
...༻☆༺...
Seorang lelaki melangkah masuk dengan sepatu pantofel yang menghentak. Sosok yang seketika menarik banyak perhatian para polisi. Dia mendapatkan sambutan sangat baik.
Raffi dan kawan-kawan ikut menoleh ke arah sosok yang sedang menjadi pusat perhatian. Mereka dibuat begitu kaget. Terutama saat menyadari orang itu adalah Pak Ervan.
Ternyata selain menjadi guru, Pak Ervan juga sering membantu menangani konseling remaja bermasalah di kantor polisi. Bagi Pak Ervan, hal tersebut merupakan bakti yang dilakukannya sebagai penggelut dunia konseling.
Sama seperti Raffi dan yang lain, Pak Ervan juga terkejut. Meskipun begitu lelaki berusia tiga puluh tahun itu berusaha untuk tetap profesional.
Satu per satu Raffi dan kawan-kawan dipersilahkan bicara dengan Pak Ervan. Tepat di sebuah ruangan tertutup, namun tidak semenyeramkan ruang interogasi.
Raffi menjadi orang yang pertama menghadapi Pak Ervan. Dia berusaha sebisa mungkin agar bisa merasa tenang.
"Kamu bisa percaya sama Bapak. Pak Polisi sudah menceritakan masalah yang menimpa kalian secara kesuluruhan." Pak Ervan menjadi orang yang mengawali pembicaraan.
Sebelum bicara, Raffi menelan ludahnya terlebih dahulu. Menundukkan kepala dan membalas, "Maaf Pak... semuanya gara-gara aku..."
"Raffi, Bapak di sini tidak mau menyalahkan siapapun. Tetapi Bapak hanya ingin tahu alasan kalian bisa terlibat sampai sejauh itu?" tanggap Pak Ervan. "Sebenarnya apa hal yang sudah membuatmu gelisah? Bapak pikir kamu bukan anak yang bermasalah. Kamu anak baik Raffi, Bapak tahu itu."
Raffi lantas menceritakan semuanya. Tidak tanggung-tanggung, dia memberitahukan kesalahan yang pernah dilakukannya kepada Pak Ervan. Termasuk tentang hubungannya dengan Elsa.
"Sekarang Elsa hamil, Pak. Kemungkinan sebentar lagi kami akan menikah, kami terpaksa harus berhenti sekolah..." ungkap Raffi dengan perasaan berat hati. Tentu itu tidak mudah untuk dikatakannya.
Akibat merasa bersalah, Raffi tidak kuasa menahan tangis. Sekarang hanya ada penyesalan yang dia rasakan.
__ADS_1
Pak Ervan segera menenangkan dengan mengusap lembut pundak Raffi. Dia tidak lupa memberikan air putih agar salah satu muridnya itu bisa merelakan apa yang terjadi.
"Raf, semua yang kita lakukan pasti ada resikonya. Baik atau buruk, karma alam pasti akan bertindak. Jadikan saja apa yang kamu dapatkan sekarang sebagai pembelajaran," tutur Pak Ervan yang langsung di respon Raffi dengan anggukan.
"Kalau sudah tenang, kamu bisa keluar. Panggilkan Gamal untuk masuk ke sini," ujar Pak Ervan.
Raffi berdiri dan langsung menghilang ditelan pintu. Tidak lama kemudian, sosok Gamal muncul.
"Pak, semua teman-temanku nggak salah. Penyebab kebakaran hutan itu karena rokok yang aku buang. Teman-temanku nggak salah apa-apa!" Gamal yang sudah terlanjur ketakutan, segera angkat suara.
"Bapak di sini nggak mau menyalahkan siapa-siapa? Bapak di sini mau mengetahui kesadaranmu terhadap sesuatu yang salah dan benar. Satu hal lagi, Bapak sudah melihat hasil tes urine. Kamu dan Zara terbukti positif mengkonsumsi narkoba," tukas Pak Ervan. Menuntut penjelasan.
Gamal tidak punya pilihan selain memberitahukan kebenaran. Dia memutuskan mempercayai Pak Ervan seperti Raffi. Gamal menjadi orang yang bicara paling lama dengan Pak Ervan.
"Awalnya aku berpikir kalau kesalahan yang kulakukan akan memberikan kebahagiaan. Dan jika masalah itu besar, aku selalu berharap ayah dan ibuku bisa lebih perhatian. Tetapi... apapun yang aku lakukan, tidak ada yang berubah sama sekali..." Gamal akhirnya terisak. Dia meluapkan semua kesedihan.
