
...༻☆༺...
Sehabis mandi dan mengenakan pakaian, Raffi segera makan malam bersama kedua orang tuanya. Kali ini menu makan malam mereka adalah kentang balado, ayam goreng, ditambah sambal buatan Heni.
Raffi menikmati makanannya dengan ekspresi sendu. Dia sebenarnya masih berkutat memikirkan apa yang sudah dilakukannya tadi siang.
"Raf, wajahmu kenapa begitu toh?" tegur Irwan.
"Di sekolah nggak ada masalah apa-apa kan?" Heni yang cemas ikut bertanya.
Raffi segera mengembangkan senyuman. Dia menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Nggak ada apa-apa kok. Aku cuman capek aja, Mah, Pah." Raffi menatap ayah dan ibunya secara bergantian.
"Capek ya, kalau gitu libur sekolah aja satu hari. Papah sama Mamahmu nggak masalah kok. Dari pada kamu nanti sakit, kan repot juga." Irwan menuturkan.
Raffi lekas menggeleng. Dia tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir. Lagi pula Raffi tidak pernah sekalipun membenci yang namanya bersekolah. "Enak aja, Pah. Aku nanti ketinggalan pelajaran. Aku nggak mau!" ucapnya. Lalu melahap satu sendok nasi yang telah dicampur kentang balado.
"Ya udah. Makanya yang semangat dong," balas Irwan. Menyebabkan Raffi tidak kuasa menahan tawa kecil. Irwan dan Heni lantas saling tersenyum.
Saat menyaksikan perhatian kedua orang tuanya, Raffi merasa bersalah. Dia berpikir bahwa dirinya sudah cukup keterlaluan. Raffi tidak seharusnya terus-terusan berbohong.
Raffi berusaha menelisik asal-muasal kesalahan yang dia lakukan. Hingga Raffi dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar adalah akibat pengaruh Gamal.
Setelah menyelesaikan makan malam, Raffi membantu membereskan piring kotor bersama Heni. Sementara Irwan telah duduk di sofa untuk membaca buku.
"Mah, aku mau cerita," imbuh Raffi sembari meletakkan piring kotor ke wastafel. Kebetulan Mbok Asri selalu libur saat di penghujung minggu. Jadi saat malam minggu, Heni biasanya membuat hidangan sendiri.
Heni tersenyum. Sebelum bicara, dia mengelap tangan terlebih dulu dengan kain bersih. "Cerita aja," balasnya lembut.
"Aku punya teman. Dia ini cukup nakal gitu, Mah. Sebenarnya aku udah berapa kali buat hindarin dia. Tapi nggak bisa. Jadi tanpa sengaja aku pernah ngelakuin hal buruk..." Raffi bercerita dengan perasaan takut. Dia bahkan tidak berani menatap mata sang ibu.
"Hal buruk? Emang kamu ngapain?" tanya Heni seraya memegangi pundak Raffi.
"Aku pernah bolos satu kali. Terus tadi siang..." Raffi tidak sanggup meneruskan. "Maafin aku, Mah... tadi aku bohong kalau aku nggak ngerokok," lanjutnya lagi.
Heni membekap mulut karena merasa sangat terkejut. Meskipun begitu, dia berusaha menahan amarah. Dia tidak mau menjadi sosok orang tua yang buruk. Lagi pula Heni sangat menghargai keberanian Raffi yang mau mengaku. Setidaknya Heni tidak mengetahui hal itu dari mulut orang lain.
__ADS_1
"Lihat, Mamah!" Heni perlahan membuat kepala Raffi mendongak. Kini dia dapat menyaksikan Raffi menatap matanya.
"Mamah bangga sama kamu. Bukan karena kamu melakukan kesalahan itu. Tapi karena kamu sadar mengenai yang buruk dan tidak. Jadi mulai sekarang, cobalah hindari teman kamu yang nakal itu. Apa Mamah perlu melakukan sesuatu?" ujar Heni. Dua tangannya masih memegangi wajah sang putra.
"Nggak perlu, Mah. Aku akan berusaha sendiri lebih dulu. Nanti kalau benar-benar nggak bisa, aku pasti minta bantuan Mamah," jawab Raffi. Akhirnya dia mampu mengembangkan senyum.
"Baiklah..." Heni ikut tersenyum. Dia dan Raffi terdiam dalam sesaat. Sampai terlintas rasa penasaran dalam benak Heni. "Kalau boleh tahu, siapa nama teman nakalmu itu?" tanya-nya.
"Ada deh, Mah. Aku nggak mau lihat Mamah nanti nyari orangnya terus ngomel-ngomel." Raffi memanyunkan mulut. Selanjutnya dia segera beranjak masuk ke kamar.
...***...
Hari voting ketua osis telah tiba. Semua murid dipersilahkan memilih salah satu di antara empat kandidat. Yaitu dengan cara menulis nama pada secarik kertas.
Semua orang berkumpul di aula untuk melaksanakan voting. Proses voting memakan waktu hampir satu jam. Sebab jumlah murid yang ada sekitar tiga ratus orang lebih.
