba kita pastiin!" Raffi memutar setir. Kemudian menghentikan mobil. Berdekatan dengan mobil yang dia curigai milik Gamal.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Mau tanya, menurut kalian badboy itu keren?