
...༻☆༺...
Wildan dan Sinta beranjak pergi. Di akhir mereka sempat saling bertukar pandang dengan Danu. Namun demi mendukung harga diri putranya, mereka tetap memilih bungkam.
Danu mendengus lega, kala melihat kedua orang tuanya telah pergi. Dia kini bisa melanjutkan aktifitas pertemanannya dengan leluasa.
Raffi dan kawan-kawan kembali masuk ke rumah. Sekarang saatnya mereka mengurus kebutuhan properti untuk mos nanti.
Drrrt...
Drrrt...
Ponsel Gamal bergetar. Sebuah pesan dari Zara diterima olehnya. Ia segera bangkit dari tempat duduk setelah membaca pesan.
"Eh, mau kemana, Mal? Ngeloyor aja lo," tegur Danu.
"Gue mau keluar bentar!" sahut Gamal sembari berlari menuju pintu keluar.
"Gamal ngapain sih? Jadi penasaran." Tirta berdiri. Lalu berjalan mengikuti Gamal. Raffi dan yang lain diam saja. Mereka memaklumi tindakan Tirta yang memang selalu ingin tahu.
Selang sekian menit, Tirta kembali. Raut wajahnya tampak bersemangat. Dia memberitahu kepada semua orang kalau Gamal bertemu dengan Zara.
"Lah, bukannya mereka emang sering ketemu ya? Heboh banget lo, Ta!" tukas Raffi dengan kening yang mengernyit.
"Iya, gue tahu. Tapi kali ini beda. Ekspresi Gamal beda banget. Menurut gue dia suka sama Zara deh." Tirta menyimpulkan sambil duduk ke sebelah Raffi. Ia meletakkan bantal kecil ke atas paha.
"Emangnya kenapa kalau Gamal suka sama Zara? Masalah buat lo?" timpal Raffi. Dia menepuk jidat Tirta karena merasa gemas.
"Nggak. Kenapa lo yang sewot sih." Tirta memanyunkan mulut. Kemudian mengusap jidatnya beberapa kali.
Di sisi lain, Zara baru saja mengembalikan kartu debit milik Gamal. Selanjutnya, dia tidak berniat bergabung dengan Raffi dan yang lain. Zara ingin langsung pergi. Jadi, tanpa berpamitan cewek itu pergi begitu saja meninggalkan Gamal. Namun langkahnya harus terjeda, karena Gamal mencekal kepergiannya.
Gamal menarik Zara. Hingga membuat cewek itu berbalik menghadapnya. Tanpa basa-basi, Gamal menyumpal mulut Zara dengan bibirnya.
__ADS_1
Mata Zara membuncah hebat. Dengan cepat dia mendorong Gamal menjauh. Lalu melayangkan sebuah tamparan ke pipi Gamal. Sepertinya cowok itu baru saja mendapatkan karma.
"Apaan sih lo, nyosor-nyosor! Bukannya kita udahan ya?! Teman aja bukan. Berani nyentuh gue langsung ke bibir! Basi tau!" omel Zara seraya mengeratkan rahang. Wajahnya memerah padam akibat amarah yang memuncak.
Gamal terdiam seribu bahasa. Dia memegangi pipinya yang baru kena tamparan Zara. Sekali lagi Zara meninggalkannya pergi. Tetapi untuk yang kedua kalinya, Gamal mencegat.
"Gue nggak mau lo pergi, Ra!" ungkap Gamal. Menyebabkan Zara sontak mengerutkan dahi.
"Maksud lo?" Zara bertanya sambil mengangkat dagunya sekali.
"Gue..." Gamal enggan melanjutkan perkataannya. Seolah ada sesuatu yang menahannya untuk lanjut bicara.
Zara memutar bola mata jengah. Dia mencoba melepaskan tangan Gamal. Namun pegangan cowok itu sangat sulit dilepaskan.
"Lepasin nggak?!" pekik Zara. Keributan yang terjadi di antaranya dan Gamal, membuat Raffi beserta yang lain keluar dari rumah.
"Oke, gue bakal benar-benar ngomong sekarang!" pungkas Gamal. Entah kenapa nafasnya mulai tersengal-sengal. "Gue ngerasa hampa tanpa lo, Ra. Gue nggak tahu kenapa. Tapi gue ngerasa lebih nyaman sama lo setelah liburan kemarin!" sambungnya menjelaskan.
Zara menarik sudut bibirnya ke atas. Tangannya segera mencengkeram kerah baju Gamal. "Maksud lo... lo suka banget permainin gue, gitu? Apa yang kita lakuin di ruang film itu gila banget, Mal!" ujarnya sembari mengguncang-guncang tubuh Gamal.
