
...༻☆༺...
Elsa berlari masuk ke dalam kamar. Dia di sana langsung menangis tersedu-sedu. Elsa merasa sakit hati dengan keputusan Raffi. Padahal dirinya merasa sudah menyerahkan banyak hal untuk cowok itu.
"Kenapa jadi gini? Usaha gue sia-sia! Biar pun dikasih sentuhan ternyata tetap aja nggak mempan!" gumam Elsa sembari menutup wajahnya yang telah sembab.
Elsa menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Menenggelamkan wajah ke salah satu bantal. Dia belum berhenti menangis. Hingga air matanya membasahi bantal tersebut. Elsa bahkan mengabaikan puluhan panggilan dan pesan dari Raffi.
Di sisi lain, Raffi tengah duduk di pinggir kasur. Dia baru saja melihat isi kado misterius yang didapatnya dari bawah meja.
...'Hari minggu kemarin gue nungguin lo lama banget. Padahal gue berharap banget lo bisa datang. Atau lo emang sibuk ya pada hari itu? Kalau gitu, kita ketemunya pas di sekolah aja. Di gudang pas istirahat pertama UTS nanti.'...
Begitulah bunyi pesan yang dibaca Raffi. Dia yakin, pengirimnya adalah orang yang sama dengan kado misterius terakhir kali.
"Astaga, benar. Gue lupa pas hari minggu kemarin!" gumam Raffi sambil merebahkan diri ke kasur. Dia mendengus kasar. Selanjutnya, Raffi segera bersiap-siap untuk pergi les bahasa Inggris. Namun Heni mendadak memanggil dari depan pintu. Ibu kandung Raffi itu nampaknya hendak membicarakan sesuatu.
"Kenapa, Mah?" Raffi bertanya setelah membuka lebar pintu.
"Mamah cuman mau kasih tahu, kalau malam ini kita akan mengadakan acara makan-makan barengan tetangga dekat sini," ujar Heni sembari melangkah masuk ke kamar putranya.
"Emangnya ada acara apa, Mah?" Raffi penasaran.
"Acara syukuran buat ngerayain lima tahun usaha restoran Mamah aja sih," jawab Heni. "Ya udah, Mamah mau siapin makanannya. Kamu pergi les aja sana dulu. Masih sempet kok," lanjutnya menyarankan.
Raffi lantas mengangguk dan pergi les sebentar. Dia menghabiskan waktu hingga empat jam. Sepulangnya dari les, Raffi langsung disuruh mandi dan mengganti baju.
Orang-orang mulai berdatangan ke rumah Raffi. Termasuk keluarga Elsa. Akan tetapi justru Elsa yang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
"Elsa mana?" tanya Raffi cemas. Dia sekarang tengah mengenakan kemeja gari-garis berwarna hitam putih. Raffi juga menyisir rambutnya dengan rapi.
__ADS_1
"Tadi pas ditanya, dia lagi nggak enak badan katanya," sahut Vina seraya melakukan tatapan selidik. "Kakak sama Kak Elsa lagi berantem ya?" tebaknya.
Raffi segera menggeleng tegas dan mengatakan kata tidak. Dia menyuruh Vina untuk menikmati hidangan seperti yang lain.
Semua orang telah datang kecuali Elsa. Kini Raffi hanya bisa mengobrol dengan beberapa sepupunya. Jujur saja, sesekali Raffi akan menengok ke arah pintu. Berharap Elsa bisa muncul dari sana secepatnya.
"Gue mau ke toilet dulu ya!" pamit Raffi sembari melenggang keluar dari lokasi orang-orang berkumpul. Dia ternyata pergi menuju bangunan rumah dimana Elsa berada.
Raffi mengetuk pintu dan memanggil beberapa kali. Tetapi Elsa tidak kunjung menjawab. Selanjutnya, dia berdiri tepat di bawah jendela kamar Elsa yang berada di lantai dua. Raffi mengambil batu kecil, lalu melemparkannya ke jendela kamar Elsa.
"El! Buka pintunya! Gue mau ngomong!" seru Raffi. Dia tetap saja diabaikan untuk sekian kalinya.
"Gue tahu lo pasti marah. Tapi jujur, El. Gue pengen lo ngerti kalau keputusan yang gue buat, demi kebaikan kita berdua!" ucap Raffi.
Trak!
