Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 76 - Kabar Tes Urin


__ADS_3

...༻☆༺...


"Gue bakalan beliin lo apartemen. Beneran deh!" goda Gamal yang sudah bertekad.


"Muka lo babak belur tuh, masih aja kelakuan lo gini!" protes Zara sembari mendengus kasar. Meskipun begitu, dia sebenarnya agak tergoda dengan tawaran Gamal. Kebetulan kartu debit yang diberikan Gamal kemarin tidak cukup untuk dibelikan sebuah apartemen. Salah satu mimpi Zara memang adalah memiliki tempat tinggal yang menjanjikan. Terutama ketika nanti harus angkat kaki dari panti asuhan.


"Jadi lo nggak mau?" Gamal memastikan. Sukses membuat Zara gelisah. Alhasil cewek itu setuju untuk pergi ke belakang sekolah. Gamal yang merasa menang, merekahkan senyuman lebar.


Suasana sekolah masih riuh. Sebab kegiatan belajar belum diberlakukan di hari pertama. Seluruh murid diwajibkan untuk membersihkan kelas, serta beberapa ruangan umum lainnya. Namun tidak untuk Gamal dan Zara, keduanya malas sibuk melakukan hal tidak senonoh. Tepat di lokasi paling sepi sekolah. Sebuah tempat yang dipenuhi meja dan kursi tidak terpakai.


Zara duduk di atas meja. Sedangkan Gamal berdiri di hadapannya. Satu tangan Gamal sibuk bermain di dalam rok Zara. Membuat kedua kaki Zara otomatis terbuka lebar. Sampai menyebabkan rok abu-abunya menyusut ke pangkal paha.


Zara mencengkeram erat seragam putih Gamal. Ia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara lenguhan.


"Jangan di tahan, Ra. Gue suka desahaan lo," bisik Gamal pelan.


Zara tidak kuasa untuk tidak mengangakan mulut. Matanya memejam rapat akibat merasakan kenikmatan dari naf*su yang tiada tara. Memang hal terlarang selalu terasa nikmat saat dilakukan.


"Akh!" erang Zara dengan dahi yang berkerut dalam. Dua tangannya bergerak tidak karuan.


"Ingat! Habis ini giliran gue ya..." Gamal kembali berbisik. Lalu menggigit pelan kuping Zara.


"Bu Lestari! Sini!" suara seruan orang yang kian mendekat, membuat Gamal dan Zara gelagapan. Keduanya berhenti melakukan kegiatan intim. Lalu bergegas bersembunyi ke balik dinding.


"Kan gue udah bilang, jangan di sekolah!" geram Zara dengan nada suara berbisik. Namun Gamal sama sekali tak hirau. Ia justru sibuk mengintip orang yang berseru tadi.


Terlihat Bu Anita mengajak Bu Lestari bicara empat mata. Nampaknya ada hal serius yang ingin mereka bicarakan. Gamal dan Zara lantas mengambil kesempatan untuk menguping.


"Ibu udah dengar kabar tentang Danu nggak?" tanya Bu Anita yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Bu Lestari.


"Gini, Bu. Kakakku kan kerja di bagian forensik. Katanya hasil tes urin Danu menunjukkan dia positif narkoba. Parahnya ada kandungan alkohol juga," terang Bu Anita dengan mimik wajah sedih. Dia kebetulan wali kelas Danu dan kawan-kawan. Makanya Bu Anita harus banyak turun tangan untuk menangani muridnya yang bermasalah.

__ADS_1


"Astaga..." Bu Lestari kehabisan kata-kata. Ia tidak menduga anak seperti Danu memiliki tingkat kenakalan sampai ke tahap itu.


"Aku takut, Danu nggak sendiri..." ungkap Bu Anita.


"Terus Danu-nya bilang apa? Dia ngaku nggak?" cecar Bu Lestari.


"Aku nggak tahu informasi selanjutnya. Mungkin lebih baik kita jenguk langsung aja ke sana," saran Bu Anita. Dia dan Bu Lestari segera kembali ke ruang guru. Mereka sepertinya akan memberitahukan kabar tentang Danu, kepada guru-guru lain.


Gamal dan Zara langsung dirundung rasa cemas. Keduanya tentu takut apa yang terjadi di klub malam akan terbongkar.


"Kita harus bicara sama Raffi!" ujar Gamal. Dia yang diserang perasaan panik, memutuskan untuk segera menemui Raffi.


Gamal melajukan langkahnya menyusuri koridor. Di ikuti oleh Zara dari belakang. Gamal singgah sebentar di depan sebuah kran air. Lalu mencuci tangannya dengan cepat.