Zara perlahan melepas cengkeramannya. "Hah? Maksud lo?" tanya-nya memastikan.
Gamal memejamkan rapat matanya. Berusaha mengumpulkan keberanian. Dia akhirnya berucap, "Gue suka sama lo!"
Zara terkesiap. Perlahan dia tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak. Zara tentu tidak mempercayai pernyataan Gamal. Bagaimana bisa cowok playboy itu bisa jatuh cinta? Apalagi Gamal juga pernah mengatakan bahwa dia menyukai Elsa, dan tidak akan pernah tertarik dengan Zara.
"Gue serius tau!" tegas Gamal. Ia benar-benar menampakkan mimik wajah serius.
"Oh, gitu? Terus cewek kelas sepuluh itu apa dong? Cewek mainan lo yang kedua? Atau cuman pelampiasan doang?" Zara tersenyum remeh. Dia melipat tangan di depan dada.
Sekarang Gamal tidak bisa berkata-kata. Ia memang dekat dengan Erin. Tetapi setelah menghabiskan waktu liburan bersama Zara, Gamal merasakan sesuatu yang berbeda. Hingga dirinya nekat menyimpulkan bahwa perasaannya tersebut merupakan ketertarikan.
Awalnya memang Gamal sempat tidak peduli. Dia bahkan tega menampar dan mengusir Zara. Namun rasa hampanya begitu terasa ketika cewek itu tidak ada.
__ADS_1
"Persetan dengan rasa suka lo, Mal!" hardik Zara. Dia melangkah pergi dengan kaki yang menghentak.
Gamal berdecak kesal. Dia akhirnya membiarkan Zara pergi. Kala Gamal memutar tubuhnya ke belakang, dirinya melihat keberadaan Raffi dan kawan-kawan di teras. Rupanya semenjak tadi mereka menyaksikan apa yang terjadi.
Gamal tidak punya pilihan selain menceritakan semuanya. Ia bahkan memberitahu apa yang dilakukannya saat liburan.
Mendengar cerita Gamal, Raffi dan Elsa reflek bertukar pandang. Mereka tidak menyangka kelakuan Gamal dan Zara sudah berada di tahap itu. Meskipun begitu, Raffi berusaha memberikan saran terbaik.
"Lo sebaiknya bangun hubungan yang sehat, Mal. Kalau lo benar-benar sayang sama Zara, lo mesti jaga dia baik-baik. Kemarin aja, gue lihat lo tampar dia," ujar Raffi.
"Beneran, Raf?" tanya Elsa yang tidak tahu insiden pertengkaran hebat Gamal dan Zara. Raffi lantas mengangguk untuk mengiyakan.
"Tapi sekarang udah impas kok. Tadi Zara udah tampar gue," sahut Gamal seraya memegangi pipi bekas tamparan Zara.
"Idih! Tetap aja, kampret!" Raffi memukul kepala Gamal dengan pelan. Dia hanya ingin temannya tersebut cepat sadar. Pembicaraan mereka berakhir di situ.
...***...
Hari pertama dilaksanakannya mos telah tiba. Pak Willy beserta anggota osis yang lain, tampak mengatur barisan para murid baru. Hal serupa juga dilakukan oleh Gamal dan Raffi. Selaku ketua dan wakil ketua osis.
Setelah barisan tersusun rapi, barulah pengarahan segera dilangsungkan. Acara di mulai dengan sambutan Pak Willy yang merupakan pembina osis. Beliau adalah salah satu guru yang berhadir untuk bertanggung jawab atas semua kegiatan.
Gamal menjadi orang kedua yang memberikan sambutan. Pembawaannya yang bersahabat dan agak lawak, membuat semua murid baru bersemangat.
Gamal melantunkan pantun sebelum mengakhiri sambutan. Dia berucap, "Jalan-jalan ke kota Medan. Melihat anak bermain layang. Marilah kita berkenalan. Karena tak kenal maka tak sayang. Eaakk...."
Semua orang langsung menyambut dengan sorakan histeris. Ada juga yang tertawa geli saat mendengar pantun asal Gamal.
"Ketawa-ketawa aja dulu kalian..." gumam Gamal sembari tersenyum lebar. Dia sudah tidak sabar menunggu momen jurit malam nanti.
Tirta yang mendengar gumaman Gamal, lantas membalas, "Gue nggak sabar ngerjain anak orang, pffft..."
Gamal kembali mengembangkan senyuman. Matanya perlahan melirik ke arah Zara yang tengah sibuk bicara dengan Elsa.
__ADS_1
"Kak Gamal, aku beliin minuman soda." Erin tiba-tiba muncul di hadapan Gamal.
"Makasih ya, Rin..." ungkap Gamal. Dia menerima minuman soda pemberian Erin.