Jendela kamar Elsa tampak terbuka. Bukannya mendapat jawaban, Raffi malah menerima timpukan dari sebuah baju. Meskipun begitu, Raffi dapat menerima serangan Elsa itu dengan tangkapan bagus.
Melihat kemunculan Elsa, Raffi tersenyum senang. Dia berbalik dan menghampiri Elsa.
"Jangan marah dong, El! Nggak ada yang berubah kok sama hubungan kita," imbuh Raffi yang sudah memposisikan diri ke samping Elsa.
"Itu bagi lo!" jawab Elsa ketus. Dia menatap Raffi sejenak. "Tapi ya udah kalau lo maunya gitu. Mulai sekarang kita sahabatan kayak dulu aja," pungkasnya sambil melipat tangan di dada.
"Gitu dong!" Raffi yang senang Elsa sudah membaik, perlahan merangkul cewek itu. Dia tidak tahu, sedari tadi Elsa menatap sebal ke arahnya.
'Awas aja ya lo kutu! Gue bakal bikin lo nyesel!' batin Elsa dari hati. Dia dan Raffi segera bergabung ke acara jamuan makan. Hubungan mereka kembali membaik seperti dulu. Setidaknya begitulah anggapan Raffi.
...***...
__ADS_1
Satu minggu terlewati. Hari pertama ulangan akhir semester telah tiba. Semua murid dipersilahkan berada di luar selagi guru belum datang ke kelas. Kebetulan upacara peresmian pengurus osis harus ditunda demi mekondusifkan suasana ulangan.
"Hari ini pelajaran apa sih?" tanya Gamal kepada teman-temannya.
"Anjir lo, Mal! Jadwal ulangan aja lo nggak tahu? Ketahuan banget nggak belajarnya!" komentar Tirta yang geleng-geleng kepala.
"Gue lupa kampret!" Gamal mendorong kepala Tirta dengan kesal. Dia segera berpindah tempat untuk berdiri ke dekat Raffi.
"Gue duduk deket lo ya." Gamal berbisik ke telinga Raffi.
"Terserah lo. Tapi gue nggak bakal ngeladenin lo kalau masih sibuk jawab soal!" balas Raffi.
"Oke, gue tunggu sampai detik terakhir." Gamal sangat mengharapkan Raffi.
Tidak lama kemudian, guru yang mengawas datang. Dia tidak lain adalah Pak Darto. Lelaki paruh baya itu mempersilahkan semua murid agar masuk ke kelas.
Raffi dan kawan-kawan berjalan beriringan memasuki kelas. Mereka segera duduk di kursi masing-masing.
"Tolong saat ulangan berlangsung, jangan ada yang namanya berisik, mengobrol, apalagi menyontek. Jika kalian ketahuan melakukan salah satu di antara tiga itu, Bapak tidak akan segan-segan mengeuarkan kalian dari kelas. Nilai kalian hangus dan tidak ada ulangan susulan!" tegas Pak Darto. Suasana menjadi tegang dalam sekejap. "Tapi kalau mau mengajukan pertanyaan, silahkan angkat tangan terlebih dahulu. Setelah mendapat atensi Bapak, baru kalian bisa bertanya," tambahnya memperjelas.
Setelah bel berbunyi, Pak Darto langsung membagikan soal kepada murid satu per satu. Semua murid terlihat sudah sibuk berkutat dengan soal yang diberikan. Kecuali Gamal, yang memang sejak awal sudah tidak tahu cara menjawab. Jangankan jawaban, jadwal ulangan pun dia lupa.
Kini Gamal hanya garuk-garuk kepala. Dia bahkan tidak memahami soal yang diberikan kepadanya. Akibat bosan, Gamal lantas memberanikan diri untuk mengangkat tangan.
"Iya, Gamal. Kenapa?" tanya Pak Darto.
"Gini, Pak. Soalnya kenapa bahasa Inggris semua ya? Terjemahnya nggak ada gitu?" ujar Gamal. Pertanyaannya itu langsung membuat semua orang tergelak bersamaan. Termasuk Pak Darto sendiri.
"Gila lo, Mal! Kayak nggak pernah ulangan bahasa Inggris aja!" timpal Raffi sembari menahan tawa. Dia benar-benar merasa geli.
__ADS_1
"Gamal, Gamal... ulangan bahasa Inggris ya semuanya pakai bahasa Inggris juga-lah! Udah semuanya diam! Kembali kerjakan soalnya!" tanggap Pak Darto yang diakhiri perintah tegas. Semua murid otomatis kembali menyepi.