
...༻☆༺...
Tiga hari berlalu. Barulah Afrijal mendatangi Gamal ke penjara. Dia membawa seorang pengacara sekaligus uang yang sangat banyak.
Setibanya di kantor polisi, Afrijal tidak sengaja bertemu dengan Zara. Cewek itu juga baru saja datang di waktu yang sama.
Afrijal melemparkan senyuman ramah. Sikap yang tidak pernah dilihat Zara sebelumnya. Meskipun begitu, Zara membalas senyuman Afrijal.
"Pak Erick. Lebih baik kamu bicara sama polisi terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan," ujar Afrijal. Pengacaranya yang bernama Erick itu lantas menurut.
Kini Afrijal menghampiri Zara. Mengajak cewek itu untuk bicara ke cafe yang ada di seberang jalan.
Awalnya Zara menolak. Dia tentu takut dengan sosok Afrijal. Namun karena Afrijal terus bersikeras, dia terpaksa menerima.
Saat telah berada di cafe, Afrijal mempersilahkan Zara memesan makanan apapun. Bahkan yang paling mahal sekali pun.
"Nggak apa-apa, Dek. Pesan aja. Anggap ini sebagai permintaan maafku karena sudah pernah memarahimu," ujar Afrijal pelan.
"Iya, Om. Aku pesan burger sama cola aja kalau gitu," jawab Zara. Jujur saja, dia merasa sangat senang melihat bagaimana Afrijal bersikap.
Puluhan kali Zara bertanya kepada dirinya sendiri. 'Apakah ini mimpi? Apa bokapnya Gamal mulai suka sama gue? Kalau gitu gue bisa berharap sama masa depan cerahkan?' batinnya yang tak kuasa menahan senyuman.
"Aku sudah dengar apa yang sudah kamu lakukan sama Gamal. Kapan rehabilitasimu akan di mulai?" tanya Afrijal serius.
"Secepatnya, Om." Zara menjawab, lalu meminum cola dengan menggunakan sedotan.
Afrijal lantas mengangguk sembari mengukir senyuman. Dia hanya bersiap untuk menanyakan sesuatu hal kepada Zara.
"Begini, Zara..." ucap Afrijal. Menjeda sejenak dan melanjutkan, "sekarang aku akan membuat Gamal keluar dari penjara. Kebetulan aku dan pengacaraku sudah menemukan cara. Meskipun begitu, cara kami tetap tidak akan pernah memperbaiki nama baik Gamal. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab."
"Beneran bisa, Om?" Zara menaikkan kedua alisnya secara bersamaan. Ia tiba-tiba merasa bersemangat.
"Bisa, tapi aku pastikan Gamal akan pergi keluar negeri. Tepat setelah dia keluar dari penjara nanti." Ucapan Afrijal langsung menjatuhkan semangat Zara.
__ADS_1
"Ke-kemana, Om?" Zara bertanya dengan terbata-bata.
"Aku nggak bisa kasih tahu. Yang jelas, selain akan meninggalkan negeri ini, Gamal juga harus berpisah denganmu. Jadi yang ingin aku sampaikan di sini adalah... jauhilah putraku mulai sekarang. Setelah dia dekat denganmu, semua masalah berdatangan." Sekali lagi perkataan Afrijal menghujam hati Zara. Perempuan itu tentu merasa sakit hati. Dia sekarang sadar kalau sikap ramah Afrijal tadi hanya kepura-puraan saja.
Zara menundukkan kepala kecewa. Air matanya nyaris berjatuhan. Namun dia berusaha keras menahannya.
"Tapi tenang saja. Aku akan memberi kamu imbalan uang. Lima puluh juta? Atau lima ratus juta? Kau mendekati putraku karena uang bukan? Jadi sekarang, jauhilah dia demi uang-uangmu itu, oke?" pungkas Afrijal.
"Tapi aku..." Zara tidak mampu melanjutkan perkataannya. Sebab dia takut Afrijal akan mentertawakan. Hal yang dia ingin katakan adalah bahwa dirinya benar-benar mencintai Gamal.
Awalnya Zara memang hanya menginginkan uang Gamal. Tetapi seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta tumbuh secara alami di hatinya.
"Dan andai kamu bilang benar-benar mencintai Gamal, jangan harap aku akan mengalah. Aku akan tetap membawa putraku pergi dan jauh darimu! Camkan itu!" tegas Afrijal. Membuat Zara semakin tersudut.
Zara otomatis berpikir baik-baik. Pilihan terbaik pastinya adalah pergi dengan sukarela dan mendapatkan banyak uang. Toh Zara merasa bukanlah apa-apa jika berhadapan dengan Afrijal. Keluarga Laksana tidak hanya terkenal kaya raya, tetapi juga memiliki koneksi kuat terhadap para petinggi politik. Posisi Zara seperti kerikil kecil di mata Afrijal. Mudah disingkirkan dengan sekali sentilan.
