
...༻☆༺...
Raffi dan kawan-kawan merasa sangat ketakutan. Mereka singgah di sebuah hotel untuk beristirahat. Menenangkan kepanikan yang terasa tak mampu dikontrol.
Lokasi kebakaran dapat terlihat dari kejauhan. Raffi dapat melihat asap hitam yang menjulang hebat ke atas langit. Semuanya nampak sangat mengerikan. Belum lagi suara sirine mobil pemadam yang terdengar sahut-menyahut.
"Tenang, Mal. Lo tadi kan nggak sengaja," ujar Raffi sembari berjongkok ke hadapan Gamal.
"Semuanya gara-gara lo!" sembur Zara dengan ekspresi marahnya.
"Benar, semua ini memang salah gue. Gue janji bakalan ikut tanggung jawab. Tapi sebelum itu, gue ingin ketemu Elsa dulu," tutur Raffi. Ia sama sekali tidak keberatan terhadap tuduhan Zara yang tidak beralasan.
"Enggak. Jelas semuanya salah gue... kebiasaan nggak matiin rokok emang udah mengalir dalam darah gue. Sorry..." lirih Gamal yang merasa bersalah. Dia sekarang duduk di dekat tempat tidur. Dalam keadaan melipat kedua lututnya. Gamal menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya tersebut.
"Kita bisa lewatin ini sama-sama. Lagian kan lo nggak sengaja?" Zara berupaya keras menenangkan Gamal. Dia tidak absen memberikan belaian serta pelukan.
Raffi perlahan berdiri dan memperhatikan keluar jendela. Dari sana dia dapat menyaksikan api belum padam. Sisa-sisa pembakaran beterbangan di udara. Persis seperti salju yang berjatuhan. Akan tetapi dalam versi neraka.
Ponsel Raffi tiba-tiba bergetar. Itu sudah terjadi puluhan kali. Raffi memang sengaja mengabaikan semua panggilan dari ibunya. Ia bertekad tidak akan bicara dengan keluarganya sebelum menemukan Elsa.
Hari telah memasuki malam hari. Raffi dan kawan-lawan saling termangu. Dalam duduk yang saling berpisah-pisah. Akibat merasa takut, makan saja mereka jadi tidak karuan.
Hanya Tirta yang sedari tadi tampak menggila. Sekali-kali dia akan tertawa. Lalu rebahan ke kasur.
Tanpa terasa Raffi tidak sengaja terlelap. Dia memang orang yang sangat mudah sekali tertidur. Apalagi jika sedang kelelahan.
Ketika membuka mata, Raffi tahu waktu sudah pagi. Segalanya dapat terlihat dari cahaya matahari yang berpendar dari balik gorden.
Raffi mengerjapkan mata, kemudian mengedarkan penglihatan ke sekitar. Betapa terkejutnya dia, saat menyaksikan keadaan kamar begitu berantakan. Parahnya ada banyak sekali obat-obatan terlarang berserakan di lantai.
__ADS_1
Tirta tampak tengkurap di dekatnya. Sedangkan Gamal dan Zara berada di kasur. Dua sejoli itu mengenakan pakaian minim. Gamal bahkan terlihat hanya mengenakan celana boxer.
Sementara Zara, melepas celana jeans dan dan baju atasannya. Tubuhnya kebetulan terutupi selimut. Jadi Raffi tidak bisa melihat dengan jelas.
'Apa gue melewatkan sesuatu?' batin Raffi seraya berdiri. 'Kenapa setelah membuat masalah, Gamal malah menambah masalah lagi?' lanjutnya. Menatap sebal kepada tiga temannya secara bergantian. Alhasil Raffi diam-diam pergi meninggalkan kamar.
Keadaan di luar dipenuhi dengan kabut asap tebal. Hal itu tentu merupakan efek dari terbakarnya hutan kemarin sore. Walaupun begitu, asap tersebut bukan jadi penghalang tekad Raffi untuk menemukan Elsa.
Raffi berniat memanfaatkan waktu sebelum masalah yang ada kian membesar. Dia memutuskan mengisi perut dengan sebungkus roti, serta susu putih kemasan.
Raffi duduk sendirian di depan mini market. Cowok itu berpikir keras mengenai tempat yang mungkin dikunjungi Elsa. Namun menurut Raffi, dia sudah mendatangi semua tempat favorit Elsa.
Saat sibuk berkalut dengan pikiran, perhatian Raffi harus teralih ke arah keluarga kecil yang menyeberang jalan. Mereka tampak mengenakan pakaian lusuh. Dari mulai kedua orang tuanya, hingga si anak lelaki. Meskipun begitu, keluarga kecil tersebut terlihat begitu bahagia. Sang anak lelaki sangat kegirangan dengan mainan kecil yang ada dalam pelukan.
Raffi terpaku sejenak pada pemandangan tak terduga di depannya. Sampai terlintas sesuatu dalam benak. Tanpa berpikir lama, Raffi beranjak ke pinggir jalan. Lalu menghentikan sebuah taksi.
