Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 88 - Rasa Sakit Mungkin Adalah Hukuman


__ADS_3

...༻☆༺...


Akibat kesal melihat perlakuan ayahnya terhadap Zara, Gamal pun bangkit. Dia mendorong Afrijal sekuat tenaga.


"Jangang ganggu dia!" hardik Gamal. Lalu membantu Zara berdiri. Hal tersebut sontak membuat Afrijal kian dibuat geram.


Tanpa pikir panjang, Afrijal menarik tangan Gamal. Kemudian menamparnya untuk kali kedua.


Mendengar keributan yang terjadi, tangisan Zara semakin menjadi-jadi. Dia tentu merasa sangat ketakutan. Bahkan menggerakkan kaki saja rasanya tak mampu.


Gamal tambah sakit hati ketika mendapatkan tamparan kedua dari Afrijal. Dia membeku di tempat. Kemudian menatap nanar sang ayah.


"Apa?! Mau ngelawan lagi kamu?!" timpal Afrijal dalam keadaan mata yang menyalang hebat. Selanjutnya, dia mengalihkan pandangan ke arah Zara.


"Kamu!" jari telunjuk Afrijal mengarah ke wajah Zara. "Pergi dari sini! Jangan pernah coba-coba lagi menginjakkan kaki ke sini!!!" bentaknya.


Zara kaget hingga kakinya berjengit. Cairan bening terlihat terus menetes di pipinya. Meskipun begitu, dia bertekad untuk membantu Gamal.


"Aku nggak akan pergi! Sebelum Om berhenti nyakitin Ga--"


Plak!


Afrijal membungkam mulut Zara dengan tamparan keras.


"Zara!" Gamal hendak mendekat. Namun didorong kasar oleh Afrijal. Dia otomatis kembali terjatuh ke lantai.


"Sekolah di diskotik saja kamu sana! CEPAT PERGI DARI SINII!!!" geram Afrijal yang sudah tidak tahan lagi dengan Zara.


Zara memegangi pipinya. Dia tidak punya pilihan selain bergegas mengambil tas dan berlari menuju pintu depan.


"Zara!" Gamal sekali lagi mencoba mengejar. Dia hendak memastikan Zara baik-baik saja. Akan tetapi Afrijal tentu saja mencekal.


"Apa dia satu sekolah denganmu, hah?!" tanya Afrijal.

__ADS_1


Gamal membuang muka sambil mengeratkan rahang. Salah satu tangannya masih dalam cengkeraman Afrijal.


"Cepat katakan!" desak Afrijal.


"Buat apa Papah tahu? Papah nggak pernah peduli sama aku! Papah tahu nggak? Selama Papah nggak ada, Zara yang temanin aku di sini!" sungut Gamal dalam keadaan nafas yang naik turun. Amarahnya memuncak. Terlihat jelas dari wajahnya yang memerah padam.


Afrijal tertawa remeh dan singkat. "Maksudnya jadi teman burung kamu, gitu kan?!" balasnya sembari melirik sekilas ke alat vital Gamal. Dari apa yang dilihatnya pertama kali, Afrijal tentu dapat menyimpulkan apa saja yang dibuat putranya selama berduaan dengan Zara.


"Mulai sekarang Papah akan tarik semua fasilitas yang kamu pakai! Dari kartu atm, kredit, bahkan mobil! Mulai sekarang kamu akan di antar jemput Pak Drajat ke sekolah!!!" Afrijal bertekad. Dia merasa harus memberi pelajaran kepada Gamal.


Kedua tangan Gamal membentuk bogem. Pikiran untuk memukul ayahnya sempat terlintas. Namun harus urung, ketika sosok wanita muncul. Dia tidak lain adalah Tania, ibunya Gamal.


"Gamal! Kenapa sudut bibir kamu berdarah?" Tania menghampiri Gamal. Dia langsung memeriksa wajah putranya. Tetapi belum sempat menyentuh, Gamal sigap menjauhkan tangan Tania.


Jika Afrijal jarang pulang, maka Tania lebih parah. Wanita paruh baya yang menjadi alasan dibalik ketampanan Gamal itu, nyaris tidak pernah mengurus putra kandungnya sendiri.


"Masuk ke kamar kamu!!!" titah Afrijal. Kemarahannya belum juga reda.


Gamal mengambil tas ransel yang masih belum dibawanya masuk ke kamar. Dia tidak lupa mengambil kunci apartemen yang sepertinya dilupakan oleh Zara.


"Tanya sendiri sama anakmu!" Afrijal beranjak masuk ke kamar. Meninggalkan istrinya dengan banyak pertanyaan.


