Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 69 - Menjaga Rahasia


__ADS_3

...༻☆༺...


Rasa pusing menyengat, ketika Raffi menjejakkan kaki di tengah tangga. Dia hanya bisa reflek memegangi kepala. Wajahnya meringis karena berusaha menahan rasa sakit.


"Raf? Lo nggak apa-apa?" tanya Elsa pelan.


"Iya, nggak apa-apa kok." Raffi menjawab agar Elsa tidak khawatir. Dia tahu cewek itu harus segera kembali ke rumah. Alhasil Raffi melanjutkan pergerakan kakinya. Ia berhasil masuk ke kamar tanpa ketahuan.


Raffi langsung berbalik dan menyuruh Elsa pulang. Dia akan mengamati dari kejauhan.


"Hati-hati, El. Maaf... harusnya gue yang bantuin--"


"Udah jangan banyak bacot. Tidur sana!" potong Elsa sembari mengangkat tangga sekuat tenaga. Cewek itu melenggang menuju rumahnya. Meletakkan tangga tepat ke jendela kamar, lalu menaikinya dengan pelan.


Baru menjejakkan satu kaki ke tangga, pintu depan mendadak terbuka. Sosok Vina sukses memergoki tindakan Elsa.


"Kak Elsa?" Vina mengerutkan dahi. Dia terlihat mengenakan pakaian olahraga. Vina memang akhir-akhr ini sangat sering berolahraga. Ia hanya berusaha mewujudkan mimpinya. Yaitu bermimpi memiliki badan yang langsing.


"Vi-vina? Lo ngapain?" mata Elsa membulat sempurna.


"Bukannya aku ya yang harusnya nanya begitu? Kakak ngapain?" timpal Vina. Menatap tak percaya.


Elsa turun dari tangga. Kemudian melangkah ke hadapan Vina. Dia menceritakan kalau dia baru saja pulang habis jalan-jalan bersama teman. Meskipun begitu, dirinya sama sekali tidak mau menyinggung perihal klub malam.


Raffi dapat menyaksikan keadaan genting Elsa dari jendela. Dia yang merasa harus bertanggung jawab, bergegas membasuh muka. Raffi tidak lupa mengganti pakaian agar menghilangkan bau alkohol. Selanjutnya, dia langsung keluar rumah untuk menghampiri Elsa.


Vina merasa miris terhadap kelakuan Elsa. Walau Elsa memberikan sejuta alasan, dia tetap beranggapan kalau gadis yang pulang lewat tengah malam merupakan hal buruk. Atensinya perlahan berpindah ke arah Raffi yang mendekat. Vina langsung menundukkan kepala.


Raut wajah Raffi tampak serius dari biasanya. Membuat Vina menduga kalau Raffi sedang ingin memarahi seseorang. Vina yakin, Raffi pasti akan bertengkar dengan Elsa.


"Raffi? Lo kenapa keluar?" tukas Elsa. Namun Raffi tidak menggubris. Cowok itu terfokus menatap Vina.


"Vin, lo nggak bakal kasih tahu perbuatan Elsa ke bokap lo kan?" tanya Raffi. Menyebabkan Vina perlahan mengangkat kepala.

__ADS_1


"Kenapa emangnya, Kak? Bukannya wajar ya kalau aku--"


"Plis, Vin. Jangan ya." Raffi memohon sambil memegangi pundak Vina dengan satu tangan. Dia sengaja menjeda perkataan Vina. Sesekali wajahnya akan meringis akibat merasakan sedikit pusing yang tersisa.


"Raf, gue bisa nyelesain urusan gue sendiri kok. Lo jangan--"


"Gue orang yang udah ngajak lo keluar malam. Jadi, kalau terjadi sesuatu gue yang tanggung jawab!" jelas Raffi. Sekali lagi dia memotong pembicaraan orang lain. Matanya melirik tajam Elsa. Tangannya reflek menggenggam jari-jemari cewek itu. Tepat di hadapan Vina yang sudah lama memendam perasaan kepadanya.


Vina mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia kecewa sekaligus terbakar cemburu. Perlahan dirinya kembali menundukkan kepala. Menutupi ekspresi masam dengan rambut panjang ikalnya.


Setelah mencoba meyakinkan Elsa, Raffi kembali bicara kepada Vina. Dia menyentuh pundak Vina lagi dengan lembut. Tetapi belum sempat bicara, Vina lebih dahulu bersuara.


"Kakak tenang aja. Aku nggak bakalan kasih tahu hal ini ke semua orang. Apalagi sama Papah dan Mamah," kata Vina. Tanpa menatap Raffi yang berdiri di hadapannya.


