
...༻☆༺...
Gamal lebih dahulu mendatangi lokasi untuk pos lima. Dia bertemu dengan Zara di sana. Tetapi Zara tidak sendiri. Ada dua anggota osis yang lain di sana.
"Udah selesai, Ra?" tanya Gamal sembari berjalan menghampiri. Ia berhenti tepat di belakang Zara.
"Baru aja." Zara menjawab tak acuh. Dia tidak berminat berpaling untuk menatap Gamal.
Tidak lama kemudian, Danu, Tirta, dan yang lain berdatangan. Kemunculan mereka di iringi dengan para murid baru yang sudah melewati pos empat.
"Silahkan kalian baris ke tengah!" perintah Gamal.
Lokasi pos lima sendiri berada di lapangan indoor. Jadi tempatnya sangat luas untuk menampung banyak orang.
Lama-kelamaan para murid baru mulai terkumpul semua. Mereka harus berbaris rapi dan tanpa suara.
"Sekarang apa?" tanya Tirta dengan nada berbisik.
"Kita harus cari kesalahan mereka," jawab Gamal. Dia menjadi orang yang memimpin untuk memeriksa. Di ikuti oleh beberapa anggota osis yang bertugas di pos lima.
Setelah menilik satu per satu. Gamal berhasil menemukan murid baru yang tidak memakai tanda pengenal. Tanpa pikir panjang dia langsung mengeluarkan murid itu dari barisan. Lalu disuruh membentuk barisan baru di depan.
Danu dan yang lain juga sukses menemukan murid baru tidak disiplin. Mereka segera digabungkan dengan barisan yang ada di depan.
Gamal berpikir sejenak. Dia mencoba mencari-cari hukuman yang pantas. Hingga terlintas dalam benaknya untuk menyuruh push up sampai seratus kali.
"Gila! Nggak kebanyakan, Mal?" tanya Danu yang merasa cemas.
"Enggaklah!" Gamal tak peduli. Ia bersikukuh dengan pilihannya.
Dari lima belas murid yang dihukum, ada satu orang yang tidak bersedia melakukan perintah Gamal. Murid perempuan itu bernama Meli. Dia agak tomboy dan berani.
"Menurut gue, ini keterlaluan tau! Kalian mau-mau aja diperlakukan begini. Padahal udah jelas tadi kita cuman dikasih makan roti seuprit. Kakak ketos mau bunuh kita ya?" tukas Meli sambil mengangkat dagunya.
__ADS_1
"Diam lo ya!" balas Gamal.
Zara tersenyum ketika melihat keberanian Meli. Lalu berjalan mendekati cewek itu.
"Oke, karena lo udah berani ngelawan. Gue kasih hukuman khusus buat lo," ujar Zara sambil melipat tangan di depan dada.
Gamal otomatis melirik ke arah Zara. Dia tentu penasaran dengan rencana cewek itu. Hal serupa juga dirasakan oleh Danu dan Tirta. Semua orang tenggelam dalam hening.
"Buka seragam putih lo sekarang!" perintah Zara.
Semua orang sontak dibuat kaget. Mereka pasti menganggap hukuman Zara keterlaluan. Bahkan lebih parah dibanding hukuman dari Gamal.
"Ra, jangan deh. Nanti kalau ketahuan Pak Wily, bisa kacau..." Danu diam-diam berbisik kepada Zara. Akan tetapi Zara sama sekali tak menggubris. Alhasil kini Danu berusaha minta bantuan Gamal.
"Mending lo cegah Zara deh, Mal..." saran Danu seraya meliarkan bola mata ke segala arah. Dia merasa panik. Apalagi Gamal juga bersikap seperti Zara. Gamal seolah mendukung hukuman yang diberikan Zara.
Danu akhirnya pergi keluar ruangan. Dia berniat ingin mencari Raffi. Sedangkan Tirta, justru lebih cenderung sependapat dengan Gamal dan Zara. Dia padahal hanya penasaran akan respon yang ditunjukkan oleh Meli.
"Cepetan buka seragam putih lo!" desak Zara sambil menghentakkan salah satu kaki. Dia bersikap seolah-olah marah.