...***...


Zara terpaksa pulang menaiki bus. Dia sudah berhenti menangis. Salah satu pipinya terlihat merah dan agak bengkak akibat tamparan Afrijal. Hinaan dari Afrijal berulang kali terngiang di telinga.


Ponsel Zara terus saja berdering. Dia yakin orang yang menelepon adalah Gamal. Namun Zara memilih mengabaikannya.


Ketika bus berhenti, Zara berjalan dengan gontai menyusuri jalanan menuju panti asuhan. Dia hanya memikirkan tentang Gamal. Zara sejujurnya sangat mencintai cowok itu. Namun setelah melihat perlakuan Afirjal terhadapnya, keraguan itu lantas muncul.


Zara sempat berpikir kalau Gamal adalah secercah harapan terang untuknya. Itulah alasan dia berhenti menjadi wanita nakal. Zara memilih setia kepada satu orang.


Saat bersama Gamal, Zara merasa kalau masa depannya akan bahagia. Namun setelah menyaksikan bagaimana kondisi keluarga Gamal, nampaknya masa depan cerah itu tidak akan bisa hadir. Satu hal yang pasti, kedua orang tua Gamal tidak akan sudi menerimanya.

__ADS_1


Sakit hati yang teramat sangat. Itulah yang dirasakan Zara. Hinaan Afrijal sangat membekas. Lelaki paruh baya itu juga sukses membuatnya ketakutan. Zara merasa tidak sanggup lagi bertemu dengan Afrijal. Jika begitu, untuk apa dirinya mempertahankan hubungan dengan Gamal?


Air mata Zara kembali menetes. Dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian tadi. Semuanya terasa tidak benar.


Sedari tadi ponsel Zara terus berdering. Dia akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Ra, lo udah pulang?" tanya Gamal dari seberang telepon. "Lo baik-baik aja kan?" lanjutnya. Akan tetapi Zara tidak kunjung bicara.


"Ra, maafin bokap gue, dia emang begitu. Besok kita ketemu dan gue bakalan jelasin semuanya. Oke?" Gamal terdiam sejenak. Lalu kembali berkata, "Oh iya, kunci apartemen lo ketinggalan. Nanti kita bareng-bareng ke sana. Lo pasti suka!"


Zara menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan suara isakan tangis. Namun ternyata dia tidak mampu menahan, hingga akhirnya Gamal tahu kalau dirinya sedang menangis.


"Lo nangis? Lo nggak apa-apa kan? Ra!" seberapa banyak Gamal berucap. Zara masih saja membisu.


"Ra! Zara!" panggil Gamal. Mendesak Zara untuk segera bicara.


"ZARA! JAWAB GUE!" Gamal memekik lantang. Entah karena marah atau terlalu khawatir.


Teriakan Gamal sempat membuat Zara terperanjat. Bayangan tentang Afrijal langsung terlintas dalam ingatannya. Mengingat Gamal juga tidak jarang bertindak kasar kepadanya. Alhasil Zara membulatkan sebuah keputusan.


"Mal, kita putus aja." Zara yang sejak tadi bungkam, langsung memberikan kalimat yang menusuk.


"Lo bercanda kan?" Gamal awalnya tidak mau percaya.


"Lo mending jual aja apartemen yang udah terlanjur lo beli." Zara mengakhiri panggilan secara sepihak. Dia menonaktifkan ponsel dan kembali meratap.


Kini Zara melenggang memasuki perumahan panti. Dia langsung beranjak menuju kamar. Melingus melewati penjaga panti yang bernama Wida. Dia sudah seperti ibu kandung untuk semua anak-anak panti.


"Zara! Kamu kenapa?" Wida cemas saat melihat wajah Zara dipenuhi oleh air mata. Ia mengejar Zara sampai ke kamar. Tetapi pintu kamar sudah terlanjur ditutup.


"Zara? Bilang sama Bibi kalau kamu baik-baik saja." Wida berseru sambil mengetuk dengan pelan.


Di kamar, Zara dapat melampiaskan rasa sakitnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Bahkan sampai mengeluarkan suara yang dapat didengar oleh Wida.

__ADS_1


Zara meratap sembari memeluk kedua lututnya. Dia masih belum sempat mengganti seragam sekolah. Zara butuh waktu untuk menenangkan diri.


"Zara... kamu bikin Bibi cemas loh... kasih tahu Bibi apa yang sudah terjadi," ujar Wida. Dia ikut-ikutan menangis saat mendengar suara tangisan Zara dari dalam kamar.


__ADS_2