Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 101 - Perubahan Raffi


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan Elsa sedang rebahan bersama. Di rerumputan hijau yang nyaris menutupi keberadaan mereka. Keduanya sama-sama sibuk mengatur nafas. Akibat kegiatan intim yang baru selesai.


Elsa menoleh ke arah Raffi. Kekasihnya itu tampak terpaku menatap langit yang berselimutkan awan.


"Lo kayaknya masih galau. Padahal gue udah kasih segalanya kan?" imbuh Elsa.


Raffi terkekeh. Lalu telentang menyamping menghadap Elsa. Menjadikan satu tangan sebagai bantalan kepala.


"Gue nggak mau bilang apa-apa, selain gue cinta sama lo..." bisik Raffi. Membuat Elsa tidak kuasa menahan senyuman. Meskipun begitu, Elsa perlahan merubah posisi menjadi duduk. Dia beranjak meninggalkan Raffi.


"Eh, lo mau kemana?!" tanya Raffi yang kaget. Ia meninggikan nada suaranya. Kemudian bergegas mengejar Elsa. Keduanya menghabiskan waktu di sungai. Raffi dan Elsa berada di sana cukup lama. Ketika jam menunjuk angka dua belas, barulah mereka pergi dari tempat wisata.


"Kita nggak pulang?" Elsa memastikan. Dia dan Raffi sudah berada di mobil. Dalam perjalanan yang berlawanan dari arah rumah.


"Kita makan siang dulu lah. Gue telepon Gamal dulu ya. Biar seru," ucap Raffi sembari merogoh saku celana. Sedangkan satu tangannya sibuk memegang setir.


Elsa yang melihat merasa gelisah. Apalagi kecepatan mobil Raffi cukup tinggi. Alhasil Elsa berinisiatif menghubungi Gamal untuk Raffi.


"Sini! Biar gue aja. Lo fokus nyetir aja." Elsa merebut ponsel dalam genggaman Raffi.


Elsa hendak menghubungi Gamal. Namun dia baru ingat, kalau sekarang masih jam sekolah. Kemungkinan Gamal masih berada di sekolah.


"Eh, tapi kemungkinan semua orang belum pada pulang. Gamal mungkin masih di sekolah," ungkap Elsa.


"Udah telepon aja. Gue yakin Gamal pasti mau ikut," sahut Raffi. Tak peduli.


Elsa lantas melakukan apa yang disuruh Raffi. Telepon terdengar berdering. Beberapa saat kemudian, Gamal mengangkat panggilannya.


"Gila, Raf? Lo kemana aja? Kenapa lo nggak ada kabar hari ini? Absensi lo ditulis tanpa keterangan loh!" sambut Gamal dari seberang telepon.


"Ini gue Elsa, Mal. Gue sama Raffi sengaja bolos. Ada sesuatu yang bikin Raffi malas sekolah," jawab Elsa.


"Hah?! Gue nggak salah denger kan?! Raffi malas sekolah? Bukannya dia hobi belajar ya?" Gamal terperangah.


"Suasana hatinya lagi buruk, Mal. Dia ngajak lo makan siang bareng sekarang. Ajak Zara juga ya, biar gue punya teman," ujar Elsa.


"Tapi gue--" ucapan Gamal terputus, saat Elsa mematikan telepon lebih dulu.

__ADS_1


Gamal menghela nafas panjang. Ia sempat mematung sebentar. Perlahan Gamal menatap buku-buku yang menumpuk di atas mejanya. Ketika dia bersemangat untuk belajar, orang yang paling di andalkannya justru melanggar peraturan sekolah.


Pikiran Gamal bertempur hebat. Memikirkan Afrijal dan Raffi secara bergantian. Dia tidak bisa membolos karena tidak mau mengecewakan ayahnya. Di sisi lain, Gamal tidak bisa belajar dengan baik tanpa bantuan Raffi. Cowok itu sekarang menekan jidatnya.


"Mal! Ada Olive nih!" seru Royan, tiba-tiba. Membuat Gamal sontak menoleh ke arah pintu.


Olive tersenyum sambil melambaikan tangan. Dia melangkah masuk ke kelas. Menghampiri Gamal yang masih duduk di tempatnya.


"Kak, jangan lupa datang ke pesta ulang tahunku malam ini ya," ujar Olive.


"Oke." Gamal menjawab singkat. Dia mengukir senyuman kecut. Kemudian bergegas memasukkan buku ke dalam tas. Gamal memutuskan membolos saja.


"Kakak mau kemana?" tanya Olive.


"Nggak kemana-mana. Cuman masukin buku aja," kata Gamal.


"Kak Raffi mana ya, Kak? Dia nggak sekolah?" Olive kembali bertanya.


"Enggak." Gamal lagi-lagi menjawab singkat.