'Benar! Ada satu tempat yang belum gue kunjungi. Yaitu tempat pemakaman ayah dan ibunya Elsa!" batin Raffi menduga. Ia menghembuskan nafas dari mulut. Berharap kali ini dirinya dapat bertemu dengan Elsa.
Sayang, hanya ada gundukan tanah yang berbalut dengan rerumputan hijau. Selain itu, abu terbang akibat pembakaran hutan juga terlihat silih berganti melayang di udara. Kabut asap yang ada, juga berhasil membuat penglihatan Raffi terhalang.
Raffi memperhatikan kuburan satu per satu. Di lokasi yang dia ingat merupakan tempat kuburan kedua orang tua Elsa berada. Setelah menghabiskan waktu cukup lama, Raffi akhirnya menemukan kuburan yang di cari.
Benar saja, di atas kuburan ayah dan ibunya Elsa terdapat buket bunga aster. Keadaan bunga itu juga terlihat masih segar. Pertanda kalau pemberi bunga tersebut pasti ada di situ beberapa menit yang lalu. Raffi yakin dia pasti Elsa!
Sekali lagi Raffi melakukan pencarian. Dia belum menyerah. Usaha yang begitu keras akhirnya membuahkan hasil. Sosok perempuan yang sangat mirip Elsa terlihat rebahan di bangku panjang. Cewek itu menjadikan tas besar sebagai bantalan.
Raffi berlari secepat mungkin menghampiri. Sesampainya di hadapan perempuan yang rebahan di bangku, Raffi memecahkan tangis. Bagaimana tidak? Perempuan itu jelas adalah Elsa. Sungguh, Raffi benar-benar lega sekarang. Setidaknya gadis yang dicari-carinya dalam keadaan sehat.
Perlahan Raffi menjatuhkan lututnya ke tanah. Lalu menangis sambil mencengkeram ribuan helai rambutnya. Saat itulah Elsa terbangun, matanya langsung membulat sempurna.
__ADS_1
"Raffi?! Bagaimana lo tahu gue ada di sini?" ujar Elsa sembari merubah posisi menjadi duduk. Pertanyaannya sama sekali tidak direspon oleh Raffi.
"Maafin gue, El. Maafin gue..." ungkap Raffi ditengah-tengah isakan. Membuat Elsa mendadak merasa bersalah. Tangisan Raffi benar-benar seperti kritikan pedas yang menghujam hatinya.
"Udah, Raf. Jangan nangis... gue yang salah kok. Makanya gue kabur dari rumah..." Elsa ikut berlutut di hadapan Raffi. Dia jadi ikut-ikutan menangis. "Maafin gue, harusnya sejak awal... gue nggak perlu ngajakin lo ciuman..." lanjutnya dengan perasaan sesal yang begitu mendalam. Elsa tahu betul, ciuman pertamanya dengan Raffi adalah percikan awal yang menyebabkan janinnya tumbuh.
"Karena itulah gue pergi... gue nggak mau hancurin hidup lo yang sempurna..." Elsa menangis tersedu-sedu.
Raffi yang sedari tadi tertunduk, perlahan mendongak. Menempelkan jidatnya ke dahi Elsa.
"Enggak, El. Justru kalau lo pergi, kehidupan gue nggak akan pernah sempurna. Plis jangan tinggalin gue lagi..." tutur Raffi. Masih dalam keadaan air mata yang berderai melalui pipi.
"Tapi gimana sama masa depan lo? Gue nggak mau jadi penghancur--"
"Bagi gue, sekarang lo adalah masa depan gue!" potong Raffi dengan nada penuh penekanan. Kini dia memegangi wajah Elsa. Menatap lamat-lamat paras cantik yang sudah sembab itu.
"Ayo kita nikah! Menurut gue, itu adalah satu-satunya solusi untuk masalah kita," imbuh Raffi sembari menghentikan tangis. Ia tidak lupa mengusap cairan bening yang sempat membanjiri wajahnya.
"Tapi gimana sama sekolah kita?" berbeda dengan Raffi, Elsa masih belum berhenti terisak.
"Kan ada homeschooling? Kita bisa belajar sama-sama." Raffi segera membawa Elsa ke dalam pelukan. Mendekap sangat erat kekasihnya itu.
Sungguh... Elsa merasa sangat lega. Dia tidak menyangka Raffi akan menanggapi kehamilannya dengan positif. Bahkan disertai pengertian serta kepedulian yang menggugah. Elsa begitu terenyuh. Ia melingkarkan kedua tangannya dengan erat ke tubuh Raffi.
Di tengah-tengah kabut serta abu terbang sisa-sisa pembakaran, Raffi dan Elsa saling berdamai. Tidak hanya kepada satu sama lain, tetapi juga diri mereka sendiri.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Kalian bisa nafas lega sekarang. Karena konflik utama sudah berakhir. Kita akan masuk ke tahap solusi. Makasih buat yang selalu menanti cerita ini... 😘