"Beneran, Vin? Lo janji?" Raffi mencondongkan wajah lebih dekat. Walau Vina sudah tahu cowok itu menyukai gadis lain, tetap saja keberadaannya membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Vina akhirnya hanya bisa mengangguk lemah.


Raffi dan Elsa saling menatap dan tersenyum. Mereka langsung mengucapkan terima kasih kepada Vina.


"Nanti kalau ada masalah, lo bisa bilang ke gue. Mungkin suatu hari nanti gue bisa balas kebaikan lo," ujar Raffi. Dia reflek memegangi kepala. Ia berupaya keras menahan rasa pusing.


"Iya, Kak." Vina memaksakan diri untuk tersenyum. Sebenarnya dia tidak suka dengan pelukan Elsa. Namun karena ada Raffi dirinya tidak bisa menolak.


Kini Raffi memegangi area perutnya. Dia merasa mual kembali. Tanpa pikir panjang, Raffi pamit untuk pulang. Lalu berlari masuk ke rumah.


"Eh, Raf? Lo nggak--"


"Gue nggak apa-apa!" Raffi menjawab sambil terus berlari. Elsa lantas hanya bisa memaklumi. Dia yakin, Raffi pasti ingin buru-buru istirahat.


Langkah Raffi terhenti, saat berpapasan dengan Irwan di depan pintu. Matanya hanya bisa terbelalak. Sementara satu tangannya sibuk menutupi mulut.


"Dari mana kamu?!" timpal Irwan dalam keadaan mata yang menyalang.


Raffi tidak bisa menjawab. Sebab jika dia nekat membuka mulut, maka cairan dari perut akan langsung dimuntahkan olehnya. Raffi akhirnya bungkam. Kemudian melingus begitu saja menuju kamar.

__ADS_1


Irwan sontak dibuat semakin geram. Dia batal menutup pintu dan memilih mengikuti putranya. Heni yang baru saja keluar dari kamar, segera ikut bergabung.


Setibanya di kamar, Raffi tidak lupa mengunci pintu. Lalu berlari ke kamar mandi. Dia langsung memuntahkan isi perut ke dalam lubang closet.


Dug!


Dug!


Dug!


"Raffi! Buka pintunya!!" ujar Irwan sembari menggedor pintu. Dia mencoba beberapa kali memainkan gagang pintu. Akan tetapi pintu tidak bisa terbuka karena sudah terlanjur dikunci.


"Ada apa, Pah?" tanya Heni yang merasa cemas.


"Ini Raffi, aku lihat dia tadi baru datang dari luar!" jawab Irwan.


"Benarkah?" Heni agak kaget. Meskipun begitu, dia mencoba berpikir positif. "Mungkin dia cuman ketemu sama Elsa," imbuhnya. Berharap suaminya bisa lebih tenang.


"Pagi-pagi buta begini? Mau apa?!" tanggap Irwan. Kelopak matanya masih saja melebar. Membuat bola matanya terlihat lebih jelas.


"Makanya kalau mau penjelasan, lebih baik kamu tanya baik-baik. Jangan marah-marah begini," ucap Heni seraya mengusap pelan pundak Irwan. "Lagian ini sudah jam berapa? Bukannya jam penerbangan kamu dijadwalkan jam 04.30? Ini sudah jam empat lewat sepuluh menit loh," sambungnya.


Irwan memastikan dengan cara memeriksa jam tangan. Ternyata apa yang dikatakan sang istri ada benarnya.


"Ya udah, aku pergi dulu. Kamu coba ajak bicara Raffi. Tanya dia habis ngapain dan dari mana!" Irwan berucap sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Heni.


"Iya, iya. Udah pasti." Heni membawa Irwan menuju pintu keluar. Dia melepas kepergian suaminya dengan senyuman dan lambaian tangan. Irwan kebetulan harus pergi dinas ke luar kota.


Di kamar mandi, Raffi duduk tersandar di dekat closet. Memasang tatapan kosong ke atap pelafon. Entah kenapa hatinya terasa sesak. Apalagi ketika mendengar percakapan kedua orang tuanya di luar tadi.


Cairan bening meleleh begitu saja dari sudut mata Raffi. Dia memecahkan tangis sambil memegangi jidatnya.


Raffi terisak sendirian. Dia merasa sangat bersalah dengan semua orang. Irwan, Heni bahkan Elsa. Raffi merasa dirinya sangat buruk. Benar-benar buruk. Rasanya dia ingin menghilang sebentar dari dunia. Saat itulah ketukan pintu tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


"Raffi? Kamu tidur ya?" tanya Heni sembari menempelkan telinga ke pintu. Dia tidak tahu putranya sedang berada di tahap depresi akibat mengkonsumsi obat-obatan terlarang.


__ADS_2