Ketika semua orang sibuk berkumpul di aula, Raffi malah mendatangi ruang BK. Dia ingin mengusulkan sesuatu hal.
"Raf, ada keperluan apa kamu?" sapa Bu Lestari. Sangat kebetulan dia sedang sendirian di ruangan.
"Ada apa? Jangan-jangan mau curhat masalah gebetan nih?" tebak Bu Lestari yang bermaksud bercanda.
"Enggaklah, Bu! Aku cuman mau Ibu bantuin aku buat pindah kelas," ungkap Raffi.
"Pindah kelas? Kenapa?" Bu Lestari terheran. Setahu dia, kelas Raffi sudah di isi oleh orang-orang pilihan. Terkecuali Gamal, dia merupakan satu-satunya siswa bodoh yang bisa masuk ke kelas tersebut. Semuanya tentu dengan bantuan ayah Gamal yang berkuasa.
"Pengen aja gitu, Bu." Raffi tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Namun Bu Lestari yang cukup mampu membaca ekspresi orang, tahu betul kalau Raffi berusaha menyembunyikan masalah.
"Jujur aja. Ibu nggak bakalan kasih tahu siapa-siapa. Beneran!" Bu Lestari meyakinkan.
Raffi menghembuskan nafas dari mulut. Dia berusaha bertahan untuk tidak memberitahu. "Aku cuman pengen nuansa baru aja kok, Bu," kilahnya.
"Raf, kalau alasan kamu nggak jelas begini, gimana Ibu mau bantuin coba? Kasih tahu aja yang sebenarnya." Bu Lestari tak ingin kalah. Sebagai seorang guru BK, dia memang sering menghadapi siswa yang berbohong.
Raffi memejamkan rapat matanya. Dia tidak punya pilihan selain mengatakan kebenaran. Alhasil Raffi memberitahu Bu Lestari bahwa alasan kepindahannya karena ingin jauh dari Gamal.
__ADS_1
"Dia pengaruh buruk buat aku, Bu. Kalau satu kelas, dia berusaha nempel terus sama aku." Raffi memberikan alasan.
Bu Lestari membasuh bibir dengan lidahnya. Dia tidak bisa membantah pernyataan Raffi. Karena seluruh penghuni sekolah tentu tahu bagaimana nakalnya seorang Gamal.
Tanpa pikir panjang, Bu Lestari langsung menyetujui permintaan Raffi. Lagi pula Raffi merupakan murid berprestasi. Dia tidak mau murid istimewanya hancur karena pengaruh bejat Gamal.
"Ibu akan diskusiin sama guru-guru lain dulu. Pokoknya Ibu akan mengurus kepindahan kamu secepatnya ya," kata Bu Lestari. Raffi sontak bangkit dari tempat duduk. Lalu mencium tangan Bu Lestari.
"Makasih banyak, Bu..." ungkap Raffi tulus. Dia beserta Bu Lestari pergi bersama menuju aula. Karena sebentar lagi hasil voting ketua osis akan di umumkan.
Pak Willy telah mulai menghitung voting satu per satu. Tentu saja dengan bantuan Bu Salsa yang bertugas menuliskan jumlah di papan tulis.
"Raf, gue baru kali ini ngerasa gugup banget," cetus Gamal yang duduk di sebelah Raffi.
"Santai aja kali," tanggap Raffi malas. Dia dan ketiga kandidat lain dibiarkan duduk berjejer di depan. Mereka duduk menghadap kumpulan penonton.
Selang sekian menit berlalu, akhirnya semua orang mengetahui keputusan final. Kandidat ketua osis yang terpilih, segera disuruh berdiri ke samping Pak Willy.
Para siswa bersorak senang menyambut ketua osis baru. Respon mereka berbanding terbalik dengan para guru. Bu Lestari dan kawan-kawan hanya bisa tersenyum kecut.
"Saya ucapkan selamat kepada ketua osis baru kita, yaitu... Gamal Laksana!" ujar Pak Willy yang bersuara melalui microphone-nya.
Gamal lantas tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dia menikmati kemenangannya.
"Sekarang, Bapak ingin menyuruh Gamal untuk memilih wakil ketua osis." Pak Willy menunjukkan tangan ke arah tiga kandidat ketua osis yang gagal. "Kamu harus memilih salah satu di antara mereka bertiga!" lanjutnya lagi.
Mata Raffi membulat sempurna. Dia lekas membuang muka. Berharap Gamal tidak memilihnya. Andai dia terpilih menjadi wakil ketua osis, maka rencana pindah kelasnya tentu akan menjadi sia-sia. Raffi dan Gamal pasti akan lebih sering bertemu.
"Gue pilih..." Gamal memperhatikan satu per satu tiga orang yang harus dia pilih.
..._____...
Catatan Author :
Siapa yang dipilih Gamal ya? :v
__ADS_1
Jangan kupa like, komen, hadiah dan votenya ya guys.