"Mal, Raffi ada di UKS!" ucap Zara. Menyebabkan pergerakan kaki Gamal sontak berhenti. Cowok itu berbalik arah dan berjalan melalui koridor menuju UKS.


...***...


"Kamu udah di obati?" tanya Bu Vita. Dia merupakan guru yang mendapat tanggung jawab sebagai pembina organisasi PMI, alias Palang Merah Indonesia.


"U-udah, Bu. Baru aja tadi sama Elsa," jawab Raffi tergagap. Ia dan Elsa saling gelagapan.


"Syukur deh... lagian ngapain kamu sampai berantem segala. Bukan gaya kamu banget. Jangan berantem lagi. Nanti Ibu kurangin nilai kamu! Ibu nggak suka!" Bu Vita memberikan ancaman.


"Iya, Bu. Aku khilaf. Hehe..." Raffi mengusap tengkuk dengan perasaan malu.


Gamal mendadak muncul dari balik pintu. Dia mengajak Raffi untuk bicara.


"Lo mau apa? Gue nggak mau berantem lagi ya," tukas Raffi. Menduga Gamal akan memarahinya lagi.


"Nggak! Gue mau ngomong serius. Ikut gue!" balas Gamal. Ekspresi wajahnya memang tidak terlihat marah. Akan tetapi cenderung seperti sedang gelisah.

__ADS_1


"Ngomong di sini aja kali. Apaan sih?!" Raffi yang tak mengerti terus saja berprasangka buruk.


"Eh, kalian jangan berantem lagi!" Bu Vita yang sedari tadi duduk di kursi langsung angkat suara. Ia tidak akan membiarkan perkelahian terjadi untuk yang kedua kalinya. Tanggapan Raffi membuatnya ikut menduga yang tidak-tidak.


"Nggak, Bu. Aku beneran cuman mau ngomong aja sama Raffi," jelas Gamal. Kemudian menatap penuh harap kepada Raffi.


"Raffi! Gamal beneran mau ngomong serius. Ini penting!" Zara yang baru datang, langsung memastikan niat kedatangan Gamal.


Raffi terdiam seribu bahasa. Dia menatap Gamal dan Zara secara bergantian. Memastikan kesunggguhan dua orang yang sulit dipercaya tersebut.


"Bu, Gamal mau selesaikan masalah sama Raffi. Aku jamin mereka nggak bakalan berantem lagi." Zara mencoba meyakinkan Bu Vita.


"Ya sudah, silahkan bicara kalau begitu." Bu Vita mengizinkan. Namun dia tidak kunjung beranjak pergi.


Gamal otomatis tidak dapat bicara dengan leluasa. Dia mengajak Raffi dan Elsa bicara di luar. Sebelum pergi Gamal diam-diam berbisik, "Ini tentang Danu. Dia baru aja selesai tes urin..."


Mata Raffi sontak membulat. Cowok pintar sepertinya tentu langsung mengerti. Tanpa pikir panjang, dia dan yang lain keluar dari UKS. Bu Vita yang melihat hanya geleng-geleng kepala.


Raffi, Gamal, Elsa dan Zara berkumpul di belakang sekolah. Tempat teraman untuk membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia.


Gamal memberitahukan semuanya. Raffi dan Elsa otomatis dibuat kaget. Kini mereka dirundung perasaan panik.


"Gawat kalau Danu bilang semuanya sama polisi," gumam Raffi seraya berjalan bolak-balik tidak karuan.


"Itu maksud gue! Gimana dong?" Gamal menyandar lemah ke dinding. Sesekali dia mengusap kasar rambut cepaknya.


"Mungkin kita harus ngomong langsung sama Danu. Kayaknya itu yang terbaik," saran Elsa.


"Benar. Tapi masalahnya, gimana kalau Danu nggak mau kerjasama?" Raffi membuang nafas berat.


Gamal berusaha tenang sebentar. Dia memang tipe orang yang suka berpikir ketika berada dalam keadaan terdesak. Hingga terlintas sebuah ide dalam benaknya. Tanpa berpikir lama, cowok itu segera memberitahukan rencananya kepada Raffi dan kawan-kawan.

__ADS_1


Raffi, Elsa dan Zara, lantas memasang mimik wajah masam. Ide Gamal memang brilian, tetapi kemungkinan akan membuat Danu kecewa. Mereka merasa tidak tega. Namun diamnya mereka membuktikan persetujuan. Raffi dan kawan-kawan tidak punya pilihan lain.


__ADS_2