"Eh kenapa kalian cuman diam?! Cepat push up seratus kali!" Gamal mendesak murid baru yang sedari tadi belum melakukan push up. Mereka tidak punya pilihan selain melakukan hukuman. Apalagi setelah melihat Meli dipaksa melucuti seragam.
Zara terlihat masih belum selesai dengan Meli. Dia sekarang menyuruh Meli untuk membuka tanktop.
"Gue bakal laporin semua ini ke guru!" ancam Meli tak terima.
Zara terkekeh. Lalu memanggil Gamal dengan lembut. "Mal, katanya dia mau laporin kita," ujarnya dengan tatapan mata sayu.
Gamal tidak mengatakan apapun. Ia justru menarik Zara untuk ikut bersamanya. Mereka keluar dari lapangan indoor dan berbicara empat mata.
"Apaan sih lo? Mau bilang suka lagi ke gue?" tebak Zara. Dia dan Gamal berdiri saling berhadapan di bawah pohon yang rindang.
"Lo kenapa sih, tiba-tiba manggil gue begitu. Hanyut banget gue dengernya," pungkas Gamal. Atensinya tidak teralihkan dari Zara.
__ADS_1
"Kenapa? Burung lo jadi gatel ya?" manik hitam Zara melirik ke area bawah perut Gamal.
"Kalau iya?!" balas Gamal tak peduli. Dia tak mengenal rasa malu. Apalagi saat berbicara dengan Zara. "Ra, gimana kalau kita bikin hubungan yang lebih serius? Gue tahu lo sebenarnya juga tertarik sama gue. Andai lo mau jadiin gue pacar lo, gue bakalan kasih apapun yang lo mau," tambahnya melanjutkan.
Zara menatap lamat-lamat Gamal. Dia berusaha membuat keputusan terbaik. Zara berpikir cukup lama. Hingga akhirnya dia mengangguk setuju.
Gamal lantas tersenyum bahagia. Ia melangkah lebih dekat ke hadapan Zara.
"Tapi lo harus janji satu hal. Jangan pernah sakitin gue lagi." Zara mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah.
"Oke, gue usahain." Gamal mengangguk pelan. Dia saling bertukar pandang dengan Zara. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah sekalipun terbawa perasaan. Tetapi sekarang segalanya sudah berubah.
Zara menyunggingkan mulut ke kanan. Kemudian menyeret Gamal untuk ikut bersamanya. Mereka pergi entah kemana.
Sementara di lapangan indoor, Raffi baru saja tiba. Dia langsung menghentikan kegiatan push up yang dilakukan murid baru. Raffi bahkan menyuruh semua murid baru untuk duduk beristirahat.
"Nah, Kak Raffi begini nih yang gue suka," imbuh Johan yang sedari tadi memperhatikan di pinggir lapangan.
"Gue tetap nggak respek tuh," tanggap Fahri. Johan sontak hanya bisa mengerutkan dahi.
Raffi terlihat mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia mencari orang-orang yang bertanggung jawab untuk pos lima.
"Ketosnya kemana nih?!" pekik Raffi. Raut wajahnya tampak sangar dan tegas. Pergerakan kakinya juga bergerak dalam tempo cepat. Seolah sedang berada di keadaan terdesak.
Mendengar pertanyaan Raffi, seluruh anggota osis hanya saling melemparkan tatapan bingung. Mereka tidak tahu dimana Gamal berada.
"Dia tadi pergi sama Zara, Raf!" sahut Tirta.
Raffi akhirnya berinisiatif menghubungi Gamal melalui telepon. Sayangnya, tidak ada satu panggilan pun yang diangkat oleh Gamal. Alhasil Raffi harus bertanggung jawab atas keteledoran Gamal. Dia kini menjadi orang yang mengambil alih tugas ketua osis.
Raffi melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hukuman yang dia berikan tidak berlebihan. Membuat para murid baru merasa sedikit lega.
"Sumpah! Gamal kemana sih?" gumam Tirta. Dia kebetulan berdiri di samping Raffi. Memasang gaya berkacak pinggang.
__ADS_1
"Lo bilang, dia tadi pergi sama Zara kan? Lo pasti bisa nebak apa yang mereka lakuin," tanggap Raffi. Lalu meminum air mineral langsung dari botolnya.