"Kenapa, Kak? Apa Kak Raffi sakit? Atau--"


"Lo bisa diam nggak?!!!" potong Gamal. Dia tidak bisa meredam amarah karena pikirannya sedang kalut. Semua pasang mata langsung tertuju ke arahnya. Mereka menatap Gamal dengan tatapan tidak suka. Hal yang sudah biasa untuk Gamal. Membuat cowok itu semakin ingin cepat-cepat pergi dari sekolah.


Gamal memutar bola mata sebal. Lalu pergi sambil menenteng tas di salah satu bahu. Tirta yang baru datang dari kantin, bergegas mengejar.


"Lo mau kemana?" tanya Tirta.


"Bolos!" balas Gamal.


"Beneran? Gue ikut ya. Tunggu gue!" Tirta berlari memasuki kelas. Dia segera kembali dalam keadaan membawa tas.


Kebetulan sekarang sedang jam istirahat. Jadi apa yang dilakukan Gamal dan Tirta tidak diketahui para guru. Karena di saat istirahat, guru-guru biasanya juga ikut istirahat.


Kini Gamal dan Tirta berjalan di belakang sekolah. Mereka menunggu kedatangan Zara.


"Gerbang kayaknya masih dijaga Pak Jamal. Kita pakai mobil gue aja. Kebetulan gue parkir di luar. Dekat taman sana," usul Tirta.


"Ya udah kalau gitu." Gamal setuju.

__ADS_1


Dari arah belakang, Zara terlihat baru saja datang. Dia telah memasang tas ranselnya yang berwarna lilac.


"Kenapa bolos jam segini sih? Tanggung banget tahu!" protes Zara.


"Udah diam lo. Cepat! Lo naik duluan!" perintah Gamal sembari berjongkok di dekat tembok pembatas.


Zara memanjat tembok dengan bantuan Gamal. Diteruskan oleh Tirta setelahnya. Terakhir, barulah Gamal yang mendapatkan bantuan tangan dari Tirta dan Zara. Ketiganya berhasil membolos tanpa adanya gangguan. Mereka menggunakan mobil Tirta. Sementara mobil Gamal, sengaja ditinggal di sekolah. Nantinya Gamal akan menyuruh Pak Drajat untuk mengambil. Tepat ketika jam pulang telah tiba.


Perlu memakan waktu sekitar lima belas menit untuk tiba di restoran. Raffi dan Elsa tampak sudah menunggu.


"Gila, Raf. Tumben banget lo begini," pungkas Gamal, yang ikut bergabung di meja Raffi. Hal serupa juga dilakukan Tirta dan Zara.


"Ayo, kalian mending makan dulu. Biar gue yang traktir!" Raffi sengaja merubah topik pembicaraan.


Zara memicingkan mata. Dia merasa ada yang berbeda dari Raffi. Zara lantas berbisik ke telinga Elsa, "Raffi kenapa? Nggak biasa banget begini?"


"Nanti lo juga tahu. Gue nggak enak kasih tahu lebih dulu." Elsa balas berbisik.


Setelah puas mengisi perut, Tirta mengajak teman-temannya ke rumah. Kebetulan rumahnya sedang tidak ada orang. Jadi mereka bisa menghabiskan waktu di sana.


"Lo setuju, Raf?" tanya Gamal. Menatap Raffi dengan sudut matanya.


"Setuju. Ayo!" Raffi berdiri lebih dulu. Dia dan yang lain pergi ke rumah Tirta.


Di tengah perjalanan, Raffi dan kawan-kawan singgah sebentar. Raffi katanya hendak membeli sesuatu di mini market.


"Gue sama Zara nunggu di mobil aja ya," ujar Elsa. Ia malas masuk ke mini market. Takut akan tergoda untuk membeli banyak barang.


Raffi hanya merespon dengan anggukan. Dia, Gamal, dan Tirta memasuki mini market.


Tanpa diduga, Raffi memesan sebuah rokok kepada kasir. Hal itu sontak membuat Gamal dan Tirta kaget.


"Anjir! Lo ngerokok sekarang?!" timpal Tirta tak percaya.


"Lagi pengen aja. Gue mau coba lagi," jawab Raffi sambil tersenyum tipis.


"Parah lo! Otak lo terbentur apa hari ini?!" Gamal menarik kepala Raffi. Kemudian memperhatikan kepala temannya itu dengan seksama. Apa yang dilakukannya sukses membuat Raffi dan Tirta cekikikan.


"Apaan sih lo!" hardik Raffi seraya mendorong Gamal menjauh.

__ADS_1


Ekspresi Gamal perlahan berubah menjadi serius. Dia ingin tahu apa yang membuat Raffi berubah. "Nanti pas ngerokok, kita ceritain masalah kita bareng-bareng," ujarnya sambil membawa Raffi masuk ke dalam rangkulan.


"Nanti pas di rumah gue aja ngobrolnya," seru Tirta. Dia dan yang lain langsung pergi, selepas membeli barang-barang keperluan.


__ADS_2