"Ya udah, Om. Aku akan ambil uangnya kalau gitu..." lirih Zara. Keputusannya membuat senyuman puas terukir di wajah Afrijal.
"Baiklah, aku akan persiapkan. Tuliskan nomor rekeningmu. Nanti sekretarisku akan mentransfer uangnya," tanggap Afrijal.
"Ingat, kalau kamu sudah terima uangnya. Tidak perlu menemuiku atau Gamal lagi. Pokoknya putuskan kontak dari Gamal. Bangunlah kehidupan baru dengan uang yang aku berikan. Semoga berhasil." Begitulah perkataan terakhir Afrijal. Sebelum beranjak pergi dari cafe.
Zara melenggang dengan tatapan kosong. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Kemudian menangis tersedu-sedu.
Perlahan Zara terduduk di sebuah bangku panjang. Di sana dia dapa melihat keadaan kantor polisi di seberang jalan.
...***...
Baru dua jam di penjara, Gamal mendapatkan panggilan dari polisi. Dia diperbolehkan keluar dari penjara. Hal itu sontak membuat Gamal kebingungan. Tetapi tidak untuk Danu.
"Sudah gue bilang, bokap lo pasti datang!" imbuh Danu seraya menyunggingkan mulut ke kanan.
Gamal hanya mengerutkan dahi. Ia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Namun setelah melihat kehadiran Afrijal dan seorang pengacara, barulah Gamal mengerti.
__ADS_1
Afrijal langsung membawa Gamal masuk ke dalam pelukan. Keduanya sama-sama saling menangis haru. Meminta maaf atas kesalahan satu sama lain.
"Maaf dan makasih ya, Pah... aku kira Papah nggak bakalan datang..." ungkap Gamal sambil memejamkan mata.
"Papah nggak mungkin membiarkan satu-satunya anak lelaki Papah tinggal di penjara," sahut Afrijal. Satu tangannya menepuk-nepuk pundak Gamal.
Mendengar penuturan Afrijal, Gamal kian meluruhkan tangis. Setelah dipastikan akan menjalani rehabilitasi, Gamal diperbolehkan keluar dari penjara. Semudah itu baginya berurusan dengan hukum. Afrijal hanya perlu membayar denda lebih dari ketentuan yang ada.
Sehabis berpamitan dengan Danu, Gamal beranjak menuju mobil bersama Afrijal. Langkah cowok itu terhenti saat ada di depan pintu mobil. Kepala Gamal celingak-celingukan ke segala arah. Dia berusaha mencari-cari Zara.
"Kamu cari apa?" tanya Afrijal. Ia sebenarnya tahu putranya sedang mencari siapa.
"Cewek, Pah. Yang sama aku di apartemen itu loh. Papah nggak ada lihat? Sebelum Papah ke sini, dia selalu temenin aku tiap hari," terang Gamal.
Afrijal terdiam sejenak. Dia melakukannya agar terlihat seakan tengah berpikir. "Papah nggak ada lihat cewek itu pas datang? Mungkin dia udah capek kali sama kamu," kata Afrijal.
"Kalau cewek itu peduli, dia pasti cari atau telepon kamu nanti," sambung Afrijal lagi. Membuat Gamal akhirnya memutuskan masuk ke dalam mobil. Mereka segera pergi meninggalkan kantor polisi.
Bersamaan dengan itu, Zara keluar dari balik pohon. Sejak tadi dia mengamati Gamal dari kejauhan. Baginya, itu adalah momen terakhir kali dirinya melihat sosok Gamal. Kini tidak ada yang bisa dilakukan Zara selain melangkah pulang sambil menangis.
...~TAMAT~...
Catatan Author :
Akhirnya cerita ini tamat ya guys. Maaf kalau ada banyak typo dalam penulisan, serta alur yang tidak sesuai. Aku ucapkan terima kasih juga buat yang selalu like, komentar, kasih hadiah, dan juga vote. 🙏
Tujuan aku menulis novel ini sebenarnya hanya ingin menunjukkan bagaimana sisi gelap berjalan. Aku menulisnya hanya dari sudut pandang remaja. Aku harap novel ini bisa menjadi pengingat untuk kita. Baik dalam hal bersikap dan menjaga anak-anak kelak.
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Big love from me 😘
Satu hal lagi, novel cerita tentang Gamal dan Zara sudah up ya.
__ADS_1
Buat yang penasaran sama kelanjutan cerita Gamal dan Zara, dipersilahkan cek profilku. Kalau nggak tertarik tak apa kok. Author nggak suka maksa... 😁
Sampai jumpa di sana...