"Penyesalan memang datang di akhir. Tetapi, jika kita masih punya waktu, tidak ada kata terlambat untuk kita," ucap Pak Ervan. Menyebabkan rekahan senyum terukir di wajah Gamal.
Gamal merasa lebih lega selepas bicara dengan Pak Ervan. Orang berikutnya yang harus menemui Pak Ervan segera beranjak. Dia tidak lain adalah Elsa.
"Kamu satu-satunya orang yang tidak terlibat insiden kebakaran. Jadi Bapak hanya ingin mengobrol santai denganmu. Raffi sudah cerita semuanya," ujar Pak Ervan.
Elsa tersenyum kecut. Dia merasa sangat malu dan hanya bisa menundukkan kepala. Rasanya Elsa benar-benar ciut untuk sekedar bicara.
"Tidak apa-apa, Elsa. Kamu tidak perlu malu. Bapak justru salut sama kamu." Perkataan Pak Ervan kini berhasil membuat Elsa mendongakkan kepala.
__ADS_1
"Kamu pemberani dan bertanggung jawab. Banyak cewek seumuran kamu di luar sana yang nekat menggugurkan kandungannya sendiri," lanjut Pak Ervan. Berniat melegakan pikiran Elsa. Akan tetapi cewek itu malah mendadak menangis.
"Enggak, Pak... aku juga sama aja kayak cewek-cewek di luar sana. Aku juga pernah gugurin kandunganku..." ungkap Elsa sembari menangis histeris.
Pak Ervan tidak mengatakan apapun. Ia hanya membelalakkan mata karena merasa sangat terkejut.
"Tapi aku rahasiakan semua itu dari semua orang. Termasuk Raffi... dia nggak tahu kalau aku sudah hamil dua kali," sambung Elsa. Menyebabkan Pak Ervan memancarkan tatapan tak percaya. Meskipun begitu, Pak Ervan berusaha untuk tidak memarahi atau menimpali Elsa dengan rasa bersalah. Bila itu dilakukan, maka pikiran Elsa kemungkinan akan bertambah stress.
"Kamu sebaiknya bicarakan semua ini sama Raffi dulu. Selanjutnya, barulah sama keluarga kamu. Elsa... memendam masalah sendirian itu nggak baik. Jika sudah tidak sanggup, kamu harus menceritakan semuanya kepada seseorang, ya." Pak Ervan berupaya keras menghentikan tangisan Elsa. Jujur saja, dia merasa kasihan dengan siswinya tersebut. Namun mau bagaimana lagi? Alam memang sudah terlanjur memberikan hukuman kepadanya.
Sesi pembicaraan Elsa dan Pak Ervan selesai sampai di sana. Orang terakhir yang berhadapan dengan Pak Ervan adalah Zara. Berbeda dari teman-temannya, Zara langsung mengucapkan secara gamblang kesalahan yang pernah dia lakukan.
"Aku sebenarnya selalu berniat untuk berubah. Tapi keadaan selalu tidak mendukung. Cari uang sendiri aja susah," ungkap Zara seraya tersenyum. Dia tidak menangis seperti teman-temannya.
"Alangkah bagusnya, kamu cari duitnya dengan pekerjaan yang halal. Itu baru bagus. Keahlian kamu memangnya apa?" Pak Ervan membolakan matanya.
"Yang jelas aku suka pelajaran Biologi. Itu aja. Aku nggak tahu keahlianku apa," jawab Zara.
"Kalau begitu Bapak nanti akan periksa nilai-nilai Biologi kamu. Jika benar-benar bagus, mungkin Bapak bisa merekomendasikan ke salah satu Universitas. Jurusan Kedokteran akan cocok buat kamu," ujar Pak Ervan.
"Makasih, Pak..." Sekali lagi Zara tersenyum. Lalu dipersilahkan keluar ruangan.
Raffi dan kawan-kawan tidak diperbolehkan pulang, sebelum orang tua atau wali mereka datang. Jadi sekarang mereka harus berhadapan dengan keluarganya masing-masing.
Satu hal yang pasti. Raffi dan Elsa tidak akan mendapat hukuman apapun. Mereka hanya dinyatakan sebagai saksi mata. Meskipun begitu, keduanya tetap diharuskan menjalani sesi rehabilitasi berupa konseling.
__ADS_1
Zara sebenarnya juga memperoleh nasib yang sama seperti Raffi dan Elsa. Akan tetapi rehabilitasi yang dijalaninya berupa rehabilitasi narkoba. Hal serupa juga menimpa Tirta. Tepat ketika cowok itu sudah sehat kembali.
Sementara Gamal, menjadi satu-satunya orang yang terancam hukuman penjara. Dia harus menanggung resiko karena telah menyebabkan separuh hutan terbakar.